Saturday, 13 July 2013

Buka Bersama dan Sahur On The Road ala Gamananta


Untuk tetap mempererat hubungan antar anggota dan menyemarakkan bulan suci Ramadan, Gamananta menyelenggarakan dua kegiatan utama. Pertama, pada tanggal 11 Juli 2013 menggelar acara buka puasa bersama. Sedangkan esoknya, tanggal 12 Juli 2013 menggelar Sahur on the Road.

Kegiatan buka puasa bersama digelar di kos Fitrah di Jalan Watumujur, Lowokwaru, Malang. Cukup banyak anggota yang ikut dalam acara buka puasa bersama tersebut. Sebut saja Rizky, Muchlis, Mustofa, Lutfi, Fahri, Mas Kurniawan, Azza, Lita, Ike, Citra, Aisyi, Anita, Zaki, Farros, Jeanni, Fitrah, Eric, dan Sukma.



Sedangkan untuk kegiatan Sahur on the Road dilangsungkan di kawasan Pasar Besar Malang. Berbeda dengan buka puasa yang menggunakan menu hasil masakan sendiri/ Pada acara sahur di jalanan, Gamananta memesan sejumlah nasi kotak dan dimakan di kawasan tersebut. Tujuannya tidak hanya makan bersama, tetapi juga berbagi makanan sahur dengan para tukang becak maupun pedagang yang sudah berada di kawasan pasar.

Demikianlah salah satu cara Gamananta untuk tetap menyemarakkan Ramadan dengan berbagi dan berkumpul bersama dalam acara yang sederhana.
Read More

Monday, 1 July 2013

Pendakian Bersama Gamananta Ke Gunung Semeru (Part 2 - End)



Pagi ini, 28 Juni 2013 begitu dingin. Gerimis rintik-rintik tak sederas semalam. Aktivitas pagi ini kami isi dengan bergantian solat Subuh, dan mempersiapkan sarapan untuk tim besar ini. Suhu pagi di Ranu Kumbolo sangat dingin, air danau yang saya pakai untuk wudhu membuat jari-hari saya menjadi kaku. Sayang sekali, kabut Ranu Kumbolo menghalangi terbitnya matahari pagi ini. Hari ini, jumlah anggota tim berkurang menjadi 27 orang, karena Teguh dan Mustofa harus segera kembali ke Malang. Teguh yang mengejar jadwal pesawat akan pulang kampung ke Medan, dan Mustofa ada kegiatan kepanitiaan. Seusai menyantap sarapan sop, omelet telur dan nugget, saya dan yang lain segera repacking. Setelah berdoa bersama dan meneriakkan jargon Gamananta, kami menyempatkan diri berfoto dahulu. Sekitar pukul 10.50, kami mulai berjalan meninggalkan Ranu Kumbolo.

Berfoto di depan Tanjakan Cinta


Tantangan trek awal adalah Tanjakan Cinta. Tanjakan Cinta terkenal dengan mitosnya, yang apabila tiap pendaki yang mencintai seseorang kemudian naik dan terus memikirkan orang yang dicintai nantinya semua mimpi tentang orang yang kita cintai akan terwujud, namun ada syaratnya yakni pada saat kita sudah naik bukit tanjakan cinta tidak diperbolehkan sedikit pun berhenti dan menoleh ke bawah. Ya, namanya juga mitos, selain dua bukit tersebut memang berbentuk seperti lambang hati.

Tanjakan ini tidak terlalu panjang, walaupun cukup membuat ngos-ngosan. Ketika sampai di ujung tanjakan, saya istirahat sejenak dan melanjutkan perjalanan kembali. Dari ujung tanjakan, kami disambut dengan pemandangan yang menakjubkan. Inilah Oro-oro Ombo, hamparan sabana  luas bermandikan bukit, hutan pinus, dan tanaman lavender ungu yang sedang berbunga. Saya memilih jalur turun yang terjal namun lebih cepat sampai di bawah, dan jalur kembali datar hingga sampai pintu masuk Cemoro Kandang. Di sini, kami beristirahat sejenak.

