Wednesday, 27 March 2013

Penantian Lama yang Berakhir, Bersujud di Ogal-Agil Gunung Arjuno


Arjuno oh Arjuno, nama itu selalu terngiang-ngiang semenjak gagal mendaki pada 23 November 2012 lalu (artikelnya ada di sini ). Terlebih terkadang sosoknya yang muncul di balik kabut tebal yang terlihat dari kampus kami, seolah-olah mengajak kami dan menantang kami untuk menghampirinya kelak. Hingga akhirnya kesempatan itu datang juga, di bulan Maret 2013. Mari sejenak membaca runtutan histori silaturrahmi kami dengan gunung yang terkenal sering membuat orang-orang penasaran karena seolah-olah sering tak mau didatangi pengunjung.

Setelah berulang-ulang kopdar membahas tanggal dan teknis keberangkatan, akhirnya disepakati bahwa kami akan berangkat pada hari Kamis, tanggal 14 Maret 2013 (maju 1 minggu dari rencana awal). Persiapan perlengkapan dan logistik sudah dibagi tugasnya oleh masing-masing peserta, tinggal latihan fisik yang agak kedodoran karena kesibukan akademik. Oh iya, peserta pendakian "Ekspedisi GARWE (Gunung Arjuno-Welirang)" ini adalah:
  1. Rifqy (perencana perjalanan)
  2. Muchlis
  3. Rizky (penanggung jawab ekspedisi dan perlengkapan)
  4. Roni
  5. Zaki
  6. Fandi
  7. Norma
  8. Ike (penanggung jawab logistik)
  9. Lita
Kamis, 14 Maret 2013

Foto bersama di meeting point sebelum berangkat

Yup! Setelah semuanya siap, maka selanjutnya kami berkumpul di meeting point, yaitu selatan gedung Samantha Krida UB. Dari rencana awal kumpul jam 14.30, molor hampir 5 jam gara-gara ada yang masih keperluan akademik, lupa membawa perlengkapan yang tertinggal, dan kendala teknis transportasi. Tepat setelah kumandang adzan isya', kami berkumpul, berdoa bersama dan berangkat dengan 5 motor, saya di depan sendirian, Rizky dengan Ike, Zaki dengan Norma, Roni dengan Fandi, dan Muchlis dengan Lita.

Malang - Pos Tretes
Perjalanan relatif lancar karena lalu lintas tidak terlalu padat. Setelah melewati Singosari, Lawang, Purwodadi, Purwosari, Sukorejo, Prigen, Pandaan, 1,5 jam kemudian kami sampai di Pos Tretes yang terletak di samping Hotel Surya dan depan Hotel Tanjung Plaza. Bagi orang yang pertama kali ke sini biasanya kebingungan karena lokasi pos perizinannya menjorok ke dalam. Di pos perizinan, kami dilayani oleh Pak Syokir, orangnya ramah sekali. Beliau juga yang punya rumah di samping pos perizinan sekaligus menerima penitipan sepeda motor atau mobil. Untuk contact person beliau dan tarif pendakian akan dijelaskan di bawah artikel ini. Setelah registrasi, kami segera sholat Isya', repacking, dan pemanasan. Tepat pukul 22.30 WIB, kami start berangkat dari Pos Tretes, dengan target nge-camp di Pos Kokopan.

Pos Tretes - Pet Bocor
Trek awal berupa aspal yang dimulai dari sebelah utara pos, ke kiri dengan medan relatif landai, kemudian pelan-pelan menanjak sampai pintu gerbang. Setelah pintu gerbang, jalanan aspal mulai menanjak tajam, berkelak-kelok. Kammi bertemu pertigaan yang mana ke kanan adalah ke Air Terjun Kakek Bodho, sedangkan yang ke kiri adalah ke Gunung Arjuno-Welirang. Baru beberapa meter berjalan, terjadi insiden kecil namun cukup menegangkan. Lita, yang baru kali ini naik gunung besar, merasa capek teramat sangat dan bernafas tersengal-sengal. Bahkan dia berkata kalau tidak sanggup melanjutkan perjalanan menuju pos Kokopan. Suasana menjadi terasa tegang, karena capek yang dialami Lita seperti tidak biasa terjadi. Entah kaget karena jalur begitu sangat menanjak atau karena hal non-teknis lain, kami tidak tahu. Saya, Muchlis, dan Rizky saling berpandangan heran sekaligus khawatir, apakah pendakian kali ini gagal untuk kesekian kalinya gara-gara salah satu personel sudah menyatakan menyerah. Tidak! Pendakian kali ini harus berhasil. Tugas untuk kami mengembalikan semangat dan spirit mental Lita agar mau melanjutkan perjalanan. Setelah mengucap doa-doa ditambah guyonan teman-teman yang mencairkan suasana, akhirnya beberapa menit kemudian si Lita kembali sumringah dan mau melanjutkan perjalanan. Entah mendapat energi atau dorongan dari mana, si Lita kembali kuat berjalan. Kami pun sampai di Pet Bocor setelah berjalan 45 menit dari pos Tretes, termasuk istirahat lama karena insiden tadi.

Pet Bocor (Shelter I)

Pet Bocor - Pos Kokopan
Setelah istirahat sekitar 10-15 menit, kami melanjutkan perjalanan kembali. Jalan tetap beraspal, sebagian dicor semen. Beberapa menit kemudian, kami sampai di perbatasan yang menunjukkan kami akan memasuki kawasan Taman Hutan Rakyat (Tahura) R. Soerjo, ditandai dengan gapura dan pos jaga di sebelah kanan jalan. Setelah itu, jalur berganti menjadi berbatu alias makadam. Perlu diingat, sepanjang jalur pos Tretes sampai pos Pondokan bisa dilalui oleh jeep penambang yang biasa mengangkut belerang dari atas. Jalur awal dari Pet Bocor masih dinaungi beberapa vegetasi seperti pisang dan tanaman-tanaman lain. Jalurnya berputar-putar, ketika sampai di ujung tanjakan akan berbelok kanan, maka akan kembali dijumpai tanjakan yang seolah tak habis-habis. Berbatu, terkadang terjal, benar-benar menguji kesabaran fisik dan mental. Kami sempat merasa lega ketika mendengar suara aliran air, kami kira Kokopan sudah dekat, ehhh ternyata masih jauh. Kembali jalur berputar-putar. Kemudian jalur mulai terbuka sehingga angin terasa dingin. Kalau berjalan di siang hari akan terasa sangat panas. Setelah hampir 4,5 jam berjalan dari Pet Bocor, akhirnya kami sampai di Pos Kokopan, waktu menunjukkan pukul 03.30 WIB. Malam ini kami tidak menyempatkan foto karena sibuk segera mendirikan tenda plus kedinginan. Kami harus segera istirahat karena paginya kami harus berjalan lagi ke pos Pondokan. Setelah 3 tenda berdiri, kami masuk ke tenda masing-masing dan segera beristirahat. 

Jum'at, 15 Maret 2013
Tidak sempat menikmati sunrise! Gara-garanya kami sudah kecapekan dan begitu terlelap menikmati tidur yang hanya 3 jam saja. Kami segera bangun, mempersiapkan sarapan oatmeal dengan campuran gula dan susu coklat (nikmaattt.....!!!), mie instan, kopi, dan susu coklat hangat. Yang saya suka di Kokopan ini adalah ada warung untuk berteduh (karena tempatnya begitu terbuka dan panas), sumber mata air yang sangat segar, dan pemandangan yang luar biasa indah di mana Gunung Penanggungan dan gugusan Gunung Semeru dapat kita lihat dari sini. 

