Monday, 20 May 2013

Gamananta Berkiprah di Kompas Kampus dan Malang Communities Club

Acara Kompas Kampus dan Malang Communities Club adalah dua even berbeda, namun memiliki tujuan yang sama. Yaitu, mengenalkan komunitas atau suatu perkumpulan kepada masyarakat. Gamananta ikut serta dalam dua even tersebut, tujuannya jelas, yaitu mengenalkan Gamananta kepada orang-orang. Berikut cerita singkat keikutsertaan Gamananta dalam dua even tersebut.

1. Kompas Kampus



Acara Kompas Kampus ini bertemakan "green living and youth creativity", diselenggarakan oleh unit kegiatan mahasiswa Malang Youth Greeneration atau biasa disingkat MyGreeneration, pada tanggal 1-2 Mei 2013 di kawasan gedung Samantha Krida, Universitas Brawijaya. Acara ini merupakan kerjasama dengan media Kompas dan Tupperware, juga didukung penuh oleh beberapa sponsor, antara lain Kompas TV dan IM3 sebagai media partner, dan beberapa sponsor lainnya.

Deretan stan-stan promosi di acara Kompas Kampus

Keikutsertaan Gamananta di even ini berawal dari undangan ke komunitas ini secara tertulis melalui BEM Fakultas Pertanian, yang diterima oleh CEO Gamananta sekarang, Rizky Maulana. Kami mendapat jatah satu stan untuk diisi sebagai media promosi. Dari 14 stan yang ada, kami mendapat jatah satu tempat. Setelah dibahas berbagai persiapan untuk keikutsertaan kali ini, kami akan berkoar-koar mempromosikan Gamananta di stan pada hari H, berbekal banner, sticker, brosur dan berbagai alat media lainnya.

Keriuhan dalam even Kompas Kampus

Pada hari pertama, 1 Mei 2013, lumayan diikuti cukup banyak member Gamananta, antara lain saya sendiri, Mas Kurniawan, Muchlis, Ike, Fahri, Rizky, Norma, Lita, Mustofa, dan Azza. Saya tidak mengikuti acara sampai selesai, karena siangnya saya harus ke stasiun bersama Mas Dani, menunaikan ekspedisi ke Gunung Gede Pangrango yang artikelnya bisa Anda nikmati di sini


Muchlis dan Mas Kurniawan mejeng di depan stan Gamananta

Acara hari pertama saya lihat cukup meriah, ada lomba masak juga, dan di dalam gedung adalah acara opening dan talkshow. Stan-stan promosi ada di luar gedung. Terdapat juga salah satu bilik milik Tupperware yang isinya seperti lorong, menjelaskan tentang bahaya sampah non organik, utamanya plastik. Hari kedua, 2 Mei 2013 adalah hari lomba-lomba, yang mana Gamananta berhasil memenangkan salah satu lomba, mendapatkan souvenir berupa tas selempang dari Kompas, dan berbagai merchandise lainnya.

Muchlis menjelaskan komunitas Gamananta kepada pengunjung

Banner galeri perjalanan Gamananta untuk menarik minat pengunjung

Yang berkesan bagi saya adalah, Gamananta adalah satu-satunya yang merupakan komunitas traveling, sisanya adalah kumpulan ibu-ibu pengrajin, pebisnis UMKM, penghobi satwa, dan lain-lain. Kami cukup mendapat banyak pelajaran ke depan tentang bagaimana kami belajar mengenalkan Gamananta ke masyarakat luas, karena ternyata banyak yang tertarik gabung dengan trip-trip kami selanjutnya. Yang paling banyak ditanya adalah soal pendakian bersama ke Gunung Semeru pada akhir Juni 2013, banyak yang penasaran ingin pergi ke sana. Semoga nanti bisa mendapat keluarga baru dari sebuah perjalanan.

2. Malang Communities Club



Malang Communities Club, atau MCC, diselenggarakan pada tanggal 19 Mei 2013 oleh EO bernama CresPR, bekerja sama dengan berbagai media partner. Lokasinya bertempat di Perpustakaan Pusat Kota Malang. Awal mula Gamananta diundang adalah ketika saya dihubungi oleh Sherly, member Komunitas Backpacker Malang Raya (KBMR), supaya Gamananta ikut serta. Langsung saja saya segera konfirmasi ke Mas Luhur Dirgantara, selaku ketua pelaksana even ini. 

Rupanya, memang even ini khusus ditujukan bagi komunitas-komunitas se-Malang Raya untuk promosi komunitas masing-masing, mempererat silaturahmi antar komunitas, dan banyak lagi tujuan positif lainnya. Langkah awal setelah konfirmasi adalah mengirimkan logo Gamananta ke panitia melalui Fikri (Founder KBMR), untuk tujuan promosi di poster. Kami mengikuti even ini setelah seminggu sebelumnya pulang dari ekspedisi 2M (Merbabu-Merapi) yang berhasil dituntaskan oleh tim. 

Opening Malang Communities Club

Member Gamananta yang ikut serta dalam even ini adalah saya, Mas Kurniawan, Muchlis, Ike, Rizky, dan Lita. Kami mendapat wall stan di dalam gedung. Suasana open house berlangsung hangat dan ceria. Terlebih ketika masing-masing komunitas mendapat jatah dengan durasi terbatas untuk memperkenalkan komunitasnya di atas panggung. Tak terkecuali Gamananta. Saya dan Muchlis maju ke panggung, selama 10 menit mempresentasikan visi dan misi komunitas kami, dan menjelaskan hal-hal yang membedakan kami dengan komunitas traveling lain, KBMR misalnya, mulai dari standarisasi manajemen perjalanan, agenda yang sudah direncanakan dalam satu tahun, kepengurusan, dan lain-lain yang intinya berpromosi agar teman-teman berminat bergabung bersama kami. Selama 10 menit presentasi, diiringi dengan video kami saat perjalanan ke Gunung Merbabu dan Merapi seminggu sebelumnya. Video kami saat presentasi dapat Anda lihat di akun Youtube Gamananta di sini.

Tim Hore di stan Gamananta

Acara ditutup pada pukul 16.00 WIB, menghasilkan pengalaman cukup berkesan dan memberi wawasan bahwa ternyata di Malang Raya banyak sekali komunitas-komunitas dengan berbagai minat masing-masing, ada yang pecinta kucing (Malang Cat Lovers), penghobi fotografi, KBMR, MLG48 (fans club JKT48), pecinta manga, pengrajin UMKM, dan lain sebagainya. Semenjak even ini, banyak sekali kegiatan-kegiatan yang melibatkan komunitas agar tetap berlanjut kebersamaannya. Karena memang, akan sulit jika sebuah komunitas berjalan sendiri-sendiri tanpa memperluas jaringan komunikasi dengan komunitas lainnya. Karena, banyak sekali manfaat positif dari berkegiatan di sebuah komunitas.