Istirahat sejenak di Cemoro Kandang

Dari pos Cemoro Kandang (2.500 mdpl), trek berdebu mulai landai dan menanjak hingga sampai pos Jambangan. Angin siang hari ini cukup kencang hingga menimbulkan bunyi desis di antara pepohonan. Sepanjang perjalanan menuju Jambangan (2.600 mdpl), saya sempat bertemu pendaki yang baru saja turun dari puncak. Darinya saya mendapatkan informasi kalau malam sebelumnya terjadi badai ke arah puncak walaupun dia sempat mencapai puncak. Mendengar cerita singkat darinya, kami sempat khawatir bila pada saat kami perjalanan puncak nanti malam juga terkena badai. Kami terus berdoa agar saat perjalanan menuju puncak cuaca mendukung dan diberi kelancaran.

Ujung tanjakan Cemoro Kandang ini adalah Jambangan. Di sini bunga edelweiss mulai terlihat banyak. Masih sekitar 1-2 km lagi untuk menuju Kalimati yang treknya cenderung menurun. Dari Jambangan kami dapat dengan jelas melihat puncak semeru dari kejauhan.

Semeru sudah mulai terlihat dari Jambangan

Sekitar 20 menut kemudian, sampailah kami di Kalimati, tempat camp teraman sebelum ke puncak. Kalimati (2.700 mdpl) merupakan dataran luas dengan vegetasi cantigi, alang-alang, edelweiss dan pinus. Begitu takjub kala saya melihat puncak Semeru yang nampak dekat di depan mata, dikelilingi awan putih ditambah birunya langit cerah di siang itu semakin memperindah pemandangan. Setelah istirahat sejenak, kami berbagi tugas. Sebagian mendirikan tenda dan mempersiapkan masakan, sebagian mengambil air ke Sumber Mani.

Kabut sore di Kalimati

Semakin petang, suhu di Kalimati semakin dingin dan angin berhembus cukup kencang. Nampak di sebelah barat terjadi badai, namun untungnya tak terbawa ke Kalimati. Dinginnya malam ini membuat saya memilih berada di dalam tenda. Menjelang malam, salah satu teman kami, Lia, mengalami kedinginan cukup hebat, semacam gejala hipotermia. Wajahnya terlihat pucat dan sekujur tubuhnya sangat dingin. Saya pun segera meminta teman-teman menyelimutinya dengan sleeping bag yang masih hangat. Saya juga meminta mbak Fitrah memasakkan air panas untuk menghangatkan tubuhnya. Perlengkapan tidur berlapis menyelimuti tubuhnya. Saya dan teman-teman sempat khawatir dan menyarankannya untuk tidak ikut ke puncak melihat kondisinya yang tidak memungkinkan. Namun, semangatnya yang tinggi membuat kami luruh dan mengizinkannya ikut ke puncak. Kami semua pun segera tidur, beristirahat mengumpulkan energi untuk summit attack nanti.

Summit Attack!
Setelah berdoa, pukul 23.00, kami mulai berjalan menuju puncak. Sempat salah jalur pada awalnya, akhirnya kami berhasil menemukan jalur yang benar. Setelah jalur menurun hingga masuk hutan, jalur kembali menanjak. Cukup banyak pendaki yang akan menuju puncak. Kami pun berjalan santai. Terkadang beberapa kali berhenti untuk break sesaat. Kondisi hutan yang gelap dan jalur yang dibayangi jurang membuat kami harus tetap fokus dan waspada. Satu jam kemudian kami tiba di camp Arcopodo (2.900 mdpl).

Kami beristirahat di Arcopodo cukup lama, sembari menunggu kondisi Lia. Terlebih, Lia sempat muntah dan terlihat sangat letih. Kondisi Lia yang lemas membuat kami menawarkan kembali kepadanya untuk turun lagi ke Kalimati. Namun, Lia masih menolak dan bersikeras untuk tetap ke puncak.

Tak sampai 30 menit dari Arcopodo, kami sampai di perbatasan vegetasi yang disebut Kelik. Para pendaki mulai antri berjalan satu per satu untuk melewati gigiran tipis memasuki trek berpasir dan berbatu.  Awalnya kami berjalan beriringan, hingga akhirnya mulai terpisah untuk memberikan kesempatan pendaki lain yang berjalan lebih cepat. Semakin jauh saya berjalan, saya lihat Lia yang didampingi Bustomi dan Rizky semakin jauh tertinggal. Kebetulan yang saat itu saya masih bersama dengan beberapa teman yang masih tetap berjalan. Sempat terjadi sesuatu yang tidak saya inginkan, pada saat saya berjalan setengah dari perjalanan puncak penyakit radang lambung saya kambuh lagi dan pada saat itu saya berjalan sendirian dan tidak ada seorang teman pun karena kami semua sudah berpisah. Untungnya pada saat perjalanan saya melihat mbak Ika, mas Kurniawan dan mas Muchlis yang berada di atas cukup jauh dari tempat saya beristirahat sejenak. Kemudian saya hampiri mereka. Setelah saya  bersama mereka saya melihat mas mukhlis yang ternyata sakit tenggorokannya juga semakin parah. Namun kami pun tetap terus melanjutkan perjalanan meski dalam kondisi seperti ini.

