Wednesday, 8 May 2013

Catatan Gamananta: Gunung Gede - Pangrango, Tempat Berlabuhnya Soe Hok Gie


Sebetulnya, pendakian kali ini diagendakan setelah dari Gunung Merbabu dan Merapi. Namun, dikarenakan kendala jarak dan waktu, teman-teman Gamananta lebih memilih memprioritaskan ekspedisi ke Merbabu dan Merapi. Sehingga, dalam pendakian ke Gunung Gede dan Pangrango kali ini diwakili oleh tiga anggota Gamananta, yaitu Zaki Mubarok a.k.a Zaki, Lalu Ahmad Hamdani a.k.a Dani, dan Rifqy Faiza Rahman a.k.a Rifqy (saya). Semua bermula dari ajakan Zaki, yang kebetulan akan pulang kampung ke Bandung pada akhir bulan April.

Setelah berulang kali meeting, akhirnya kami membagi tugas. Zaki dan Mas Dani kebagian tugas mengatur administrasi perizinan, sedangkan saya mengatur rencana perjalanan, sedikit dibantu Mas Dani juga. Zaki sudah terlebih dahulu berada di Bandung sejak tanggal 24 April 2013. Sedangkan saya dan Mas Dani berangkat dari Malang tanggal 1 Mei 2013, menumpang KA Malabar tujuan Stasiun Hall Bandung. Setelah kelar di acara Kompas Kampus UB, saya berangkat ke stasiun diantar Mas Kurniawan. Mas Dani datang tepat beberapa detik setelah saya tiba di stasiun.

Gaya Mas Dani di pintu kereta

Rabu-Kamis,  1-2 Mei 2013
Kereta berangkat pukul 13.00 WIB, menyusuri stasiun-stasiun di wilayah empat provinsi, Kami akan melalui perjalanan selama kurang lebih 14 jam hingga sampai di Bandung. Kereta ini mengangkut penumpang dalam gerbong ekonomi, bisnis, dan eksekutif.

Pelangi di langit Kediri

Kepanjen, Blitar, Tulungagung, Kediri, Nganjuk, Madiun, Yogyakarta, Purwokerto, Cirebon, Tasikmalaya, Kiaracondong adalah beberapa nama stasiun yang kami kenal, hingga pukul 04.00 kereta ini benar-benar berhenti di Stasiun Hall, Kota Bandung. Kami dijemput kakaknya Zaki, mas Faliq Mubarok dengan Avanza-nya yang dikemudikan bak atlet reli Dakar membelah kesunyian jalanan Bandung. Tak sampai lama, kami tiba di asrama pelajar Muhammadiyah yang ditempati Zaki dan Zaka selama di Bandung, tepatnya di kawasan Bawah Batu. Kami beristirahat di sini hingga siang, karena Zaki mengusulkan sore harinya kami berangkat ke Cipanas, sekalian nunut mas Faliq yang memang ada urusan di sekolah Muhammadiyah Cipanas, tempat Zaki dan Zaka bersekolah dulu.

Makan bubur ayam di Cianjur dalam perjalanan ke Cipanas. 
Sebelah saya adalah Mas Faliq, kakaknya si Zaki dan Zaka

Selama di Cipanas, yang masih masuk dalam administratif Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, kami menginap di salah satu kamar kosong penghuni asrama. Dari sekolah ini, utamanya dari Cipanas, sudah terlihat jelas Gunung Gede Pangrango yang berhutan tropis lebat. Saya dan Mas Dani yang notabene lama berkuliah di Malang, dan terbiasa dengan gaya hidup murah meriah di Malang, cukup terkejut dengan harga makanan yang melangit di Cipanas. Mungkin karena Cipanas adalah tempat wisata, karena di sana terdapat bangunan Istana Kepresidenan Cipanas.