Ditulis oleh:
Rifqy Faiza Rahman

Salam Respect!
Read More

Saturday, 18 May 2013

Catatan Gamananta: Ekspedisi 2M - Gunung Merbabu dan Gunung Merapi


Gunung Merbabu - Merapi, merupakan dua gunung berdampingan yang sangat indah dengan keunikan yang berbeda. Tepat pada tanggal 8-12 Mei 2013, kami mengadakan ekspedisi ke dua gunung ini. Selayaknya Arjuno-Welirang dan Sindoro-Sumbing, keduanya adalah gunung "bersaudara". Lokasi dua gunung ini lumayan dekat, bahkan basecamp yang menjadi titik awal pendakian juga terletak pada satu wilayah, Selo. Sangat menyesal jika hanya menancapkan kaki di salah satu gunung tersebut. Jika peribahasa mengatakan: "sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui", maka dengan semangat "Ji! Ro! Lu! Budal!", Gamananta pun mengarungi kedua gunung tersebut dengan sekali jalan.

Ekspedisi kali ini tidak terlepas dari persiapan dan manajemen yang kami rencanakan sejak lama. Penanggung jawab ekspedisi yaitu Ike (COO Gamananta). Tim kami terdiri dari Rizky, Rifqy, Muchlis, Lutfi, Roni, Reza, Ike, dan Norma. Kami berangkat dari Malang berenam terlebih dulu karena Reza menunggu di terminal Bungurasih Surabaya, sedangkan Rifqy menanti kami di Solo setelah pendakiannya ke Gede-Parango lihat di sini.

 Foto Bersama di Universitas Brawijaya Sebelum Berangkat

Kami berkumpul terlebih dahulu di kampus Universitas Brawijaya Malang, repacking dan rechecking perlengkapan yang dibawa. Berangkat ke Arjosari pukul 20.00 menggunakan sepeda motor (Muchlis, Norma, Rizky, Roni), sedangkan Ike dan Lutfi menggunakan angkot ADL. Sampai di terminal Arjosari sekitar jam 21.00, lalu kami menunggu bus ekonomi AC jurusan Malang Surabaya cukup lama karena libur panjang, banyak penumpang yang mudik. Akhirnya sekitar pukul 22.00 WIB bus ekonomi meluncur bersama kami, dengan tambahan seorang anggota gamananta yaitu Mas Kurniawan. Mas Kurniawan bareng sampai Solo saja karena langsung lanjut ke Jakarta dan terbang ke Lampung untuk presentasi sebuah even Internasional.

Setibanya kami di terminal Bungurasih, hanya sekitar 2 jam kami bisa menghirup panasnya kota Surabaya di malam hari, beda dengan malang yang setiap jam selalu dingin. Selebihnya kami istirahat, melihat ramainya terminal Purabaya (sebutan lain untuk terminal Bungurasih) dini hari, menunggu hujan dan menunggu Reza datang. Lelah dan kantuk tak terbendung sebenarnya, namun bayangan Gunung Merbabu - Merapi membuat kami yakin untuk “Budal”. Tepat pukul 00.30, bus Sumber Selamat berhasil kami ambil kursinya sejumlah delapan seat paling belakang. Berebut memang, libur panjang memaksa beberapa orang berdiri sepanjang perjalanan Surabaya - Solo selama 6 jam. Ahh, terkadang memang tidak adil rasanya, kasihan, tapi kami juga butuh duduk dan kami yang dapat terlebih dulu. 

Sepanjang perjalanan malam yang dingin ditemani hujan dan lampu-lampu kota kami tidur pulas. Mengumpulkan banyak energi untuk esok yang lebih liar lagi. Hingga kami terbangun terpaksa karena bus yang kami tumpangi menabrak sebuah sepeda motor di depannya. Setengah jam sopir dan kernet harus mengurus di kantor polisi, para penumpang ricuh dan kaget. Tapi setelahnya bus kembali berjalan normal, benar memang jika orang mengatakan bus malam itu "brutal".

“Selamat datang di Kota Solo”, kata Muchlis. Muchlis sendiri adalah orang Solo. Kami tiba di terminal Tirtonadi sekitar jam 06.00 pagi, disambut suasana terminal yang ricuh meskipun Solo terkenal ‘kalem’. Menunggu Rifqy menemui kami di terminal, kami berbenah diri dan sarapan roti plus selai kacang yang kami beli dari Malang. Memang dasarnya Backpacker, tidak perlu mahal cukup bergizi dan jaminan murah. Merasakan suasana Solo yang demikian, kami berpikir ini dia Jawa Tengah.

Rifqy datang, kami siap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Mas Kurniawan  juga sudah siap-siap kami tinggal terlebih dulu. Karena keretanya berangkat jam 13.00, terpaksa dia menunggu dulu di teminal. Perjalanan berlanjut, kami naik bus ekonomi Solo-Semarang jam 07.30 dan turun di Pasar Sapi Salatiga. Sampai di Pasar Sapi Salatiga jam 09.30, kami langsung mencari carteran mobil ke kopeng (jalur Tekelan). Sebenarnya ada empat jalur resmi Balai Taman Nasional Gunung Merbabu yang bisa ditempuh untuk sampai di puncak Merbabu. Keempat jalur tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, tergantung keinginan saja, diantaranya:

·           Jalur Selo, Desa Tarubatang, Kecamatan Selo, Boyolali
·           Jalur Wekas, Desa Kenalan, Kecamatan Pakis, Magelang
·           Jalur Cunthel, Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Semarang
·           Jalur Tekelan, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Semarang

GATE OF SEVEN SUMMITS INDONESIA, MOUNT MERBABU
Kali ini Gamananta memilih Jalur Tekelan dan turun lewat jalur Selo. Selain bisa menikmati 7 puncak Merbabu yang biasa dikenal sebagai Seven Summits, seturunnya lewat Selo kami ingin langsung lanjut ke Merapi. Berangkat ke Kopeng sekitar jam 10.00, dinginnya kaki Merbabu bisa kami rasakan sedikit, semakin naik semakin dingin. Perjalanan 45 menit terasa lelah dan senyap, tapi pemandangan yang tersaji mengurungkan niat untuk tidur. 

 Bukit Hijau Selama Perjalanan Menuju Kopeng

Sampailah kami di basecamp Merbabu, Dusun Tekelan jam 10.45 WIB. Semangat kami mulai meninggi, mendadak dingin, merasakan lapar yang sangat. Akhirnya setelah mengurus registrasi dan perijinan kami langsung memasak makan siang. Tidak lupa kami mengabadikan kunjungan kami di basecamp ini. Rizky, selaku CEO Gamananta menempel sticker di basecamp. Tentu untuk mengingat, bahwa Gamananta pernah melalui jalur ini.

