Friday, 1 March 2013

Tour de Sewu Siji Segoro Kidul Session I: 4 Pantai Dulu laahhh......


Tour de Sewu Siji Segoro Kidul Session I ini adalah agenda resmi ketiga dalam kalender GAMANANTA, setelah sebelumnya sukses menyelenggarakan even "Malang City Heritage Tour" pada 29 Desember 2012 lalu. Acara "Tour de Sewu Siji Segoro Kidul Session I" ini terinspirasi oleh suksesnya ekspedisi "Jelajah Seribu Pantai" oleh tim Radar Malang selama hampir 2 minggu dan menjelajah sekitar 16 pantai di Malang Selatan. Karena itu, kami memasukkan acara ini dalam kalender resmi kami, namun dengan beberapa tahap, dan untuk Session I ini kami dapat mendatangi 4 pantai dari 11 target yang ditetapkan. Dalam acara ini, sebenarnya PJ (penanggung jawab) adalah Najwa Amalia, namun karena dia sedang holiday, akhirnya saya yang ambil alih, dibantu oleh Muchlis di bidang transportasi dan safety, Ike dan Norma di bidang logistik, dan Rizky di bidang perlengkapan. Adapun peserta dalam "Tour de Sewu Siji Segoro Kidul Session I" ini antara lain:
  1. Muchlis (ada sepeda motor)
  2. Rifqy (ada sepeda motor)
  3. Rizky
  4. Lutfi
  5. Mustofa (ada sepeda motor)
  6. Mas Febby (ada sepeda motor)
  7. Mas Yusuf
  8. Ike
  9. Norma
  10. Lita
  11. Latifah
Karena kami ber-sebelas orang, kami membutuhkan 6 sepeda motor, sehingga 4 sepeda motor merupakan kepemilikan sendiri, yang dua lainnya pinjam teman-teman di kampus. Dari hasil kopdar, disepakati bahwa sesuai rencana, kami akan berangkat pada tanggal 8 Februari 2013 pukul 04.30 berkumpul di meeting point pom bensin Sigura-gura, Malang. 

8 Februari 2013
Dikarenakan keterlambatan pengambilan motor teman saya dari Surabaya, ditambah saya harus menjemput Mas Yusuf di Batu (lupa jalurnya pula, b-( ), akhirnya kami baru bisa memulai briefing di pom bensin jam 6 lebih. Setelah briefing bla bla bla, akhirnya kami berangkat dengan formasi boncengan sepeda motor sesuai urutan: (1) Rizky dan saya, (2) Mas Yusuf dan Norma, (3) Lutfi dan Ike, (4) Mas Febby dan Latifah, (5) Mustofa dan Lita, dan (6) Muchlis. Lalu lintas cukup padat saat melewati daerah Galunggung, Mergan, dan Sukun. Terlebih menjelang memasuki Kota Kepanjen, sempat was-was karena cukup banyak polisi lalu-lintas yang bertugas dan sempat mencegat sepeda motor yang berplat putih. Was-was karena si Mustofa tidak membawa STNK sepeda motornya alias ketinggalan di Ponorogo, syukurlah semua baik-baik saja sampai pulang.

Sarapan di Warung 3 km dari Kota Kepanjen

Go to Destinasi 1: Pantai Ngliyep
Jalur menuju Pantai Ngliyep sangatlah mudah, karena banyak papan jalur yang tersedia, dan hanya perlu lurus saja dari arah Kepanjen. Sempat berhenti di sebuah warung untuk sarapan sekitar 3 km dari Kota Kepanjen. Setelah sarapan, kami melanjutkan perjalanan melewati Kecamatan Pagak sampai bertemu sebuah perempatan yang mana ke kiri ke arah Bantur/Balekambang, yang ke kanan ke arah Kecamatan Donomulyo, yang merupakan tempat "berdomisilinya" Pantai Ngliyep. Jalanan yang sebelumnya mulus, mulai berganti jalan berlubang dan beberapa berbatu, hingga akhirnya sekitar pukul 9.30 kami sampai di Pantai Ngliyep, 65 km dari Kota Malang. Setelah melewati pos registrasi dan parkir, kami berjalan menuju tepi pasir panjang.