Hujan kabut pun menemani perjalanan kami, untuk perjalanan kali ini kami banyak beristirahat karena memang kondisi saya dan mas Muchlis yang kurang mendukung. Setiap kali kaki melangkah saya selalu meyakinkan diri untuk bisa sampai menuju puncak tak lupa saya terus berdoa setiap kali kaki melangkah. Waktu yang semakin beranjak pagi dan rintik kabut tak lagi turun, kami melanjutkan perjalanan kembali.

Tak terasa saat perjalanan kami tinggal seperempat lagi menuju puncak bayangan, dari lereng sejenak menikmati sunrise dari sisi timur lereng Semeru yang sangat indah. Terlihat jelas cahaya matahari pagi yang terbit ditemani dengan hamparan samudera awan yang sangat terlihat jelas.
Tak terasa hari pun semakin terang dan jam menunjuk angka 06.30 ketika terlihat dari kejauhan puncak bayangan yang menanti kami. Untuk menuju puncak yang sesumgguhnya kami masih harus melewati beberapa kali puncak bayangan yang terus menguji kesabaran dan tekad kami. Dengan terlihatnya puncak bayangan, tekad dan keinginan kuat saya semakin yakin bahwa saya harus bisa sampai di puncak semeru. Sampai-sampai tak terasa rasa sakit yang sebelumnya saya alami mendadak hilang.  Saat selesai melewati puncak bayangan yang terakhir  dan sedikit berjalan melewati trek yang agak sempit, sambil berjalan sempoyongan, bergetar hati dan takjub sampai tak terasa air mata menetes dengan sendirinya kala melihat ujung dari trek yang panjang ini.

INDONESIA!!! KITA DI MAHAMERU!!!
Rasa tak percaya masih terpikir dalam benak saya dengan melihat sekeliling terbentang luas indahnya samudra awan. Tak lama kemudian saya disambut oleh beberapa teman yang sudah sampai terlebih dahulu di puncak, antara lain Nata, Midori, Mas Kurniawan, Mas Muchlis, Mbak Ika, Winanto, Dodik dan lainnya. Berjalan dengan sempoyongan yang kemudian saya memeluk Lita dengan tetesan air mata haru. Tak lupa kemudian saya sujud syukur atas nikmat yang telah Allah berikan, sembari mengucap “Subhanallah wal hamdulillah, wa la ilaha illallahu wallahu akbar, la haula wa la quwwata illa, billahil 'aliyyil adzim”.   Rasa tak percaya saya yang masih ada di benak ini, karena bisa menapakkan kaki di puncak Mahameru bersama teman–teman.  Rasanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan bisa menapak di Puncak Mahameru, puncaknya para dewa, gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 mdpl, gunung yang saat ini masih tetap aktif sebagai gunung berapi. Perjalanan yang sangat berarti bagi saya, karena Puncak Mahameru sudah menjadi puncak pertama saya yang selama ini saya impikan. Semeru menyajikan banyak pemandangan yang berkesan, keindahan alam yang selalu membuat saya terbelalak dengan keindahannya. Makin lengkap rasa syukur saya karena dapat menapaki keindahan ini bersama sahabat-sahabat saya yang sangat berkesan ini. Sembari istirahat menunggu teman-teman yang masih dalam perjuangan menuju puncak saya menyempatkan untuk berfoto-foto bersama sebagian teman yang sudah terlebih dahulu sampai di puncak.

Capek dan lelah hilang sudah dan terbayar lunas kala saya tiba di Mahameru

Pak David, akhirnya mencapai Puncak Mahameru yang lama diidam-idamkan

Satu per satu teman-teman Gamananta telah mencapai puncak

Gamananta berhasil menggapai puncak Mahameru ketiga kalinya

Setelah saya dan teman-teman, berikutnya menyusul teman-teman Gamananta lain yang berhasil sampai puncak. Mas Rifqy, Sukma, Jeanny, Frida, Zaka, Zaki, Nufus, Fitrah, Syifa dan lain-lainnya. Dari Evi, saya mendapat kabar kalau Lia terpaksa harus dibawa turun ke Kalimati kembali oleh Bustomi dan Rizky karena kondisinya sudah tidak memungkinkan lagi berjalan ke puncak.

