Sunday, 7 April 2013

Ekspedisi Jilid II, Bersua Arjuno dan Welirang Kembali


Perjalanan ekspedisi jilid II ini hanya diikuti tiga orang, yaitu saya (Rifqy), Lutfi, dan Mas Dani. Pendakian berlangsung selama tiga hari dua malam, yaitu pada tanggal 3-5 April 2013. Yang ngebet naik adalah si Lutfi, dan Mas Dani ikutan nimbrung karena belum pernah mendaki Gunung Arjuno-Welirang. Sedangkan saya sudah berkunjung ke Arjuno bersama tim Gamananta sebelumnya pada tanggal 14-17 Maret 2013, artikelnya bisa dibaca di sini. Karena banyak teman-teman Gamananta yang berhalangan, akhirnya saya yang menemani Lutfi dan Mas Dani untuk berekspedisi ke Gunung Arjuno-Welirang Jilid II, naik lewat jalur Purwosari dan turun lewat Tretes.

Rabu,  3 April 2013
Meeting point kali ini bertempat di kos saya. Tepat setelah Subuh, personil lengkap berkumpul. Saya minta tolong Rizky (anggota tim pendakian Gunung Arjuno edisi pertama) untuk mengantarkan Lutfi ke terminal Arjosari, sementara saya membonceng Mas Dani dengan motor saya sendiri. Tidak sampai setengah jam, kami berempat tiba di Terminal Arjosari pada pukul 05.30 WIB. Kami berkumpul di pom bensin Arjosari, untuk melakukan repacking. Hampir 30 menit kami repacking, selanjutnya saya menitipkan sepeda motor saya ke tempat parkir. Setelah selesai, kami bersiap menuju ke dalam terminal seusai berpamitan dengan Rizky dan berterima kasih atas kesediaannya mengantar kami ke terminal. Kami langsung menuju pemberangkatan bus ekonomi. Sebenarnya ada dua pilihan, naik bus ekonomi tujuan Surabaya atau Probolinggo-Jember sama saja. Karena, tujuan kami adalah Pasar Purwosari, persimpangan ke arah Surabaya dan Probolinggo yang sama-sama dilalui oleh bus kedua jurusan tersebut. Kami memilih naik bus Restu tujuan Surabaya dengan pertimbangan efisiensi waktu.

Perjalanan Malang-Purwosari dapat ditempuh tak sampai 20 menit, tepat pukul 06.30 kami tiba di Pasar Purwosari. Kami segera berjalan ke arah selatan, ke arah kantor Pegadaian Purwosari. Ketika kami berjalan, ada dua tukang ojek menawarkan jasa ojek ke desa Tambak Watu, desa terakhir sebelum pendakian Gunung Arjuno. Kami pun langsung setuju dengan tawaran Rp 20.000 per orang, namun kami meminta mereka menunggu dulu, karena kami ingin sarapan di warung yang ada di sebelah kantor Pegadaian tersebut. Warung tersebut rupanya juga menjadi tempat parkir yang biasa digunakan penduduk atau pelajar desa tersebut yang bersekolah di kawasan Purwosari. Kami memesan nasi pecel plus telor ceplok, dengan minuman pencuci mulut teh hangat.

Seusai sarapan, kami segera naik ojek menuju desa Tambak Watu sejauh kurang lebih 12 km, dengan kondisi jalan beragam, mulai aspal mulus dan beberapa terdapat banyak lubang menganga. Sepanjang jalan menuju basecamp, nampak jelas Gunung Arjuno yang terlihat gagah. Sekitar 20 menit kemudian, kami tiba di basecamp alias rumah warga yang dijadikan tempat pendaftaran pendakian Gunung Arjuno jalur Purwosari.

Notes:Sarapan nasi pecel telor ceplok plus teh hangat: Rp 7.000 per orangBiaya ojek: Rp 20.000 per orangBiaya registrasi pendakian: Rp 3.000 per orang

