Saturday, 18 May 2013

Catatan Gamananta: Ekspedisi 2M - Gunung Merbabu dan Gunung Merapi


Gunung Merbabu - Merapi, merupakan dua gunung berdampingan yang sangat indah dengan keunikan yang berbeda. Tepat pada tanggal 8-12 Mei 2013, kami mengadakan ekspedisi ke dua gunung ini. Selayaknya Arjuno-Welirang dan Sindoro-Sumbing, keduanya adalah gunung "bersaudara". Lokasi dua gunung ini lumayan dekat, bahkan basecamp yang menjadi titik awal pendakian juga terletak pada satu wilayah, Selo. Sangat menyesal jika hanya menancapkan kaki di salah satu gunung tersebut. Jika peribahasa mengatakan: "sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui", maka dengan semangat "Ji! Ro! Lu! Budal!", Gamananta pun mengarungi kedua gunung tersebut dengan sekali jalan.

Ekspedisi kali ini tidak terlepas dari persiapan dan manajemen yang kami rencanakan sejak lama. Penanggung jawab ekspedisi yaitu Ike (COO Gamananta). Tim kami terdiri dari Rizky, Rifqy, Muchlis, Lutfi, Roni, Reza, Ike, dan Norma. Kami berangkat dari Malang berenam terlebih dulu karena Reza menunggu di terminal Bungurasih Surabaya, sedangkan Rifqy menanti kami di Solo setelah pendakiannya ke Gede-Parango lihat di sini.

 Foto Bersama di Universitas Brawijaya Sebelum Berangkat

Kami berkumpul terlebih dahulu di kampus Universitas Brawijaya Malang, repacking dan rechecking perlengkapan yang dibawa. Berangkat ke Arjosari pukul 20.00 menggunakan sepeda motor (Muchlis, Norma, Rizky, Roni), sedangkan Ike dan Lutfi menggunakan angkot ADL. Sampai di terminal Arjosari sekitar jam 21.00, lalu kami menunggu bus ekonomi AC jurusan Malang Surabaya cukup lama karena libur panjang, banyak penumpang yang mudik. Akhirnya sekitar pukul 22.00 WIB bus ekonomi meluncur bersama kami, dengan tambahan seorang anggota gamananta yaitu Mas Kurniawan. Mas Kurniawan bareng sampai Solo saja karena langsung lanjut ke Jakarta dan terbang ke Lampung untuk presentasi sebuah even Internasional.

Setibanya kami di terminal Bungurasih, hanya sekitar 2 jam kami bisa menghirup panasnya kota Surabaya di malam hari, beda dengan malang yang setiap jam selalu dingin. Selebihnya kami istirahat, melihat ramainya terminal Purabaya (sebutan lain untuk terminal Bungurasih) dini hari, menunggu hujan dan menunggu Reza datang. Lelah dan kantuk tak terbendung sebenarnya, namun bayangan Gunung Merbabu - Merapi membuat kami yakin untuk “Budal”. Tepat pukul 00.30, bus Sumber Selamat berhasil kami ambil kursinya sejumlah delapan seat paling belakang. Berebut memang, libur panjang memaksa beberapa orang berdiri sepanjang perjalanan Surabaya - Solo selama 6 jam. Ahh, terkadang memang tidak adil rasanya, kasihan, tapi kami juga butuh duduk dan kami yang dapat terlebih dulu. 

Sepanjang perjalanan malam yang dingin ditemani hujan dan lampu-lampu kota kami tidur pulas. Mengumpulkan banyak energi untuk esok yang lebih liar lagi. Hingga kami terbangun terpaksa karena bus yang kami tumpangi menabrak sebuah sepeda motor di depannya. Setengah jam sopir dan kernet harus mengurus di kantor polisi, para penumpang ricuh dan kaget. Tapi setelahnya bus kembali berjalan normal, benar memang jika orang mengatakan bus malam itu "brutal".

“Selamat datang di Kota Solo”, kata Muchlis. Muchlis sendiri adalah orang Solo. Kami tiba di terminal Tirtonadi sekitar jam 06.00 pagi, disambut suasana terminal yang ricuh meskipun Solo terkenal ‘kalem’. Menunggu Rifqy menemui kami di terminal, kami berbenah diri dan sarapan roti plus selai kacang yang kami beli dari Malang. Memang dasarnya Backpacker, tidak perlu mahal cukup bergizi dan jaminan murah. Merasakan suasana Solo yang demikian, kami berpikir ini dia Jawa Tengah.