Tenda kami di Pos Kokopan (Shelter II)

Sumber mata air di Pos Kokopan

Gunung Penanggungan terlihat dari Pos Kokopan

Setelah sarapan, kami segera bergantian repacking. Benar kata orang-orang, cuaca di kawasan Gunung Arjuno-Welirang cepat berubah-ubah. Baru jam 08.00, kabut sudah silih berganti datang menghampiri, setelah itu cerah lagi. Dan saat kami bersiap akan berangkat, cuaca malah mendadak mendung dan berkabut. Mau tak mau, kami harus segera cepat berkemas daripada kehujanan sebelum berangkat. 

Repacking sebelum berangkat ke Pondokan

  Foto bersama sebelum melanjutkan perjalanan
(Kiri-kanan: Roni, Zaki, Fandi, Muchlis, Rifqy-saya, Lita, Ike, Norma
Fotografer: Rizky)

Pos Kokopan - Pos Pondokan
Setelah semua siap, kami segera berkumpul dan berdoa. Tepat pukul 09.30 WIB, kami start berangkat menuju pos Pondokan. Baru beberapa meter berjalan, tanjakan demi tanjakan sudah siap menyambut kami. Berkelak-kelok tak pernah habis menghajar kaki kami. Sekitar 20 menit berjalan, kami menemukan sebuah pos jaga dan beristirahat sebentar di dalamnya. Beberapa menit kemudian kami melanjutkan perjalanan kembali. Hampir tidak ada bonus trek yang memanjakan kami. Karena itu setiap bertemu jalur yang agak datar dan lapang, kami beristirahat. Tak jauh dari pos tersebut, kami memasuki kawasan hutan Alas Lali Jiwo yang terkenal sering menyesatkan pendaki. Kalau baru pertama ke sini, lebih baik kita mengikuti jalur penambang yang lebar dan tidak dianjurkan untuk potong kompas. Memang lebih lama, tapi yang penting pelan-pelan asal selamat. Setelah bertemu di ujung jalur, kami dihadapkan jalur yang begitu menanjak dan sangat menguras tenaga. Badan saya terasa gemetar dan meminta break kepada teman-teman. Ya, di tengah jalur menanjak, kami beristirahat sambil makan roti tawar selai kacang plus gula merah untuk memulihkan energi kami. 
Istirahat di tengah perjalanan

Setelah dirasa kembali pulih energi kami, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Pondokan. Akhirnya kami sampai di ujung jalur curam ini begitu panjangnya. Namun, penderitaan kami belum berakhir. Berbelok dari ujung jalur, kembali dihadapkan tanjakan berbatu yang membuat mata nanar seolah-olah meminta kami menyudahi perjalanan. Tidak! Kami tidak boleh menyerah. Toh, perlahan-lahan berjalan lama-lama juga sampai. Akhirnya kami menemukan bonus trek yang cukup panjang, masih di dalam kawasan Alas Lali Jiwo. Cukup jauh juga jalur landai ini kami telusuri. Sampai kami menemukan tanjakan lagi dan samar-samar terlihat sebuah gubuk beratap jerami. Yes! Sebentar lagi kami sampai di pos Pondokan. Dua tanjakan lagi! Setelah berjalan 5 jam, kami sampai di pos Pondokan. Sepi sekali di sini, hanya 1 orang penghuni pondok yang terlihat. Dari sini, terlihat rambu-rambu kalau ke Gunung Welirang kita berjalan lurus melewati pondokan, dan Gunung Arjuno belok kiri, ke arah Alas Lali Jiwo menuju Lembah Kijang. 

Pos Pondokan (Shelter III)

Plang penunjuk arah antara Gunung Welirang dan Gunung Arjuno

Di sini, kami beristirahat cukup lama karena kaki terasa gempor dihajar tanjakan berbatu, serasa diterapi lutut dan telapak kaki secara overdosis. Di Pondokan ini airnya agak keruh. Lebih baik bila mau ke Gunung Arjuno, isi ulang air dan camp di Lembah Kijang. Sedangkan apabila meneruskan ke Welirang lebih baik camp agak berjauhan dari pondok untuk menghindari friksi sosial dengan para penambang yang menurut orang-orang kurang welcome dengan para pendaki. Karena tujuan pertama kami adalah Gunung Arjuno, maka kami harus belok kiri ke arah Lembah Kijang. Setelah 30 menit beristirahat, kami melanjutkan perjalanan ke Lembah Kijang. Dari Pondokan ke Lembah Kijang, dapat kami tempuh hanya 20 menit saja, melalui jalan setapak. Dua puluh menit kemudian kami sampai di Lembah Kijang yang begitu indah dan sunyi. Dari sini sebenarnya puncak Gunung Arjuno bisa terlihat, namun saat itu tertutup kabut tebal. Lembah Kijang ini merupakan padang rumput yang luas di tengah-tengah kawasan Alas Lali Jiwo. Total dari pos Kokopan ke Lembah Kijang, lama waktu yang ditempuh adalah 6 jam perjalanan termasuk istirahat.

Sesampainya kami di Lembah Kijang, kami segera mendirikan tenda dan mengeringkan pakaian yang basah. Beberapa dari kami mempersiapkan logistik untuk masak makan malam. Menu makan malam kali ini istimewa, yaitu sayur sop dengan lauk nugget plus sambal kecap. Malam ini kami harus makan banyak sebagai pemulih energi kami, karena dinihari nanti kami akan summit attack ke puncak Gunung Arjuno. Oh iya, sumber air di Lembah Kijang ini sangat jernih dan segar, disaring oleh ranting-ranting dan seresah, lalu ditempatkan botol untuk memudahkan pengambilan air.

Persiapan masak untuk makan malam

Kiri-kanan: Muchlis, Rizky, Lita

Menu sayur sop lauk nugget plus sambal kecap siap saji

Setelah puas makan malam bersama, semua personel bersiap untuk sholat dan istirahat. Kami harus segera tidur untuk mengembalikan energi yang terkuras selama perjalanan sebelumnya. Menurut perkiraan, dari Lembah Kijang menuju puncak Gunung Arjuno membutuhkan sekitar 4-5 jam perjalanan. Karena itu target kami persiapan mulai pukul 02.00 dan berangkat pukul 03.00. Jika kami terlalu terlambat summit, maka kami hanya akan menjumpai kabut tebal di atas. Sekitar pukul 20.00, kami semua sudah bersiap tidur di tenda masing-masing.

Sabtu, 16 Maret 2013
Pukul 02.00 WIB, alarm handphone kami berdering, menandakan kami harus segera bersiap untuk summit attack. Sembari persiapan, kami juga mempersiapkan roti tawar selai kacang untuk bekal sarapan di puncak. Karena si Roni sudah pernah ke puncak Arjuno, dia menawarkan untuk tetap tinggal di Lembah Kijang menjaga tenda. Jadi, kami ke puncak berdelapan, kecuali Roni. Dalam perjalanan ke puncak, kami membawa sekitar 4 botol air mineral 1,5 liter plus platipus milik Muchlis yang masih tersisa 1,5 liter. Ditambah dengan 3 daypack untuk menampung logistik selama perjalanan. Selain berbekal peralatan "tempur" seperti jaket, sepatu, kupluk, headlamp/senter, sarung tangan, raincoat, dan lain sebagainya untuk menghadang angin yang sangat dingin, juga berbekal kamera digital untuk fase narsis nanti selama perjalanan dan di puncak, hehehe

Lembah Kijang - Puncak Gunung Arjuno: Summit Attack!
Setelah berdoa dan Ji! Ro! Lu! Budal!, kami berangkat menuju puncak. Sepanjang perjalanan kami banyak bershalawat dan berdoa memohon perlindungan, kekuatan, keselamatan, dan dihindarkan dari hal-hal yang dapat membahayakan keselamatan kami. Kami akui, Alas Lali Jiwo benar-benar terkesan seram dan wingit ketika malam hari. Alas Lali Jiwo juga terkenal sebagai alasnya para jin di Jawa Timur. 