Jum'at, 3 Mei 2013
Istana Kepresidenan Cipanas

Hari ini cukup banyak kegiatan yang kami lakukan. Belanja konsumsi, jalan-jalan pagi, dan membahas perjalanan besoknya. Sempat terjadi tarik ulur peserta pendakian kali ini, utamanya dua cewek temannya si Zaki yang galau mau ikut atau tidak. Karena saya meminta pendakian dilaksanakan dua hari satu malam saja untuk dua puncak, mereka akhirnya membatalkan ikut karena pendakian kali ini membutuhkan kondisi fisik yang lebih. Akhirnya peserta pendakian pun mengerucut menjadi tujuh orang, yaitu:
  1. Rifqy (saya)
  2. Mas Dani
  3. Zaki
  4. Zaka
  5. Farhat (teman Zaki-Zaka, asal Taksimalaya)
  6. Fahrul (teman Zaki-Zaka, asal Tasikmalaya)
  7. Wahyu (teman Zaki-Zaka, asal Sukabumi)
Kami kembali berunding cukup lama mengenai start pendakian, rencana awal saya adalah naik lewat jalur Cibodas dan turun di Gunung Putri. Namun, berdasarkan pertimbangan pengalaman mereka dan efisiensi waktu, kami akhirnya merubah rute pendakian, naik lewat jalur Gunung Putri, lalu turun di Cibodas. Setelah bersiap-siap, kami sepakat untuk berangkat ke Gunung Putri pukul 01.00 WIB, dan mulai pendakian pada 02.00 WIB.

Sabtu, 4 Mei 2013

Jalur Gunung Putri, Cipanas
Kami terbangun pada pukul 00.00 WIB, dan langsung bersiap-siap. Pukul 01.00 WIB kami berangkat ke Gunung Putri menaiki angkot yang sudah dipesan sebelumnya. Perjalanan menuju Gunung Putri tidak terlalu mudah, karena 1-2 kali kami turun untuk meringankan beban angkot yang terengah-engah di jalan beraspal yang rusak parah. Kami tiba di Gunung Putri sekitar pukul 02.00 kurang. Setelah melewati administrasi pendakian, kami memulai petualangan kami, debut Gamananta di Gunung Gede Pangrango kala waktu menunjukkan pukul 02.15 WIB.

Gerbang pendakian Jalur Gunung Putri.
Kanan ke kiri: Saya, Zaki, Mas Dani, Zaka, Wahyu, Fahrul

Saya tidak terlalu paham medan di sini, yang jelas, menurut literatur dan penuturan Zaki dkk yang sudah pernah ke sini sebelumnya, jalur Gunung Putri adalah jalur yang cukup menyiksa, naik terus, namun lebih cepat sampai ke Puncak Gede. Dari literatur yang saya peroleh, kami akan melalui sekitar lima pos, yaitu Pos 1 (Tanah Merah), Pos 2 (Legok Leunca), Pos 3 (Buntut Lawang), Pos 4 (Lawang Seketeng - ini yang katanya paling angker), dan Pos 5 (Simpang Maleber). Setelah melewati jalur landai sampai pintu gerbang pendakian, mulailah jalur menanjak naik. Hampir kami semua merasa kepayahan karena kesalahan kami yang tidak mengisi perut dulu sebelum berangkat ke Gunung Putri. Beberapa kali kami break mengatur nafas. Saya, Zaka, dan Mas Dani tertinggal di belakang. Zaki, Farhat, Fahrul, dan Wahyu melesat di depan. Matahari mulai terik kala kami menjumpai pos Simpang Maleber. Ah! Suryakencana tak jauh lagi!

Istirahat sejenak sebelum mencapai Simpang Maleber

Alun-alun Suryakencana
Tepat pukul 08.15 WIB, akhirnya kami semua sampai di Alun-alun Suryakencana, setelah menempuh 6 jam perjalanan dari Gunung Putri. Kami segera beristirahat dan membuka roti selai untuk sarapan. Dan apa yang saya baca di literatur tentang pedagang nasi uduk di Gunung Gede terbukti, di alun-alun banyak sekali penjual nasi uduk, bakso, makanan dan minuman lainnya. Mirip porter lah, membawa beban berat dan dijual di atas.

Alun-alun Suryakencana

Menuju Titik 0 km

Alun-alun Suryakencana ini sungguh indah. Hamparan luas padang edelweiss Jawa, memanjakan mata dari segala penjuru. 15 menit kemudian, kami berjalan kembali menuju Titik 0, tempat camp yang biasa digunakan pendaki untuk bermalam, karena dekat dengan sumber air. Tepat pukul 09.00 kami sampai di Titik 0. Kami segera membuka konsumsi, masak untuk sarapan sekaligus makan siang. Menunya tumis dan telur dadar. Kami benar-benar merasakan nikmatnya masak di Suryakencana, angin berhembus, gemericik air yang mengalir jernih, dan edelweiss yang menyejukkan mata.