Rifqy datang, kami siap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Mas Kurniawan  juga sudah siap-siap kami tinggal terlebih dulu. Karena keretanya berangkat jam 13.00, terpaksa dia menunggu dulu di teminal. Perjalanan berlanjut, kami naik bus ekonomi Solo-Semarang jam 07.30 dan turun di Pasar Sapi Salatiga. Sampai di Pasar Sapi Salatiga jam 09.30, kami langsung mencari carteran mobil ke kopeng (jalur Tekelan). Sebenarnya ada empat jalur resmi Balai Taman Nasional Gunung Merbabu yang bisa ditempuh untuk sampai di puncak Merbabu. Keempat jalur tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, tergantung keinginan saja, diantaranya:

·           Jalur Selo, Desa Tarubatang, Kecamatan Selo, Boyolali
·           Jalur Wekas, Desa Kenalan, Kecamatan Pakis, Magelang
·           Jalur Cunthel, Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Semarang
·           Jalur Tekelan, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Semarang

GATE OF SEVEN SUMMITS INDONESIA, MOUNT MERBABU
Kali ini Gamananta memilih Jalur Tekelan dan turun lewat jalur Selo. Selain bisa menikmati 7 puncak Merbabu yang biasa dikenal sebagai Seven Summits, seturunnya lewat Selo kami ingin langsung lanjut ke Merapi. Berangkat ke Kopeng sekitar jam 10.00, dinginnya kaki Merbabu bisa kami rasakan sedikit, semakin naik semakin dingin. Perjalanan 45 menit terasa lelah dan senyap, tapi pemandangan yang tersaji mengurungkan niat untuk tidur. 

 Bukit Hijau Selama Perjalanan Menuju Kopeng

Sampailah kami di basecamp Merbabu, Dusun Tekelan jam 10.45 WIB. Semangat kami mulai meninggi, mendadak dingin, merasakan lapar yang sangat. Akhirnya setelah mengurus registrasi dan perijinan kami langsung memasak makan siang. Tidak lupa kami mengabadikan kunjungan kami di basecamp ini. Rizky, selaku CEO Gamananta menempel sticker di basecamp. Tentu untuk mengingat, bahwa Gamananta pernah melalui jalur ini.

 Menempel Sticker Gamananta di Basecamp Tekelan

Makan siang tersaji, kami menikmati dan makan dengan porsi ‘pas’. Pas kalori untuk pendakian, nasi, sayur sop, nugget goreng cukup untuk siang ini. Seteah selesai sholat, kami mulai repacking dan rechecking. Persiapan untuk upaya menggapai 7 puncak Merbabu ini sangat penting bagi kami. Akhirnya pendakian pun dimulai....

Merbabu via Tekelan, The Seven Summits of Indonesia
Merbabu terletak pada gunung api yang bertipe Strato yang terletak secara geografis pada 7,5° LS dan 110,4° BT. Secara administratif gunung ini berada di wilayah Kabupaten Magelang di lereng sebelah barat dan Kabupaten Boyolali di lereng sebelah timur, Propinsi Jawa Tengah. Ketinggiannya mencapai 3.145 mdpl, lebih tinggi dari Gunung Merapi. Tidak salah jika memiliki 7 puncak yang menyajikan panorama berupa liak-liuk puncak yang saling berbeda, nyatanya memang tinggi setiap puncak berbeda. Pendakian Merbabu ini dipimpin oleh CEO Gamananta, Rizky, setelah berdoa dan meneriakkan jargon, kami mulai start jam 12.10. Panas bukan halangan, dingin bukan rintangan, Puncak bukan segalanya, karena yang terpenting adalah Tuhan, di mana tujuan kita kesana adalah untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dengan cara yang lebih "heroik".

Perjalanan menuju Camp 1 (Pending) masih landai, melewati jalan aspal kemudian ladang penduduk dan hutan pinus yang tidak terlalu lebat. Sampailah kita di pos 1 jam 13.05, di pos ini kami mengisi air sebanyak mungkin, gubug kecil yang tersedia cukup untuk 10 orang jika ingin bermalam disana. Disini kami bertemu dengan beberapa pendaki lain, termasuk turis mancanegara. Setelah air terisi penuh, kami melanjutkan perjalanan ke camp 2 (pereng putih). Jalur dari camp 1 ke camp 2 masih melewati hutan pinus, trek mulai naik dan melewati sungai kecil (Kali sowo). Sekitar 45 menit kami sampai di camp 2 (pereng putih), tepat jam 14.55 kami melihat tebing yang berwarna putih seperti zebra, itulah kenapa camp ini disebut pereng putih. 