Setelah semua berkumpul dan berdo’a bersama, kami pun segera turun karena arah jarum jam menunjukkan pukul 08.30. Untuk para pendaki memang tidak diperbolehkan berlama-lama di puncak karena pada pukul 09.00 arah angin yang membawa asap belerang dari kawah yang beracun langsung mengarah ke Puncak Semeru. Perjalanan turun kembali melewati jalur yang kami naiki sebelumnya, namun kondisinya berbeda. Ketika kami turun memang baru terasa bahwa trek menurun sangat curam sekali meski kita berjalan seperti sandboarding (jalur yang licin dan berpasir) dapat mempercepat kami turun. Namun jika kami lengah sedikit saja kami akan jatuh di jurang Blank 75 dan jika sudah jatuh pada jurang tersebut akan sulit untuk kembali naik kembali.

Trek yang dilalui saat turun ke Kalimati

Perjalanan turun ke Kalimati memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Kami tiba di Kalimati sekitar pukul 12.00. Saya berterima kasih sekali kepada Rizky dan Bustomi yang dengan rasa kepedulian dan tanggung jawabnya begitu tinggi sehingga merelakan tidak ikut ke puncak demi keselamatan Lia. Hari ini kami begitu lelah dan tertidur di dalam tenda hingga sore. Karena kondisi fisik teman-teman yang tidak memungkinkan untuk kembali ke Ranu Kumbolo, maka setelah berdiskusi dengan Mas Kurniawan, Mbak Ika, dan Mas Rifqy akhirnya kami tetap stay di Kalimati semalam lagi dengan konsekuensi menata ulang konsumsi dan besok pagi-pagi harus langsung turun ke Ranu Pani.

Pagi hari di Kalimati

Minggu, 30 Juni 2013. Tepat pukul 05.00, kami terbangun disambut oleh dinginnya kalimati yang menusuk tulang, kemudian kami sholat Subuh, dilanjutkan repacking dan merapikan tenda. Setelah semua selesai kami packing, kami pun berkumpul dan berdo’a sebelum menuju Ranu Kumbolo. dan kami pun melanjutkan perjalanan menuju Ranu Kumbolo. Kali ini kelompok 2 dan 3 berjalan duluan, sedangkan tim pertama belakangan karena masih merapikan tenda dan membawa sampah. Pukul 10.00 kami tiba di Ranu Kumbolo. Di sini kami istirahat sejenak untuk sarapan. Seusai sarapan, kami memungut sampah-sampah yang berserakan di Ranu Kumbolo untuk dibawa turun ke Ranu Pani.

Sampah tak ada, Ranu Kumbolo pun indah

Sungguh sangat disayangkan sekali, sampah-sampah plastik banyak berserakan disekitar danau Ranu Kumbolo, hal ini yang akan merusak keindahan alam surganya Semeru. Tidak ada salahnya kita menikmati sepuas mungkin keindahan alam ciptaan Tuhan, tapi jangan engkau mengotori keindahan ini dengan keserakahanmu.

Foto keluarga sebelum pulang, pamit kepada Ranu Kumbolo

Jam menunjuk angka 14.30. Setelah repacking selesai, kami bersiap berangkat menuju Ranu Pani. Sebelum berjalan kami berdo’a bersama dengan harapan bisa pulang dengan selamat. Kami pun berjalan dengan membawah oleh-oleh tumpukan sampah dalam plastik. Saat perjalanan menuju Watu Rejeng kami ditemani rintik hujan yang cukup deras, namun kami tetap melanjutkan perjalanan karena hari yang sudah semakin larut. Setelah menaiki tanjakan menuju Pos IV, jalur selanjutnya lebih sering naik-turun melalu Pos III, Pos II dan Pos I. Tiga jam kemudian akhirnya kami tiba di resor Ranu Pani. Kantor perizinan masih tutup saat kami hendak melapor. Akhirnya kami memilih mengisi perut kami terlebih dahulu yang kelaparan dengan menu rawon dan teh hangat. Seusai makan, saya segera ke pos perizinan untuk melapor. Malam yang semakin larut membuat kami harus segera turun ke bawah untuk mencari truk pulang ke Tumpang. Setelah tawar-menawar, akhirnya kami menggunakan dua moda, truk dan pick up yang masing-masing berkapasitas maksimal 15 orang. Rasa capek, lapar, dan lelah membuat saya malas bicara sepanjang perjalanan dan lebih memilih tidur. Sesampainya di Tumpang, kami segera berganti angkot putih dan mencarter untuk langsung diantar ke kampus kami. Sekitar pukul 23.00, kami tiba di kampus. Setelah berkumpul sejenak untuk evaluasi singkat, saya pun mempersilakan teman-teman pulang ke kos masing-masing. Beberapa dari kami masih bertahan di kampus untuk mengembalikan perlengkapan sewaan seperti tenda, sleeping bag, nesting, kompor, dan matras.