Aktivitas bergantian selama istirahat di Suryakencana

Kami benar-benar menikmati istirahat di Suryakencana. Selepas makan, kami menjama' sholat Duhur dan Ashar, yang diadzani oleh Fahrul. Setelah repacking, kami kembali melanjutkan perjalanan ke Puncak Gede pada pukul 13.00 WIB. Jalur pendakian dari Suryakencana ke Puncak Gede berupa tangga-tangga batu yang berundak-undak, berputar-putar terus menanjak, dan dinaungi pohon cantigi. Sekitar satu jam perjalanan, tepat pukul 14.00 WIB, kami tiba di bibir kawah, inilah Puncak Gede yang berketinggian 2.958 mdpl.

Puncak Gede - 2.958 mdpl
Pendakian di saat weekend memang sangat ramai di Gunung Gede Pangrango. Tidak hanya pendaki yang meramaikan Puncak Gede, bahkan penjual makanan dan minuman pun juga melimpah ruah. Kawah Gunung Gede cukup luas, awalnya tertutup kabut, namun menjelang sore kabut perlahan menghilang sehingga Gunung Pangrango kelihatan jelas. Di tepi bibir kawah dipasang semacam pagar dari kawat untuk keamanan. Di puncak Gede, saya bertemu dengan mas Ahmad Doank  dan Roni Bolang yang sebelumnya akrab di Facebook. Mas Dani juga bertemu teman-temannya yang sebelumnya kenal di Malang.

Bendera Gamananta di Puncak Gede

Puncak Gede, 2.958 mdpl


Cukup lama kami di Puncak Gede, sekitar 1,5 jam untuk istirahat, foto-foto, dan menyapa pendaki lain yang baru sampai. Pukul 15.45, kami segera turun ke Kandang Badak, karena khawatir tidak mendapat tempat camp saking ramainya. Ada satu pengalaman menarik bagi saya dan Mas Dani khususnya saat turun menuju Kandang Badak, yaitu menuruni Tebing Setan yang mengharuskan pendaki turun atau naik satu per satu. Bila nyali kurang kuat, bisa melalui jalur alternatif yang lebih memutar. Sekitar 1 jam 15 menit kami berjalan, akhirnya kami sampai di Kandang Badak yang sangat riuh, ada beberapa pendakian bersama nampaknya atas nama Pecinta Alam.

Zaka menuruni tebing setan

Setelah mencari tempat, akhirnya Farhat menemukan tempat agak atas, dekat dengan sumber air. Sempat hujan kala kami mendirikan tenda, namun kala tenda sudah berdiri, hujan berhenti. Saya, Mas Dani, Wahyu, dan Zaki istirahat di tenda Consina milik Mas Dani, sedangkan sisanya berada di tenda milik Farhat. Karena semua lelah, kami langsung saja tidur walau waktu masih menunjukkan pukul 18.15 WIB. Alhasil, tidak ada satu pun yang bersedia memasak makan malam, dan makan malam pun ditiadakan karena saking capeknya.

Minggu, 5 Mei 2013
Begitu lelap nampaknya kami tertidur, baru pukul 04.00 kami terbangun dengan kondisi perut keroncongan. Kami segera mempersiapkan masak untuk sarapan, hanya mie instan saja karena kami berencana makan besar setelah dari Puncak Pangrango. Ketika terdengar penjual nasi udul bersahutan, kami juga ikut ramai-ramai membeli sebungkus nasi uduk untuk mengganjal perut. Ternyata, Farhat dan Wahyu agak kurang fit, sementara Fahrul memilih membantu memasakkan untuk kami karena dia sebelumnya sudah pernah ke Pangrango. Sehingga, peserta ke puncak Pangrango adalah saya, Zaki, Zaka, dan Mas Dani.

Summit to Pangrango
Perjalanan ke Puncak Pangrango

Kami mulai berjalan menuju puncak Pangrango sekitar pukul 07.45 WIB. Kami hanya membawa satu buah carrier milik Wahyu berisi konsumsi untuk ngemil di Mandalawangi. Karena bawaan kami ringan, kami relatif ngebut berjalan menuju puncak. Trek menuju Puncak Pangrango relatif menguras tenaga, banyak tanjakan dan banyak pohon-pohon tumbang. Kerapatan vegetasi lumayan rapat, karena di sini lebih terjaga hutannya. Dulu banyak ditemukan panther atau semacam harimau di sini pada tahun '90-an. Tapi, kini tidak ada lagi, musnah karena perburuan liar.

Puncak Pangrango, 3.019 mdpl

Sekitar 1,5 jam berjalan, akhirnya kami menemukan sebuah gubuk dan patok trianggulasi. Inilah Puncak Pangrango yang berketinggian 3.019 mdpl. Tidak seperti Puncak Gede yang mana mata kita bebas memandang ke segala arah, di Puncak Pangrango masih rapat vegetasinya, sehingga pemandangan bebas hanya didapat dari satu penjuru, yaitu ke kawah Gede. Di atas kami, awan biru dan balutan seperti kapas seolah berlari-lari, sungguh indah.