Basecamp Tambak Watu - Pos I Goa Oentoboego


Lutfi di depan basecamp 

Setelah registrasi beres, berdoa, kami mulai perjalanan ekspedisi ini. Pukul 07.40 kami mulai berjalan. Trek awal relatif landai, memasuki jalan berbatu ke arah selatan (kiri jalan) setelah basecamp, dengan naungan yang rindang. Tak sampai 50 meter, jalur mulai menanjak, berkelak-kelok. Cukup menguras tenaga dan lumayan buat pemanasan awal. Pemukiman sudah mulai tak terlihat, berganti dengan ladang warga yang berada di tengah hutan pinus. Pohon pinus yang rindang membuat perjalanan awal ini tidak terasa panas. Namun perlu berhati-hati karena terdapat beberapa percabangan jalur. Jika salah jalur, akan bablas menuju ladang warga. Jika Anda bingung, tanya saja kepada petani yang sedang bekerja di lahan, jika tidak ditemui petani, ikuti jejak sampah pendaki. Dari pengamatan saya, terdapat dua percabangan besar yang berpotensi membuat pendaki tersesat. Percabangan besar pertama, ambil jalan yang kanan (naik). Pada percabangan besar kedua, ambil jalan yang kiri (menurun lalu naik). Kami sempat berhenti cukup lama untuk orientasi jalur kala bertemu percabangan kedua. Akhirnya saya memutuskan ambil yang kiri.

Mas Dani di depan gerbang Pos I Goa Oentoboego

Alhamdulillah, sekitar 10-15 menit dari persimpangan tersebut, kami menemui Pos I, yang disebut Goa Oentoboego, sebuah situs peziarah yang keramat. Kami tiba di Pos I pada pukul 08.40 WIB, satu jam perjalanan dari basecamp. Di sini kami berfoto sejenak dan sempat bertegur sapa dengan Mbah Soleh (kalau tidak salah).

Pos I Goa Oentoboego - Pos II Tampuono
Lima menit kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Pos II. Jalur mulai menyempit menjadi jalan setapak yang landai. Jalur juga mulai terbuka dengan ladang di kiri maupun kanan. Kami sempat bertemu dengan petani yang sedang beristirahat. Mereka nampaknya cukup heran karena kami naik bertiga, padahal biasanya dianjurkan genap. Akhirnya kami disarankan untuk mencari tongkat kayu masing-masing satu buah agar terlihat genap enam. Jalur menuju pos II setelah perladangan mulai berkelak kelok mirip jalur Tretes. Tak lama kemudian kami kembali memasuki hutan. Pohon-pohon besar mulai terlihat seiring dengan nampaknya sebuah gubuk kecil dari kejauhan. Tepat pukul 09.55 WIB, kami tiba di Pos II Tampuono. Di sini kami sempat ngobrol-ngobrol sebentar dengan juru kunci yang baru selesai berziarah di salah satu makam. Pos II Tampuono cukup adem, karena dinaungi pohon-pohon besar.

Pos II Tampuono - Pos III Eyang Sakri
Lima menit berselang, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos III. Jarak tempuhnya relatif singkat karena memang tidak terlalu jauh. Sepuluh menit kami tempuh untuk mencapai Pos III Eyang Sakri. Saat itu tidak ada peziarah yang sedang berkunjung. Memang, hari ini bukanlah hari libur. Sehingga pendaki atau peziarah belum banyak terlihat dan relatif sepi. Tak lama kami beristirahat di sini. Kami segera melanjutkan perjalanan menuju pos selanjutnya.

Pos III Eyang Sakri - Pos IV Eyang Semar
Perjalanan menuju Pos IV cukup jauh. Kondisi jalur mulai menanjak, dan lumayan banyak nyamuk karena kondisi lingkungan yang lembab. Setelah cukup lama berjalan, kami tiba di Pos IV Eyang Semar pada pukul 11.45 WIB. Kondisi saat itu sangat sepi, tidak ada satu pun orang. Dari berbagai artikel yang saya baca, Pos Eyang Semar inilah yang paling angker sehingga sangat disarankan tidak camp di sini walaupun terdapat pondok pendaki. Di sini juga terdapat sumber air berupa kran yang sangat segar dan melimpah. Cukup lama kami beristirahat di sini, makan camilan dan berfoto-foto.

Pos IV Eyang Semar - Pos V Eyang Mangkutoromo
Pukul 12.05 kami cabut dari Pos IV menuju Pos V. Jalur mulai menanjak cukup curam, sekilas jalurnya pendek namun memakan waktu cukup lama. 30 menit kemudian kami sampai di Pos V Mangkutoromo, tepatnya pada pukul 12.35 WIB. Di sini terjadi sedikit insiden lucu tapi cukup menegangkan. Ketika saya memasuki kompleks Pos V (sambil merekam video), tiba-tiba dua anjing berlari dan menyalak-nyalak ke arah saya. Karena bercampur takut dan kaget, saya pun terjatuh. Beruntung kamera tidak rusak, dan tiba-tiba ada dua anak (cowok dan cewek) memanggil anjing-anjing tersebut. Rasanya lega ketika anjing tersebut menjauhi saya.

