Monday, 21 January 2013

Berkelana Malam Tahun Baru 2013 di Kediri



Kalau malam tahun baru biasanya teman-teman menghabiskan waktu di pusat kota, melihat kembang api bergelegar menerangi langit, kali ini kami mengambil langkah berbeda dari teman-teman lain. Kami lebih memilih meninggalkan Kota Malang, dan menenangkan diri sejenak ke suatu tempat di Kabupaten Kediri. Ada dua alasan mengapa kami memilih Kediri sebagai destinasi di malam tahun baru kali ini. Yang pertama, kami lagi kangen-kangennya sama gunung, semenjak pendakian ke Gunung Semeru, belum sempat kami mendaki gunung lagi. Namun berhubung Gunung Arjuno-Welirang yang sebenarnya menjadi tujuan utama kami sedang ditutup karena berita hilangnya mahasiswa UPN Surabaya yang belum ditemukan saat itu, sehingga kami memilih Gunung Kelud sebagai tujuan utama kami. Pertimbangannya adalah Gunung Kelud juga termasuk kategori "gunung" dan sangat mudah menggapainya. Yang kedua, kami ingin sowan ke salah satu senior kami di organisasi kampus, yaitu mbak Lina yang setelah married masih tinggal di Kediri (dan memang asli Kediri).

Yup, tanggal 30 Desember 2012, bertempat di perpustakaan UB, kami menggelar briefing singkat dan akhirnya muncullah empat orang yang turut serta dalam mbolang kali ini. Mereka adalah saya (Rifqy), Muchlis, Mbak Rima, dan Rizky. Mbak Rima adalah salah satu peserta yang ikut dalam acara Malang City Heritage Tour 29 Desember 2012 lalu, artikelnya bisa dibaca di sini. Sedangkan si Rizky itu yang ikut saat pendakian ke Gunung Panderman jilid dua setelah terlunta-lunta di Tretes dan Prigen gara-gara Gunung Arjuno-Welirang tertutup untuk pendakian. Dari hasil pertemuan disepakati bahwa kita kumpul pagi setelah Subuh di depan kampus UIN Malang dan menggunakan dua sepeda motor, motor saya dan motor Muchlis. 

31 Desember 2012
Eh, ternyata saya bangun agak kesiangan sehingga saya dan Rizky pun telat menyusul Muchlis dan Mbak Rima di depan UIN Malang, akhirnya baru sekitar pukul 05.30 WIB kami berangkat ke Kediri. Dari jauh nampak Gunung Arjuno menjulang tinggi yang membuat kami semakin menggebu untuk mendaki ke sana. Jalur menuju Kediri adalah melalui Kota Batu, Pujon, Ngantang, Kesambon, dan masuk wilayah Kabupaten Kediri (Pare). Udara pegunungan yang sejuk membuat kami begitu menikmati perjalanan saat itu, sehingga kecepatan sepeda motor kami tidak sampai lebih dari 70-80 km/jam. Karena kami belum sarapan, kami pun memutuskan untuk berhenti sejenak mengisi perut di wilayah Pare (dekat kampung bahasa inggris). Menunya ada bubur ayam, nasi kuning, dan susu sari kedelai. Sangat nikmat!

Menu Susu Sari Kedelai yang segar menyehatkan

Sekitar pukul 08.00 WIB, setelah "menunaikan hajat" di pom bensin, kami melanjutkan perjalanan ke Gunung Kelud, yang terletak di Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri. Pukul 09.30 menandai bahwa kami telah sampai di pintu gerbang wisata Gunung Kelud. Karena hari itu hari libur, sehingga per orang diwajibkan membayar karcis masuk sebesar Rp 10.000,00 dan motor Rp 1.000,00. Sekitar 10 menit kemudian dengan melalu jalan yang terus naik dan sempat melewati mysterius road (yang katanya ketika kendaraan dinetralkan dalam keadaan mesin mati ternyata malah naik tidak merosot turun), kami berhenti sejenak untuk berfoto-foto dan bertemu dengan dua orang senior dari sebuah komunitas biker bernama "Fraternidad" yang pengalamannya sudah luar biasa banyak.

