Monday, 24 December 2012

Catatan Gamananta: Gunung Panderman, Gunung Pelampiasan (PART 1)

Ini adalah cerita tentang sebuah perjalanan yang tak terduga, konyol, namun penuh seru seseru-serunya. Ini pula adalah sebuah kisah pendakian yang mendadak tertunda, dan berubah rencana menjadi penjelajahan ala backpacker. Simak kisahnya berikut ini ^:)^ .

Jum'at, 23 November 2012
Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB ketika mobil sewaan kami sudah memasuki areal kampus Universitas Brawijaya, Malang. Ya, saya bersama tiga kawan lainnya (Adit, Angga, dan Agus) habis dari Banyuwangi karena tanggal 22 November malam kemarin kami menghadiri acara 40 hari wafatnya ibunda kawan kelas kami, yaitu Oyak di Banyuwangi. Saya menyetir mulai dari Malang-Banyuwangi (PP) tanpa diganti, sehingga ketika kami sampai Malang kembali, rasanya sudah ngantuk sekali. Namun, saya harus bergegas mengembalikan mobil ke rental dan menuju ke kosan saya untuk mempersiapkan pendakian. Malam ini, hari ini, saya bersama Uqi, Muchlis, Mas Kurniawan, dan Rizky akan mendaki Gunung Welirang - Arjuno. Saya hanya sempat tertidur 15 menit di kamar, karena tak lama Rizky datang membawa tenda sewaan kami.

Dari jadwal jam 16.00 WIB yang direncanakan, molor menjadi jam 17.00 WIB untuk berangkat ke Arjosari. Setelah naik angkot ADL (tarif Rp 2.500,00), 15 menit sampailah kami di terminal Arjosari, Malang. Kemudian kami segera naik bus ekonomi jurusan Surabaya, dan dengan tarif Rp 5.000,00 kami akan turun di pasar buah Pandaan. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam karena macet di daerah selepas terminal sampai perempatan Karanglo, Singosari. Sekitar pukul 18.30 WIB, kami sampai di pasar buah Pandaan. Segera kami naik ojek dengan formasi 2 sepeda motor kopling dengan tarif Rp 30.000/motor, dan 1 sepeda motor bebek dengan tarif Rp 20.000/motor. Sehingga, tarif per orang adalah Rp 16.000,00 untuk diantar ke pos perijinan pendakian Gunung Welirang di Tretes.

Alangkah terkejutnya kami ketika sampai di depan pos Tretes, mendengar kabar dari petugas Perhutani bahwa pendakian hari itu ke Gunung Welirang dan Gunung Arjuno ditutup untuk pendakian sampai batas waktu yang ditentukan. Alasannya adalah yang pertama karena beberapa hari lalu ada para pendaki yang hilang dan tersesat di Gunung Arjuno (namun berhasil ditemukan), dan yang kedua karena saat itu sedang dalam masa malam 10 Asyura (10 Suro dalam bahasa Jawa). Betapa kecewanya kami, karena kami sudah berat-berat membawa tas carrier dan jauh-jauh hari mempersiapkan segalanya untuk pendakian kali ini, eh ternyata pendakian ditutup. Setelah memang tidak bisa dilobi lagi, kami memutuskan menginap dulu semalam di pos tersebut, setelah sebelumnya makan malam di warung depan pos. Awalnya kami sepakat mencoba menginap di Pet Bocor saja, namun setelah berbagai pertimbangan, kami akan merasa rugi karena yang kami bawa tidak sebanding dengan jarak tempuh tujuan ke Pet Bocor. Kami juga menimbang untuk pindah haluan ke Gunung Penanggungan, namun ternyata juga ikut-ikutan ditutup. Hampir putus asa rasanya karena gagal mendaki malam itu. Akhirnya keputusan diambil, kami memilih pulang dan mendaki Gunung Panderman besoknya. Malam itu hanya memasak kopi hangat dan makan camilan, tak ada gairah memasak nasi :(

