Monday, 1 July 2013

Pendakian Bersama Gamananta ke Gunung Semeru (Part 1)


Rindu Gunung Semeru. Serba pertama untuk Gamananta. Fisik dan mental yang kuat, disertai tanggung jawab dan rasa peduli yang besar, mengantarkan kami menggapai Puncak Mahameru yang ketiga kalinya dalam sejarah pendakian Gamananta ke Gunung Semeru.

Ditulis oleh:
Fahriansyah Nur Afandi (Project Manager Gamananta)
Penanggung Jawab Pendakian Bersama

Mungkin kata itu yang tepat bagi saya yang sangat mengharapkan untuk menjadikan Gunung Semeru sebagai gunung pertama pada pendakian yang saya lakukan, walau akhirnya Gunung Butak yang ada dalam kamus pendakian pertama saya. Pengalaman saya dan teman-teman Gamananta ke Gunung Butak cukup menjadikan pelajaran bagi saya bagaimana pendakian yang lebih baik ke depan, walau bonus puncak belum berhasil digapai.


Saya yang termasuk newbie di Gamananta, mendapat amanah untuk menjadi koordinator dalam pendakian bersama ke Gunung Semeru. Suatu tantangan bagi saya, karena bisa dibilang saya ini membawa nyawa banyak orang ke alam bebas, hehehe. Sudah dua kali bendera Gamananta berkibar di Puncak Mahameru dalam perjalanan sebelumnya, kini dengan asa mengibarkan Gamananta ketiga kalinya akan kami perjuangkan pada tanggal 26-30 Juni 2013, tepat sehari setelah UAS di kampus kelar. Karena musim liburan, tak pelak dari kuota 30 peserta yang kami tetapkan, yang tertarik untuk ikut hampir 35-an orang. Tapi, mendekati hari-H, peserta banyak yang mundur dan akhirnya total peserta yang memastikan ikut adalah 29 orang.

Suatu tantangan bagi Gamananta, karena hampir sebagian peserta adalah newbie dalam bidang pendakian gunung. Karena itulah, sebelum pendakian ke Semeru, selain jogging bareng setiap pagi di kampus, peserta di-drill­ fisik dan mental ke Gunung Panderman dan Gunung Penanggungan sebagai tempat tes peserta. Berkali-kali kami bertemu untuk mempersiapkan semuanya. Karena, menurut Trio Budal pendiri Gamananta ini, persiapan yang matang menjadi sangat penting. Mereka bilang bahwa dalam pendakian, puncak bukanlah segala-galanya, yang terpenting adalah turun dengan selamat dan puncak adalah hadiah dari Tuhan.

Antusiasme peserta membuat saya bersemangat dalam mempersiapkan pendakian kali ini. Dengan dibantu arahan teman-teman, pembagian tugas pun juga cukup merata untuk bagian konsumsi, perlengkapan, transportasi, dan manajemen perjalanan. Bahkan untuk benar-benar memastikan semuanya terkendali, kami masih rapat dua hari berturut-turut sebelum tanggal keberangkatan, yaitu tanggal 25-26 Juni 2012. Foto-foto dan video tentang keindahan alam Gunung Semeru yang diupload di grup Facebook Gamananta membuat semangat kami semakin membuncah, tak sabar rasanya segera memulai langkah dari Ranu Pani. Mahameru, tunggu kami!

Rabu, 26 Juni 2013
Gazebo Universitas Brawijaya
Sore hari pukul 16.00, kami mulai berkumpul di gazebo Universitas Brawijaya. Cukup banyaknya kesibukan para peserta yang belum selesai membuat kami tidak berkumpul tepat waktu. Saya sudah memantau kesediaan logistik dan transportasi kepada penanggung jawab masing-masing. Setelah repacking, sholat, dan semuanya beres, kami baru benar-benar berangkat dari kampus sekitar pukul 20.30. Tiga angkot putih akan mengantar kami yang berjumlah 26 orang ke Tumpang. Dua sisanya masih dalam perjalanan dari Jogja, Zaki dan Evi, mereka akan diantar Roni (tidak ikut) dan Mustofa (juga peserta pendakian) dengan sepeda motor.