Jalur dimulai dengan mengikuti petunjuk "Puncak" di Lembah Kijang, melewati sumber air dan mengikuti jalan setapak dengan rumput-rumput yang tumbuh cukup tinggi. Terkadang di beberapa titik menutupi jalur dan terhalang beberapa kayu maupun pohon tumbang. Petunjuk berupa tali rafia atau plastik yang diikatkan di ranting-ranting pohon dan rumput cukup membantu navigasi kami dalam perjalanan ke puncak. Jalur awal relatif datar dan setelah melewati hamparan rerumputan yang basah karena embun, jalur mulai menanjak naik. Terkadang terdapat banyak batu-batu berserakan, menandakan bahwa gunung ini dulunya gunung aktif. Jalur yang menanjak cukup membuat kami ngos-ngosan. Kami sempat salah jalur ketika Muchlis berbelok kiri menaiki bebatuan yang cukup curam, karena jalur lurus nampak tertutupi oleh semak-semak. Ketika dilakukan orientasi jalur kembali, ternyata yang benar adalah lurus melewati semak-semak dan bebatuan. Beberapa jalur harus melewati gigiran tipis yang mana kanannya adalah jurang. 

Beristirahat di tengah perjalanan ke puncak

Perlahan-lahan jalur menanjak naik cukup tajam, beberapa bahkan harus membuat kami sedikit memanjat berpegang pada batu-batu atau akar-akar pohon. Beberapa juga harus menerabas rimbunnya semak-semak dan ranting, karena mungkin jalur ini belum sempat dibersihkan atau dipulihkan oleh pihak pengelola, sehingga apabila berjalan di malam hari seperti ini harus berhati-hati dan tetap waspada. Kami juga menemui pertigaan yang mana ke kanan adalah jalur ke Gunung Welirang atau Cangar melalui Gunung Kembar I dan II, sedangkan ke kiri adalah jalur menuju puncak Arjuno. Selepas itu kami mulai memasuki hutan pinus yang cukup rapat vegetasinya. Harap berhati-hati dan tetap memperhatikan petunjuk ikatan tali, karena apabila salah jalur, Anda bisa bergeser ke kanan jalur yang tak lain adalah jurang. Kami membayangkan seandainya tidak ada petunjuk jalur seperti tali tersebut, maka kemungkinan kami akan kebingungan mencari jalan naik, apalagi turun. 

Matahari mulai menampakkan sinarnya setelah sekitar 2 jam kami berjalan. Kami tetap harus berjalan meskipun agak perlahan-lahan dan tertatih-tatih, karena tanjakannya minta ampun, menanjak terus! Hingga akhirnya kami menjumpai batu besar dan tempat datar cukup untuk melaksanakan sholat Subuh di sana. Seusai sholat, kami melanjutkan perjalanan kembali. Jalur kembali naik, hingga kami bertemu dengan sebuah dataran yang cukup lapang yang ketinggiannya hampir sama dengan puncak Arjuno. 

Gunung Welirang nampak mengeluarkan asap dan 
Gunung Penanggungan di belakang terlihat kecil

Yang mana pasar Dieng, yang mana puncak Arjuno?
Kebingungan melanda kami karena kami belum menemui tanda-tanda kuburan sebagai tetenger Pasar Dieng. Dan dari dataran tempat kami berpijak tadi sempat melihat ada dua orang di atas batu-batu besar jauh di sana. Kemungkinan itu puncak dan mereka naik lewat jalur Purwosari atau Lawang. Namun, kok tidak ada bendera merah putih yang berkibar? Hal itu semakin membingungkan kami, karena itu kami harus terus berjalan padahal stamina kami sudah cukup terkuras. Hingga akhirnya kami menemukan kuburan yang dimaksud, berarti inilah kawasan Pasar Dieng. Di sini terdapat tanah lapang untuk mendirikan cukup banyak tenda namun rawan terkena angin kencang dan badai karena sangat terbuka. Sesampainya di sini kami semakin yakin bahwa di depan kami puncak sudah hampir sampai. Jalur ke puncak dari Pasar Dieng menurun terlebih dahulu baru kemudian menanjak. Hanya dibutuhkan waktu 15-20 menit untuk mencapai puncak Arjuno dari Pasar Dieng. 
Yes! Inilah Ogal-Agil, Puncak Tertinggi Gunung Arjuno!
Setelah berjalan kurang lebih 4,5 jam dari Lembah Kijang, akhirnya sampailah kami pada ketinggian 3.339 mdpl, puncak tertinggi Gunung Arjuno. Segala lelah dan capek terbayar sudah. Setelah berbulan-bulan menanti kesempatan itu, akhirnya tibalah saatnya kami menyentuh batu ogal-agil di puncak Gunung Arjuno. Saya segera sujud syukur mencium batu-batu besar itu, tanpa terasa air mata keluar pertanda begitu terharunya saya dapat menggapai puncak ini bersama teman-teman. Yang membuat kami begitu bersyukur adalah sepanjang perjalanan cuaca sangat cerah, hanya beberapa saat terhalang kabut.

Suasana di puncak Arjuno saat itu begitu indah dan cerah. Waktu telah menunjukkan pukul 08.00 WIB. Pemandangan di sekitarnya begitu cantik. Gugusan Gunung Semeru nampak gagah nun jauh di sana, berselimutkan awan dan sesekali mengeluarkan asap. Gunung Argopuro dalam gugusan Pegunungan Hyang Timur juga nampak terlihat. Gunung Penanggungan juga terlihat begitu kecil. Nampak pula Gunung Welirang yang selalu mengeluarkan asap belerang, perlahan-lahan mulai tertutup kabut. Kami segera berfoto-foto sebanyak-banyaknya karena 15 menit setelah kami di puncak, kabut nampaknya mulai naik. Cukup seram juga di puncak Arjuno ini, karena di sisi lain langsung berhadapan jurang dalam nan terjal. 

Dinamakan Ogal-Agil karena batu-batu besar tersebut berserakan dan akan bergerak apabila tersapu angin yang sangat kencang. Yang sangat disayangkan adalah adanya aksi vandalisme coret-coret batu oleh mereka yang bangga mengatasnamakan diri sebagai pendaki atau pecinta alam. Saya berjalan menuju ke batu tertinggi dan akhirnya saya menemukan seonggok tiang bendera merah putih berkarat yang ternyata tumbang tersapu angin rupanya. Segera saya tegakkan dan meminta teman-teman untuk berfoto dengan bendera dwi warna kebanggaan kita semua, menunjukkan bahwa Gunung Arjuno dan alamnya adalah milik Indonesia. Foto-foto keren pun dihasilkan teman-teman, kala bendera merah putih berkibar tersibak angin. Begitu gagah. 

Batu Ogal-Agil dan lautan awan di puncak Gunung Arjuno


Pemandangan dari puncak Gunung Arjuno
  
Para cewek tangguh di puncak Gunung Arjuno
Kiri-kanan: Lita, Ike, dan Norma

Para pendekar di bawah naungan merah putih 

Foto keluarga session I

Foto keluarga session II 

Istirahat di Pasar Dieng

Pertigaan menuju Gunung Welirang dan Gunung Arjuno
 
Foto keluarga di Lembah Kijang sebelum menuju tenda

Kabut mulai beranjak naik dan terlihat tebal. Kami harus segera turun sebelum badai menerpa kami. Segera teman-teman bersiap turun dan berencana sarapan roti selai kacang di Pasar Dieng sembari memulihkan stamina yang saya akui memang sangat terkuras. Badan saya terasa gemetar lagi, pertanda tubuh ini sudah lelah. Setelah mencium merah putih saya pun menyusul mereka turun. Di Pasar Dieng saya merebahkan diri dan terlelap sejenak karena saking capeknya. Roti selai kacang tiga lapis cukup untuk memulihkan energi kami. Biskuit-biskuit pun dilalap habis. Benar-benar kelelahan. Namun perjalanan kami belum usai, perjalanan turun masih jauh. Pukul 09.30, kami meninggalkan Pasar Dieng menuju Lembah Kijang. Memasuki kawasan pinus gerimis rintik-rintik mulai turun. Begitu cepat cuaca berubah di sini, tidak terduga. Setelah 3 jam berjalan, akhirnya sampai juga kami di Lembah Kijang, dan segera berganti pakaian plus mempersiapkan makan siang. Sungguh, badan ini rasanya remuk dihajar tanjakan semenjak dari Pos Tretes. Bagi saya, Gunung Semeru kalah maut tanjakannya, karena di sana lebih banyak bonus trek, kecuali selepas Kalimati menuju puncak Mahameru.