Berfoto melambangkan persahabatan dua komunitas yang baru bertemu,
semoga bisa bertemu lagi di lain waktu :)  
Foto terakhir sebelum menuju tempat parkir


Setelah berfoto bersama, kami melanjutkan perjalanan ke tempat parkir dan sungguh pemandangan wilayah Gunung Kelud sangat indah sekalipun terselimuti mendung. Setelah menempatkan sepeda motor kami di tempat yang tepat, kami segera berjalan menuju Puncak Sumbing, salah satu puncak kawasan Gunung Kelud melalui sebuah terowongan (tunnel) warisan Belanda. Terowongan ini mungkin panjangnya sekitar 200 m, dan dari tempat parkir mungkin sekitar 300 m. Cukup gelap, meskipun ada penerangan yang temaram, remang-remang. Puncak Sumbing ini hanya bisa digapai dengan peralatan khusus panjat tebing, bentuknya sangat unik.

Tempat parkir Wisata Gunung Kelud

Di dalam terowongan menuju Puncak Sumbing, Anak Gunung Kelud, dan Puncak Gajahmungkur

Kami dengan bendera Gamananta berpose dengan latar belakang Puncak Sumbing

Setelah puas berfoto di kawasan kaki Puncak Sumbing, kami segera menuju Puncak Gajahmungkur yang untuk menuju ke sana harus menaiki ratusan anak tangga (tapi masih pegel tangga yang ada di Bromo sih). Di Puncak Gajahmungkur ini terdapat sebuah gardu pandang (gazebo) yang dari sini memang kita bisa melihat secara bebas kondisi alam di bawahnya, termasuk Anak Gunung Kelud yang fenomenal dan terlihat cantik bila dilihat dari atas dan selalu mengepulkan asap belerang. Di sini kami berfoto-foto ria dan saya sempat mencoba meniti jalur setapak yang nampaknya menuju puncak tertinggi. Namun, baru setengah perjalanan di jalur yang sangat sempit (kanan kiri jurang menganga), gerimis turun mengurungkan niat saya melanjutkan perjalanan. 

Dari kiri: Rizky, Mbak Rima, dan Muchlis di sudut gardu pandang Puncak Gajahmungkur

Gardu pandang Puncak Gajahmungkur yang saat itu cukup ramai pengunjung

 Saya di tengah jalur pendakian menuju puncak tertinggi (tertutup kabut)

 Rizky berpose dengan latar belakang Anak Gunung Kelud

 Gaya khas si Muchlis dengan latar belakang Anak Gunung Kelud yang berkabut

 Mbak Rima setia dengan Gamananta :D 


Foto bareng sebelum turun


Di gardu pandang Puncak Gajahmungkur ini terlihat beberapa sampah yang sengaja dibuang para wisatawan yang tidak bertanggung jawab dengan sampahnya sendiri. Terlihat juga aksi vandalisme (corat-coret) gazebo yang sangat merusak kelestarian dan keindahan alam. Mari jangan tiru aksi seperti itu, biarkanlah alam bersih apa adanya, karena yang demikian akan terlihat jauh lebih indah.