Bercengkerama di Pos V Mangkutoromo. Pak Parto (kiri).

Tak lama kemudian keluarlah sosok laki-laki berkumis dari pondok Mangkutoromo. Dia adalah Pak Parto, penjaga (kuncen) pos ini. Beliau sebenarnya juga menyarankan agar lain kali naik dengan jumlah genap, namun saya menegaskan bahwa kami ke Arjuno tidak ada maksud aneh-aneh dan niat kami adalah menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan dengan jalan mendaki gunung. Beliau pun memaklumi. Di sini juga terdapat sumber air dalam tandon. Dan di sinilah sumber air terakhir di Gunung Arjuno jalur Purwosari. Kami pun mempersiapkan bekal air dalam jeriken yang kami bawa secara bergantian. Setelah beristirahat cukup lama, kami kembali melanjutkan perjalanan.

Pos V Eyang Mangkutoromo - Puncak Candi Sepilar - Jawa Dipa
Satu jam perjalanan dari Pos V, kami tiba di Puncak Candi Sepilar pada pukul 14.00 WIB. Di sini terdapat candi berundak. Kami tidak lama-lama di sini, dan mengambil jalan di sebelah kiri candi. Karena waktu sudah mendekati sore, kami memutuskan untuk camp di Jawa Dipa. Di saat inilah kebingungan melanda. Dari informasi yang kami peroleh, Jawa Dipa dapat dicapai dari Candi Sepilar sekitar satu jam. Namun apa daya, saat kelelahan mulai menghinggapi, kami menempuh waktu hampir 3 jam untuk sampai di kawasan Jawa Dipa. Kami sampai di Jawa Dipa sekitar pukul 16.55 WIB. Di sinilah camp aman terakhir sebelum puncak Arjuno. Kami memutuskan camp di sini karena pertimbangan kondisi fisik dan waktu, karena kami bertiga masih buta medan jalur Purwosari. Padahal rencana awal kami adalah camp di kawasan sebelum puncak, yang kata teman saya 30 menit dari puncak.

Camp di Jawa Dipa

Cuaca mendadak berkabut dan agak gerimis di Jawa Dipa. Suasana menjelang malam cukup angker, karena kami berada di dalam kompleks Alas Lali Jiwo. Tapi rasa lapar dan lelah membuat kami tak pikir pusing tentang hal-hal yang mistis, sehingga yang ada di pikiran adalah segera masak, makan, dan tidur, karena esok Subuh kami akan melanjutkan perjalanan ke puncak Arjuno.

Kamis, 4 April 2013

Menuju Puncak Arjuno
Alarm pukul 01.30 berdering membangunkan kami. Kami segera bersiap diri, mempersiapkan bekal sarapan dan peralatan tempur. Setelah packing kelar, kami mulai berjalan menuju puncak Arjuno pada pukul 03.30. Hari masih gelap, sehingga headlamp kami menyala hingga hari terang. Matahari mulai terbit bersinar kala kami sudah menempuh satu jam perjalanan. Dari informasi yang saya dapat, waktu tempuh Jawa Dipa menuju puncak Arjuno adalah 4-5 jam perjalanan loss carrier. Namun ketika kami sudah hampir 5 jam berjalan, puncak belum kami gapai. Kami baru sampai di pertigaan jalur Purwosari-Lawang.

Saya di pertigaan jalur Purwosari-Lawang

Dari sini sudah terlihat puncak Arjuno, namun tampaknya masih jauh karena jalur terus menanjak. Kabut mulai datang, dan kami masih berjalan kepayahan.

Puncak Ogal-Agil, Gunung Arjuno
Sungguh rasanya fisik ini sudah hampir mendekati titik nol, rasanya lemas sekali berjalan. Tapi, kami tidak mau menyerah. Untuk ekspedisi ini kami harus berhasil., karena satu-satunya jalan untuk bisa mencapai Puncak Welirang dan turun di Tretes adalah melalui puncak Arjuno. Dengan semangat membara di tengah kabut, akhirnya kami tiba di puncak Ogal-Agil, Gunung Arjuno dengan ketinggian 3.339 mdpl pada pukul 10.50 WIB.