Alun-alun Mandalawangi
Setelah puas 15 menit berfoto-foto, kami segera berjalan menuju lembah Alun-alun Mandalawangi. Untuk menuju ke sini, hanya berjarak 10 menit dari Puncak Pangrango, melalui jalur tepat di belakang gubuk. Hanya ucapan-ucapan asma Illahi yang keluar dari bibir, kala langkah ini memasuki gerbang lembah Mandalawangi. Tempatnya tidak seluas Suryakencana, namun edelweissnya besar-besar, dan lebih rimbun. Lebih hening dan lebih bersih dibandingkan Suryakencana. Tidak banyak yang camp di sini semalam, karena kabarnya semalam sempat badai. Di sini kami sempat berfoto bersama pendaki cilik bernama Raga, yang diajak mendaki bersama ayahnya sendiri. Salut! Kami segera mengeluarkan bekal kami dari carrier, menyeduh kopi, menikmati roti selai sebagai pengisi perut. Sedikit-sedikit menerawang kala Soe Hok Gie sedang merenung di tempat ini, Lembah Kasih Mandalawangi.

Bersama Raga, pendaki cilik asal Jakarta

Damainya lembah kasih Mandalawangi

Awan biru di Alun-alun Mandalawangi

Setelah puas menikmati Mandalawangi dan menghabiskan bekal, pukul 10.45 kami bergerak turun menuju Kandang Badak. Perjalanan turun terasa cepat, karena kami sering berlari dan melompat, membuat pendaki-pendaki lain ikut minggir karena mempersilakan kami lewat. Hasilnya terasa, hanya 55 menit kami perlukan untuk turun dari Pangrango ke Kandang Badak. Dan sesampainya di Kandang Badak, makan siang sudah siap sedia hasil Chef Fahrul. Menunya, nasi kare, dadar telur, dan omelet telur. Kami menghabiskan semua konsumsi yang ada siang itu. Hasilnya, kami kekenyangan dan malah membagi-bagikan beberapa bungkus nasi kepada pendaki-pendaki lain yang masih camp. 

Proses repacking kami cukup memakan waktu, sehingga baru bisa meninggalkan Kandang Badak sekitar pukul 16.15 WIB. Jalur turun sepertinya akan membosankan, menuruni tangga-tangga, berputar-putar, nyaris sama seperti mendaki Gunung Arjuno-Welirang lewat jalur Tretes. Saya, Mas Dani, Zaki, Farhat, dan Fahrul turun dengan santai ke Cibodas, sedangkan Zaka dan Wahyu berjalan lebih dulu. Kami baru tiba di basecamp Cibodas sekitar pukul 20.30 WIB. Administrasi beres, kami segera menuju warung untuk makan malam. Sebelum memesan makanan, kami sempat mampir bersilaturrahmi ke basecamp Indonesia Green Ranger (IGR). Di sanalah plakat "In Memoriam Soe Hok Gie dan Idhan Lubis" berada, setelah dipindahkan dari Puncak Mahameru pada Desember 2012 lalu oleh IGR. Di sini kami juga berkenalan dengan Mas Ijul, senior Zaki dan Zaki semasa sekolah, dan juga berkenalan dengan Bang Idhat Lubis, saudara kandung almarhum Idhan Lubis yang tewas bersama Soe Hok Gie di Mahameru.

Basecamp Indonesia Green Ranger Cibodas

Berfoto di depan gerbang Cibodas, wajah-wajah yang lelah

Plakat In Memoriam Soe Hok Gie dan Idhan Lubis yang sebelumnya tertancap di Mahameru

Berfoto bersama. Depan berkacamata adalah Bang Ijul, 
Kanan belakang adalah Bang Idhat Lubis. Belakang nomor tiga dari kiri adalah Farhat.

Setelah berfoto-foto dan saya sempat membeli satu buah T'Shirt Gede Pangrango, kami kembali ke warung untuk makan. Karena uang saya menipis, saya hanya memesan satu buah es degan kelapa muda. Sisanya makan. Setelah kenyang, pukul 22.00 WIB kami kembali ke asrama Cipanas naik angkot carteran. Tiba di asrama pukul 23.00, langsung saja mata terlelap dan terpejam. Usai sudah ekspedisi Gede Pangrango kali ini. Besoknya harus pulang meninggalkan Jawa Barat.