Sampah-sampah wisatawan tidak bertanggung jawab

Aksi vandalisme yang sangat disayangkan
Setelah puas menikmati puncak, kami pun turun menuju sumber air panas yang juga melalui ratusan anak tangga (lebih jauh jaraknya). Turunnya sih mudah dan cepat, tapi naiknya bikin capek dan lebih lama. Hanya Muchlis dan Mbak Rima yang mau turun membasahi kaki, saya dan Rizky hanya melihat dari atas pemandangan air panas dari sumber belerang Gunung Kelud tersebut. Ingat! Di sana hanya untuk berendam, bukan berenang, hehehe.
Sumber air panas yang mengalir cukup deras
 Ramaiiii.....
Sebenarnya malam ini kami ingin melihat pesta kembang api di Gunung Kelud, tapi karena rasanya sudah cukup puas, kami pun segera melanjutkan perjalanan ke rumahnya Mbak Lina untuk silaturahmi. Kami juga menyempatkan untuk solat Duhur sejenak di sebuah masjid di daerah Wates dan saat itu juga hujan mengguyur deras yang membuat kami tertahan di masjid cukup lama, sekitar 2 jam. Pukul 16.00 kami melanjutkan perjalanan mencari makan terlebih dahulu karena perut ini terasa sangat lapar. Setelah mengisi bensin, kami mampir dulu di sebuah warung Bu Yurotul Lamongan, terletak persis di depan gerbang Pabrik Gula Pesantren Baru milik PTPN X. Saya, Muchlis, dan Rizky memesan nasi pecel tumpang dengan lauk tahu yang sangat besar ukurannya plus menu teh hangat. Sedangkan Mbak Rima memesan menu nasi soto ayam dengan minum white coffe. Setelah puas menyantap makanan, kami langsung saja menuju Simpang Lima Gumul terlebih dahulu karena Mbak Lina masih belum pulang dari kantornya. Di Simpang Lima Gumul ini kami berfoto-foto berbalut jas hujan karena masih belum reda dari tadi. Benar-benar berbasah-basah ria.

Mengembangkan bendera kebanggaan di Simpang Lima Gumul

Rela berbasah-basah ria

Setelah puas menikmati Simpang Lima Gumul di tengah guyuran hujan, kami segera menuju rumah Mbak Lina yang terletak di daerah Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri. Tepat adzan maghrib berkumandang ketika kami masuk ke kediaman Mbak Lina. Saat itu suami Mbak Lina sedang tugas di Banyuwangi. Setelah sejenak menyeruput teh, kami pun segera menunaikan sholat Magrib dan Isya dijama'. Cukup lama kami menghabiskan waktu di rumah Mbak Lina, bercengkerama nostalgia saat berorganisasi dulu, dan soal kuliah kami. Mbak Lina benar-benar sangat ramah dan baik banget, kami pun disuguhi makan malam. Tak terasa malam semakin larut, kami harus beristirahat. Dengan pertimbangan etika, kami yang laki-laki menyarankan Mbak Rima untuk tidur di rumah Mbak Lina, sedangkan kami bertiga yang laki-laki memilih mencari musholla untuk beristirahat. Kami menemukan sebuah musholla kecil di daerah Blabak, Kecamatan Kandat, dan kami pun tertidur cukup pulas walaupun sering terbangun karena mengawasi sepeda motor kami. Sesaat terbangun sejenak saat mendengar gemuruh kembang api pukul 00.00, tapi kami tidak tertarik melihatnya dan memilih tidur, karena esok pagi harus kembali balik ke Malang.

 Tumbang di malam Tahun Baru 2013

 Sarapan biskuit di musholla setelah solat Subuh

Setelah sholat Subuh, kami menyempatkan makan biskuit dan meluncur ke rumah Mbak Lina untuk menjemput Mbak Rima. Niatnya sih ingin langsung segera pulang, namun Mbak Lina menahan kami untuk sarapan sebentar, dengan menu pecel tumpang yang sedap dan nikmat. 
Menyeruput teh hangat sebelum pulang, yang paling kanan itu Mbak Lina

 Berfoto bersama dengan bendera kebanggaan sebelum pulang

Akhirnya! It's time to go home. Setelah berpamitan dengan Mbak Lina sekeluarga, sekitar pukul 08.00 kami segera melanjutkan perjalanan pulang melalui jalur Blitar, Kepanjen, dan Malang. Kami tidak lewat jalur seperti saat berangkat karena khawatir daerah Pujon ke arah Kota Batu akan macet karena ramai liburan. Kami sampai di kos masing-masing sekitar pukul 13.30 WIB. Okay, saatnya pamit, terima kasih Kediri, terima kasih banyak Mbak Lina sudah bersedia menampung para kaum terlantar seperti kami ini. Semoga Allah SWT membalas kebaikan Mbak Lina sekeluarga. Amin.