Euforia di Puncak Arjuno

Mas Dani di Puncak Arjuno

 Saya di Puncak Arjuno

Teriakan membahana dari kami bertiga. Sujud syukur kepada Sang Pencipta karena rasa bersyukur kami telah sampai di sini dengan selamat dan lelah pun terbayar. Hampir 7,5 jam kami berjalan dari Jawa Dipa. Mungkin karena membawa beban, sehingga waktu yang kami tempuh sangat lama. Pemandangan tidak dapat kami lihat kecuali Pasar Dieng yang jelas terlihat di sebelah barat. Selebihnya putih tertutup kabut. Namun, hal itu tidak menghalangi kami untuk bebas merekam momen saat itu. Cukup lama kami di sini, hampir satu jam. Baru pukul 12.00 kami turun ke Pasar Dieng.

Turun ke Lembah Kijang
Di Pasar Dieng kami istirahat cukup lama karena lelah dan ngantuk. Sarapan roti lapis selai kacang dan coklat saat pagi tadi rasanya sudah mulai hilang kenyangnya. Kami makan camilan untuk mengganjal perut kami. Kami harus menahan lapar sampai tiba di Lembah Kijang. Setelah istirahat, kami mulai turun. Dan 15 menit kemudian, kami bertemu rombongan pendaki campuran Bandung, Jakarta, dan Manado yang akan muncak ke Arjuno. Rupanya tenda mereka ditinggal di Pos Pondokan Welirang. Sepanjang perjalanan turun, kami sempat berhenti karena ternyata tas tenda plus pasak Mas Dani terjatuh di suatu tempat. Dia sempat bingung sebelum akhirnya kami memutuskan turun saja ke Lembah Kijang sembari berharap rombongan yang kami temui tadi menemukannya.

 Lembah Kijang

Karena cukup lelah, kami baru tiba di Lembah Kijang sekitar pukul 17.10 WIB. Segera kami membuka tenda dan mempersiapkan makan malam. Di tengah memasak, rombongan pendaki yang kami temui tadi menghampiri tenda kami. Oh, ternyata mereka menemukan tas tenda Mas Dani yang terjatuh. Syukurlah, kami berterima kasih kepada mereka. Mereka pun kembali ke tenda mereka di Pondokan. Setelah makan, kami segera beristirahat.

Jum'at, 5 April 2013

Lembah Kijang - Puncak Welirang
Sekitar pukul 02.00 WIB kami terbangun dari tidur. Rasanya badan ini remuk semua. Tapi, kami harus tetap semangat untuk menyelesaikan misi ekspedisi ini. Karena lelah bercampur semangat inilah yang ternyata membuat kami baru bisa mulai berjalan sekitar pukul 05.45 WIB. Sudah sangat terang pagi itu. 15 menit kami berjalan, kami telah sampai di Shelter III atau Pos Pondokan Welirang. Saat itu tengah sepi penambang karena mereka sudah turun ke bawah sejak hari Kamis lalu. Mereka akan naik lagi sekitar hari Minggu. Kami bertemu dengan rombongan pendaki yang camp di sini. Rupanya mereka tidak jadi naik ke Welirang. Sehingga, kami tetap ke Welirang bertiga.

Jalur menuju puncak Welirang cukup jelas, hampir mirip dengan trek jalur Tretes. Berbatu dan berkelak-kelok. Namun, cukup banyak bonus. Satu jam berjalan dari Pondokan, kami beristirahat cukup lama. Saya dan Lutfi mengeluh sakit perut, sehingga mau tak mau harus "berhajat", hehehe. Setelah lega, kami melanjutkan perjalanan. Satu jam kemudian kami sudah tiba di perbatasan vegetasi. Artinya, kami sudah keluar hutan. Jalur masih menanjak sampai kami menemui padang luas yang dihiasi bunga edelweiss. Bau belerang sudah tercium dari sini. Satu jam kemudian kami menemui gua besar yang bisa dipakai untuk berteduh. Kami melanjutkan perjalanan menuju puncak.

 Vegetasi menuju Puncak Welirang

Gerobak penambang yang rusak, sangat berat!

 Kawasan edelweiss

Melipir punggungan ke arah puncak Welirang

Gua besar sebelum puncak Welirang


Ketika memasuki kawasan batu-batuan, kami bingung. Karena kami bertiga belum pernah ke sini, sehingga kebingungan manakah puncak sejatinya. Kami mencoba berjalan ke ujung tanjakan dari jalan yang kami tempuh saat itu sembari menutup hidung dengan tisu basah karena belerang yang sangat menyengat. Ketika tiba di ujung tanjakan, kami bertambah bingung karena melihat puncak yang lain di seberang saat kabut menghilang. Kami pun turun dan naik ke atas puncak yang baru kami lihat tadi. Dan betapa bingungnya kami ketika melihat puncak yang lain yang agak tinggi dari puncak yang kami tempati saatitu. Dan semakin yakinlah kami bahwa di sanalah puncak sebenarnya karena terlihat tiang bendera merah putih. Kami segera berunding, dan atas pertimbangan waktu dan fisik, kami memutuskan tidak ke sana dan mengambil foto di "Puncak 2" Welirang yang kami tempati saat itu.