Setelah puas istirahat kami melanjutkan perjalanan ke camp 3 (Gumuk Menthul), hutan pinus mulai berkurang, kita bisa melihat bukit bukit hijau sepanjang perjalanan. Sampai di camp 3 jam 15.55, kami beristirahat sebentar. Bukit bukit kecil ini sesuai namanya bergumuk (bergelombang) menyajikan kesejukan yang luar biasa. Lanjut, lanjut kami semakin bersemangat untuk sampai ke camp 4 (Lempong Sampan), akhirnya sampailah kita di camp 4 jam 16.55. Camp ini didominasi oleh semak dan rumput kering, ada tanah lapang tidak terlalu luas yang bisa digunakan untuk mendirikan tenda.

Semakin senja, matahari mulai hilang. Kami mempercepat langkah, trek cukup menantang. Adanya batuan, jalan yang menanjak memaksa kami untuk memberikan energi lebih. Angin merbabu menyapa kami dengan suhu dinginnya, akhirnya kami sampai di Puncak 1 (Watu Gubug) jam  17.50.  Di puncak dengan ketinggian 2.729 mdpl ini kami bertemu kemnali dengan dua turis mancanegara asal Slovakia.Kami mulai menggunakan jaket karena angin merbabu semakin dingin dan kencang, vegetasi yang terbuka tanpa pelindung membuat angin merbabu langsung menyentuh tubuh kita.  Batu yang tinggi dan besar ditengahnya memiliki sebuah lubang yang muat untuk satu orang, menurut mitos lubang ini adalah pintu menuju alam lain.

 Puncak 1 (Watu Gubug)

Perjalanan berlanjut, lewat jam 18.00 kami menyusuri trek terjal dan berbatu. Malam agak menyulitkan memang, rencana awal kami bermalam di puncak 6 (kenteng songo) akhirnya harus berganti di puncak 2 (Watu Tulis). Akhirnya sampailah kita di puncak 2 jam 18.45, sebenarnya di pos ini ada sebuah prasasti dari batu yang bertuliskan huruf jawa kuno itulah kenapa bernama watu tulis, sayangnya sekarang prasasti itu sudah hilang entah dicuri oleh kolektor atau pendaki yang tidak bertanggung jawab. Di ketinggian 2900 mdpl ini terdapat menara milik TNI, secara tidak langsung puncak ini juga disebut puncak menara.
Kami bertemu pendaki lain yang bermalam disini juga, karena tanah datar tidak terlalu luas akhirnya kami mendirikan tenda sedikit ke bawah. Memasak untuk makan malam, setelah makan kami sholat dan kemudian istirahat. Rizky ternyata masih belum tidur, kewajiban mahasiswa memang, dia masih mengerjakan laporan hingga larut, sementara anggota lain sudah terlelap.
“Mebabuuuuuuuuu....” teriakan pendaki lain yang ternyata sudah bangun terlebih dulu membangunkan kami, sekitar jam 04.00 kami bangun, packing, menyiapkan sarapan dan sholat subuh. Pagi yang menggabungkan dinginnya subuh dan hangatnya duha memaksa kami untuk berfoto. Seperti bayi yang baru lahir, kami tidak bisa berhenti mengucap syukur melihat alam yang indah ini. Sunrise pertama kami di Merbabu, daun yang mulai tampak hijau. Bahkan tampak juga sendoro-sumbing di sebelah barat, sensasi ini tidak akan terlewat. “Bahkan 1000 kali kita melihat matahari terbit, maka setiap pagi kita akan melihat sinar menyapa pada sisi dunia yang berbeda”.

 Sunrise dari puncak pemancar (Puncak 2)

 Menikmati Sarapan dan Sunrise

 Pos pemancar (Puncak 2)