Sampai saat ini saya tetap bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk menikmati indahnya alam Semeru, rasa lelah dan letih saat perjalanan akhirnya dapat terbayarkan dengan suguhan keindahan Puncak Mahameru yang begitu menakjubkan dan tak kan pernah terlupakan sepanjang hidup saya. Inilah ciptaan yang diberikan Tuhan untukmu, Indonesia.

Special thank’s to:
Allah SWT,
Nabi Muhammad SAW,
Bapak dan Ibu kami masing-masing,
Crew Ekspedisi GAMANANTA Gunung Semeru 26-30 Juni 2013 (Fahri, Rizky, Lita,Jeanni, Mas Mukhlis,Mas Rifqy, Mas Kurniawan, Mbak Ika,Mbak Nufus),
Teman-teman Peserta Ekspedisi Gn. SEMERU 26-30 Juni 2013, (Zaki, Zaka, Bustomy, Winanto, Sukma, Eviliana, Mas Agus, Pak David, Mbak Fitrah, Mas Midori, Arif, Miftakul, Frida, Mustofa, Teguh, NATA, Dodik, Firdaus, dan Lia).

Ji! Ro! Lu! Budal!
Read More

Pendakian Bersama Gamananta ke Gunung Semeru (Part 1)


Rindu Gunung Semeru. Serba pertama untuk Gamananta. Fisik dan mental yang kuat, disertai tanggung jawab dan rasa peduli yang besar, mengantarkan kami menggapai Puncak Mahameru yang ketiga kalinya dalam sejarah pendakian Gamananta ke Gunung Semeru.

Ditulis oleh:
Fahriansyah Nur Afandi (Project Manager Gamananta)
Penanggung Jawab Pendakian Bersama

Mungkin kata itu yang tepat bagi saya yang sangat mengharapkan untuk menjadikan Gunung Semeru sebagai gunung pertama pada pendakian yang saya lakukan, walau akhirnya Gunung Butak yang ada dalam kamus pendakian pertama saya. Pengalaman saya dan teman-teman Gamananta ke Gunung Butak cukup menjadikan pelajaran bagi saya bagaimana pendakian yang lebih baik ke depan, walau bonus puncak belum berhasil digapai.


Saya yang termasuk newbie di Gamananta, mendapat amanah untuk menjadi koordinator dalam pendakian bersama ke Gunung Semeru. Suatu tantangan bagi saya, karena bisa dibilang saya ini membawa nyawa banyak orang ke alam bebas, hehehe. Sudah dua kali bendera Gamananta berkibar di Puncak Mahameru dalam perjalanan sebelumnya, kini dengan asa mengibarkan Gamananta ketiga kalinya akan kami perjuangkan pada tanggal 26-30 Juni 2013, tepat sehari setelah UAS di kampus kelar. Karena musim liburan, tak pelak dari kuota 30 peserta yang kami tetapkan, yang tertarik untuk ikut hampir 35-an orang. Tapi, mendekati hari-H, peserta banyak yang mundur dan akhirnya total peserta yang memastikan ikut adalah 29 orang.

Suatu tantangan bagi Gamananta, karena hampir sebagian peserta adalah newbie dalam bidang pendakian gunung. Karena itulah, sebelum pendakian ke Semeru, selain jogging bareng setiap pagi di kampus, peserta di-drill­ fisik dan mental ke Gunung Panderman dan Gunung Penanggungan sebagai tempat tes peserta. Berkali-kali kami bertemu untuk mempersiapkan semuanya. Karena, menurut Trio Budal pendiri Gamananta ini, persiapan yang matang menjadi sangat penting. Mereka bilang bahwa dalam pendakian, puncak bukanlah segala-galanya, yang terpenting adalah turun dengan selamat dan puncak adalah hadiah dari Tuhan.