 Menempel Sticker Gamananta di Basecamp Tekelan

Makan siang tersaji, kami menikmati dan makan dengan porsi ‘pas’. Pas kalori untuk pendakian, nasi, sayur sop, nugget goreng cukup untuk siang ini. Seteah selesai sholat, kami mulai repacking dan rechecking. Persiapan untuk upaya menggapai 7 puncak Merbabu ini sangat penting bagi kami. Akhirnya pendakian pun dimulai....

Merbabu via Tekelan, The Seven Summits of Indonesia
Merbabu terletak pada gunung api yang bertipe Strato yang terletak secara geografis pada 7,5° LS dan 110,4° BT. Secara administratif gunung ini berada di wilayah Kabupaten Magelang di lereng sebelah barat dan Kabupaten Boyolali di lereng sebelah timur, Propinsi Jawa Tengah. Ketinggiannya mencapai 3.145 mdpl, lebih tinggi dari Gunung Merapi. Tidak salah jika memiliki 7 puncak yang menyajikan panorama berupa liak-liuk puncak yang saling berbeda, nyatanya memang tinggi setiap puncak berbeda. Pendakian Merbabu ini dipimpin oleh CEO Gamananta, Rizky, setelah berdoa dan meneriakkan jargon, kami mulai start jam 12.10. Panas bukan halangan, dingin bukan rintangan, Puncak bukan segalanya, karena yang terpenting adalah Tuhan, di mana tujuan kita kesana adalah untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dengan cara yang lebih "heroik".

Perjalanan menuju Camp 1 (Pending) masih landai, melewati jalan aspal kemudian ladang penduduk dan hutan pinus yang tidak terlalu lebat. Sampailah kita di pos 1 jam 13.05, di pos ini kami mengisi air sebanyak mungkin, gubug kecil yang tersedia cukup untuk 10 orang jika ingin bermalam disana. Disini kami bertemu dengan beberapa pendaki lain, termasuk turis mancanegara. Setelah air terisi penuh, kami melanjutkan perjalanan ke camp 2 (pereng putih). Jalur dari camp 1 ke camp 2 masih melewati hutan pinus, trek mulai naik dan melewati sungai kecil (Kali sowo). Sekitar 45 menit kami sampai di camp 2 (pereng putih), tepat jam 14.55 kami melihat tebing yang berwarna putih seperti zebra, itulah kenapa camp ini disebut pereng putih. 

Setelah puas istirahat kami melanjutkan perjalanan ke camp 3 (Gumuk Menthul), hutan pinus mulai berkurang, kita bisa melihat bukit bukit hijau sepanjang perjalanan. Sampai di camp 3 jam 15.55, kami beristirahat sebentar. Bukit bukit kecil ini sesuai namanya bergumuk (bergelombang) menyajikan kesejukan yang luar biasa. Lanjut, lanjut kami semakin bersemangat untuk sampai ke camp 4 (Lempong Sampan), akhirnya sampailah kita di camp 4 jam 16.55. Camp ini didominasi oleh semak dan rumput kering, ada tanah lapang tidak terlalu luas yang bisa digunakan untuk mendirikan tenda.

Semakin senja, matahari mulai hilang. Kami mempercepat langkah, trek cukup menantang. Adanya batuan, jalan yang menanjak memaksa kami untuk memberikan energi lebih. Angin merbabu menyapa kami dengan suhu dinginnya, akhirnya kami sampai di Puncak 1 (Watu Gubug) jam  17.50.  Di puncak dengan ketinggian 2.729 mdpl ini kami bertemu kemnali dengan dua turis mancanegara asal Slovakia.Kami mulai menggunakan jaket karena angin merbabu semakin dingin dan kencang, vegetasi yang terbuka tanpa pelindung membuat angin merbabu langsung menyentuh tubuh kita.  Batu yang tinggi dan besar ditengahnya memiliki sebuah lubang yang muat untuk satu orang, menurut mitos lubang ini adalah pintu menuju alam lain.

 Puncak 1 (Watu Gubug)

Perjalanan berlanjut, lewat jam 18.00 kami menyusuri trek terjal dan berbatu. Malam agak menyulitkan memang, rencana awal kami bermalam di puncak 6 (kenteng songo) akhirnya harus berganti di puncak 2 (Watu Tulis). Akhirnya sampailah kita di puncak 2 jam 18.45, sebenarnya di pos ini ada sebuah prasasti dari batu yang bertuliskan huruf jawa kuno itulah kenapa bernama watu tulis, sayangnya sekarang prasasti itu sudah hilang entah dicuri oleh kolektor atau pendaki yang tidak bertanggung jawab. Di ketinggian 2900 mdpl ini terdapat menara milik TNI, secara tidak langsung puncak ini juga disebut puncak menara.
Kami bertemu pendaki lain yang bermalam disini juga, karena tanah datar tidak terlalu luas akhirnya kami mendirikan tenda sedikit ke bawah. Memasak untuk makan malam, setelah makan kami sholat dan kemudian istirahat. Rizky ternyata masih belum tidur, kewajiban mahasiswa memang, dia masih mengerjakan laporan hingga larut, sementara anggota lain sudah terlelap.
“Mebabuuuuuuuuu....” teriakan pendaki lain yang ternyata sudah bangun terlebih dulu membangunkan kami, sekitar jam 04.00 kami bangun, packing, menyiapkan sarapan dan sholat subuh. Pagi yang menggabungkan dinginnya subuh dan hangatnya duha memaksa kami untuk berfoto. Seperti bayi yang baru lahir, kami tidak bisa berhenti mengucap syukur melihat alam yang indah ini. Sunrise pertama kami di Merbabu, daun yang mulai tampak hijau. Bahkan tampak juga sendoro-sumbing di sebelah barat, sensasi ini tidak akan terlewat. “Bahkan 1000 kali kita melihat matahari terbit, maka setiap pagi kita akan melihat sinar menyapa pada sisi dunia yang berbeda”.

