Saturday, 5 January 2013

Catatan Gamananta: Gunung Panderman, Gunung Pelampiasan (PART 2)


Yo! Lanjut lagi setelah nggelandang tidak jelas di Pasuruan, kini saatnya melampiaskan 'kegagalan' pendakian ke gunung favorit untuk latihan, yaitu Gunung Panderman! Rencana awalnya sih, berangkat Minggu siang, namun molor jadi sore karena beberapa alasan. Langsung saja kami berdongeng! :D

Minggu, 25 November 2012
Sore itu sudah menunjukkan pukul 16.30 WIB saat kami mulai meninggalkan kos-kosan kami berempat. Dengan menaiki dua sepeda motor, kami bergerak menuju basecamp Gunung Panderman di Kota Batu. Sekadar info, tim kali ini terdiri dari saya, Mas Kurniawan, Muchlis dan Rizky. Si Uqi lagi berhalangan ikut karena ada keperluan lain. Kami sampai di basecamp sekitar pukul 17.00. Setelah menitipkan motor, mendaftarkan diri, dan membayar administrasi, dimulai dengan doa, kami segera beranjak berjalan mendaki. Gunung Arjuno dari kejauhan nampak cukup cerah dan gagah berdiri, seolah menantang kami untuk mampir ke sana, semoga. 

Gunung Arjuno nampak gagah menjulang tinggi, menantang kami untuk didaki

Setelah 15 menit berjalan kami beristirahat untuk mengisi ulang jeriken kami dengan air sumber yang dialirkan melalui pipa dan ditampung dalam bak yang terus mengalir tanpa henti. Hari sudah mulai gelap sore itu. Jalur terus landai dan perlahan naik sampai kami bertemu pada sebuah tanjakan cukup curam, menguras tenaga. Sesampai di ujung tanjakan, kami menyalakan headlamp untuk penerangan karena malam semakin dekat. Selang 30 menit kemudian, kami sampai di Latar Ombo. Angin cukup kencang berhembus, udara mulai terasa dingin, namun bintang-bintang yang bertaburan dan lampu-lampu kota Batu yang gemerlap menghibur kami di malam yang cantik saat itu. Kami istirahat sekitar 10 menit di sini, Ketika angin mulai terasa menusuk kulit, kami pun segera melanjutkan perjalanan.

Rizky mengisi jeriken dengan air dari sumber yang terus mengalir

Jalur dari Latar Ombo relatif landai, namun begitu memasuki vegetasi hutan pinus, jalur mulai beranjak naik dan menanjak. Banyak batu-batu yang berukuran cukup besar yang dapat digunakan sebagai pijakan naik. Saya cukup kepayahan, karena saya adalah satu-satunya yang bawa carrier untuk menampung tenda, matras dan kompor kami berempat. Semenjak pulang dari Pasuruan memang belum sempat saya bongkar. Sedangkan yang lain membawa tas daypack. Tak sampai 45 menit, kami pun sampai di Watu Gedeg, tempat yang dapat digunakan berkemah setelah di Latar Ombo. Tempat ini ditandai dengan dataran dan batu-batu berukuran besar. Namun sayang, terdapat cukup banyak bekas aksi vandalisme (coretan-coretan) dari para pendaki ataupun pengunjung yang tidak bertanggung jawab. Semoga teman-teman tidak sampai melakukan hal seperti itu, cukuplah tinggalkan jejak dan mengambil foto di gunung. Setelah istirahat sejenak, kami segera ngebut untuk sampai di puncak, karena malam itu udara cukup dingin, kami harus terus bergerak sekalipun perlahan. Terlebih saya, cukup kepayahan karena membawa tenda. Namun, semangat teman-teman selalu menjadi obat ampuh menghilangkan lelah dan meneruskan perjalanan. 

Jalur terus menanjak hampir tak kunjung henti. Masih ada tanjakan yang cukup 'setan', karena saking menanjaknya. Begitu terus kami lalui, melewati Jurang Banteng, tanjakan sekali lagi, dan akhirnya sampailah kami di Puncak Basundara, 2.000 mdpl. Total 2,5 jam kami tempuh dari basecamp sampai di puncak. Segera kami menggelar tenda, dan segera masuk ke dalamnya. Hampir tidak ada minat membuat masakan karena kami berempat sudah cukup lelah dan ngantuk semua. Akhirnya kami memilih tidur, dan memasak beosk paginya saja untuk sarapan.

Senin, 26 November 2012
Yup, kami pun bangun pagi sekitar pukul 05.00 WIB. Sunrise muncul cukup indah sebenarnya, namun sekelebat mendung dan kabut menutupi sinarnya. Gunung Arjuno dan kota-kota di bawahnya nampak jelas kontras, antara gagah raksasa dan kecil. Kami pun segera mempersiapkan sarapan. Menu pagi itu adalah nasi dan mi instan, ditambah kopi hangat. Tiba-tiba terdengar suara dari penjuru hutan dan semak-semak. Kami menduga itu adalah para kera penghuni hutan Gunung Panderman. Ternyata dugaan kami benar, pertama muncul satu ekor, terus lama-lama muncul dalam jumlah cukup banyak dari berbagai penjuru. Yang menarik perhatian kami adalah dua jenis kera yang satu adalah kera putih yang menggendong anaknya, dan satu lagi kera berbadan kekar dan nampaknya begitu rakus dan ditakuti koleganya. Kami pun segera waspada dan menjaga semua logistik kami dan berusaha tidak gegabah memberikan semua yang kami miliki, karena hal itu justru akan membuat kera-kera itu ketagihan diberi makanan lagi.