Selepas makan siang dengan menu kare telor, kami kembali memasak untuk makan malam. Saat itulah dibahas apakah melanjutkan perjalanan ke puncak Welirang? Setelah dipertimbangkan dengan matang, karena faktor kurangnya stok baju kering personel, fisik yang sudah drop, dan keterbatasan logistik pribadi, maka diputuskan kami menunda perjalanan kami ke Welirang. Kami memilih stay di Lembah Kijang semalam lagi, dan besok pagi kembali pulang ke Tretes. Menu makan malam kali ini adalah sayuran sehat, oseng-oseng tempe. Sempat bermain kartu remi, pukul 20.30 WIB kami memutuskan untuk segera tidur karena sangat letih.

Minggu, 17 Maret 2013
Pagi kami terbangun, terasa remuk redam badan ini. Setelah sholat Subuh, kami mempersiapkan sarapan dengan menu istimewa, yaitu omelet telor plus minuman susu coklat hangat. Para cowok memasak, sedangkan para cewek malah bermain di Lembah Kijang, berarti mereka kebagian tugas cuci piring, hahaha. Ternyata foto-foto para cewek keren juga, Lembah Kijang begitu hijau dan indah di pagi hari. Nampak juga di atas sana puncak Gunung Arjuno yang sesaat tertutup kabut lagi.

Cuci piring di pinggir aliran sumber air Lembah Kijang

Puncak gunung Arjuno terlihat dari Lembah Kijang

Potret Lembah Kijang

Setelah sarapan siap, kami segera melahap dengan nikmat makanan masing-masing. Setelah sarapan, kami segera bergantian repacking agar tidak terlalu malam sampai di pos Tretes. Setelah packing beres, kami segera berkumpul dan berdoa untuk keselamatan jalan pulang. Pukul 10.45 WIB kami berangkat. Jalan pulang terasa cepat, karena teman-teman berjalan begitu ngebut saking inginnya segera sampai kos dan beristirahat. Lembah Kijang ke Pondokan kami tempuh hanya 10 menit. Di Pondokan kami bertemu dengan beberapa penambang, di antara mereka ada yang ramah dan ada juga yang bersikap dingin dengan kehadiran kami. 

Setelah beristirahat sebentar, kami melanjutkan perjalanan menuju Kokopan. Baru beberapa meter berjalan, kabut sudah begitu tebal menemani kami dalam perjalanan. Meskipun turun terasa cepat, tapi turun juga terasa berat dan menyiksa, karena kami harus menahan beban dengan kaki dan lutut kami di atas bebatuan. Terasa seperti pijat refleksi namun membuat betis cukup ngilu. Setelah berjalan 3 jam, kami sampai di Pos Kokopan. Di sini kami beristirahat 1 jam untuk memasak oatmeal plus menghabiskan logistik karena sudah cukup kelaparan plus untuk memperingan beban. Di sini kami bertemu dengan seorang pendaki dari Sidoarjo yang sendirian saja nampaknya. Kami sempat memberikannya sebotol susu coklat hangat.

Istirahat di Pos Kokopan

Pukul 15.00 WIB, kami beranjak dari pos Kokopan menuju pos Tretes. Kembali jalur berbatu yang menurun ini menyiksa kami tanpa ampun. Sekitar 2 jam 15 menit kemudian kami akhirnya sampai di Pet Bocor. Sedikit lagi kami sampai di pos Tretes. Setelah rehat sejenak, saya dan Zaki pun berlari turun menuju pos Tretes. Rizky ikut juga berlari selepas pintu gerbang. Akhirnya tepat pada pukul 17.30 WIB, kami sampai di pos Tretes. Buru-buru kami segera sholat Ashar karena sebentar lagi Magrib. Saya segera melapor ke pak Syokir dan mengambil KTP saya. Setelah berfoto bersama, kami berpamitan pulang tepat saat adzan Magrib berkumandang.

Meninggalkan jejak Gamananta

Berfoto bersama Pak Syokir di pos Tretes sebelum pulang

Perjalanan pulang ke Malang menempuh waktu hampir 1,5 jam. Kami kembali berkumpul di Samanta Krida untuk mengumpulkan barang-barang sewaan yang akan dikembalikan. Evaluasi menyeluruh baru kami lakukan pada hari Rabu, tanggal 20 Maret 2013 di tempat kopdar kami biasanya. Alhamdulillah, walau kami gagal menggapai Gunung Welirang, pencapaian kami di Gunung Arjuno harus disyukuri. Salam Respect!

Special Thank's to:
Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW
Orang tua masing-masing
Pak Syokir (08121788956) dan Pak Suryono (085856052510) atas bantuan dan keramahannya dalam informasi pendakian lewat jalur Tretes
Crew Ekspedisi GARWE Gamananta

NB:
  1. Jaga sikap dan tingkah laku selama pendakian
  2. Jaga kelestarian alam dan lingkungan selama pendakian
  3. Kalau ingin menanyakan status pendakian Gunung Arjuno-Welirang bisa ditanyakan ke Pak Syokir dan Pak Suryono melalui nomor terlampir di atas (lebih sopan telepon)
  4. Jangan memaksakan diri ke puncak kalau cuaca tidak mendukung
Biaya-biaya:
  • Tiket masuk plus asuransi: Rp 7.500,00/orang (14 Maret 2013)
  • Parkir motor hari Jum'at-Minggu: Rp 15.000 ,00 (14 Maret 2013)
  • Biaya-biaya kelompok lain-lain cek di Katalog Perjalanan
Penulis: Rifqy Faiza Rahman
Dokumentasi: GAMANANTA
Ji! Ro! Lu! Budal! 
Read More

Sunday, 10 March 2013

Selangkah Sederhana untuk Kali Brantas Lebih Bersih


Berangkat dari keprihatinan terhadap tercemarnya aliran sungai Brantas, Jawa Pos Radar Malang menyelenggarakan sebuah acara besar bertajuk "Bersih-bersih Kali Brantas". Acara yang diselenggarakan 9 Maret 2013 ini, didukung penuh oleh semua instansi terkait, mulai dari pemerintahan, kepolisian, TNI, dan berbagai komunitas peserta even. Untuk menunjukkan rasa kepedulian terhadap keberlangsungan lingkungan aliran sungai Brantas, GAMANANTA memutuskan untuk ikut serta dalam even ini sebagai sukarelawan. 

Mungkin baru kali ini terjadi di bumi Arema. Ribuan warga (sekitar enam ribu orang) dari berbagai elemen masyarakat, pejabat, militer, pengusaha, ormas kepemudaan, ormas keagamaan, mahasiswa, pelajar, perusahaan, instansi perbankan, dan lain-lain, bersatu padu membersihkan Kali Brantas di 13 titik sepanjang 24 kilometer. Mereka disatukan dengan salam satu jiwa-nya warga bumi Arema yang sudah begitu melekat. Inilah people power-nya warga Bumi Arema. Inilah bukti manunggalnya TNI dan rakyat. Dan inilah bukti, bahwa warga Malang Raya masih solid dan guyub untuk diajak berkegiatan bersama.