 Sunrise dari puncak pemancar (Puncak 2)

 Menikmati Sarapan dan Sunrise

 Pos pemancar (Puncak 2)

Semakin cerah tampak jalur pendakian dari arah Setelah puas mengabadikan momen, kami melanjutkan perjalanan jam 07.00. Sekitar 20 meter dari puncak 2 tempat kami camp ada sebuah tugu batas antara kabupaten magelang, boyolali, dan semarang. Selain itu, tugu ini juga menjadi jalur pertemuan antara wekas dan tekelan. Lima menit perjalanan melewati tugu, kita menemukan pertigaan. Kami ambil jalur kanan melewati heliped, sedangkan jalur kiri langsung ke Geger Sapi (puncak 3). Sepanjang perjalanan kami melihan bukit dan lembah. Trek hanya satu jalur, sempit, dan diapit oleh jurang halus yang kita sebut “Lembah”. Sampai di camp 5 (Heliped), sesuai namanya terdapat tanah lapang yang cukup untuk 3 tenda atau 1 helikopter.
Setelah melewati heliped kami bertemu pertigaan kami ambil jalur kiri menuju puncak 3 sedangkan jalur kanan kebawah menuju kawah Condrodimuko dan mata air, mata air disini ada yang dapat diminum dan ada yang tidak boleh diminum karena tercemar belerang. Selanjutnya kami melewati “Jembatan Setan”. Sebutan ini karena samping kiri kanan adalah jurang sedangkan trek terjal berbatu dengan elevasi 400.  Setelah melewati jembatan setan sampailah kami di puncak 3 2.926 mdpl (Geger Sapi) jam 7.40, dalam bahasa jawa ‘Geger’ artinya punggung, yang artinya punggung sapi karena adanya tanjakan yang mirip punggung sapi.

 Menuju Jembatan Setan

 Tugu Batas Kabupaten (Salatiga, Boyolali, dan Magelang)

 Puncak 3 Geger Sapi

Lanjut ke trek berikutnya, setelah Geger Sapi ada pertigaan yang ditandai dengan batu besar. Untuk menuju puncak syarif kita smbil kiri, sedangkan untuk ke puncak 5 dan 6 ambil jalur kanan. Kita ambil jalur kiri, tebing curam menanti kita di sepanjang trek, elevasi trek sekitar 400. Akhirnya sampai lah kami di puncak 4 (Syarif) 20 menit kemudian dengan ketinggian 3.119 mdpl. Puncak syarif, demikian namanya karena legenda seseorang yang bernama syarif kabur dari penjara Belanda ke Gunung Mebabu ini. 

 Puncak 4 Syarif

Sindoro-Sumbing dilihat dari Puncak Syarif
Jalur semakin menantang, tebing tinggi, dan curam harus kmai lewati. 20 menit kemudian kami sampai di Puncak 5 (Ondo rante). ‘Ondo’ yang berarti tangga dan rante yang berarti rantai, artinya trek ini seperti tangga yang berbatu naik terus menerus dan sempit diapit jurang seperti rantai. Sekitar 5 menit kami menikmati puncak ini perjalanan pun berlanjut. Puncak kelima ini kami lewati untuk mempersingkat waktu. Menuju puncak 6 (Kenteng Songo) kami melewati jurag melipir, layaknya wall climbing kami harus berpijak pada batuan berjalan miring ke arah kiri, menaiki batuan terjal dengan elevasi 650. Sensasi yang luar biasa dengan carrier berat yang kami bawa. 
Kenteng Songo, iya kami sampai disana 45 menit kemudian tepat 09.45 kami melihat kenteng (batu berlubang) yang kering, tapi tidak berjumlah sembilan. Hanya enam mungkin, yang lainnya menurut mitos hanya paranormal yang dapat melihat. Di ketinggian 3.142 mdpl ini kami istirahat sejenak memandangi gunung lawu yang tampak agung, tampak dekat dari puncak ini, iya kami “Gamananta” akan melanjutkan ekspedisi jawa tengah kesana. 


Jalur menuju puncak Kentheng Songo

 Puncak 6 Kentheng Songo

Gunung Merapi dilihat dari Kentheng Songo
Setelah puas ‘jepret’ foto kami melanjutkan ke puncak tertinggi Merbabu, trek yang kami lalui tidak terlalu sulit. Setelah 15 menit berlalu akhirnya, sampailah kami di Puncak Trianggulasi (3.145 mdpl). Puncak ini cukup luas, kami bertemu dengan banyak pendaki lain disini termasuk seorang pendaki kecil perempuan (Naesi), dia datang bersama keluarga. Hebat, dia sudah mencapai 10 puncak di Indonesia termasuk Kerinci, gunung tertinggi di Sumatra. Puncak ini menjadi pertemuan semua pendaki dari seluruh jalur resmi. Puas rasanya kami menikmati, panas puncak yang semakin terasa memaksa kami turun.

 Puncak 7 Trianggulasi

Bersama pendaki lain di puncak Trianggulasi
Turun kami lewat Jalur Selo jam 10.30, siang semakin panas. Kami mempercepat langkah karena tidak ada pohon tinggi tempat bernaung. Sepanjang perjalanan turun didominasi semak dan rumput yang rendah. Jalur turun kami yaitu Jemblongan, ditempuh sekitar 15 menit. Kemudian kami sampai pada sabana 2 jam 11.15. Sabana 1 selesai kami lewati 30 menit kemudian. Sabana 1 dan sabana 2 memiliki kenampakan yang sama, padang rumput yang luas dan jarang sekali pohon.
Trek dari Sabana 2 ke watu tulis naik dan turun bukit, dengan jalan berbatu. Sampai kami pada Pos 3 (watu tulis) sekitar jam 12.40. 

 Sabana jalur Selo

Gerbang pendakian Merbabu jalur Selo, Boyolali

Trek dari watu tulis ke Pos berikutnya mulai memasuki hutan lebat, sampai akhirnya jam 13.35 kami sampai di Pos 2 (Pandean). Langsung kami lanjutkan perjalanan hingga Pos 1 (Dok Malang), trek dari Pos 1 ke basecamp melandai. Melewati aspal, hingga akhirnya kami sampai di basecamp jam 15.15.Setibanya di basecamp kami membersihkan diri sholat dan mempersiapkan perjalanan ke Merapi.
 LAST EXPEDITION! MOUNT MERAPI!
Jam menunjukkan 18.35 kami meluncur dari basecamp Merbabu Selo menuju basecamp Merapi Selo menggunakan ojek. Sampai dibasecamp langsung registrasi dan menyiapkan makan malam, setelahnya tepat jam 10.00 kami start naik. Trek diawali dengan jalan aspal, berbatu, dan berdebu melewati Pos Joglo dimana banyak warung yang menyediakan banyak makanan. Norma mengalami cidera punggung, akhirnya kami memutuskan untuk camp sebelum mencapai Pos Tugu 1, karena 10 meter diatas camp sudah pos Tugu 1. Setelah mendirikan tenda kami istirahat. Jam 04.00 kami bangun mempersiapkan summit. Norma masih sakit, dia tidak bisa summit akhirnya Rifqy menemani Norma sementara teman lain summit.
Perjalanan dimulai, kami terlambat bangun dan mau tidak mau menikmati sunrise ditengah trek. Tampak gunung Merbabu di sebelah barat dilapisi awan tebal yang lembut. Rasanya ingin lompat ke lapisan awan itu dan tidur disana, khayalan pendaki pada umumnya. Jalan sangat menanjak, berdebu dan berbatu, tangan harus bebas untuk mencengkeram batu agar kami tidak jatuh ke bawah. Lama kami melewati trek serupa yang didominasi batuan terjal, sampai akhirnya kami menemukan Pos Tugu 2 jam 05.30.