Salam Respect
 


Read More

Saturday, 5 January 2013

Mengenal Sejarah Bersama Gamananta dalam Malang City Heritage Tour

Latar belakang penyelengaraan acara ini adalah karena terinspirasi dari perjuangan gigih Mas Dwi Cahyono, sang pemilik buku "Malang, Telusuri dengan Hati", owner Inggil Museum Resto, sekaligus penggagas even Malang Tempo Doeloe. Juga, latar belakang kami semua yang sebagian besar merupakan mahasiswa aktif di Universitas Brawijaya Malang, sehingga kami menghabiskan waktu cukup lama di Kota Malang untuk mengejar cita-cita akademik. Selain itu juga, kami ingin membantu teman-teman yang mungkin belum mengenal kawasan-kawasan bersejarah di Kota Malang agar menjadi tahu. Alasan-alasan itulah yang mendasari kami memasukkan even "Malang City Heritage Tour" sebagai agenda resmi kedua dalam kalender komunitas kami, setelah pendakian di Gunung Semeru lalu. Let's share!

Yup! Setelah SMS kawan-kawan baik itu di dalam maupun di luar komunitas untuk ikut serta dalam acara ini, akhirnya pagi sekitar pukul 09.00 WIB pada hari Sabtu, tanggal 29 Desember 2012, mendapatkan kesimpulan bahwa acara akan diikuti sekitar 15 orang. Saya sangat senang sekali, karena jumlah bukanlah menjadi ukuran, namun yang terpenting bagaimana antusiasme kami dalam menyelenggarakan acara ini, "Malang City Heritage Tour", mengenal dan berkeliling kawasan-kawasan bersejarah yang ada di Kota Malang. Dari ratusan situs bersejarah, kami saring menjadi 20 kawasan saja agar lebih mempersingkat waktu dan tenaga, karena kami akan berjalan jauh dari kampus sebagai meeting point sampai tempat terakhir, hehe.

Setelah semuanya berkumpul di depan meeting point, yaitu gedung Samanta Krida, gedung di mana seluruh mahasiswa Universitas Brawijaya Malang (UB) diwisuda di sini (kapan yak saya diwisuda :(( ). Muchlis membuka briefing singkat, dan saya menjelaskan detail umum rute perjalanan nanti, memperkenalkan Gamananta ke teman-teman peserta yang baru bergabung bersama kami, dan lain sebagainya. Setelah semuanya siap, kami semua berdoa untuk kelancaran acara kami mulai berangkat sampai pulang. Sekitar pukul 09.45 WIB (molor dari agenda awal jam 08.00), kami start berjalan menuju jalan Veteran, melewati Matos, dan masuk wilayah Universitas Negeri Malang (UM). Keluar dari UM kami segera menuju ke titik kawasan pertama, kami akan ceritakan secara berurutan selanjutnya. Untuk sejarah singkat bisa dilihat pada menu "Itinerary Trips" di halaman muka blog Gamananta, bisa klik di sini. Di sini akan diceritakan secara garis besar dan tentu tak lupa juga foto-fotonya :D

1. Gereja St. Maria Bunda Carmel
Gereja yang konon merupakan katedral terindah di Indonesia ini merupakan titik pertama yang kami kunjungi. Gereja ini terletak di Jalan Guntur, pas di sisi Jalan Ijen Boulevard yang indah. Kami pun berfoto keluarga di depan bangunan bercat pink tersebut. 


Gereja St. Maria Bunda Carmel, salah satu katedral terindah di Indonesia


Menyeberang di jalur yang benar, menuju titik kawasan kedua

2. Monumen Pahlawan TRIP
Inilah destinasi kedua yang berlokasi tepat di depan Gereja St. Maria Bunda Carmel. Monumen ini dibangun untuk mengenang jasa para pahlawan muda pejuang kemerdekaan Republik Indonesia yang tergabung dalam pasukan TRIP atau Tentara Republik Indonesia Pelajar. Sungguh mengharukan dan memberikan inspirasi kepada kami agar menjaga kemerdekaan yang telah mereka perjuangkan.