Parkir sepeda motor Pantai Ngliyep

 Kapal bersandar di Pantai Ngliyep

 Foto keluarga di Pantai Ngliyep

Pantai ini cukup elok dengan pasir panjangnya yang landai, plus gradasi warna laut biru kehijauan karena pendar cahaya matahari. Kami tidak menyempatkan mampir ke pantai sebelah yang ada jembatannya karena alasan pengiritan uang dan waktu, hehehe. Sekitar 30 menit kami di sini, menyempatkan berfoto-foto ria dan mengibarkan spanduk kegiatan kami bersama-sama. 30 menit berlalu, kami harus segera cabut dan segera berangkat menuju destinasi selanjutnya.

Go to Destinasi 2: Pantai Kondang Merak
Dari arah Pantai Ngliyep, kami kembali ke jalur menuju Pagak, dan lurus menuju arah Kecamatan Bantur. Harap setelah sekitar 1-2 km dari perempatan Pagak sedikit memperlambat laju kendaraan dan tengok dengan teliti sampai ada petunjuk yang menuntun kita untuk belok kanan ke arah Pantai Balekambang. Jika terus kita akan bablas sampai Gondanglegi. Jalur belakang menuju Pantai Balekambang awalnya mulus, kemudian ganti berbatu. Ketika bertemu persimpangan jalan (pertigaan besar), kami ambil lurus karena jika ke kiri akan kembali ke Kota Malang. Jalan menuju Pantai Balekambang sekarang sudah beraspal mulus. Sekitar 15-20 menit kemudian kami sampai di perempatan yang mana bila lurus ke arah Pantai Balekambang, ke kiri adalah Pantai Nganteb (3,5 km) dan ke kanan adalah tujuan kami, Pantai Kondang Merak yang harus ditempuh melalui jalan Makadam sejauh 4 km. Sempat heran juga karena ternyata jalur makadam saat itu tidak terlalu banyak becek parah padahal masih musim penghujan, mungkin karena lama tidak turun hujan di Kondang Merak. 1 jam berselang, akhirnya kami sampai juga di Pantai Kondang Merak, yang saat itu nampak biru jernih lautnya dan gugusan batu karang yang cantik. Pantai ini adalah pantai favorit saya, karena kesunyian dan ketenangannya.

Si Muchlis sedang makan siang di musholla Pantai Kondang Merak

 Para pasukan cewek, kiri-kanan: Latifah, Ike, Lita, Norma

 Foto keluarga di Pantai Kondang Merak

Karena penduduk Kondang Merak hanya sedikit, maka Jum'at itu kami hanya sholat Duhur di musholla sembari istirahat sejenak. Setelah sholat dan wajah segar kembali, kami segera eksplore sejenak Pantai Kondang Merak. Sebenarnya kalau waktunya longgar dan pas, kami bisa mampir ke pantai rahasia di sisi barat Kondang Merak. Kapan-kapan saya akan tulis artikel tentang Kondang Merak dan rahasia-rahasianya. Setelah cukup puas berfoto-foto, kami segera berjalan menuju destinasi selanjutnya, yaitu Pantai Balekambang dengan berjalan kaki menyusuri hutan ke arah timur, dan mampir ke beberapa pantai tersembunyi antara Kondang Merak dan Balekambang. Kalau kondisi jalan santai dan trek kering, mungkin hanya memakan waktu 1 jam pulang pergi.

Trekking ke Pantai Balekambang

Istirahat di tengah hutan. Yang belum disebut: 
Mas Yusuf (bertopi merah), Mustofa (tiga dari kanan), Mas Febby (empat dari kanan)

Go to Destinasi 3: Pantai Balekambang
Berjalan kaki menuju Balekambang sangatlah mengasyikkan, karena selain hutan, kita juga bisa menjumpai sekitar 3-4 pantai tanpa nama di sepanjang jalur. Jangan khawatir tersesat, meskipun hampir tidak ada petunjuk jalur, tapi treknya cukup jelas, karena sering dilalui warga pesisir dan wisatawan yang memang tahu ada jalur di sana. Sekitar 45 menit berjalan, kami sampai juga di Pantai Balekambang yang saat itu lumayan sepi pengunjung, sehingga terkesan leluasa untuk mengeksplore keindahannya. Pantai Balekambang terkenal dengan garis pantainya yang panjang dan terdapat sebuah pura yang dihubungkan dengan jembatan. Mirip seperti Pantai Tanah Lot, Bali. Saat itu Pantai Balekambang sedang surut, sehingga wisatawan dapat bermain-main di bawah jembatan.