 Sunrise sebelum pos 2 Tugu
Dari pos Tugu 2 kami terus melewati trek menanjak dan berdebu, melipir di sebelah timur tebing, kami melewati jurang. Sinar matahari mulai pecah, dingin subuh berganti kehangatan khas dari Merapi. Kami terus berjuang melewati batuan yang besar dan tinggi, tapi semua terbayar dengan panorama merapi yang luar biasa. Karena “Setiap langkah dari pengorbanan pasti ada seribu balasan terbaik”.
 Pos Tugu 2
Hampir mendekati pasar bubrah, kami memutuskan shalat subuh terlebih dulu di tanah lapang jam 06.30. Sulit sekali menemukan tanah yang lapang, bahkan shalat pun harus miring, tapi kewajiban tetap kewajiban. Trek yang kami lewati bervariasi naik dan turun, “Panas Sekali”. Menuju pasar bubrah kami melewati beberapa memoriam, alam semakin gersang, hanya beberapa tanaman yang tumbuh. Semakin naik semakin gersang, beberapa meter sebelum pasar bubrah kami melewati pemancar. Pasar Bubrah ditandai dengan tanah yang sangat lapang dengan banyak batuan yang sangat besar. Sampai di pasar bubrah sekitar jam 07.00, semua naik ke puncak Garuda kecuali Rony memutuskan menunggu di salah satu batuan besar di Pasar Bubrah. 


Lautan awan dari lereng Merapi

 Pasar Bubrah

Tugu In memoriam

 Pemancar

 Gamananta di Puncak Merapi

Trek ke pucak Garuda mirip Puncak Mahameru, bedanya Mahameru lebih curam,terjal, dan curam. Namun, trek ini cukup berbahaya, kami menggunakan baju panjang dan sarung tangan agar tidak terbakar matahari maupun panas merapi sendiri. Bersusah payah akhirnya penantian terbayar, jam 08.00 kami sampai di puncak Garuda Merapi (2968 mdpl). Puncak ini telah rusak akibat erupsi kawah beberapa tahun lalu, di puncak tempat untuk bersantai sangat sempit hanya cukup untuk 10 orang saja. Saat kami berfoto ria, ada rasa khawatir terjun ke kawah karena saking sempitnya. Setelah puas menikmati panorama yang panas, turunlah kami tepat jam 09.00. Kami lewat jalur pasir, selancar seru bersama pendaki lain, menyapa pendaki yang baru akan naik tentu kami bersyukur ‘Alhamdulillah’.


Rizky dan merah putih di puncak Merapi

Di pasar bubrah kami makan bekal yang kami bawa, ternyata banyak pendaki yang mendirikan tenda disini. Bahkan kami bertemu dengan pendaki lain, yang ternyata teman kami juga. Setelah menghabiskan bekal kami turun menuju tempat camp. Trek yang dilewati tetap sama, hanya menurun dan lebih cepat saja. Jam jam seperti ini merapi sudah diselimuti kabut tebal, dan benar saja saat kami sudah sampai camp jam 11.00 mulai gerimis. Di tenda sudah tersiap makanan dari Rifqy dan Norma, santap habis semua makanan setelahnya kami tidur pulas sampai jam 15.00. Kami turun sekitar jam 16.00, sampai di basecamp jam 15.00. Tampak tulisan besar sebelum Pos Joglo “New Selo”, ternyata kami tidak melihat semalam kaena gelap.
 New Selo dan Pos Joglo 
Sampailah kami di basecamp, siap bersih dan setelah sholat kami pergi ke terminal solo menggunakan mobil charteran. Perjalanan selama 1,5 jam kami habiskan dengan tidur lelap. Sampai di terminal Tirtonadi kami disambut oleh teman Rifqy dan Muchlis dari IAAS UNS, jalan jalan sebentar menikmati malam di Solo sambil makan ‘Gudeg’. 

 Foto bersama dengan teman-teman UNS (Depan) seusai makan nasi gudeg di seberang terminal

Setelah kenyang kami langsung berpamitan dan melanjutkan perjalanan ke Surabaya, pulang. Kami delapan orang entah sudah sampai ketinggian berapa, terlelap di bus malam itu. Hingga sampailah kami di Bungurasih jam 05.30. Berpisah dengan Reza kami melanjutkan perjalanan ke Malang, sampai di Malang sekitar jam 07.30, dan pulang ke basecamp masing masing. Biaya selama ekspedisi bisa dilihat di sini, video bisa dilihat di sini

Special Thanks to:
  • Allah SWT
  • Orang tua kami masing-masing
  • Kidung UGM dan Ugo UNS buat nginap di kos kalian (Rifqy)
  • Sopir mobil carter Kopeng dan Selo
  • Crew Gamananta  
Salam Respect!
Ji! Ro! Lu! BUDAL!


Ditulis oleh:
Ike Novitasari (COO Gamananta)

Read More

Wednesday, 8 May 2013

Catatan Gamananta: Gunung Gede - Pangrango, Tempat Berlabuhnya Soe Hok Gie


Sebetulnya, pendakian kali ini diagendakan setelah dari Gunung Merbabu dan Merapi. Namun, dikarenakan kendala jarak dan waktu, teman-teman Gamananta lebih memilih memprioritaskan ekspedisi ke Merbabu dan Merapi. Sehingga, dalam pendakian ke Gunung Gede dan Pangrango kali ini diwakili oleh tiga anggota Gamananta, yaitu Zaki Mubarok a.k.a Zaki, Lalu Ahmad Hamdani a.k.a Dani, dan Rifqy Faiza Rahman a.k.a Rifqy (saya). Semua bermula dari ajakan Zaki, yang kebetulan akan pulang kampung ke Bandung pada akhir bulan April.

Setelah berulang kali meeting, akhirnya kami membagi tugas. Zaki dan Mas Dani kebagian tugas mengatur administrasi perizinan, sedangkan saya mengatur rencana perjalanan, sedikit dibantu Mas Dani juga. Zaki sudah terlebih dahulu berada di Bandung sejak tanggal 24 April 2013. Sedangkan saya dan Mas Dani berangkat dari Malang tanggal 1 Mei 2013, menumpang KA Malabar tujuan Stasiun Hall Bandung. Setelah kelar di acara Kompas Kampus UB, saya berangkat ke stasiun diantar Mas Kurniawan. Mas Dani datang tepat beberapa detik setelah saya tiba di stasiun.