Semakin cerah tampak jalur pendakian dari arah Setelah puas mengabadikan momen, kami melanjutkan perjalanan jam 07.00. Sekitar 20 meter dari puncak 2 tempat kami camp ada sebuah tugu batas antara kabupaten magelang, boyolali, dan semarang. Selain itu, tugu ini juga menjadi jalur pertemuan antara wekas dan tekelan. Lima menit perjalanan melewati tugu, kita menemukan pertigaan. Kami ambil jalur kanan melewati heliped, sedangkan jalur kiri langsung ke Geger Sapi (puncak 3). Sepanjang perjalanan kami melihan bukit dan lembah. Trek hanya satu jalur, sempit, dan diapit oleh jurang halus yang kita sebut “Lembah”. Sampai di camp 5 (Heliped), sesuai namanya terdapat tanah lapang yang cukup untuk 3 tenda atau 1 helikopter.
Setelah melewati heliped kami bertemu pertigaan kami ambil jalur kiri menuju puncak 3 sedangkan jalur kanan kebawah menuju kawah Condrodimuko dan mata air, mata air disini ada yang dapat diminum dan ada yang tidak boleh diminum karena tercemar belerang. Selanjutnya kami melewati “Jembatan Setan”. Sebutan ini karena samping kiri kanan adalah jurang sedangkan trek terjal berbatu dengan elevasi 400.  Setelah melewati jembatan setan sampailah kami di puncak 3 2.926 mdpl (Geger Sapi) jam 7.40, dalam bahasa jawa ‘Geger’ artinya punggung, yang artinya punggung sapi karena adanya tanjakan yang mirip punggung sapi.

 Menuju Jembatan Setan

 Tugu Batas Kabupaten (Salatiga, Boyolali, dan Magelang)

 Puncak 3 Geger Sapi

Lanjut ke trek berikutnya, setelah Geger Sapi ada pertigaan yang ditandai dengan batu besar. Untuk menuju puncak syarif kita smbil kiri, sedangkan untuk ke puncak 5 dan 6 ambil jalur kanan. Kita ambil jalur kiri, tebing curam menanti kita di sepanjang trek, elevasi trek sekitar 400. Akhirnya sampai lah kami di puncak 4 (Syarif) 20 menit kemudian dengan ketinggian 3.119 mdpl. Puncak syarif, demikian namanya karena legenda seseorang yang bernama syarif kabur dari penjara Belanda ke Gunung Mebabu ini. 

 Puncak 4 Syarif

Sindoro-Sumbing dilihat dari Puncak Syarif
Jalur semakin menantang, tebing tinggi, dan curam harus kmai lewati. 20 menit kemudian kami sampai di Puncak 5 (Ondo rante). ‘Ondo’ yang berarti tangga dan rante yang berarti rantai, artinya trek ini seperti tangga yang berbatu naik terus menerus dan sempit diapit jurang seperti rantai. Sekitar 5 menit kami menikmati puncak ini perjalanan pun berlanjut. Puncak kelima ini kami lewati untuk mempersingkat waktu. Menuju puncak 6 (Kenteng Songo) kami melewati jurag melipir, layaknya wall climbing kami harus berpijak pada batuan berjalan miring ke arah kiri, menaiki batuan terjal dengan elevasi 650. Sensasi yang luar biasa dengan carrier berat yang kami bawa. 
Kenteng Songo, iya kami sampai disana 45 menit kemudian tepat 09.45 kami melihat kenteng (batu berlubang) yang kering, tapi tidak berjumlah sembilan. Hanya enam mungkin, yang lainnya menurut mitos hanya paranormal yang dapat melihat. Di ketinggian 3.142 mdpl ini kami istirahat sejenak memandangi gunung lawu yang tampak agung, tampak dekat dari puncak ini, iya kami “Gamananta” akan melanjutkan ekspedisi jawa tengah kesana. 


Jalur menuju puncak Kentheng Songo

 Puncak 6 Kentheng Songo

Gunung Merapi dilihat dari Kentheng Songo
Setelah puas ‘jepret’ foto kami melanjutkan ke puncak tertinggi Merbabu, trek yang kami lalui tidak terlalu sulit. Setelah 15 menit berlalu akhirnya, sampailah kami di Puncak Trianggulasi (3.145 mdpl). Puncak ini cukup luas, kami bertemu dengan banyak pendaki lain disini termasuk seorang pendaki kecil perempuan (Naesi), dia datang bersama keluarga. Hebat, dia sudah mencapai 10 puncak di Indonesia termasuk Kerinci, gunung tertinggi di Sumatra. Puncak ini menjadi pertemuan semua pendaki dari seluruh jalur resmi. Puas rasanya kami menikmati, panas puncak yang semakin terasa memaksa kami turun.