Jawa Pos Radar Malang yang menggagas acara ini, tidak akan berarti apa-apa, jika tanpa dukungan dari seluruh elemen masyarakat. Kami dari perwakilan Crew GAMANANTA yang diantaranya adalah Rifqy, Muchlis, Dadang, Lita, dan Rizky ikut berpartisipasi dalam acara “Bersih-bersih Kali Brantas” yang dilaksanakan pada hari Minggu 9 Maret 2013. Kami mendapat bagian untuk turun di titik 8 yang bertepatan di jembatan jalan Muharto. Kota  Malang.


Mejeng di meeting point, sebelum berangkat

Kami berangkat dari tempat meeting point  crew gamananta (depan gerbang UB) pada pukul 06.00 WIB. Kami langsung menuju lapangan sepak bola depan KUA desa Kedung Kandang tepat pukul 06.30 kami sampai ditempat. Tak lama kemudian pangkalan TNI AD, AL, dan AU datang di lokasi. Kemudian disusul dari berbagai Ormas dan PMI. Tepat pukul 07.00 dari komandan TNI memimpin untuk apel pagi sebelum berangkat ke TKP. 


Mejeng sebelum apel pagi

Barisan anggota Gamananta saat apel pagi

Selesai apel pagi kami langsung dibagi menjadi lima kelompok dan  Gamananta sendiri masuk dalam kelompok II. Selesai dibagi menjadi berbagai kelompok kami langsung berangkat menuju Tempat Kejadian Perkara (TKP). Pada  waktu perjalanan menuju TKP ternyata di sepanjang jalan mulai macet total karena padatnya peserta. Akhirnya kami tiba di TKP dengan selamat. Di titik ini kami dibagi ada yang di bawah jembatan yang bertugas untuk mengambil dan memasukkan sampah ke dalam kantong plastik dan ada yang di atas jembatan yang bertugas menarik sampah yg ada di kantong plastik besar ke atas dengan menggunakan tali tampar. Setelah memarkir motor, kami langsung turun ke bawah jembatan. Tanpa panjang lebar, semua komponen langsung bergerak memunguti sampah-sampah yang berserakan di tepi sungai. Kami mulai memasukkan sampah–sampah ke dalam kantong plastik hitam besar. Di sini warga Arema terlihat sangat solid, meskipun ada beberapa orang yang hanya melihat saja dan nyaris bersih pakaiannya. Namun, tetap kami acungi jempol untuk warga Arema yang sudah berpartisipasi dalam acara ini.


Berani kotor itu baik

Si Dadang, tetap ceria mengumpulkan sampah

Suasana bersih-bersih di bawah Jembatan Muharto

Sebagian tim yang mengangkut sampah dari atas jembatan

Sebagian orang yang mengambil sampah di tengah sungai

Kondisi di daerah aliran kali Brantas tersebut cukup kotor dan memprihatinkan. Yang bikin gemas adalah ketika banyak dari peserta mengangkut sampah, nyatanya warga di bantaran sungai masih santai-santai saja membuang sampah ke sungai dari atas jendela rumah, seolah acuh dengan kegiatan ini. Dapat kami simpulkan bahwa, tidak cukup hanya sekali menyelenggarakan aksi bersih-bersih sungai walaupun dalam skala besar. Akar permasalahan sebenarnya terletak pada kesadaran warga yang tinggal di bantaran sepanjang aliran kali Brantas. Semoga kegiatan ini bersifat berkelanjutan dan semoga dapat menggugah kesadaran warga sekitar, agar tidak membuang sampah sembarangan, terlebih langsung ke sungai. Boleh saja kita semua berharap sumber mata air DAS Brantas di Sumberbrantas, areal Arboretrum untuk tetap mengalir sepanjang musim, sepanjang tahun. Tapi jika alam berkehendak lain (sumber air terbatas dan habis) karena ulah manusia, jangan kaget kalau di masa depan kita terpaksa minum dan mandi langsung dengan air coklat nan keruh dari Kali Brantas.

Berfoto bersama seusai menunaikan tugas

Kegiatan ini berakhir pada pukul 11.00 WIB. Saat pulang, tak lupa kami mampir di warung pinggir jalan untuk mengisi perut, hehehe. Tepat pukul 13.00 WIB kami sampai di kos masing-masing. 

Salam Respect,
GAMANANTA
Ji! Ro! Lu! Budal!


Penulis:
Rizky Maulana Ishaqi
Read More

Friday, 1 March 2013

Lomba Lintas Alam Nasional “LINDRI LAND ROCK XXIII” 2013


Masih menjelajahi alam Indonesia, meraih setiap sudut pesona nusantara, tentu dengan seribu pesonanya yang tidak pernah tuntas untuk dijelajahi. Kali ini kita akan mengupas habis sebuah even yang seru dan sangat ditunggu oleh pencinta alam Indonesia, yaitu Lomba Lintas Alam NasionalLINDRI LAND ROCK XXIII” 2013. Sudah cukup lama even ini telah berlangsung, tapi baru sempat dibahas sekarang kawan.

Tentu para pecinta alam sudah familiar dengan even yang telah diadakan sejak tahun 1990. Tahun ini, Lindri Land Rock diadakan di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, tanggal 24 Februari 2013. Para personel GAMANANTA yang mengikuti acara ini terdiri dari 5 orang, Rizky Maulana Ishaq (Leader), Muchlis Setiawan, Nur Ali Mustofa, Norma Rachma, Ike Novitasari. Seperti apa suasana disana, bagaimana keseruan para peserta dan bagaimana tingkah para gama’ers menghadapi tantangan yang luar biasa? Kita akan telusuri setiap langkahnya. Baik, siapkan makanan ringan, minum dan posisikan diri dengan nyaman! Cerita kita mulai....

Preparation
Perjalanan diawali dengan berkumpul di meeting point (tempat berkumpul) para peserta di pom bensin Jl. Sigura-gura Malang hari Sabtu tanggal 24 Februari 2013, pukul 18.30 WIB. Sebelum berangkat, segala hal yang dibutuhkan dicek dan dipersiapkan. Mulai dari pengecekan sepeda motor sebagai alat transportasi, kecukupan bensin, kesehatan peserta, dan logistik lain yang dibutuhkan. Seragam yang kita pakai serba hitam dengan tambahan pin GAMANANTA agar tetap kompak. Setelah segala persiapan siap, kami mulai perjalanan ke Tulungagung sekitar jam 19.00 WIB.

 Berkumpul di meeting point

Perjalanan Malang-Tulungagung
Perjalanan Malang-Tulungagung melalui kota Blitar, dengan waktu tempuh sekitar 3,5 jam. Formasi perjalanan yang kami buat yaitu Ali dan Norma sebagai penunjuk jalan, Rizky dan Ike di tengah, kemudian Muchlis di belakang sebagai sweeper. Selama perjalanan rasa kantuk yang luar biasa membuat kami harus berhati-hati mengendarai sepeda motor, selain itu jalur yang kita lewati cukup gelap dan sepi, bahkan berkali kai kami mengunyah permen kopi agar rasa kantuk hilang. Semakin malam semakin kami perbesar angka di Speedometer agar kami tidak terlambat mengikuti start acara. Akhirnya...., tepat pukul 22.48 WIB kita sampai di tempat tujuan .

Melintasi Alam Tulungagung
Waw, kami sampai juga di tempat tujuan. Di sana kita langsung ke tempat registrasi peserta untuk registrasi ulang, mengambil nomor, dan mengambil kaos peserta. Kemudian kami mulai membersihan diri, menyiapkan segala keperluan, dan sholat Isya’. Tidak lupa foto dulu sebelum berdempet-dempet dengan peserta lain.. he-he-he.