Gaya Mas Dani di pintu kereta

Rabu-Kamis,  1-2 Mei 2013
Kereta berangkat pukul 13.00 WIB, menyusuri stasiun-stasiun di wilayah empat provinsi, Kami akan melalui perjalanan selama kurang lebih 14 jam hingga sampai di Bandung. Kereta ini mengangkut penumpang dalam gerbong ekonomi, bisnis, dan eksekutif.

Pelangi di langit Kediri

Kepanjen, Blitar, Tulungagung, Kediri, Nganjuk, Madiun, Yogyakarta, Purwokerto, Cirebon, Tasikmalaya, Kiaracondong adalah beberapa nama stasiun yang kami kenal, hingga pukul 04.00 kereta ini benar-benar berhenti di Stasiun Hall, Kota Bandung. Kami dijemput kakaknya Zaki, mas Faliq Mubarok dengan Avanza-nya yang dikemudikan bak atlet reli Dakar membelah kesunyian jalanan Bandung. Tak sampai lama, kami tiba di asrama pelajar Muhammadiyah yang ditempati Zaki dan Zaka selama di Bandung, tepatnya di kawasan Bawah Batu. Kami beristirahat di sini hingga siang, karena Zaki mengusulkan sore harinya kami berangkat ke Cipanas, sekalian nunut mas Faliq yang memang ada urusan di sekolah Muhammadiyah Cipanas, tempat Zaki dan Zaka bersekolah dulu.

Makan bubur ayam di Cianjur dalam perjalanan ke Cipanas. 
Sebelah saya adalah Mas Faliq, kakaknya si Zaki dan Zaka

Selama di Cipanas, yang masih masuk dalam administratif Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, kami menginap di salah satu kamar kosong penghuni asrama. Dari sekolah ini, utamanya dari Cipanas, sudah terlihat jelas Gunung Gede Pangrango yang berhutan tropis lebat. Saya dan Mas Dani yang notabene lama berkuliah di Malang, dan terbiasa dengan gaya hidup murah meriah di Malang, cukup terkejut dengan harga makanan yang melangit di Cipanas. Mungkin karena Cipanas adalah tempat wisata, karena di sana terdapat bangunan Istana Kepresidenan Cipanas.

Jum'at, 3 Mei 2013
Istana Kepresidenan Cipanas

Hari ini cukup banyak kegiatan yang kami lakukan. Belanja konsumsi, jalan-jalan pagi, dan membahas perjalanan besoknya. Sempat terjadi tarik ulur peserta pendakian kali ini, utamanya dua cewek temannya si Zaki yang galau mau ikut atau tidak. Karena saya meminta pendakian dilaksanakan dua hari satu malam saja untuk dua puncak, mereka akhirnya membatalkan ikut karena pendakian kali ini membutuhkan kondisi fisik yang lebih. Akhirnya peserta pendakian pun mengerucut menjadi tujuh orang, yaitu:
  1. Rifqy (saya)
  2. Mas Dani
  3. Zaki
  4. Zaka
  5. Farhat (teman Zaki-Zaka, asal Taksimalaya)
  6. Fahrul (teman Zaki-Zaka, asal Tasikmalaya)
  7. Wahyu (teman Zaki-Zaka, asal Sukabumi)
Kami kembali berunding cukup lama mengenai start pendakian, rencana awal saya adalah naik lewat jalur Cibodas dan turun di Gunung Putri. Namun, berdasarkan pertimbangan pengalaman mereka dan efisiensi waktu, kami akhirnya merubah rute pendakian, naik lewat jalur Gunung Putri, lalu turun di Cibodas. Setelah bersiap-siap, kami sepakat untuk berangkat ke Gunung Putri pukul 01.00 WIB, dan mulai pendakian pada 02.00 WIB.

Sabtu, 4 Mei 2013

Jalur Gunung Putri, Cipanas
Kami terbangun pada pukul 00.00 WIB, dan langsung bersiap-siap. Pukul 01.00 WIB kami berangkat ke Gunung Putri menaiki angkot yang sudah dipesan sebelumnya. Perjalanan menuju Gunung Putri tidak terlalu mudah, karena 1-2 kali kami turun untuk meringankan beban angkot yang terengah-engah di jalan beraspal yang rusak parah. Kami tiba di Gunung Putri sekitar pukul 02.00 kurang. Setelah melewati administrasi pendakian, kami memulai petualangan kami, debut Gamananta di Gunung Gede Pangrango kala waktu menunjukkan pukul 02.15 WIB.

Gerbang pendakian Jalur Gunung Putri.
Kanan ke kiri: Saya, Zaki, Mas Dani, Zaka, Wahyu, Fahrul

Saya tidak terlalu paham medan di sini, yang jelas, menurut literatur dan penuturan Zaki dkk yang sudah pernah ke sini sebelumnya, jalur Gunung Putri adalah jalur yang cukup menyiksa, naik terus, namun lebih cepat sampai ke Puncak Gede. Dari literatur yang saya peroleh, kami akan melalui sekitar lima pos, yaitu Pos 1 (Tanah Merah), Pos 2 (Legok Leunca), Pos 3 (Buntut Lawang), Pos 4 (Lawang Seketeng - ini yang katanya paling angker), dan Pos 5 (Simpang Maleber). Setelah melewati jalur landai sampai pintu gerbang pendakian, mulailah jalur menanjak naik. Hampir kami semua merasa kepayahan karena kesalahan kami yang tidak mengisi perut dulu sebelum berangkat ke Gunung Putri. Beberapa kali kami break mengatur nafas. Saya, Zaka, dan Mas Dani tertinggal di belakang. Zaki, Farhat, Fahrul, dan Wahyu melesat di depan. Matahari mulai terik kala kami menjumpai pos Simpang Maleber. Ah! Suryakencana tak jauh lagi!

Istirahat sejenak sebelum mencapai Simpang Maleber

Alun-alun Suryakencana
Tepat pukul 08.15 WIB, akhirnya kami semua sampai di Alun-alun Suryakencana, setelah menempuh 6 jam perjalanan dari Gunung Putri. Kami segera beristirahat dan membuka roti selai untuk sarapan. Dan apa yang saya baca di literatur tentang pedagang nasi uduk di Gunung Gede terbukti, di alun-alun banyak sekali penjual nasi uduk, bakso, makanan dan minuman lainnya. Mirip porter lah, membawa beban berat dan dijual di atas.