Kami mencoba memberikan sisa beras kepada kera-kera tersebut yang dimasukkan ke dalam kaleng bekas, dan tak disangka malah disambar cepat oleh kera berbadan kekar tadi. Semua kawan-kawannya mencoba mendekati malah dihalau oleh kera rakus tersebut seolah-olah tidak boleh ada yang mendapatkannya kecuali dia sendiri. Bahkan, si kera putih ketika mencoba mengambil kaleng bekas berisi beras tersebut, malah dipukul berkali-kali oleh si kera rakus itu. Melihat hal itu, kami semakin menjaga ketat dan berusaha menghalau mereka yang mencoba mendekati kompor kami yang sedang memasak nasi. Setelah nasi matang, kami segera membawa ke dalam dan memutuskan untuk memasak mi instan di dalam tenda saja. Sambil melihat ke luar tenda, kami masih melihat beberapa kera yang menunggu diberi makan. Namun, seiring berjalannya waktu, akhirnya kera-kera itu mungkin bosan dan mereka pun beranjak pergi dari kawasan puncak. Mi instan pun sudah masak, dan kami pun makan dengan lahapnya.

Ini dia si kera rakus berbadan kekar yang ditakuti kawan-kawannya

Setelah makan usai, kami berfoto-foto dan juga mempersiapkan packing untuk pulang ke kos masing-masing. Target kami sebelum duhur kami harus sudah turun dari kawasan puncak. Langsung saja kami berbagi foto-foto di puncak Basundara, Gunung Panderman.

 Pemandangan Gunung Arjuno dan Kota Batu dari puncak Panderman

Puncak Basundara, 2.000 mdpl

Muchlis berpose mengibarkan rangkaian kata untuk ayah, ibu dan adik kandungnya :) 


Kera putih dan kawan-kawan sesama kera penghuni hutan Gunung Panderman, 
mengharap belas kasihan kami


Muchlis dan Mas Kurniawan sibuk mempersiapkan masakan


Rizky bersama saya menjadi "satpam" penghalau para kera

 Mas Kurniawan berpose beda di puncak


Rizky bergaya sebelum turun


Saya yang nampak sayu karena kecapekan


Yes! Akhirnya kita pun turun ke basecamp dalam waktu tempuh sekitar 1,5 jam. Sepanjang perjalanan kami sempat bertemu para tentara yang mungkin sedang survei atau latihan ke puncak Panderman. Inilah Gunung Panderman, sudah dua kali kami ke sini. Yang pertama dulu sebagai pemanasan pendakian sebelum mendaki Gunung Semeru pada tanggal 8 November 2012 lalu. Yang kedua ini adalah sebagai pelampiasan karena gagal mendaki ke Gunung Arjuno-Welirang gara-gara ada orang hilang dan bertepatan dengan malam-malam Suro. Baru-baru ini kami ada rencana mendaki pada akhir Desember ke sana, namun lagi-lagi gagal gara-gara ada pendaki mahasiswa UPN Surabaya yang hilang di hutan Gunung Welirang, semoga segera ditemukan dan pendakian normal kembali.

SALAM RESPECT!



About Gamananta TravelerCommunity

Gamananta adalah sebuah komunitas traveler yang selalu membawa semangat dan orientasi konservasi dalam setiap kegiatan dan perjalanannya. Gamananta merupakan dua kata gabungan dari bahasa Sansekerta, "Gama" berarti perjalanan dan "Ananta" berarti tanpa batas. Gamananta berusaha untuk berjalan tanpa batas demi visi dan misinya.

Artikel Terkait

8 comments:

  1. itu kera yang pernah mencakar tanganku...pimpinanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, beneran mas? Preman tuh mas :D

      Delete
  2. iya benar....kami bertiga dia hanya sendiri...tanganku bekas luka cakar berdarah...ga punya takut yang satu ini....

    ReplyDelete
  3. http://pasukanlangit7.blogspot.com/2012/04/kera-kera-liar-gunung-panderman.html


    kopiku diminum bro...ga sabaran direbut dari tanganku...habis kopi segelas ama mie satu hungkus satu ini rakus....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masya Allah, iya kah?? wah, harus berhati2 mas bro, tapi jangan sampai kapok mendaki panderman :D

      Delete
    2. semoga kami dari bandung bisa mendaki kesana.. salam kenal.. kami follow ya blognya.. trims :)

      Delete
    3. Monggo silakan menikmati alamnya, salam kenal dan salam respect,
      terima kasih sudah bersedia mampir :-)

      Delete
  4. Mitosnya kalau liat kera putih diatas gunung Panderman, pasti bakal balik lagi..!!

    ReplyDelete

No Spam, No Sex, No SARA
Junjung Tinggi Kebebasan Berpendapat yang Bertanggung Jawab