 Puncak 7 Trianggulasi

Bersama pendaki lain di puncak Trianggulasi
Turun kami lewat Jalur Selo jam 10.30, siang semakin panas. Kami mempercepat langkah karena tidak ada pohon tinggi tempat bernaung. Sepanjang perjalanan turun didominasi semak dan rumput yang rendah. Jalur turun kami yaitu Jemblongan, ditempuh sekitar 15 menit. Kemudian kami sampai pada sabana 2 jam 11.15. Sabana 1 selesai kami lewati 30 menit kemudian. Sabana 1 dan sabana 2 memiliki kenampakan yang sama, padang rumput yang luas dan jarang sekali pohon.
Trek dari Sabana 2 ke watu tulis naik dan turun bukit, dengan jalan berbatu. Sampai kami pada Pos 3 (watu tulis) sekitar jam 12.40. 

 Sabana jalur Selo

Gerbang pendakian Merbabu jalur Selo, Boyolali

Trek dari watu tulis ke Pos berikutnya mulai memasuki hutan lebat, sampai akhirnya jam 13.35 kami sampai di Pos 2 (Pandean). Langsung kami lanjutkan perjalanan hingga Pos 1 (Dok Malang), trek dari Pos 1 ke basecamp melandai. Melewati aspal, hingga akhirnya kami sampai di basecamp jam 15.15.Setibanya di basecamp kami membersihkan diri sholat dan mempersiapkan perjalanan ke Merapi.
 LAST EXPEDITION! MOUNT MERAPI!
Jam menunjukkan 18.35 kami meluncur dari basecamp Merbabu Selo menuju basecamp Merapi Selo menggunakan ojek. Sampai dibasecamp langsung registrasi dan menyiapkan makan malam, setelahnya tepat jam 10.00 kami start naik. Trek diawali dengan jalan aspal, berbatu, dan berdebu melewati Pos Joglo dimana banyak warung yang menyediakan banyak makanan. Norma mengalami cidera punggung, akhirnya kami memutuskan untuk camp sebelum mencapai Pos Tugu 1, karena 10 meter diatas camp sudah pos Tugu 1. Setelah mendirikan tenda kami istirahat. Jam 04.00 kami bangun mempersiapkan summit. Norma masih sakit, dia tidak bisa summit akhirnya Rifqy menemani Norma sementara teman lain summit.
Perjalanan dimulai, kami terlambat bangun dan mau tidak mau menikmati sunrise ditengah trek. Tampak gunung Merbabu di sebelah barat dilapisi awan tebal yang lembut. Rasanya ingin lompat ke lapisan awan itu dan tidur disana, khayalan pendaki pada umumnya. Jalan sangat menanjak, berdebu dan berbatu, tangan harus bebas untuk mencengkeram batu agar kami tidak jatuh ke bawah. Lama kami melewati trek serupa yang didominasi batuan terjal, sampai akhirnya kami menemukan Pos Tugu 2 jam 05.30.

 Sunrise sebelum pos 2 Tugu
Dari pos Tugu 2 kami terus melewati trek menanjak dan berdebu, melipir di sebelah timur tebing, kami melewati jurang. Sinar matahari mulai pecah, dingin subuh berganti kehangatan khas dari Merapi. Kami terus berjuang melewati batuan yang besar dan tinggi, tapi semua terbayar dengan panorama merapi yang luar biasa. Karena “Setiap langkah dari pengorbanan pasti ada seribu balasan terbaik”.
 Pos Tugu 2
Hampir mendekati pasar bubrah, kami memutuskan shalat subuh terlebih dulu di tanah lapang jam 06.30. Sulit sekali menemukan tanah yang lapang, bahkan shalat pun harus miring, tapi kewajiban tetap kewajiban. Trek yang kami lewati bervariasi naik dan turun, “Panas Sekali”. Menuju pasar bubrah kami melewati beberapa memoriam, alam semakin gersang, hanya beberapa tanaman yang tumbuh. Semakin naik semakin gersang, beberapa meter sebelum pasar bubrah kami melewati pemancar. Pasar Bubrah ditandai dengan tanah yang sangat lapang dengan banyak batuan yang sangat besar. Sampai di pasar bubrah sekitar jam 07.00, semua naik ke puncak Garuda kecuali Rony memutuskan menunggu di salah satu batuan besar di Pasar Bubrah. 