Alun-alun Suryakencana

Menuju Titik 0 km

Alun-alun Suryakencana ini sungguh indah. Hamparan luas padang edelweiss Jawa, memanjakan mata dari segala penjuru. 15 menit kemudian, kami berjalan kembali menuju Titik 0, tempat camp yang biasa digunakan pendaki untuk bermalam, karena dekat dengan sumber air. Tepat pukul 09.00 kami sampai di Titik 0. Kami segera membuka konsumsi, masak untuk sarapan sekaligus makan siang. Menunya tumis dan telur dadar. Kami benar-benar merasakan nikmatnya masak di Suryakencana, angin berhembus, gemericik air yang mengalir jernih, dan edelweiss yang menyejukkan mata.

Aktivitas bergantian selama istirahat di Suryakencana

Kami benar-benar menikmati istirahat di Suryakencana. Selepas makan, kami menjama' sholat Duhur dan Ashar, yang diadzani oleh Fahrul. Setelah repacking, kami kembali melanjutkan perjalanan ke Puncak Gede pada pukul 13.00 WIB. Jalur pendakian dari Suryakencana ke Puncak Gede berupa tangga-tangga batu yang berundak-undak, berputar-putar terus menanjak, dan dinaungi pohon cantigi. Sekitar satu jam perjalanan, tepat pukul 14.00 WIB, kami tiba di bibir kawah, inilah Puncak Gede yang berketinggian 2.958 mdpl.

Puncak Gede - 2.958 mdpl
Pendakian di saat weekend memang sangat ramai di Gunung Gede Pangrango. Tidak hanya pendaki yang meramaikan Puncak Gede, bahkan penjual makanan dan minuman pun juga melimpah ruah. Kawah Gunung Gede cukup luas, awalnya tertutup kabut, namun menjelang sore kabut perlahan menghilang sehingga Gunung Pangrango kelihatan jelas. Di tepi bibir kawah dipasang semacam pagar dari kawat untuk keamanan. Di puncak Gede, saya bertemu dengan mas Ahmad Doank  dan Roni Bolang yang sebelumnya akrab di Facebook. Mas Dani juga bertemu teman-temannya yang sebelumnya kenal di Malang.

Bendera Gamananta di Puncak Gede

Puncak Gede, 2.958 mdpl


Cukup lama kami di Puncak Gede, sekitar 1,5 jam untuk istirahat, foto-foto, dan menyapa pendaki lain yang baru sampai. Pukul 15.45, kami segera turun ke Kandang Badak, karena khawatir tidak mendapat tempat camp saking ramainya. Ada satu pengalaman menarik bagi saya dan Mas Dani khususnya saat turun menuju Kandang Badak, yaitu menuruni Tebing Setan yang mengharuskan pendaki turun atau naik satu per satu. Bila nyali kurang kuat, bisa melalui jalur alternatif yang lebih memutar. Sekitar 1 jam 15 menit kami berjalan, akhirnya kami sampai di Kandang Badak yang sangat riuh, ada beberapa pendakian bersama nampaknya atas nama Pecinta Alam.

Zaka menuruni tebing setan

Setelah mencari tempat, akhirnya Farhat menemukan tempat agak atas, dekat dengan sumber air. Sempat hujan kala kami mendirikan tenda, namun kala tenda sudah berdiri, hujan berhenti. Saya, Mas Dani, Wahyu, dan Zaki istirahat di tenda Consina milik Mas Dani, sedangkan sisanya berada di tenda milik Farhat. Karena semua lelah, kami langsung saja tidur walau waktu masih menunjukkan pukul 18.15 WIB. Alhasil, tidak ada satu pun yang bersedia memasak makan malam, dan makan malam pun ditiadakan karena saking capeknya.

Minggu, 5 Mei 2013
Begitu lelap nampaknya kami tertidur, baru pukul 04.00 kami terbangun dengan kondisi perut keroncongan. Kami segera mempersiapkan masak untuk sarapan, hanya mie instan saja karena kami berencana makan besar setelah dari Puncak Pangrango. Ketika terdengar penjual nasi udul bersahutan, kami juga ikut ramai-ramai membeli sebungkus nasi uduk untuk mengganjal perut. Ternyata, Farhat dan Wahyu agak kurang fit, sementara Fahrul memilih membantu memasakkan untuk kami karena dia sebelumnya sudah pernah ke Pangrango. Sehingga, peserta ke puncak Pangrango adalah saya, Zaki, Zaka, dan Mas Dani.

Summit to Pangrango
Perjalanan ke Puncak Pangrango

Kami mulai berjalan menuju puncak Pangrango sekitar pukul 07.45 WIB. Kami hanya membawa satu buah carrier milik Wahyu berisi konsumsi untuk ngemil di Mandalawangi. Karena bawaan kami ringan, kami relatif ngebut berjalan menuju puncak. Trek menuju Puncak Pangrango relatif menguras tenaga, banyak tanjakan dan banyak pohon-pohon tumbang. Kerapatan vegetasi lumayan rapat, karena di sini lebih terjaga hutannya. Dulu banyak ditemukan panther atau semacam harimau di sini pada tahun '90-an. Tapi, kini tidak ada lagi, musnah karena perburuan liar.

Puncak Pangrango, 3.019 mdpl

Sekitar 1,5 jam berjalan, akhirnya kami menemukan sebuah gubuk dan patok trianggulasi. Inilah Puncak Pangrango yang berketinggian 3.019 mdpl. Tidak seperti Puncak Gede yang mana mata kita bebas memandang ke segala arah, di Puncak Pangrango masih rapat vegetasinya, sehingga pemandangan bebas hanya didapat dari satu penjuru, yaitu ke kawah Gede. Di atas kami, awan biru dan balutan seperti kapas seolah berlari-lari, sungguh indah.

Alun-alun Mandalawangi
Setelah puas 15 menit berfoto-foto, kami segera berjalan menuju lembah Alun-alun Mandalawangi. Untuk menuju ke sini, hanya berjarak 10 menit dari Puncak Pangrango, melalui jalur tepat di belakang gubuk. Hanya ucapan-ucapan asma Illahi yang keluar dari bibir, kala langkah ini memasuki gerbang lembah Mandalawangi. Tempatnya tidak seluas Suryakencana, namun edelweissnya besar-besar, dan lebih rimbun. Lebih hening dan lebih bersih dibandingkan Suryakencana. Tidak banyak yang camp di sini semalam, karena kabarnya semalam sempat badai. Di sini kami sempat berfoto bersama pendaki cilik bernama Raga, yang diajak mendaki bersama ayahnya sendiri. Salut! Kami segera mengeluarkan bekal kami dari carrier, menyeduh kopi, menikmati roti selai sebagai pengisi perut. Sedikit-sedikit menerawang kala Soe Hok Gie sedang merenung di tempat ini, Lembah Kasih Mandalawangi.