Monumen Pahlawan TRIP, semoga semangat sang pahlawan menular kepada kami

3. Museum Brawijaya
Dari monumen TRIP, kami lanjut berjalan ke Museum Brawijaya yang tak jauh dari monumen ke arah selatan Jl. Ijen. Monumen ini ditandai dengan adanya beberapa tank di depan bangunan museum, yang katanya pernah dipakai Belanda saat bertempur dengan pasukan TRIP. Museum ini berisikan benda-benda bernilai historis tinggi, utamanya saat perjuangan melawan penjajahan dan seluruhnya bersifat orisinil. Ada mobil kuno, radio kuno, senjata perang, sampai pakaian para pahlawan berlumur noda darah yang tetap awet disimpan dalam lemari museum. Tiket masuknya murah meriah, hanya Rp 2.500,00 per orang, so tidak ada alasan untuk tidak belajar sejarah dan menghargai jasa para pendahulu kita 'kan?

Berfoto di depan loket masuk Museum Brawijaya


4. Monumen Melati Kadet Suropati
Destinasi keempat adalah Monumen Melati Kadet Suropati yang tepat berada di depan Museum Brawijaya, dan berada di tengah jalur Jalan Ijen. Monumen ini cukup tinggi dengan tetenger melati di atas dua pilar dan dikelilingi taman dan kolam yang cukup indah. Namun sayang, cukup banyak terdapat aksi vandalisme coret-coret tembok dan bau pesing yang menodai keanggunan monumen tersebut. Semoga kita semua dapat menjaga diri dan menjaga bangunan yang bernilai sejarah untuk pelajaran bagi generasi selanjutnya.

Monumen Melati Kadet Suropati

5. Perpustakaan Umum Kota Malang
Menyeberang ke arah timur, kami sampai di depan Perpustakaan Umum Kota Malang. Tempat ini adalah tempat di mana banyak buku-buku koleksi yang cukup lengkap dan memiliki fasilitas semacam tourism information center. Cukup lama kami beristirahat di sini, karena destinasi selanjutnya cukup jauh.

Di depan Perpustakaan Umum Kota Malang

6. Stadion Gajayana
Stadion Gajayana adalah stadion paling tua di Indonesia yang dibangun sebelum berdirinya dua stadion besar dan legendaris di Indonesia, yaitu Stadion Tambaksari (Surabaya) dan Stadion Gelora Bung Karno (Jakarta). Stadion ini pernah menjadi markas tim Arema Malang yang kini pindah homebase di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen. Saat ini menjadi markas tim Persema Malang.

Di sisi timur Stadion Gajayana

7. Alun-alun Kota Malang
Dari stadion Gajayana, rombongan terpecah menjadi dua. Yang sudah kecapekan naik angkot, dan yang lain tetap berjalan kaki menuju alun-alun kota Malang :D . Di alun-alun ini kami juga meluangkan waktu istirahat cukup lama, karena ada peserta yang makan dan menunggu salah satu rekan peserta yang nyusul dan juga ingin ikut dalam acara ini. Alun-alun ini terletak di pusat kota Malang dan digunakan sebagai tempat rekreasi keluarga yang cukup nyaman, namun terkadang cukup terganggu dengan adanya sampah berserakan dan pengamen yang berseliweran.

 Berfoto dengan background Masjid Jamik Kota Malang


8. Kantor Pos Besar Kota Malang
Berada di sisi selatan alun-alun, dulunya kantor pos besar ini merupakan tempat kediaman asisten residen Belanda. Namun seiring berjalannya waktu, bangunan ini beralih fungsi menjadi Kantor Pos Besar Kota Malang, dan tentu menjadi yang terbesar di Kota Malang. Di sini salah seorang tukang parkir ikutan nimbrung foto bersama kami =)) .

