Saturday, 22 June 2013

Panderman dan Penanggungan, Test Run for Semeru

Gunung Panderman (8 Juni 2013)
Ditulis oleh: Rizky Maulana Ishaq

Pendakian ini merupakan tes run pertama bagi peserta pendakian bersama Semeru yang akan terlaksana pada akhir bulan Juni dan akan ada tes run kedua nanti di Gunung Penanggungan. Tes run yang pertama ini dilaksanakan hanya dalam waktu sehari saja. Jadi, berangkat pagi dan pulang sore hari.
Test run ini diikuti 18 peserta, yang sebagian besar merupakan peserta pendakian bersama ke Gunung Semeru akhir Juni nanti. Setelah berkumpul di depan UIN Malang, kami berangkat menuju Panderman pada pukul 06.30, molor satu jam dari rencana awal.

Kumpul di depan UIN Malang

Kami menuju Panderman tidak lewat jalur utama Malang-Batu, namun lewat Junrejo, melalui kawasan Batu Night Spectacular (BNS) dan Jatim Park II. Menjelang memasuki kawasan Pesanggrahan, rombongan terpecah, ada yang memilih sarapan dekat basecamp, ada yang di bawah. Yang jelas perjalanan menuju Dusun Toyomerto cukup sulit jika motornya tidak sehat. Menanjak.Apalagi si Muchlis nekad membawa sepeda pancal dari Malang ke basecamp.

Pendakian baru benar-benar dimulai pada sekitar pukul 08.30. Beberapa peserta ada yang berjalan cepat, ada yang perlahan-lahan, ada yang ngos-ngosan. Tak peduli rengekan peserta yang mengeluh capek, saya dan kawan-kawan yang lain terus menyemangati agar tidak menyerah hingga sampai di puncak. Kami menganggap pemanasan di gunung ini sangat penting, karena Semeru lebih berat dari ini. Pendakian berlalu dengan santai. Setelah melewati Latar Ombo dan Watu Gedeg, kami tiba di Jurang Banteng, sebuah jalan setapak kecil dengan jurang di sisi kiri.

Saya leader di depan

Perjalanan menuju puncak

Foto di puncak Basundara

Kera penghuni Panderman


Sekitar pukul 11.30, kami tiba di Puncak Basundara, Panderman 2.060 mdpl. Sayang sekali cuaca berubah menjadi mendung dan agak gerimis. Padahal rencana awal ingin makan siang di puncak. Tapi, ditambah dengan kehadiran para kera Panderman yang cukup agresif, kami mengurungkan makan siang di sini, tapi di Watu Gedeg. Setelah berlalu sesi foto-foto, kami segera turun ke Watu Gedeg. Kera yang sempat mengikuti kami turun mulai meninggalkan kami saat hampir mencapai Watu Gedeg. Kami pun makan siang di sini meskipun diguyur hujan (maklum, lapar saudara-saudara).

Setelah cukup lama istirahat makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke Latar Ombo. Waktu sudah menunjukkan pukul 15.00. Bukannya langsung turun ke bawah, teman-teman, termasuk saya, malah iseng bikin video Harlem Shake, gila! Hahaha. Setelah usai, kami segera turun ke basecamp. Bersih diri dan sholat adalah kegiatan selanjutnya setelah sampai basecamp. Citra yang nampak kedinginan cukup hebat membuat dia dilarang mengendarai motornya sendiri, dan dibantu oleh Nanang.

Makan malam di kedai Assalamualaikum


Ketegangan sempat terjadi ketika sepeda motor milik Citra mengalami rem blong kala sudah di bawah desa. Untung saja tidak terjadi di turunan curam. Motor pun diambil alih oleh Ansori, teman sekamar saya di kos. Setelah solat magrib di musola setempat, kami lanjut makan malam di kedai Assalamualaikum, depan kampus Unmuh Malang. Di sini hadir pula Zaka, kembaran Zaki yang baru datang dari Bandung. Dia akan ikut test run ke Penanggungan dan pendakian ke Semeru nantinya. Usai makan malam, kami pun kembali ke kos masing-masing dengan selamat. Tak sabar menanti test run kedua.