Si Lutfi dengan latar belakang Pura Pantai Balekambang

 Foto keluarga sebelum kembali ke Kondang Merak

Setelah puas, kami segera kembali ke Kondang Merak untuk persiapan menuju destinasi selanjutnya. Perjalanan pulang lebih cepat karena kami tidak melewati pantai-pantai. Sesampainya di Kondang Merak kami segera memesan es teh di Warung Mak Sih karena saking hausnya. Pukul 15.30, kami meninggalkan Pantai Kondang Merak. Tujuan selanjutnya sebenarnya adalah Pantai Bajulmati dan camp di sana, namun kondisi di lapangan mendadak harus merubah tujuan ke Pantai Tamban Indah karena ada hal yang sangat darurat.

 Istirahat di pom bensin Bantur

Go to Destinasi 4: Pantai Tamban Indah
Sempat istirahat di pom bensin Bantur untuk mengisi bensin dan sholat Ashar, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Bajulmati. Jalurnya ke arah Pasar Bantur, nanti setelah menemui pertigaan tugu yang mana ke arah kiri adalah menuju Pasar Bantur/Gondanglegi, kami belok kanan menuju arah Gedangan, melewati Druju dan Sitiarjo. Kami memasuki jalur menanjak selepas Sumbermanjing Wetan kala waktu menunjukkan pukul 18.30, sudah cukup gelap. Hanya mobil dan motor beberapa saja berseliweran. Suasana iring-iringan motor kami berubah menjadi ketegangan kala ada dua orang yang berboncengan sepeda motor mendekati si Muchlis yang di belakang sebagai sweeper. Menurut Muchlis, mereka menanyakan ke mana kami akan camp dan mereka juga bilang kalau mau memanggil teman yang akan menemani kami. Dilihat dari tipe motornya yang 2-tak dan mencurigakan, Muchlis meminta saya dan Rizky yang berada di depan mempercepat laju motor. Saya juga cukup tegang, hingga saya teringat ada satu pantai yang cukup ramai penduduk sebelum memasuki kawasan Sendang Biru. Begitu tahu akan sangat membayahakan apabila dipaksa meneruskan perjalanan ke Bajulmati selain masih cukup jauh dan gelap, saya pun meminta Rizky mempercepat laju dan meminta segera belok kiri memasuki kawasan Pantai Tamban Indah yang terlihat tak lama sekitar 15 menit semenjak dua orang mencurigakan tadi mendekati kami. Segera kami tetap berjalan dan berhenti sejenak di depan rumah warga Tamban. Kami bersyukur Muchlis memperingatkan kami dan bersyukur karena tak jauh dari tempat awal kami dipepet, ada Pantai Tamban yang dikenal memang ramai penduduk dan merupakan kampung nelayan. Segera kami menuju tempat camp, parkir di tepi pantai dan mendirikan tenda. Saya sendiri mengurus perizinan sukarela di petugas wisata Pantai Tamban.

Menunggu makan malam di gardu Pantai Tamban

Fasilitas di Pantai Tamban cukup lengkap, terdapat banyak musholla dan banyak MCK. Tapi, banyak anjing pula, hehe. Segera kami bagi tugas, beberapa mendirikan tenda dan beberapa mempersiapkan memasak untuk makan malam. Dari sini kami dapat melihat "sosok" Pulau Sempu yang nampak dekat dan jajaran perahu nelayan yang tengah bersandar menunggu waktu untuk melaut. Menu makan malam saat itu adalah nasi oseng-oseng dan lauk tempe, plus minuman kopi panas yang menghangatkan badan. Menurut nelayan sekitar, menjelang Imlek atau Tahun Baru China, biasanya angin berhembus sangat kencang, dan sempat kami rasakan saat itu. Setelah puas makan dan bercengkerama hingga larut, kami pun segera beristirahat. Karena kondisi yang cukup gerah dan panas, hanya para cewek dan Mustofa yang tidur di dalam tenda kami masing-masing (total 2 tenda). Sisanya tidur di gardu dan tepi pantai. Sempat terusik ketenangan tidur kami gara-gara gonggongan seekor anjing yang mungkin terganggu dengan kedatangan orang-orang asing di Pantai Tamban, namun akhirnya kami bisa tidur terlelap.