Antusiasme peserta membuat saya bersemangat dalam mempersiapkan pendakian kali ini. Dengan dibantu arahan teman-teman, pembagian tugas pun juga cukup merata untuk bagian konsumsi, perlengkapan, transportasi, dan manajemen perjalanan. Bahkan untuk benar-benar memastikan semuanya terkendali, kami masih rapat dua hari berturut-turut sebelum tanggal keberangkatan, yaitu tanggal 25-26 Juni 2012. Foto-foto dan video tentang keindahan alam Gunung Semeru yang diupload di grup Facebook Gamananta membuat semangat kami semakin membuncah, tak sabar rasanya segera memulai langkah dari Ranu Pani. Mahameru, tunggu kami!

Rabu, 26 Juni 2013
Gazebo Universitas Brawijaya
Sore hari pukul 16.00, kami mulai berkumpul di gazebo Universitas Brawijaya. Cukup banyaknya kesibukan para peserta yang belum selesai membuat kami tidak berkumpul tepat waktu. Saya sudah memantau kesediaan logistik dan transportasi kepada penanggung jawab masing-masing. Setelah repacking, sholat, dan semuanya beres, kami baru benar-benar berangkat dari kampus sekitar pukul 20.30. Tiga angkot putih akan mengantar kami yang berjumlah 26 orang ke Tumpang. Dua sisanya masih dalam perjalanan dari Jogja, Zaki dan Evi, mereka akan diantar Roni (tidak ikut) dan Mustofa (juga peserta pendakian) dengan sepeda motor.

Nongkrong bareng di depan rumah Mbak Nur sebelum tidur

Tak sampai satu jam perjalanan, kami telah sampai di Tumpang. Segera kami berjalan ke rumah Mbak Nur (pemilik truk sewaan). Di sana ternyata sudah berjubel pendaki yang ikut istirahat malam ini. Ada yang dari Jogja, Bandung, Jakarta, bahkan Kalimantan. Semuanya menuju ke satu tujuan, Gunung Semeru. Harapan kami, kami semua di sini bukanlah pendaki karbitan seperti halnya pendaki lain yang terobsesi karena film 5 cm. Suguhan teh hangat dari Mbak Nur sangat membantu menghangatkan badan kami. Mbak Nur juga memberikan sejumlah informasi penting terkait registrasi pendakian Semeru yang terkini. Sementara dari kami sudah terlelap di rumah atau di atas truk, saya dan beberapa teman mencari makan malam dan belanja konsumsi tambahan di minimarket.

Kamis, 27 Juni 2013
Tumpang – Ranu Pani
Suara qiro’ mulai lantang terdengar dari masjid Tumpang. Segera kami terbangun dan bergegas menuju masjid untuk persiapan sholat Subuh. Segarnya air wudlu dan sholat membuat mental kami semakin kuat menyambut hangat ajakan Mahameru untuk segera mampir ke alamnya. Setelah sarapan ala kadarnya, tepat pukul 05.30 kami berangkat menuju Ranu Pani. Perjalanan yang memakan waktu hampir dua jam perjalanan tidak menyurutkan semangat kami. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan panorama alam yang begitu indah, jurang-jurang dalam yang tampak hijau karena tertutupi pepohonan yang sangat rimbun. Ketika truk tiba di pertigaan Jemplang, Indonesia menyuguhi kami pemandangan bukit Teletubbies yang sangat mencengangkan mata, tak sadar bibir pun bertasbih kepada sang Ilahi. Musibah bocornya ban belakang truk di perkampungan Ranu Pani tidak mampu mematahkan semangat kami. Nama Mahameru terngiang-ngiang di telinga kami, tak terkecuali saya.

Pemandangan yang tersaji dalam perjalanan ke Ranu Pani

Tetap ceria walau ban truk bocor

Setibanya kami di Ranu Pani, kami bersiap-siap berjalan menuju pos registrasi pendakian. Ternyata, sekarang sudah disediakan parkir khusus kendaraan bermotor bagi pendaki, walau masih harus berjalan cukup jauh ke pos perizinan. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.30, sedikit terlambat dari jadwal. Saya segera membagi tugas, beberapa teman repacking, sarapan, dan saya bersama Lita, Rizky, serta Mbak Ika mengurus perizinan. Menu rawon dan teh hangat memenuhi kebutuhan gizi kami pagi itu. Antrean sebenarnya tidak terlalu panjang. Namun, karena loket yang dibuka cuma satu, membuat proses registrasi cukup memakan waktu. Sembari antri, saya ngobrol-ngobrol dengan pendaki lain, ternyata ada juga yang dari luar negeri, contohnya pendaki asal Malaysia.