Foto bersama tukang parkir yang jenaka :D 



9. Masjid Jamik Kota Malang
Dari Kantor Pos Besar, kami berlanjut ke Masjid Jamik Kota Malang. Masjid ini merupakan salah satu bangunan tertua di Kota Malang dan sudah ada sejak masuknya agama Islam di Kota Malang. Masjid ini bercirikan campuran Arab dan Jawa pada lekukan pintu dan kubahnya. Di masjid ini kami menyempatkan diri untuk sholat Duhur bersama. Si Azza dan adiknya, Ririn dan kawannya mohon izin untuk pamit kepada kami tidak dapat melanjutkan perjalanan karena ada keperluan yang cukup penting.


10. Plaza Sarinah
Setelah sholat, kami segera menyeberang ke utara, menuju destinasi kesepuluh, yaitu Plaza Sarinah. Sarinah merupakan tempat perbelanjaan tertua di Kota Malang dan dulunya merupakan kompleks hura-hura bagi orang Belanda. Nama Sarinah sendiri kabarnya merupakan nama seseorang entah siapa yang dikagumi oleh Bung Karno.

Di seberang Plaza Sarinah

11. Toko Oen
Tak jauh dari Plaza Sarinah, kami mampir sejenak di depan Toko Oen yang legendaris. Inilah tempat kuliner jujukan para turis di seluruh dunia yang mampir di Kota Malang. Resep kulinernya dikenal merupakan warisan pada pendirinya terdahulu dan masih orisinil (dipertahankan) sampai sekarang. Kami sengaja hanya berfoto di luar saja, karena kantong kami masih sangat tipis untuk menghabiskan kuliner Oen, hehe.

Di depan Toko Oen
12. Gereja Tertua Hati Kudus Yesus
Ini adalah gereja tertua yang ada di Malang dan pertama kali dibangun di Kota Malang. Dulu ketika para jemaat yang beribadah di gereja ini sangat banyak, sampai gereja tidak mampu memuat seluruh jemaat. Sehingga dibangunlah Gereja St. Maria Bunda Carmel di Jl. Guntur untuk menampung jemaat yang belum mendapatkan tempat ibadah.

13. Monumen Chairil Anwar
Monumen Chairil Anwar didirikan selain untuk mengenang kemasyhurannya di seni syair, juga dibangun untuk keperluan perjuangan yang tidak hanya membutuhkan senjata, namun juga membutuhkan kata-kata pembangkit semangat perjuangan melawan penjajahan demi kemerdekaan. Monumen ini berlokasi tepat di persimpangan kawasan Kayutangan dan berseberangan dengan Gereja Hati Kudus Yesus di sebelah selatan.

Berfoto di depan Monumen Chairil Anwar dengan background Gereja Hati Kudus Yesus

14. Kawasan Pertokoan Kayutangan
Kawasan pertokoan Kayutangan juga merupakan kawasan perbelanjaan tertua dan legendaris. Ada banyak versi mengenai nama Kayutangan itu sendiri. Kawan-kawan dapat melihat dalam itinerary trips yang ada di menu halaman blog. Kompleks pertokoan Kayutangan ini cukup luas memanjang sampai di kantor PLN ke arah utara.

Kawasan Pertokoan Kayutangan

 Sedia Payung dan Jas Hujan

Dari sini menuju destinasi selanjutnya, sempat turun hujan sebentar yang membuat kami berteduh sejenak. Setelah hujan reda, kami melanjutkan perjalanan lagi.

15. Jembatan Kahuripan
Tak jauh dari tempat kami berteduh, terdapat sebuah jembatan tua, yaitu Jembatan Kahuripan. Jembatan ini dibangun untuk menghubungkan kedua jalan protokol, yaitu Jl. Kahuripan di sebelah timur dan Jl. Semeru di sebelah Barat. Di bawahnya mengalir sungai yang sayangnya cukup kotor dan cukup banyak pemukiman di bantaran sungai.