Berfoto sejenak sebelum lomba

Start dan Finish lintas alam ini di Lapangan Desa Tanggung Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung. Rute yang ditempuh berjarak ± 25 km dan terbagi dalam 4 (empat) POS. Pada setiap pos terdapat panitia yang akan menilai peserta. Kriteria penilaian meliputi ketepatan waktu total (upacara pemberangkatan, start, pos dan finish), kelengkapan lomba, kekompakan, kerapian, kesopanan, tata laku di masyarakat, citra lingkungan, dan harus sesuai persyaratan peserta.

Kemudian, start dimulai pada pukul 00.00 WIB. Kami dengan semua peserta lain riuh di lapangan Desa Tanggung, karena peserta yang ikut lebih dari 2.000 orang dari segala penjuru Indonesia. Kategori peserta meliputi beregu putra/campuran, beregu putri, perorangan putra, dan perorangan putri. Rizky, Mustofa dan Muchlis tergabung dalam satu kelompok beregu putra dengan nomor urut 084, sedangkan Norma dan Ike masuk kategori perorangan putri dengan nomor urut 164 (Norma) dan 170 (Ike). Pemberangkatan peserta berurutan nomor dan kategori, pemberangkatan pertama yaitu perorangan putra, kedua beregu putra/campuran, selanjutnya perorangan putri, dan terakhir beregu putri. Walaupun kami berbeda kategori dan harus berangkat dengan waktu dan urutan yang berbeda namun kami berlima sepakat untuk melewati tantangan bersama.

Lintasan yang dilalui cukup berat, perjalanan dari start hingga Pos 1 melalui rumah penduduk terlebih dahulu, kemudian persawahan, dan yang paling seru adalah saat menaiki bukit sekitar 1 km dengan sudut kemiringan 450 . Jalan yang dilewati penuh lumpur yang memang sengaja disiram air oleh panitia agar semakin licin dan menantang . Sekitar pukul 03.00 WIB hari Minggu, kami sampai di pos 1. Ternyata sudah banyak peserta yang melewati pos 1. Kami semakin bersemangat untuk mengejar peserta yang jauh di depan agar kami mendapatkan banyak poin, meskipun dihadang oleh jalan lumpur yang sangat licin dan dalam, hmm.....

Kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2, juga melewati perkampungan dan jalan beraspal. Namun, lagi lagi jalan berlumpur menghadang kita. Sepanjang perjalanan kami berpikir sepertinya akan mengelilingi bukit (melipir), karena selain naik kami juga menuruni bukit, lintasan tampak bervariasi. Tapi, godaan yang paling menggila adalah saat ada gorengan yang dijual sepanjang lintasan perkampungan. Ingin rasanya kami istirahat, minum, makan, dan merebahkan badan, lelah kawan. Apalagi melihat peserta lain banyak yang beristirahat, namun tetap ingat komitmen kami berlima di awal untuk tetap terus melaju dengan konsisten agar stamina tetap terjaga hingga finish, karena banyak peserta yang dari awal start berlarian namun ditengah perjalanan mereka terlalu lelah sehingga tersusul oleh kami, mantaaap!

Kemudian sekitar pukul 05.00 kami melewati Pos 2, itu berarti kami sudah melewati jalur sejauh 12 km. Sebenarnya kami ingin berjalan cepat, ingin segera mencapai finish karena kaki sudah tidak kuat berjalan. Namun, ternyata sandal gunung salah satu personel, Ike, talinya lepas sehingga terpaksa harus berjalan dengan normal agar kakinya tidak terluka. Kesalahan memang menggunakan sandal gunung, karena lumpur yang dalam akan menyulitkan kaki bergerak sehingga tali sandal kemungkinan besar putus. Alangkah baiknya memang menggunakan sepatu tracking sesuai anjuran panitia. Eits, ternyata salah satu personel kami sudah berjalan duluan, ya, Norma memang wanita tangguh, dia melaju cepat di depan dibandingkan kami berempat kawan. Sepertinya dia akan memenangkan pertandingan .... yeyeeee

Sekitar pukul 05.25 WIB, kami berhenti sebentar untuk menunaian kewajiban shalat subuh dan menikmati terbitnya matahari di balik bukit. Wahhh, rasanya dipijat pijat oleh mentari pagi yang hangat dan cerah setelah semalaman dingin dan gelap---gelap—gelap (alay) hahaha. Kami juga mengisi perut dengan beberapa potong roti, siapkan tenaga untuk perjalanan berikutnya.

Ayo-ayo, SEMANGAT!!”, wew..... kami tetap bersemangat untuk melanjutkan perjalanan. Mendaki gunung lewati lembah sungai mengalir indah di Samudra (OST. Ninja Hattori), hehehe. Kembali ke perjalanan, kami sempat mendengar bahwa ada lintasan air terjun, namun kami sama sekali tidak melewati lintasan tersebut, memang ada beberapa jalur yang disediakan oleh panitia dan kami ternyata tidak beruntung padahal perjalanan melewati air terjun sangat dinanti.

Kemudian kami melewati tebing yang sangat curam dan licin sepanjang 10 meter. Kami turun menggunakan tali yang disediakan oleh panitia namun harus bergantian dengan peserta lain, lumayan yang ini mengobati kekecewaan karena tidak mendapat view air terjun. Setelah itu lanjut perjalanan lewat jalan makadam (berbatu), berasa pijat refleks kaki karena batunya tajam dan licin. Namun akhirnya sekitar pukul 06.30 WIB, kami sampai di Pos 3.

Lanjut dan lanjut kawan, hampir finish nih, hahaha, ayo ayo! Kami semakin semangat. Kami melewati jalan makadam dan perkampungan penduduk. Hingga sekitar pukul 07.45 WIB, kami sampai di Pos 4. Yeyeyeye... Kami memasukkan nomor kami yang terakhir di tempat tiket. Ternyata sudah banyak peserta yang melewati pos 4. Namun, kami tetap bersemangat mencapai finish, capek soalnya hahaha....Dan akhirnyaaaaa! Sekitar pukul 08.55 kami finish! Wahhh, rasanya benar-benar lelah, kami beristirahat terlebih dahulu sambil membagi stiker GAMANANTA pada beberapa peserta lain. Ehh, ketika kami lagi nyari Norma tidak ketemu-ketemu, ternyata dia lagi mandi kawan, haha, curang dia mandi duluan. Kami masih pada jelek, tapi dia sudah cantik sendiri. Namun, dia ikut menyiapkan roti bersama Rizky untuk sarapan kami selagi personel lain membersihkan diri.

Tunggu, tunggu, kami tidak langsung pulang ini. Kami ngaso dulu di masjid dekat lokasi acara. Kami beristirahat dari jam 10.00 – 15.00 WIB. Setelah itu lanjut pulang, formasi seperti awal. Kami sampai di Malang sekitar pukul 18.30 WIB. Wahh, dua hari yang melelahkan dan penuh tantangan. Namun, kejutan dari panitia belum selesai. Kami menunggu pengumuman tiga hari lagi via sms maupun blog. Namun, tidak ada dari kami yang mendapatkan nominasi pemenang. Padahal kami sudah berharap, namun ternyata kami belum beruntung dan kurang usaha. Kesimpulannya adalah kami kurang cepat, hehehe. Tidak mengapa, yang terpenting kami telah mendapatkan pengalaman berharga mengikuti lomba pertama kami.

Nah, ini adalah cuplikan lomba lintas alam telah diikuti oleh GAMANANTA, bagi kaum Gama’ers yang ingin mengikuti acara ini tahun depan, segera update info di bulan Oktober, agar persiapannya lebih matang dan bisa menang, amin . Ohh iya, tak lupa kami sampaikan banyak terima kasih kepada Bapak Toko penjual sandal jepit (Ike yang beli), Terimakasih pada Ibu penjual gorengan (kami boleh numpang cuci kaki), terima kasih kepada mbah pemilik kamar mandi yang kami repoti shalat Isya’ dan mandi, haha... Kami tunggu para gama’ers untuk Lindri Rock tahun 2013...