Nongkrong bareng di depan rumah Mbak Nur sebelum tidur

Tak sampai satu jam perjalanan, kami telah sampai di Tumpang. Segera kami berjalan ke rumah Mbak Nur (pemilik truk sewaan). Di sana ternyata sudah berjubel pendaki yang ikut istirahat malam ini. Ada yang dari Jogja, Bandung, Jakarta, bahkan Kalimantan. Semuanya menuju ke satu tujuan, Gunung Semeru. Harapan kami, kami semua di sini bukanlah pendaki karbitan seperti halnya pendaki lain yang terobsesi karena film 5 cm. Suguhan teh hangat dari Mbak Nur sangat membantu menghangatkan badan kami. Mbak Nur juga memberikan sejumlah informasi penting terkait registrasi pendakian Semeru yang terkini. Sementara dari kami sudah terlelap di rumah atau di atas truk, saya dan beberapa teman mencari makan malam dan belanja konsumsi tambahan di minimarket.

Kamis, 27 Juni 2013
Tumpang – Ranu Pani
Suara qiro’ mulai lantang terdengar dari masjid Tumpang. Segera kami terbangun dan bergegas menuju masjid untuk persiapan sholat Subuh. Segarnya air wudlu dan sholat membuat mental kami semakin kuat menyambut hangat ajakan Mahameru untuk segera mampir ke alamnya. Setelah sarapan ala kadarnya, tepat pukul 05.30 kami berangkat menuju Ranu Pani. Perjalanan yang memakan waktu hampir dua jam perjalanan tidak menyurutkan semangat kami. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan panorama alam yang begitu indah, jurang-jurang dalam yang tampak hijau karena tertutupi pepohonan yang sangat rimbun. Ketika truk tiba di pertigaan Jemplang, Indonesia menyuguhi kami pemandangan bukit Teletubbies yang sangat mencengangkan mata, tak sadar bibir pun bertasbih kepada sang Ilahi. Musibah bocornya ban belakang truk di perkampungan Ranu Pani tidak mampu mematahkan semangat kami. Nama Mahameru terngiang-ngiang di telinga kami, tak terkecuali saya.

Pemandangan yang tersaji dalam perjalanan ke Ranu Pani

Tetap ceria walau ban truk bocor

Setibanya kami di Ranu Pani, kami bersiap-siap berjalan menuju pos registrasi pendakian. Ternyata, sekarang sudah disediakan parkir khusus kendaraan bermotor bagi pendaki, walau masih harus berjalan cukup jauh ke pos perizinan. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.30, sedikit terlambat dari jadwal. Saya segera membagi tugas, beberapa teman repacking, sarapan, dan saya bersama Lita, Rizky, serta Mbak Ika mengurus perizinan. Menu rawon dan teh hangat memenuhi kebutuhan gizi kami pagi itu. Antrean sebenarnya tidak terlalu panjang. Namun, karena loket yang dibuka cuma satu, membuat proses registrasi cukup memakan waktu. Sembari antri, saya ngobrol-ngobrol dengan pendaki lain, ternyata ada juga yang dari luar negeri, contohnya pendaki asal Malaysia.

Sarapan di warung sebelum mendaki

Saya dan Frida (kiri) di depan kantor resor Ranu Pani

Untuk informasi lebih lanjut tentang tata cara registrasi pendakian Gunung Semeru, Anda bisa cek lebih lanjut di website resmi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, www.bromotenggersemeru.com. Secara umum, persyaratan yang dibutuhkan untuk mendaki Gunung Semeru adalah sebagai berikut:

  • Fotokopi identitas diri yang masih berlaku sebanyak 2 lembar
  • Surat keterangan sehat dari dokter/rumah sakit dan di fotokopi sebanyak 1 lembar
  • Membayar karcis masuk, asuransi, dan surat izin pendakian per orang/pendaki sebesar Rp. 7.000 ,- (bagi umum, dengan rincian karcis masuk Rp. 2.500,-, surat ijin pendakian Rp. 2.500,-, dan asuransi Rp. 2.000,-), Rp. 5.750,- (bagi pelajar/mahasiswa, dengan rincian karcis masuk Rp. 1.250,-, surat ijin pendakian Rp. 2.500,-, dan asuransi Rp. 2.000,-) 
  • Mengisi biodata peserta pendakian, berupa: nama lengkap, umur, alamat beserta nomor telepon keluarga yang bisa dihubungi secara lengkap
  • Mengisi buku tamu (nama ketua rombongan, alamat, jumlah pengikut, nomor surat izin, tanggal naik dan tanggal turun sesuai yang ada disurat izin)
  • Mengisi formulir daftar barang bawaan setiap anggota tim
  • Membawa turun sampah kelompok yang dihasilkan selama pendakian


Foto bareng sebelum berjalan menuju Ranu Kumbolo

Setelah semua beres, kami berkumpul. Kami sempatkan diri untuk berfoto bersama di basecamp sebelum berangkat. Tepat pada pukul 10.00, dengan doa bersama dan semangat Ji! Ro! Lu! Budal!, kami mulai mengukir jejak perjalanan kami dengan langkah-langkah kecil menuju Mahameru.

Saya dan teman-teman di depan gerbang masuk pendakian

Saya dan Arif (kiri) memasuki jalur pendakian

Dalam pendakian kali ini, tim dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok depan dipimpin oleh Mas Rifqy sebagai pembawa tenda dan tim perintis. Kelompok dua dipimpin oleh Agus dan kelompok tiga sebagai sweeper, dipimpin oleh Rizky.

Ranu Pani – Watu Rejeng – Ranu Kumbolo
Tim depan sudah berjalan jauh. Saya di kelompok dua berjalan santai bersama kelompok tiga di belakang. Trek awal dari Ranu Pani berupa aspal landai lalu menurun, lalu belok kanan melewati gerbang pendakian. Jalur pun berubah menjadi jalan setapak beralas tanah. Selepas gerbang, jalur pelan-pelan menanjak cukup menguras tenaga. Bagus untuk pemanasan awal. Di ujung tanjakan akan dijumpai papan himbauan dari pengelola, dan jalur akan datar berputar-putar nan panjang.

Istirahat sejenak di Watu Rejeng

Pos Landengan Dowo kami jumpai setelah berjalan sekitar 3 km dari Ranu Pani. Tinggal satu kilometer lagi akan sampai di Pos I yang berada di persimpangan jalur. Trek berpaving mulai habis selang beberapa meter dari Pos I. Tak sampai satu kilometer kami telah sampai di Pos II. Jika cuaca cerah, Mahameru sudah bisa dilihat dari sini. Setelah berjalan enam kilometer dari Ranu Pani, sampailah kami di pos Watu Rejeng. Sama seperti Landengan Dowo, tidak ada bangunan pos di sini. Hanya semacam pos ekstra, tetengernya adalah tebing di atas pendaki yang sangat indah. Kami beristirahat di sini lumayan lama sekitar 10-15 menit sebelum berjalan lagi menuju Pos III.

Setelah detak jantung kembali normal dan tenaga sedikt terisi oleh beberapa teguk air, kami berjalan kembali. Jalan tetap berputar-putar, kemudian kami melewati jembatan kayu untuk menuju pos III. Pada jalur setelah jembatan agak menanjak dan licin dengan cuaca yang sedikit mendung disertai gerimis pada saat itu. Saya mengingatkan saling menjaga dan membantu teman-teman yang lain agar tidak jatuh karena jalur yang cukup becek dan licin ini. Sambil bercengkerama tak terasa kami sudah sampai di pos III dengan kondisi atap yang ambruk dan menutupi tempat istirahat di pos III. Saya lihat jam tangan telah menunjukkan waktu 12.50. Kami beristirahat dan sembari mengisi perut yang sudah mulai keroncongan.