Senin, 6 Mei 2013
Hari ini saya dan Mas Dani harus kembali pulang. Fahrul dan Farhat sudah kembali ke Tasikmalaya, Wahyu ke Sukabumi. Zaki dan Zaka tetap stay di Cipanas karena ada persiapan kejuaraan silat. Perjalanan kami kembali pulang cukup panjang. Pertama, harus naik angkot dulu selama kurang lebih satu jam menuju pusat Kota Cianjur. Setelah itu, ganti moda transportasi bus AC menuju terminal Leuwipanjang, Bandung. Perjalanannya sekitar 2,5 jam karena cukup padat terutama ketika masuk-keluar tol. Ketika turun dari angkot, kami bertemu dengan Pak Ade, warga Bandung yang sering naik Gunung Galunggung. Kami bertukaran nomor handphone, barangkali suatu saat kami main ke Galunggung bisa ditemani beliau. Sesampainya di Leuwipanjang, kami ganti bus Damri menuju terminal Cicaheum. Karena, di Cicaheum inilah tempat pulang perginya bus-bus luar kota.

Lalu lintas Kota Bandung cukup padat sore hari itu. Sejam kami tempuh semenjak berangkat dari Leuwipanjang. Pukul 16.00 WIB tepat, kami sampai di Cicaheum. Segera kami menuju konter loket bus Budiman, yang akan mengantar kami ke Yogyakarta. Kami memilih estafet, khususnya Mas Dani karena tiket kereta pulang ke Malang sangat mahal, sudah menyentuh 175.000 rupiah. Karena bus baru berangkat pukul 18.30, kami menunggu di ruang tunggu sembari sholat di musholla terminal. Pukul 18.30 kami berangkat, mampir dulu di pool bus ini di daerah Cibiru untuk ambil penumpang lain, selanjutnya pukul 19.30 WIB langsung berangkat menuju Yogyakarta. Bus berhenti satu kali untuk servis makan di Ciamis, sekitar pukul 23.15 WIB.

Selasa, 7 Mei 2013
Perlu diketahui, bus ini melalui kota-kota seperti Rancaekek, Nagrek, Garut, Ciawi, Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, Cilacap, Banyumas, Purworejo, hingga akhirnya sampai di terminal Giwangan, Yogyakarta pada pukul 06.30 WIB. Di terminal ini kami berpisah. Mas Dani lanjut naik bus ekonomi AC menuju Surabaya, lalu oper bus ke Malang, karena tanggal 9 Mei dia ada pendakian lagi ke Semeru bersama teman-temannya. Sementara, saya main sejenak ke kawan saya di UGM selama satu malam. Esoknya saya menginap di kos kawan saya di kawasan UNS semalam juga. Menunggu teman-teman Gamananta datang pada 9 Mei 2013, untuk melanjutkan pendakian kembali, Ekspedisi 2M alias Merbabu-Merapi. Sungguh pasti akan sangat berkesan. See you next trip, Ji! Ro! Lu! Budal!

Special Thanks to:
Allah SWT
Orang tua kami masing-masing
Kak Faliq Mubarok
Zaki dan Zaka
Asrama ICM Cipanas
Ari dan Laju
Bang Ijul dan Bang Idhat Lubis
Kidung UGM dan Ugo UNS

Ditulis oleh:
Rifqy Faiza Rahman

Salam Respect!
About Gamananta TravelerCommunity

Gamananta adalah sebuah komunitas traveler yang selalu membawa semangat dan orientasi konservasi dalam setiap kegiatan dan perjalanannya. Gamananta merupakan dua kata gabungan dari bahasa Sansekerta, "Gama" berarti perjalanan dan "Ananta" berarti tanpa batas. Gamananta berusaha untuk berjalan tanpa batas demi visi dan misinya.

Artikel Terkait

4 comments:

  1. waah, suskes ya ekspedisi selanjutnya..

    ReplyDelete
  2. seru juga nih, jadi kepingin naik gunung juga.
    tapi gk pernah ada yg ngajak T_T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo dulur kalau mau naik, sering2 update di Grup FB Komunitas Pendaki Gunung Indonesia, disana banyak info soal naik gunung. Klo kami, agenda terdekat adalah gunung arjuno welirang, argopuro, sindoro sumbing slamet, di luar gunung juga ada agenda traveling ke tempat2 wisata.

      Delete
  3. bro mampir di blog ane juga ya bro Dani Lombok he he he

    ReplyDelete

No Spam, No Sex, No SARA
Junjung Tinggi Kebebasan Berpendapat yang Bertanggung Jawab