 Mas Dani di Puncak Welirang

Lutfi dan banner Gamananta di Puncak Welirang

Kawah utama Gunung Welirang

Kondisi medan kawasan puncak Welirang

Salah satu kawah Welirang

Bau belerang semakin menyengat dan membuat kepala pusing, bahkan mata saya terasa pedas. Tak lama di puncak, kami segera turun dari kawasan puncak Welirang ini. Total empat jam perjalanan kami tempuh untuk sampai di kawasan puncak Welirang.

Turun ke Tretes
Kami pun turun menuju goa yang kami lihat tadi untuk sekadar mengisi perut dengan roti. Kami baru mulai berjalan turun ke Pondokan sekitar pukul 11.30 WIB. Perlu dua jam bagi kami untuk sampai di Pondokan kembali. Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan turun. Hujan dan petir menghiasi Alas Lali Jiwo saat itu. Jalan berbatu cukup licin karena basah terkena hujan. Tiga jam kemudian, kami pun sampai di pos Kokopan pada pukul 17.00 WIB. Karena lapar, kami memasak bubur oatmeal di sini dan menghabiskan logistik tersisa untuk meringankan beban. Tampak lampu-lampu kota Pasuruan, Surabaya, yang sangat cantik di tengah gerimis.

 Kabut sepanjang perjalanan turun

 Masak di Pos Kokopan

Pukul 18.30 kami meninggalkan Pos Kokopan. Perjalanan turun kami kebut, dan sempat singgah di Pet Bocor sejenak. Akhirnya setelah 2 jam berjalan, kami sampai di Pos Tretes. Setelah lapor kepada petugas, kami menunggu angkot yang masih beroperasi malam itu berkat bantuan salah seorang petugas perijinan. Setelah hampir satu jam menunggu, angkot L300 yang ditunggu datang juga. Angkot ini mengantar kami sampai di depan terminal Pandaan. Tak lama setelah turun dari angkot, ada bus Restu tujuan Malang yang akan kami tumpangi untuk kembali ke Malang. Rasanya ngantuk berat, membuat saya tertidur di dalam bus hingga bus berhenti di terminal Arjosari, Malang pada pukul 23.30 WIB. Setelah mengambil motor, kami pun pulang ke kos saya untuk istirahat.

Special Thank's to:

Allah SWT
Nabi Muhammad SAW
Orang tua kami masing-masing
Kamera digital pinjamannya Ike dan kawannya Lutfi
Rombongan pendaki Jakarta-Bandung-Manado
Petugas Pos Tretes yang mencarikan kami angkot pulang
Crew Gamananta

Catatan Penting:
  1. Kawasan Gunung Arjuno-Welirang adalah kawasan gunung-hutan yang cuacanya sangat susah sekali ditebak dan sering berubah-ubah, selalu berhati-hati dan waspada selama perjalanan
  2. Bila memungkinkan, datangilah puncak Welirang kala pagi hari sebelum jam 9 pagi, karena di atas jam tersebut kabut pekat dan asap belerang akan menyelimuti kawasan puncak
  3. Bila ingin menuju Puncak Welirang, akan lebih aman kalau semua barang bawaan dibawa ke puncak, karena kawasan Pondokan apabila ramai penambang akan kurang aman kecuali memberikan upah untuk menitipkan barang bawaan, tapi saya merekomendasikan untuk dibawa ke puncak Welirang agar tidak kepikiran
  4. Jika mendaki melalui jalur Purwosari, selalu jaga sikap, ucapan, etika, dan tingkah laku karena merupakan jalur peziarah yang sakral dan keramat
About Gamananta TravelerCommunity

Gamananta adalah sebuah komunitas traveler yang selalu membawa semangat dan orientasi konservasi dalam setiap kegiatan dan perjalanannya. Gamananta merupakan dua kata gabungan dari bahasa Sansekerta, "Gama" berarti perjalanan dan "Ananta" berarti tanpa batas. Gamananta berusaha untuk berjalan tanpa batas demi visi dan misinya.

Artikel Terkait

0 comments:

Post a Comment

No Spam, No Sex, No SARA
Junjung Tinggi Kebebasan Berpendapat yang Bertanggung Jawab