Salam Respect,
GAMANANTA
Ji Ro Lu! BUDAL!


Penulis:
Ike Novitasari
Read More

Tour de Sewu Siji Segoro Kidul Session I: 4 Pantai Dulu laahhh......


Tour de Sewu Siji Segoro Kidul Session I ini adalah agenda resmi ketiga dalam kalender GAMANANTA, setelah sebelumnya sukses menyelenggarakan even "Malang City Heritage Tour" pada 29 Desember 2012 lalu. Acara "Tour de Sewu Siji Segoro Kidul Session I" ini terinspirasi oleh suksesnya ekspedisi "Jelajah Seribu Pantai" oleh tim Radar Malang selama hampir 2 minggu dan menjelajah sekitar 16 pantai di Malang Selatan. Karena itu, kami memasukkan acara ini dalam kalender resmi kami, namun dengan beberapa tahap, dan untuk Session I ini kami dapat mendatangi 4 pantai dari 11 target yang ditetapkan. Dalam acara ini, sebenarnya PJ (penanggung jawab) adalah Najwa Amalia, namun karena dia sedang holiday, akhirnya saya yang ambil alih, dibantu oleh Muchlis di bidang transportasi dan safety, Ike dan Norma di bidang logistik, dan Rizky di bidang perlengkapan. Adapun peserta dalam "Tour de Sewu Siji Segoro Kidul Session I" ini antara lain:
  1. Muchlis (ada sepeda motor)
  2. Rifqy (ada sepeda motor)
  3. Rizky
  4. Lutfi
  5. Mustofa (ada sepeda motor)
  6. Mas Febby (ada sepeda motor)
  7. Mas Yusuf
  8. Ike
  9. Norma
  10. Lita
  11. Latifah
Karena kami ber-sebelas orang, kami membutuhkan 6 sepeda motor, sehingga 4 sepeda motor merupakan kepemilikan sendiri, yang dua lainnya pinjam teman-teman di kampus. Dari hasil kopdar, disepakati bahwa sesuai rencana, kami akan berangkat pada tanggal 8 Februari 2013 pukul 04.30 berkumpul di meeting point pom bensin Sigura-gura, Malang. 

8 Februari 2013
Dikarenakan keterlambatan pengambilan motor teman saya dari Surabaya, ditambah saya harus menjemput Mas Yusuf di Batu (lupa jalurnya pula, b-( ), akhirnya kami baru bisa memulai briefing di pom bensin jam 6 lebih. Setelah briefing bla bla bla, akhirnya kami berangkat dengan formasi boncengan sepeda motor sesuai urutan: (1) Rizky dan saya, (2) Mas Yusuf dan Norma, (3) Lutfi dan Ike, (4) Mas Febby dan Latifah, (5) Mustofa dan Lita, dan (6) Muchlis. Lalu lintas cukup padat saat melewati daerah Galunggung, Mergan, dan Sukun. Terlebih menjelang memasuki Kota Kepanjen, sempat was-was karena cukup banyak polisi lalu-lintas yang bertugas dan sempat mencegat sepeda motor yang berplat putih. Was-was karena si Mustofa tidak membawa STNK sepeda motornya alias ketinggalan di Ponorogo, syukurlah semua baik-baik saja sampai pulang.

Sarapan di Warung 3 km dari Kota Kepanjen

Go to Destinasi 1: Pantai Ngliyep
Jalur menuju Pantai Ngliyep sangatlah mudah, karena banyak papan jalur yang tersedia, dan hanya perlu lurus saja dari arah Kepanjen. Sempat berhenti di sebuah warung untuk sarapan sekitar 3 km dari Kota Kepanjen. Setelah sarapan, kami melanjutkan perjalanan melewati Kecamatan Pagak sampai bertemu sebuah perempatan yang mana ke kiri ke arah Bantur/Balekambang, yang ke kanan ke arah Kecamatan Donomulyo, yang merupakan tempat "berdomisilinya" Pantai Ngliyep. Jalanan yang sebelumnya mulus, mulai berganti jalan berlubang dan beberapa berbatu, hingga akhirnya sekitar pukul 9.30 kami sampai di Pantai Ngliyep, 65 km dari Kota Malang. Setelah melewati pos registrasi dan parkir, kami berjalan menuju tepi pasir panjang.

Parkir sepeda motor Pantai Ngliyep

 Kapal bersandar di Pantai Ngliyep

 Foto keluarga di Pantai Ngliyep

Pantai ini cukup elok dengan pasir panjangnya yang landai, plus gradasi warna laut biru kehijauan karena pendar cahaya matahari. Kami tidak menyempatkan mampir ke pantai sebelah yang ada jembatannya karena alasan pengiritan uang dan waktu, hehehe. Sekitar 30 menit kami di sini, menyempatkan berfoto-foto ria dan mengibarkan spanduk kegiatan kami bersama-sama. 30 menit berlalu, kami harus segera cabut dan segera berangkat menuju destinasi selanjutnya.

Go to Destinasi 2: Pantai Kondang Merak
Dari arah Pantai Ngliyep, kami kembali ke jalur menuju Pagak, dan lurus menuju arah Kecamatan Bantur. Harap setelah sekitar 1-2 km dari perempatan Pagak sedikit memperlambat laju kendaraan dan tengok dengan teliti sampai ada petunjuk yang menuntun kita untuk belok kanan ke arah Pantai Balekambang. Jika terus kita akan bablas sampai Gondanglegi. Jalur belakang menuju Pantai Balekambang awalnya mulus, kemudian ganti berbatu. Ketika bertemu persimpangan jalan (pertigaan besar), kami ambil lurus karena jika ke kiri akan kembali ke Kota Malang. Jalan menuju Pantai Balekambang sekarang sudah beraspal mulus. Sekitar 15-20 menit kemudian kami sampai di perempatan yang mana bila lurus ke arah Pantai Balekambang, ke kiri adalah Pantai Nganteb (3,5 km) dan ke kanan adalah tujuan kami, Pantai Kondang Merak yang harus ditempuh melalui jalan Makadam sejauh 4 km. Sempat heran juga karena ternyata jalur makadam saat itu tidak terlalu banyak becek parah padahal masih musim penghujan, mungkin karena lama tidak turun hujan di Kondang Merak. 1 jam berselang, akhirnya kami sampai juga di Pantai Kondang Merak, yang saat itu nampak biru jernih lautnya dan gugusan batu karang yang cantik. Pantai ini adalah pantai favorit saya, karena kesunyian dan ketenangannya.

Si Muchlis sedang makan siang di musholla Pantai Kondang Merak

 Para pasukan cewek, kiri-kanan: Latifah, Ike, Lita, Norma

 Foto keluarga di Pantai Kondang Merak

Karena penduduk Kondang Merak hanya sedikit, maka Jum'at itu kami hanya sholat Duhur di musholla sembari istirahat sejenak. Setelah sholat dan wajah segar kembali, kami segera eksplore sejenak Pantai Kondang Merak. Sebenarnya kalau waktunya longgar dan pas, kami bisa mampir ke pantai rahasia di sisi barat Kondang Merak. Kapan-kapan saya akan tulis artikel tentang Kondang Merak dan rahasia-rahasianya. Setelah cukup puas berfoto-foto, kami segera berjalan menuju destinasi selanjutnya, yaitu Pantai Balekambang dengan berjalan kaki menyusuri hutan ke arah timur, dan mampir ke beberapa pantai tersembunyi antara Kondang Merak dan Balekambang. Kalau kondisi jalan santai dan trek kering, mungkin hanya memakan waktu 1 jam pulang pergi.