Tetap ceria meskipun gagal mendaki Gunung Welirang dan Gunung Arjuno

Sabtu, 24 November 2012
Paginya, kami segera berkemas. Jalur pulang kami tidaklah kembali ke Pandaan, namun memilih berjalan kaki ke arah Prigen, target awal turun di Kebun Teh Wonosari, Lawang. Start pukul 06.30, kami mulai berjalan. Sering berseliweran angkot yang lewat, namun jujur, uang kami sudah tak cukup lagi untuk sekadar naik angkutan umum. Jadilah kami sebagai backpacker sekaligus hiker, hahaha. Sering kami bertanya-tanya kepada penduduk sekitar, karena kami buta jalur. Setelah sekian lama berjalan (sudah sekitar 3 jam berjalan), melelahkan karena jalur beraspal yang naik turun, sampailah kami pada sebuah persimpangan jalan, yang mana kalau lurus akan mengarah ke Gunung Arjuno (pertemua jalur dari Lawang), dan ke kiri turun kembali ke jalan raya yang beraspal. Karena kondisi tidak memungkinkan untuk melanjutkan pendakian, maka kami berbelok ke kiri, dan tak sampai 100 meter kami berhenti di dekat dua buah tandon air bersih. Kami memutuskan beristirahat sejenak, memasak untuk sarapan pagi. Mumpung juga ada air bersih di sini. Nampak dari kejauhan, Gunung Arjuno benar-benar nyaris tak terlihat tertutup kabut. Menu pagi itu adalah nasi sop pedas dengan lauk nugget, dan ditambah minuman kopi plus rasa-rasa. Setelah cukup kenyang dan berfoto-foto sejenak, terdengar sayup-sayup suara adzan Dhuhur. Kami harus segera melanjutkan perjalanan pulang. Setelah bertanya kepada pencari kayu, kami diarahkan jalur pulang, melalui jalan setapak namun tidak kembali ke jalur aspal.

Mejeng di tengah perjalanan pulang, dengan latar belakang Gunung Penanggungan

 Istirahat sejenak dengan latar belakang Gunung Arjuno

Masak sarapan sekaligus makan siang di sebuah tandon air, Prigen

Bendera kami tetap dikibarkan meski gagal mendaki gunung 


Jalur berubah menjadi jalur dengan kanan-kiri lahan ketela pohon dan jagung. Setelah bertanya pada salah seorang petani, kami diarahkan untuk menuju jalur yang memasuki hutan pinus yang terkesan angker. Kami sempat was-was karena kami berlima, jumlahnya ganjil, padahal mitos Gunung Arjuno adalah mendaki ke sana haruslah dengan anggota tim berjumlah genap, 2, 4, 6 dan seterusnya. Karena itulah satu-satunya jalur terdekat untuk kembali ke aspal menuju wilayah Talunongko, jalur menuju Prigen melewati Taman Safari II. Kami sejak itu memutuskan untuk turun melalui Purwosari saja karena semakin tidak mungkin melanjutkan perjalanan menuju Kebun Teh Wonosari di Lawang. Setelah melewati hutan pinus, lahan pertanian, bambu, dan melewati sungai kering, sampailah kami di perkampungan yang namanya entah apa. Yang jelas, selepas pertigaan di kampung itu, kami diarahkan berbelok ke kanan dengan jalur yang terus nanjak, menanjak, semakin menanjak, membuat meringis sedih rasanya melihat jalur beraspal yang menanjak tak habis-habis. Kami juga jadi tontonan orang-orang, mungkin mereka mbatin dalam hati, "Ngapain orang-orang ini bawa tas carrier lewat jalan aspal?", heehehe. Ternyata ini adalah daerah Talunongko. Kami memutuskan singgah sebentar di musholla, sekalian sholat. Selepas sholat, kami melanjutkan perjalanan yang terus menanjak dan sampailah kami di sebuah gardu yang terletak di tikungan (juga menanjak). Tiba-tiba lewatlah sebuah mobil pick up, yang dari tadi kami nanti-nanti. YES! ADA SETITIK KEHIDUPAN! Kami segera tanpa pikir panjang ikut numpang dan naik. Kami semakin bergembira ketika si sopir mengatakan akan pulang ke Palang, daerah Purwosari. Wah, lumayan dan kami sangat bersyukur sekali karena ternyata jarak dari Talunongko sampai pasar Purwosari sangat jauh bukan main. Sebelum itu, mobil yang kami tumpangi ternyata mengantar pesanan ayam dulu ke Yayasan Kaliandra Sejati. Di sana kami sempat bertemu seorang pria yang katanya sering naik Arjuno lewat jalur Purwosari. Semoga kami bisa mengikuti jejakmu mas, hiks.