Sarapan di warung sebelum mendaki

Saya dan Frida (kiri) di depan kantor resor Ranu Pani

Untuk informasi lebih lanjut tentang tata cara registrasi pendakian Gunung Semeru, Anda bisa cek lebih lanjut di website resmi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, www.bromotenggersemeru.com. Secara umum, persyaratan yang dibutuhkan untuk mendaki Gunung Semeru adalah sebagai berikut:

  • Fotokopi identitas diri yang masih berlaku sebanyak 2 lembar
  • Surat keterangan sehat dari dokter/rumah sakit dan di fotokopi sebanyak 1 lembar
  • Membayar karcis masuk, asuransi, dan surat izin pendakian per orang/pendaki sebesar Rp. 7.000 ,- (bagi umum, dengan rincian karcis masuk Rp. 2.500,-, surat ijin pendakian Rp. 2.500,-, dan asuransi Rp. 2.000,-), Rp. 5.750,- (bagi pelajar/mahasiswa, dengan rincian karcis masuk Rp. 1.250,-, surat ijin pendakian Rp. 2.500,-, dan asuransi Rp. 2.000,-) 
  • Mengisi biodata peserta pendakian, berupa: nama lengkap, umur, alamat beserta nomor telepon keluarga yang bisa dihubungi secara lengkap
  • Mengisi buku tamu (nama ketua rombongan, alamat, jumlah pengikut, nomor surat izin, tanggal naik dan tanggal turun sesuai yang ada disurat izin)
  • Mengisi formulir daftar barang bawaan setiap anggota tim
  • Membawa turun sampah kelompok yang dihasilkan selama pendakian


Foto bareng sebelum berjalan menuju Ranu Kumbolo

Setelah semua beres, kami berkumpul. Kami sempatkan diri untuk berfoto bersama di basecamp sebelum berangkat. Tepat pada pukul 10.00, dengan doa bersama dan semangat Ji! Ro! Lu! Budal!, kami mulai mengukir jejak perjalanan kami dengan langkah-langkah kecil menuju Mahameru.

Saya dan teman-teman di depan gerbang masuk pendakian

Saya dan Arif (kiri) memasuki jalur pendakian

Dalam pendakian kali ini, tim dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok depan dipimpin oleh Mas Rifqy sebagai pembawa tenda dan tim perintis. Kelompok dua dipimpin oleh Agus dan kelompok tiga sebagai sweeper, dipimpin oleh Rizky.

Ranu Pani – Watu Rejeng – Ranu Kumbolo
Tim depan sudah berjalan jauh. Saya di kelompok dua berjalan santai bersama kelompok tiga di belakang. Trek awal dari Ranu Pani berupa aspal landai lalu menurun, lalu belok kanan melewati gerbang pendakian. Jalur pun berubah menjadi jalan setapak beralas tanah. Selepas gerbang, jalur pelan-pelan menanjak cukup menguras tenaga. Bagus untuk pemanasan awal. Di ujung tanjakan akan dijumpai papan himbauan dari pengelola, dan jalur akan datar berputar-putar nan panjang.

Istirahat sejenak di Watu Rejeng

Pos Landengan Dowo kami jumpai setelah berjalan sekitar 3 km dari Ranu Pani. Tinggal satu kilometer lagi akan sampai di Pos I yang berada di persimpangan jalur. Trek berpaving mulai habis selang beberapa meter dari Pos I. Tak sampai satu kilometer kami telah sampai di Pos II. Jika cuaca cerah, Mahameru sudah bisa dilihat dari sini. Setelah berjalan enam kilometer dari Ranu Pani, sampailah kami di pos Watu Rejeng. Sama seperti Landengan Dowo, tidak ada bangunan pos di sini. Hanya semacam pos ekstra, tetengernya adalah tebing di atas pendaki yang sangat indah. Kami beristirahat di sini lumayan lama sekitar 10-15 menit sebelum berjalan lagi menuju Pos III.