Lautan awan dari lereng Merapi

 Pasar Bubrah

Tugu In memoriam

 Pemancar

 Gamananta di Puncak Merapi

Trek ke pucak Garuda mirip Puncak Mahameru, bedanya Mahameru lebih curam,terjal, dan curam. Namun, trek ini cukup berbahaya, kami menggunakan baju panjang dan sarung tangan agar tidak terbakar matahari maupun panas merapi sendiri. Bersusah payah akhirnya penantian terbayar, jam 08.00 kami sampai di puncak Garuda Merapi (2968 mdpl). Puncak ini telah rusak akibat erupsi kawah beberapa tahun lalu, di puncak tempat untuk bersantai sangat sempit hanya cukup untuk 10 orang saja. Saat kami berfoto ria, ada rasa khawatir terjun ke kawah karena saking sempitnya. Setelah puas menikmati panorama yang panas, turunlah kami tepat jam 09.00. Kami lewat jalur pasir, selancar seru bersama pendaki lain, menyapa pendaki yang baru akan naik tentu kami bersyukur ‘Alhamdulillah’.


Rizky dan merah putih di puncak Merapi

Di pasar bubrah kami makan bekal yang kami bawa, ternyata banyak pendaki yang mendirikan tenda disini. Bahkan kami bertemu dengan pendaki lain, yang ternyata teman kami juga. Setelah menghabiskan bekal kami turun menuju tempat camp. Trek yang dilewati tetap sama, hanya menurun dan lebih cepat saja. Jam jam seperti ini merapi sudah diselimuti kabut tebal, dan benar saja saat kami sudah sampai camp jam 11.00 mulai gerimis. Di tenda sudah tersiap makanan dari Rifqy dan Norma, santap habis semua makanan setelahnya kami tidur pulas sampai jam 15.00. Kami turun sekitar jam 16.00, sampai di basecamp jam 15.00. Tampak tulisan besar sebelum Pos Joglo “New Selo”, ternyata kami tidak melihat semalam kaena gelap.
 New Selo dan Pos Joglo 
Sampailah kami di basecamp, siap bersih dan setelah sholat kami pergi ke terminal solo menggunakan mobil charteran. Perjalanan selama 1,5 jam kami habiskan dengan tidur lelap. Sampai di terminal Tirtonadi kami disambut oleh teman Rifqy dan Muchlis dari IAAS UNS, jalan jalan sebentar menikmati malam di Solo sambil makan ‘Gudeg’. 

 Foto bersama dengan teman-teman UNS (Depan) seusai makan nasi gudeg di seberang terminal

Setelah kenyang kami langsung berpamitan dan melanjutkan perjalanan ke Surabaya, pulang. Kami delapan orang entah sudah sampai ketinggian berapa, terlelap di bus malam itu. Hingga sampailah kami di Bungurasih jam 05.30. Berpisah dengan Reza kami melanjutkan perjalanan ke Malang, sampai di Malang sekitar jam 07.30, dan pulang ke basecamp masing masing. Biaya selama ekspedisi bisa dilihat di sini, video bisa dilihat di sini

Special Thanks to:
  • Allah SWT
  • Orang tua kami masing-masing
  • Kidung UGM dan Ugo UNS buat nginap di kos kalian (Rifqy)
  • Sopir mobil carter Kopeng dan Selo
  • Crew Gamananta  
Salam Respect!
Ji! Ro! Lu! BUDAL!


Ditulis oleh:
Ike Novitasari (COO Gamananta)

About Gamananta TravelerCommunity

Gamananta adalah sebuah komunitas traveler yang selalu membawa semangat dan orientasi konservasi dalam setiap kegiatan dan perjalanannya. Gamananta merupakan dua kata gabungan dari bahasa Sansekerta, "Gama" berarti perjalanan dan "Ananta" berarti tanpa batas. Gamananta berusaha untuk berjalan tanpa batas demi visi dan misinya.

Artikel Terkait

9 comments:

  1. keren.. semoga bisa naek bareng & silaturahmi sama gamananta :)

    selamat idul fitri, mohon maaf lahir dan bathin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat idul fitri jua, mohon maaf lahir batin, amin :)

      Delete
  2. kalo mau jadi anggota gamananta, syaratnya apa mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. TIdak ada syarat khusus mas, selain sering2 update internet :D

      Join aja mas, bebas, di Grup FB Gamananta, https://www.facebook.com/groups/gamananta/

      Ditunggu buat gabung :)

      Delete
  3. Keren gan artikelnya, makasih juga untuk infonya ... tempat wisata indonesia

    ReplyDelete
  4. makasih infonya..

    Nonton Film Online Subtitle Indonesia Terbaru Download Film Gratis Nonton Movie Serial Tv Drama Korea

    ReplyDelete

No Spam, No Sex, No SARA
Junjung Tinggi Kebebasan Berpendapat yang Bertanggung Jawab