9 Februari 2013
Kami semua terbangun sekitar pukul 04.30 WIB, masih gelap pagi itu. Menjelang terang pun, matahari tak cukup mampu menembus awan mendung sehingga tak bisa menikmati sunrise sepenuhnya. Setelah sholat subuh dan bersih diri, kami mempersiapkan sarapan pagi. Setelah sarapan pagi kelar, kami segera repacking. Beberapa teman-teman sempat membantu para nelayan menarik jaring ke tepi pantai. Hasilnya sungguh luar biasa, nelayan-nelayan itu sukses memperoleh banyak ikan ke daratan. Teman-teman yang ikut membantu bahkan diberi imbalan ikan 2 tas plastik besar, sekitar 5 kg lebih beratnya. Sungguh kami berterima kasih kepada para nelayan yang berbaik hati memberi kami ikan hasil tangkapan mereka.

Membantu nelayan menarik jaring ke tepi pantai

 Perahu nelayan dan tampak di sana Pulau Sempu

 Foto keluarga sebelum pulang

Setelah puas bermain ikan, kami segera berkumpul dan merundingkan apakah perjalanan dilanjutkan kembali menuju Pantai Bajulmati. Setelah mempertimbangkan soal insiden semalam yang mencurigakan alias pertimbangan keamanan, dan fisik teman-teman yang nampaknya mulai lelah, akhirnya kami memutuskan untuk pulang kembali ke Malang dan akan melanjutkan Session II di waktu selanjutnya dengan target yang tidak terlalu banyak. Pengalaman dua hari ini memberikan pelajaran berharga bagi kami, agar ke depannya dapat mempersiapkan diri lebih baik secara efisien dan efektif. Akhirnya pukul 10.00 WIB kami meninggalkan kawasan Pantai Tamban dan pulang ke Malang. Sempat mampir istirahat untuk sholat di masjid yang terletak di pertigaan Turen. Sore harinya kami sampai di pom bensin, tempat meeting point saat berangkat untuk evaluasi dan kalkulasi ulang iuran. Setelah usai, kami pun kembali ke kos masing-masing, dan berharap dapat bersama-sama lagi untuk melanjutkan touring pantai di Session II.

Salam Respect!
Penulis: Rifqy Faiza Rahman
Dokumentasi: GAMANANTA

NB: Untuk detail perjalanan mengenai rute ke 4 pantai tersebut dan biaya perjalanan dapat dilihat di menu katalog perjalanan: Tour de Sewu Siji Segoro Kidul Session I.
About Gamananta TravelerCommunity

Gamananta adalah sebuah komunitas traveler yang selalu membawa semangat dan orientasi konservasi dalam setiap kegiatan dan perjalanannya. Gamananta merupakan dua kata gabungan dari bahasa Sansekerta, "Gama" berarti perjalanan dan "Ananta" berarti tanpa batas. Gamananta berusaha untuk berjalan tanpa batas demi visi dan misinya.

Artikel Terkait

4 comments:

  1. asyik nih susur pantai.. kapan main ke bandung? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, iya kawan, masih banyak yang belum kami eksplore, pantai di malang ada sekitar 16 hehe...

      insya Allah kalau kami ke gede pangrango, kami sempatkan silaturrahmi ke bandung, kalau boleh tahu siapa contact person yang bisa dihubungi dan dimana alamatnya? :)

      Delete
  2. kak, biaya ke kondang merak nyampe brp ya? mulai dr penginapan, makan, tempat parkir ? :D hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf baru balas Kak. Kalau tiket masuk masih sekitar Rp 5000 per orang, motornya juga sama. Kalau makan, tergantung menunya. Kalau hasil laut kayak oseng gurita, sate tuna, atau ikan bakar, rata-rata sekitar 50-100ribu per porsi komplit, untuk beberapa orang. Kalau penginapan sementara baru bisa camping pakai tenda, karena penginapan lama sudah beralih fungsi menjadi posko kesehatan :)

      Delete

No Spam, No Sex, No SARA
Junjung Tinggi Kebebasan Berpendapat yang Bertanggung Jawab