Setelah detak jantung kembali normal dan tenaga sedikt terisi oleh beberapa teguk air, kami berjalan kembali. Jalan tetap berputar-putar, kemudian kami melewati jembatan kayu untuk menuju pos III. Pada jalur setelah jembatan agak menanjak dan licin dengan cuaca yang sedikit mendung disertai gerimis pada saat itu. Saya mengingatkan saling menjaga dan membantu teman-teman yang lain agar tidak jatuh karena jalur yang cukup becek dan licin ini. Sambil bercengkerama tak terasa kami sudah sampai di pos III dengan kondisi atap yang ambruk dan menutupi tempat istirahat di pos III. Saya lihat jam tangan telah menunjukkan waktu 12.50. Kami beristirahat dan sembari mengisi perut yang sudah mulai keroncongan.

Setelah cukup, kami melanjutkan perjalanan. Selepas Pos III kami dihadapkan trek yang sangat menanjak, cukup menguras tenaga. Tinggal tiga kilometer lagi kami akan sampai di Ranu Kumbolo. Kembali kami menyusuri jalur berkelak-kelok, naik turun yang cukup bikin lelah. Jalur ini menjadi khas di Gunung Semeru. Sambil berjalan, kami bersenda gurau demi menghibur dan menghilangkan rasa lelah akibat tanjakan curam yang kami lewati tadi. Sekitar pukul 14.00, kami sampai di Pos IV. Dari sini kami dapat melihat langsung dari kejauhan surganya Gunung Semeru, yakni Ranu kumbolo yang memanjakan mata kami dengan jernih airnya yang hijau kebiruan dan dikelilingi bukit-bukit indah nan menawan. Saya menghela nafas dan tak lupa terus mengucapkan rasa syukur kepada Sang Pencipta yang telah memberikan keindahan di Indonesiaku ini.

Saya bersama Syifa (kiri), Mbak Nufus (tengah), dan Hadi (kanan)
menjelang tiba di Ranu Kumbolo

Masih tetap semangat walau Ranu Kumbolo masih cukup jauh

Rasa lelah dari Ranu Pani menuju Pos IV tak terpkirkan lagi karena sudah terbayar dengan keindahan yang disajikan oleh Ranu Kumbolo yang telah banyak orang bicarakan. Terus melewati jalan setapak dan akhirnya kami menemukan Pos IV dan kami melanjutkan perjalanan menuju tempat camp yang tendanya sudah didirikan oleh tim pertama. Kami menuruni bukit yang agak terjal untuk menuju tempat camp, setelah berada di tempat camp saya mencoba merasakan segarnya Ranu Kumbolo. Namun di balik indah pemandangan yang disajikan oleh Ranu Kumbolo saya sangat miris sekali melihat banyak tumpukan sampah sisa para pendaki yang tidak mau menjaga kebersihan dan keasrian di Ranu Kumbolo. Banyak sampah plastik berserakan di sekitar camp juga ada sisa kotoran manusia yang tidak dipendam kembali. Sungguh sangat disayangkan. Kami pun berencana untuk membawa sisa sampah-sampah plastik pada saat kami kembali turun menuju Ranu Pani.

Bahu-membahu mendirikan tenda

Kami memang berencana untuk camp semalam di Ranu Kumbolo. Segera kami membuat makan malam. Kondisi sore itu sangat cerah dan pas sekali menikmati indahnya Ranu Kumbolo. Tak lupa kami segera mengambil wudlu di Ranu Kumbolo yang kemudian kami segera menjama’ sholat Duhur dan Asar secara bergantian. Nampak pelangi terukir jelas di langit sore itu. Tak terasa hari sudah mulai gelap, kami segera menyiapkan makan malam tiap tenda dan bergantian untuk sholat Magrib. Setelah semua selesai dibagi tiap tenda kami pun bersama-sama berdo’a bersama sebelum makan yang menjadi tradisi kami. Santapan makan malam yang nikmat meski makanan tak seperti makanan rumah karena kami berada di gunung dan menjadi suatu kenikmatan tersendiri.

Pelangi di langit Ranu Kumbolo

Ditemani rintik hujan, kami menikmati makan malam dengan rasa syukur atas nikmatnya makanan yang kami santap. Setelah makan malam kami lanjutkan berdiskusi bersama tentang banyak hal baik agama, pengalaman pendakian, dan lain-lain. Terasa keakraban pada malam itu, meski hujan yang rintik bertambah semakin deras dan menambah dinginnya Ranu Kumbolo malam ini.  Arah jarum jam sudah menunjukkan pukul 20.30, kami semua pergi ke tenda masing-masing untuk beristirahat karena esok kami harus bersiap menuju Kalimati.

Read More