Tak sampai 1 jam, sampailah kami di daerah Palang. Kami turun di sini, karena mobil itu akan pulang ke rumahnya. Terima kasih atas kebaikan kalian, Pak. Kami melanjutkan berjalan kaki kembali, sembari mengacungkan jempol berulang-ulang berharap mendapat tumpangan ke Kota Malang. Setelah beberapa meter berjalan, beruntung, ada sebuah mobil pick up lagi yang mau berhenti setelah kami coba cegat. Ternyata mereka juga mau ke Malang. Tanpa pikir panjang, kami segera berhamburan naik ke atas mobil! YEYEYE! DAPAT TUMPANGAN LAGI. Benar-benar berasa orang yang kehabisan duit. Inilah salah satu seni hitchiking, alias numpang buat ngirit duit, ala backpacker, hehehe. Nampak di kanan kami, Gunung Arjuno benar-benar tertutup kabut nyaris tak terlihat. Kami semakin bersyukur tidak mendaki saat itu, kalau memaksa mendaki tanpa izin, maka sangat mungkin kami akan menjadi korban hilang berikutnya di sana. Gerimis mengguyur ketika kami mulai memasuki wilayah Malang. Jas hujan pun menutupi kami berlima. Ketika mobil berbelok ke arah Tumpang, kami pun turun dan mengucapkan terima kasih banyak kepada sopir mobil atas kebaikan mereka. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 16.00 WIB. Dari lampu merah Blimbing, kami melanjutkan berjalan kaki. Setelah melewati daerah Jalan Candi Mendut, kami mendapat tumpangan lagi, kali ini sebuah mobil pick up yang membawa bahan bangunan. Tujuan mereka adalah jalan Kalpataru. Lumayan banget, menghemat tenaga. Setelah turun di Kalpataru, kami melanjutkan lagi berjalan kaki. Entah sudah berapa kilometer total kami berjalan sejak dari pos Tretes. Kami mengebut langkah ketika sudah memasuki daerah gang Watugong, dan sampailah di kos saya dan Mas Kurniawan (kami satu kos) pada pukul 17.10 WIB.

Rencananya, malam itu kami langsung mendaki ke Gunung Panderman, Batu. Namun karena masih kelelahan, niat itu diurungkan esoknya. Kami pun memilih mengikuti acara orientasi anggota baru organisasi kampus kami di Singosari. Cerita tak berhenti sampai di sini, karena esok kami akan menuju Gunung Panderman! Simak terus ceritanya :D 
About Gamananta TravelerCommunity

Gamananta adalah sebuah komunitas traveler yang selalu membawa semangat dan orientasi konservasi dalam setiap kegiatan dan perjalanannya. Gamananta merupakan dua kata gabungan dari bahasa Sansekerta, "Gama" berarti perjalanan dan "Ananta" berarti tanpa batas. Gamananta berusaha untuk berjalan tanpa batas demi visi dan misinya.

Artikel Terkait

6 comments:

No Spam, No Sex, No SARA
Junjung Tinggi Kebebasan Berpendapat yang Bertanggung Jawab