Trekking ke Pantai Balekambang

Istirahat di tengah hutan. Yang belum disebut: 
Mas Yusuf (bertopi merah), Mustofa (tiga dari kanan), Mas Febby (empat dari kanan)

Go to Destinasi 3: Pantai Balekambang
Berjalan kaki menuju Balekambang sangatlah mengasyikkan, karena selain hutan, kita juga bisa menjumpai sekitar 3-4 pantai tanpa nama di sepanjang jalur. Jangan khawatir tersesat, meskipun hampir tidak ada petunjuk jalur, tapi treknya cukup jelas, karena sering dilalui warga pesisir dan wisatawan yang memang tahu ada jalur di sana. Sekitar 45 menit berjalan, kami sampai juga di Pantai Balekambang yang saat itu lumayan sepi pengunjung, sehingga terkesan leluasa untuk mengeksplore keindahannya. Pantai Balekambang terkenal dengan garis pantainya yang panjang dan terdapat sebuah pura yang dihubungkan dengan jembatan. Mirip seperti Pantai Tanah Lot, Bali. Saat itu Pantai Balekambang sedang surut, sehingga wisatawan dapat bermain-main di bawah jembatan.

Si Lutfi dengan latar belakang Pura Pantai Balekambang

 Foto keluarga sebelum kembali ke Kondang Merak

Setelah puas, kami segera kembali ke Kondang Merak untuk persiapan menuju destinasi selanjutnya. Perjalanan pulang lebih cepat karena kami tidak melewati pantai-pantai. Sesampainya di Kondang Merak kami segera memesan es teh di Warung Mak Sih karena saking hausnya. Pukul 15.30, kami meninggalkan Pantai Kondang Merak. Tujuan selanjutnya sebenarnya adalah Pantai Bajulmati dan camp di sana, namun kondisi di lapangan mendadak harus merubah tujuan ke Pantai Tamban Indah karena ada hal yang sangat darurat.

 Istirahat di pom bensin Bantur

Go to Destinasi 4: Pantai Tamban Indah
Sempat istirahat di pom bensin Bantur untuk mengisi bensin dan sholat Ashar, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Bajulmati. Jalurnya ke arah Pasar Bantur, nanti setelah menemui pertigaan tugu yang mana ke arah kiri adalah menuju Pasar Bantur/Gondanglegi, kami belok kanan menuju arah Gedangan, melewati Druju dan Sitiarjo. Kami memasuki jalur menanjak selepas Sumbermanjing Wetan kala waktu menunjukkan pukul 18.30, sudah cukup gelap. Hanya mobil dan motor beberapa saja berseliweran. Suasana iring-iringan motor kami berubah menjadi ketegangan kala ada dua orang yang berboncengan sepeda motor mendekati si Muchlis yang di belakang sebagai sweeper. Menurut Muchlis, mereka menanyakan ke mana kami akan camp dan mereka juga bilang kalau mau memanggil teman yang akan menemani kami. Dilihat dari tipe motornya yang 2-tak dan mencurigakan, Muchlis meminta saya dan Rizky yang berada di depan mempercepat laju motor. Saya juga cukup tegang, hingga saya teringat ada satu pantai yang cukup ramai penduduk sebelum memasuki kawasan Sendang Biru. Begitu tahu akan sangat membayahakan apabila dipaksa meneruskan perjalanan ke Bajulmati selain masih cukup jauh dan gelap, saya pun meminta Rizky mempercepat laju dan meminta segera belok kiri memasuki kawasan Pantai Tamban Indah yang terlihat tak lama sekitar 15 menit semenjak dua orang mencurigakan tadi mendekati kami. Segera kami tetap berjalan dan berhenti sejenak di depan rumah warga Tamban. Kami bersyukur Muchlis memperingatkan kami dan bersyukur karena tak jauh dari tempat awal kami dipepet, ada Pantai Tamban yang dikenal memang ramai penduduk dan merupakan kampung nelayan. Segera kami menuju tempat camp, parkir di tepi pantai dan mendirikan tenda. Saya sendiri mengurus perizinan sukarela di petugas wisata Pantai Tamban.

Menunggu makan malam di gardu Pantai Tamban

Fasilitas di Pantai Tamban cukup lengkap, terdapat banyak musholla dan banyak MCK. Tapi, banyak anjing pula, hehe. Segera kami bagi tugas, beberapa mendirikan tenda dan beberapa mempersiapkan memasak untuk makan malam. Dari sini kami dapat melihat "sosok" Pulau Sempu yang nampak dekat dan jajaran perahu nelayan yang tengah bersandar menunggu waktu untuk melaut. Menu makan malam saat itu adalah nasi oseng-oseng dan lauk tempe, plus minuman kopi panas yang menghangatkan badan. Menurut nelayan sekitar, menjelang Imlek atau Tahun Baru China, biasanya angin berhembus sangat kencang, dan sempat kami rasakan saat itu. Setelah puas makan dan bercengkerama hingga larut, kami pun segera beristirahat. Karena kondisi yang cukup gerah dan panas, hanya para cewek dan Mustofa yang tidur di dalam tenda kami masing-masing (total 2 tenda). Sisanya tidur di gardu dan tepi pantai. Sempat terusik ketenangan tidur kami gara-gara gonggongan seekor anjing yang mungkin terganggu dengan kedatangan orang-orang asing di Pantai Tamban, namun akhirnya kami bisa tidur terlelap.

9 Februari 2013
Kami semua terbangun sekitar pukul 04.30 WIB, masih gelap pagi itu. Menjelang terang pun, matahari tak cukup mampu menembus awan mendung sehingga tak bisa menikmati sunrise sepenuhnya. Setelah sholat subuh dan bersih diri, kami mempersiapkan sarapan pagi. Setelah sarapan pagi kelar, kami segera repacking. Beberapa teman-teman sempat membantu para nelayan menarik jaring ke tepi pantai. Hasilnya sungguh luar biasa, nelayan-nelayan itu sukses memperoleh banyak ikan ke daratan. Teman-teman yang ikut membantu bahkan diberi imbalan ikan 2 tas plastik besar, sekitar 5 kg lebih beratnya. Sungguh kami berterima kasih kepada para nelayan yang berbaik hati memberi kami ikan hasil tangkapan mereka.

Membantu nelayan menarik jaring ke tepi pantai

 Perahu nelayan dan tampak di sana Pulau Sempu

 Foto keluarga sebelum pulang

Setelah puas bermain ikan, kami segera berkumpul dan merundingkan apakah perjalanan dilanjutkan kembali menuju Pantai Bajulmati. Setelah mempertimbangkan soal insiden semalam yang mencurigakan alias pertimbangan keamanan, dan fisik teman-teman yang nampaknya mulai lelah, akhirnya kami memutuskan untuk pulang kembali ke Malang dan akan melanjutkan Session II di waktu selanjutnya dengan target yang tidak terlalu banyak. Pengalaman dua hari ini memberikan pelajaran berharga bagi kami, agar ke depannya dapat mempersiapkan diri lebih baik secara efisien dan efektif. Akhirnya pukul 10.00 WIB kami meninggalkan kawasan Pantai Tamban dan pulang ke Malang. Sempat mampir istirahat untuk sholat di masjid yang terletak di pertigaan Turen. Sore harinya kami sampai di pom bensin, tempat meeting point saat berangkat untuk evaluasi dan kalkulasi ulang iuran. Setelah usai, kami pun kembali ke kos masing-masing, dan berharap dapat bersama-sama lagi untuk melanjutkan touring pantai di Session II.

Salam Respect!
Penulis: Rifqy Faiza Rahman
Dokumentasi: GAMANANTA

NB: Untuk detail perjalanan mengenai rute ke 4 pantai tersebut dan biaya perjalanan dapat dilihat di menu katalog perjalanan: Tour de Sewu Siji Segoro Kidul Session I.
Read More