Bersama Raga, pendaki cilik asal Jakarta

Damainya lembah kasih Mandalawangi

Awan biru di Alun-alun Mandalawangi

Setelah puas menikmati Mandalawangi dan menghabiskan bekal, pukul 10.45 kami bergerak turun menuju Kandang Badak. Perjalanan turun terasa cepat, karena kami sering berlari dan melompat, membuat pendaki-pendaki lain ikut minggir karena mempersilakan kami lewat. Hasilnya terasa, hanya 55 menit kami perlukan untuk turun dari Pangrango ke Kandang Badak. Dan sesampainya di Kandang Badak, makan siang sudah siap sedia hasil Chef Fahrul. Menunya, nasi kare, dadar telur, dan omelet telur. Kami menghabiskan semua konsumsi yang ada siang itu. Hasilnya, kami kekenyangan dan malah membagi-bagikan beberapa bungkus nasi kepada pendaki-pendaki lain yang masih camp. 

Proses repacking kami cukup memakan waktu, sehingga baru bisa meninggalkan Kandang Badak sekitar pukul 16.15 WIB. Jalur turun sepertinya akan membosankan, menuruni tangga-tangga, berputar-putar, nyaris sama seperti mendaki Gunung Arjuno-Welirang lewat jalur Tretes. Saya, Mas Dani, Zaki, Farhat, dan Fahrul turun dengan santai ke Cibodas, sedangkan Zaka dan Wahyu berjalan lebih dulu. Kami baru tiba di basecamp Cibodas sekitar pukul 20.30 WIB. Administrasi beres, kami segera menuju warung untuk makan malam. Sebelum memesan makanan, kami sempat mampir bersilaturrahmi ke basecamp Indonesia Green Ranger (IGR). Di sanalah plakat "In Memoriam Soe Hok Gie dan Idhan Lubis" berada, setelah dipindahkan dari Puncak Mahameru pada Desember 2012 lalu oleh IGR. Di sini kami juga berkenalan dengan Mas Ijul, senior Zaki dan Zaki semasa sekolah, dan juga berkenalan dengan Bang Idhat Lubis, saudara kandung almarhum Idhan Lubis yang tewas bersama Soe Hok Gie di Mahameru.

Basecamp Indonesia Green Ranger Cibodas

Berfoto di depan gerbang Cibodas, wajah-wajah yang lelah

Plakat In Memoriam Soe Hok Gie dan Idhan Lubis yang sebelumnya tertancap di Mahameru

Berfoto bersama. Depan berkacamata adalah Bang Ijul, 
Kanan belakang adalah Bang Idhat Lubis. Belakang nomor tiga dari kiri adalah Farhat.

Setelah berfoto-foto dan saya sempat membeli satu buah T'Shirt Gede Pangrango, kami kembali ke warung untuk makan. Karena uang saya menipis, saya hanya memesan satu buah es degan kelapa muda. Sisanya makan. Setelah kenyang, pukul 22.00 WIB kami kembali ke asrama Cipanas naik angkot carteran. Tiba di asrama pukul 23.00, langsung saja mata terlelap dan terpejam. Usai sudah ekspedisi Gede Pangrango kali ini. Besoknya harus pulang meninggalkan Jawa Barat.

Senin, 6 Mei 2013
Hari ini saya dan Mas Dani harus kembali pulang. Fahrul dan Farhat sudah kembali ke Tasikmalaya, Wahyu ke Sukabumi. Zaki dan Zaka tetap stay di Cipanas karena ada persiapan kejuaraan silat. Perjalanan kami kembali pulang cukup panjang. Pertama, harus naik angkot dulu selama kurang lebih satu jam menuju pusat Kota Cianjur. Setelah itu, ganti moda transportasi bus AC menuju terminal Leuwipanjang, Bandung. Perjalanannya sekitar 2,5 jam karena cukup padat terutama ketika masuk-keluar tol. Ketika turun dari angkot, kami bertemu dengan Pak Ade, warga Bandung yang sering naik Gunung Galunggung. Kami bertukaran nomor handphone, barangkali suatu saat kami main ke Galunggung bisa ditemani beliau. Sesampainya di Leuwipanjang, kami ganti bus Damri menuju terminal Cicaheum. Karena, di Cicaheum inilah tempat pulang perginya bus-bus luar kota.

Lalu lintas Kota Bandung cukup padat sore hari itu. Sejam kami tempuh semenjak berangkat dari Leuwipanjang. Pukul 16.00 WIB tepat, kami sampai di Cicaheum. Segera kami menuju konter loket bus Budiman, yang akan mengantar kami ke Yogyakarta. Kami memilih estafet, khususnya Mas Dani karena tiket kereta pulang ke Malang sangat mahal, sudah menyentuh 175.000 rupiah. Karena bus baru berangkat pukul 18.30, kami menunggu di ruang tunggu sembari sholat di musholla terminal. Pukul 18.30 kami berangkat, mampir dulu di pool bus ini di daerah Cibiru untuk ambil penumpang lain, selanjutnya pukul 19.30 WIB langsung berangkat menuju Yogyakarta. Bus berhenti satu kali untuk servis makan di Ciamis, sekitar pukul 23.15 WIB.

Selasa, 7 Mei 2013
Perlu diketahui, bus ini melalui kota-kota seperti Rancaekek, Nagrek, Garut, Ciawi, Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, Cilacap, Banyumas, Purworejo, hingga akhirnya sampai di terminal Giwangan, Yogyakarta pada pukul 06.30 WIB. Di terminal ini kami berpisah. Mas Dani lanjut naik bus ekonomi AC menuju Surabaya, lalu oper bus ke Malang, karena tanggal 9 Mei dia ada pendakian lagi ke Semeru bersama teman-temannya. Sementara, saya main sejenak ke kawan saya di UGM selama satu malam. Esoknya saya menginap di kos kawan saya di kawasan UNS semalam juga. Menunggu teman-teman Gamananta datang pada 9 Mei 2013, untuk melanjutkan pendakian kembali, Ekspedisi 2M alias Merbabu-Merapi. Sungguh pasti akan sangat berkesan. See you next trip, Ji! Ro! Lu! Budal!

Special Thanks to:
Allah SWT
Orang tua kami masing-masing
Kak Faliq Mubarok
Zaki dan Zaka
Asrama ICM Cipanas
Ari dan Laju
Bang Ijul dan Bang Idhat Lubis
Kidung UGM dan Ugo UNS

Ditulis oleh:
Rifqy Faiza Rahman

Salam Respect!
Read More