Para cewek narsis di tengah gerimis

 Jembatan Kahuripan

 Sungai yang mengalir di bawah Jembatan Kahuripan
16. Tugu Alun-alun Bunder
Nah, inilah salah satu destinasi favorit di Kota Malang. Tugu Alun-alun Bunder merupakan bangunan yang dibuat untuk mengenang perjuangan heroik para pahlawan setelah kemerdekaan Republik Indonesia, yaitu melawan Agresi Militer Belanda I dan II. Tugu ini dikelilingi oleh taman bunga yang cantik dan teratai di atas air yang akan mekar berwarna keunguan apabila berbunga. Di sini kami cukup lama untuk berfoto mengekspresikan diri, B-) .

 Berfoto dengan background dua landmark sekaligus, yaitu Tugu dan Balaikota Malang


17. Stasiun Malang Kotabaru
Lanjut berjalan ke arah timur, kami sampai di Stasiun Malang Kotabaru. Stasiun berasitektur kuno ini merupakan stasiun yang dibangun secara terpisah dengan Stasiun Malang Kotalama untuk memperluas jaringan tujuan kereta api seiring dengan kemajuan pesat yang dialami Kota Malang saat itu. Saat ini, Stasiun Malang Kotabaru menjadi akses utama menuju kota-kota besar di Pulau Jawa, seperti Jakarta, Bandung, Cirebon, Semarang, Solo, Yogyakarta, Madiun, Banyuwangi, Surabaya, Kediri, dan lain-lain.
Teriak "Aaaaaaa........!!!!!"
18. Monumen Juang '45
Monumen yang berada tepat di depan stasiun ini menggambarkan kisah heroik para pejuang tempo dulu yang digambarkan cukup baik dengan guratan-guratan detail pada reliefnya.

19. Balaikota Malang
Acara tur semakin mendekati akhir, kala kami menyempatkan diri untuk mampir ke Balaikota Malang, tepat di sisi selatan Tugu alun-alun bunder. Tempat ini merupakan pusat pemerintahan walikota Malang. Di balkon lantai dua konon pernah berdiri sang presiden RI pertama kita, yaitu Bung Karno yang berpidato memberi semangat kepada rakyat Malang untuk berjuang demi kemerdekaan. Setelah menyampaikan izin kepada petugas keamanan, kami pun masuk ke halaman balaikota untuk berfoto singkat, semoga lain waktu kami bisa masuk ke dalamnya.

Balaikota Malang

20. Inggil Museum Resto
Akhirnya! Perjalanan "Malang City Heritage Tour" pun berakhir dengan lancar di sebuah resto dengan suasana tempo doeloe setelah sebelumnya mampir foto di depan Museum Tempo Doeloe. Inggil Museum Resto yang berlokasi di Jl. Gajayana (belakang Balaikota Malang) ini didirikan oleh Mas Dwi Cahyono, si penulis buku "Malang, Telusuri Dengan Hati" dan sang penggagas even "Malang Tempo Doeloe" yang heboh setiap tahunnya. Di tempat terakhir tur ini kami menyempatkan untuk makan dan minum, sekaligus mengistirahatkan kaki. Pukul 16.00 WIB, kami pun meninggalkan tempat, pulang ke hunian masing-masing.

Di depan Museum Malang Tempo Doeloe

Mejeng sebelum melahap menu masing-masing

 Menu yang saya pilih bersama Muchlis, Nasi Jagung 1 porsi dan Tempe Goreng 1 buah 
plus segelas teh tawar hangat

Foto penutup sebelum pulang, see you in next trip with Gamananta >:D< 


Yup! Demikianlah yang terjadi saat acara "Malang City Heritage Tour" kemarin tanggal 29 Desember 2012. Sekalipun kaki cukup kemeng, namun semoga foto-foto dan wawasan sejarah yang didapat bisa menjadi penyembuh pegel itu semua. Foto-foto yang lain bisa dilihat di album Google Picasa kami. Mari kita cinta dan kita jaga Indonesia, mulai dari sejarahnya!

SALAM RESPECT!
Read More