Setelah cukup, kami melanjutkan perjalanan. Selepas Pos III kami dihadapkan trek yang sangat menanjak, cukup menguras tenaga. Tinggal tiga kilometer lagi kami akan sampai di Ranu Kumbolo. Kembali kami menyusuri jalur berkelak-kelok, naik turun yang cukup bikin lelah. Jalur ini menjadi khas di Gunung Semeru. Sambil berjalan, kami bersenda gurau demi menghibur dan menghilangkan rasa lelah akibat tanjakan curam yang kami lewati tadi. Sekitar pukul 14.00, kami sampai di Pos IV. Dari sini kami dapat melihat langsung dari kejauhan surganya Gunung Semeru, yakni Ranu kumbolo yang memanjakan mata kami dengan jernih airnya yang hijau kebiruan dan dikelilingi bukit-bukit indah nan menawan. Saya menghela nafas dan tak lupa terus mengucapkan rasa syukur kepada Sang Pencipta yang telah memberikan keindahan di Indonesiaku ini.

Saya bersama Syifa (kiri), Mbak Nufus (tengah), dan Hadi (kanan)
menjelang tiba di Ranu Kumbolo

Masih tetap semangat walau Ranu Kumbolo masih cukup jauh

Rasa lelah dari Ranu Pani menuju Pos IV tak terpkirkan lagi karena sudah terbayar dengan keindahan yang disajikan oleh Ranu Kumbolo yang telah banyak orang bicarakan. Terus melewati jalan setapak dan akhirnya kami menemukan Pos IV dan kami melanjutkan perjalanan menuju tempat camp yang tendanya sudah didirikan oleh tim pertama. Kami menuruni bukit yang agak terjal untuk menuju tempat camp, setelah berada di tempat camp saya mencoba merasakan segarnya Ranu Kumbolo. Namun di balik indah pemandangan yang disajikan oleh Ranu Kumbolo saya sangat miris sekali melihat banyak tumpukan sampah sisa para pendaki yang tidak mau menjaga kebersihan dan keasrian di Ranu Kumbolo. Banyak sampah plastik berserakan di sekitar camp juga ada sisa kotoran manusia yang tidak dipendam kembali. Sungguh sangat disayangkan. Kami pun berencana untuk membawa sisa sampah-sampah plastik pada saat kami kembali turun menuju Ranu Pani.

Bahu-membahu mendirikan tenda

Kami memang berencana untuk camp semalam di Ranu Kumbolo. Segera kami membuat makan malam. Kondisi sore itu sangat cerah dan pas sekali menikmati indahnya Ranu Kumbolo. Tak lupa kami segera mengambil wudlu di Ranu Kumbolo yang kemudian kami segera menjama’ sholat Duhur dan Asar secara bergantian. Nampak pelangi terukir jelas di langit sore itu. Tak terasa hari sudah mulai gelap, kami segera menyiapkan makan malam tiap tenda dan bergantian untuk sholat Magrib. Setelah semua selesai dibagi tiap tenda kami pun bersama-sama berdo’a bersama sebelum makan yang menjadi tradisi kami. Santapan makan malam yang nikmat meski makanan tak seperti makanan rumah karena kami berada di gunung dan menjadi suatu kenikmatan tersendiri.

Pelangi di langit Ranu Kumbolo

Ditemani rintik hujan, kami menikmati makan malam dengan rasa syukur atas nikmatnya makanan yang kami santap. Setelah makan malam kami lanjutkan berdiskusi bersama tentang banyak hal baik agama, pengalaman pendakian, dan lain-lain. Terasa keakraban pada malam itu, meski hujan yang rintik bertambah semakin deras dan menambah dinginnya Ranu Kumbolo malam ini.  Arah jarum jam sudah menunjukkan pukul 20.30, kami semua pergi ke tenda masing-masing untuk beristirahat karena esok kami harus bersiap menuju Kalimati.

About Gamananta TravelerCommunity

Gamananta adalah sebuah komunitas traveler yang selalu membawa semangat dan orientasi konservasi dalam setiap kegiatan dan perjalanannya. Gamananta merupakan dua kata gabungan dari bahasa Sansekerta, "Gama" berarti perjalanan dan "Ananta" berarti tanpa batas. Gamananta berusaha untuk berjalan tanpa batas demi visi dan misinya.

Artikel Terkait

0 comments:

Post a Comment

No Spam, No Sex, No SARA
Junjung Tinggi Kebebasan Berpendapat yang Bertanggung Jawab