Gunung Penanggungan (16 - 17 Juni 2013)
Ditulis oleh: Mohammad Lutfi Hidayat

Test run kedua ke gunung kecil ini adalah pemanasan besar yang terakhir sebelum ke Semeru. Tidak seluruh peserta test run kedua ini juga merupakan peserta Semeru. Kami baru benar-benar berangkat dari kampus sekitar pukul 16.00, padahal kumpulnya sejak Duhur. Hujan deras membuat segalanya harus terhambat.

Berkumpul dulu di kampus

Selepas Magrib, sekitar pukul 18.20, kami baru tiba di kantor desa Tamiajeng, karena sempat kesasar. Sebelum menuju pos perizinan, kami mengisi energi terlebih dahulu di Warung Mak TI (depan kantor desa) yang sering menjadi jujukan pendaki Penanggungan. Setelah beres, kami berangkat menuju pos perizinan pada pukul 20.00. Setelah registrasi, kami memulai pendakian pada pukul 20.30. Perjalanan awal disambut gerimis. Sejauh kami berjalan, gerimis yang diharapkan reda malah bertambah deras. Tapi, itu tidak menyurutkan kami. Kami terus berjalan naik. Karena jalur licin, dan menjadi saluran air, kami terpaksa istirahat sejenak di sebuah tanah sempit untuk menunggu hujan reda.

Sekitar tengah malam, kami baru benar-benar sampai di Pos Bayangan. Meskipun hujan sudah agak reda dan kilat menyambar, kami segera mendirikan tenda. Hujan kembali turun dengan deras membuat kami kerepotan mendirikan tenda. Banyak tas carrier, daypack, baju teman-teman yang basah. Rasanya lelah sekali menerjang hujan malam ini. Entah bagaimana besok pagi, apakah sudah cerah atau tetap hujan. Kami harus segera tidur.

Gunung Arjuno-Welirang

Pukul 05.00, kami semua terbangun dari tidur. Ketika membuka pintu tenda, sayang sekali kabut cukup tebal dan mendung. Dan, nampak di atas puncak tertutup kabut. Setelah mempertimbangkan cuaca dan kondisi fisik, kami mengurungkan niat ke puncak Penanggungan. Kami memilih tetap stay sejenak di sini dan turun menjelang siang nanti. Pemandangan dari sini sebenarnya sangat indah. Gunung Arjuno-Welirang terlihat gagah, di kejauhan nampak Gunung Semeru.

Tetap ceria walau tidak jadi ke puncak

Kami segera packing dan turun. Perjalanan turun tak kalah lelah. Hujan sudah mulai mengguyur saat kami baru meninggalkan areal camp. Jalur menjadi licin dan basah. Kami harus berhati-hati agar tidak terpeleset. Perjalanan turun memakan waktu sekitar dua jam.

Foto bareng sebelum pulang. Penanggungan terlihat jelas dan cuaca cerah

Setibanya di pos perizinan, kami langsung menuju Warung Mak Ti untuk makan siang sekaligus bersih diri. Sebelum pulang, nampak Gunung Penanggungan terlihat jelas dan cuaca sangat cerah. Kontras sekali dengan cuaca semalam. Berarti, lain waktu harus dituntaskan lagi.

Terima kasih kepada:
Allah SWT
Orang tua masing-masing
GAMA'ers peserta test run
Penjaga pos perizinan Panderman dan Penanggungan
Zaka, thanks for coming

Ji! Ro! Lu! Budal!
About Gamananta TravelerCommunity

Gamananta adalah sebuah komunitas traveler yang selalu membawa semangat dan orientasi konservasi dalam setiap kegiatan dan perjalanannya. Gamananta merupakan dua kata gabungan dari bahasa Sansekerta, "Gama" berarti perjalanan dan "Ananta" berarti tanpa batas. Gamananta berusaha untuk berjalan tanpa batas demi visi dan misinya.

Artikel Terkait

0 comments:

Post a Comment

No Spam, No Sex, No SARA
Junjung Tinggi Kebebasan Berpendapat yang Bertanggung Jawab