Monday, 1 July 2013

Pendakian Bersama Gamananta Ke Gunung Semeru (Part 2 - End)



Pagi ini, 28 Juni 2013 begitu dingin. Gerimis rintik-rintik tak sederas semalam. Aktivitas pagi ini kami isi dengan bergantian solat Subuh, dan mempersiapkan sarapan untuk tim besar ini. Suhu pagi di Ranu Kumbolo sangat dingin, air danau yang saya pakai untuk wudhu membuat jari-hari saya menjadi kaku. Sayang sekali, kabut Ranu Kumbolo menghalangi terbitnya matahari pagi ini. Hari ini, jumlah anggota tim berkurang menjadi 27 orang, karena Teguh dan Mustofa harus segera kembali ke Malang. Teguh yang mengejar jadwal pesawat akan pulang kampung ke Medan, dan Mustofa ada kegiatan kepanitiaan. Seusai menyantap sarapan sop, omelet telur dan nugget, saya dan yang lain segera repacking. Setelah berdoa bersama dan meneriakkan jargon Gamananta, kami menyempatkan diri berfoto dahulu. Sekitar pukul 10.50, kami mulai berjalan meninggalkan Ranu Kumbolo.

Berfoto di depan Tanjakan Cinta


Tantangan trek awal adalah Tanjakan Cinta. Tanjakan Cinta terkenal dengan mitosnya, yang apabila tiap pendaki yang mencintai seseorang kemudian naik dan terus memikirkan orang yang dicintai nantinya semua mimpi tentang orang yang kita cintai akan terwujud, namun ada syaratnya yakni pada saat kita sudah naik bukit tanjakan cinta tidak diperbolehkan sedikit pun berhenti dan menoleh ke bawah. Ya, namanya juga mitos, selain dua bukit tersebut memang berbentuk seperti lambang hati.

Tanjakan ini tidak terlalu panjang, walaupun cukup membuat ngos-ngosan. Ketika sampai di ujung tanjakan, saya istirahat sejenak dan melanjutkan perjalanan kembali. Dari ujung tanjakan, kami disambut dengan pemandangan yang menakjubkan. Inilah Oro-oro Ombo, hamparan sabana  luas bermandikan bukit, hutan pinus, dan tanaman lavender ungu yang sedang berbunga. Saya memilih jalur turun yang terjal namun lebih cepat sampai di bawah, dan jalur kembali datar hingga sampai pintu masuk Cemoro Kandang. Di sini, kami beristirahat sejenak.

Istirahat sejenak di Cemoro Kandang

Dari pos Cemoro Kandang (2.500 mdpl), trek berdebu mulai landai dan menanjak hingga sampai pos Jambangan. Angin siang hari ini cukup kencang hingga menimbulkan bunyi desis di antara pepohonan. Sepanjang perjalanan menuju Jambangan (2.600 mdpl), saya sempat bertemu pendaki yang baru saja turun dari puncak. Darinya saya mendapatkan informasi kalau malam sebelumnya terjadi badai ke arah puncak walaupun dia sempat mencapai puncak. Mendengar cerita singkat darinya, kami sempat khawatir bila pada saat kami perjalanan puncak nanti malam juga terkena badai. Kami terus berdoa agar saat perjalanan menuju puncak cuaca mendukung dan diberi kelancaran.

Ujung tanjakan Cemoro Kandang ini adalah Jambangan. Di sini bunga edelweiss mulai terlihat banyak. Masih sekitar 1-2 km lagi untuk menuju Kalimati yang treknya cenderung menurun. Dari Jambangan kami dapat dengan jelas melihat puncak semeru dari kejauhan.

Semeru sudah mulai terlihat dari Jambangan

Sekitar 20 menut kemudian, sampailah kami di Kalimati, tempat camp teraman sebelum ke puncak. Kalimati (2.700 mdpl) merupakan dataran luas dengan vegetasi cantigi, alang-alang, edelweiss dan pinus. Begitu takjub kala saya melihat puncak Semeru yang nampak dekat di depan mata, dikelilingi awan putih ditambah birunya langit cerah di siang itu semakin memperindah pemandangan. Setelah istirahat sejenak, kami berbagi tugas. Sebagian mendirikan tenda dan mempersiapkan masakan, sebagian mengambil air ke Sumber Mani.

Kabut sore di Kalimati

Semakin petang, suhu di Kalimati semakin dingin dan angin berhembus cukup kencang. Nampak di sebelah barat terjadi badai, namun untungnya tak terbawa ke Kalimati. Dinginnya malam ini membuat saya memilih berada di dalam tenda. Menjelang malam, salah satu teman kami, Lia, mengalami kedinginan cukup hebat, semacam gejala hipotermia. Wajahnya terlihat pucat dan sekujur tubuhnya sangat dingin. Saya pun segera meminta teman-teman menyelimutinya dengan sleeping bag yang masih hangat. Saya juga meminta mbak Fitrah memasakkan air panas untuk menghangatkan tubuhnya. Perlengkapan tidur berlapis menyelimuti tubuhnya. Saya dan teman-teman sempat khawatir dan menyarankannya untuk tidak ikut ke puncak melihat kondisinya yang tidak memungkinkan. Namun, semangatnya yang tinggi membuat kami luruh dan mengizinkannya ikut ke puncak. Kami semua pun segera tidur, beristirahat mengumpulkan energi untuk summit attack nanti.

Summit Attack!
Setelah berdoa, pukul 23.00, kami mulai berjalan menuju puncak. Sempat salah jalur pada awalnya, akhirnya kami berhasil menemukan jalur yang benar. Setelah jalur menurun hingga masuk hutan, jalur kembali menanjak. Cukup banyak pendaki yang akan menuju puncak. Kami pun berjalan santai. Terkadang beberapa kali berhenti untuk break sesaat. Kondisi hutan yang gelap dan jalur yang dibayangi jurang membuat kami harus tetap fokus dan waspada. Satu jam kemudian kami tiba di camp Arcopodo (2.900 mdpl).

Kami beristirahat di Arcopodo cukup lama, sembari menunggu kondisi Lia. Terlebih, Lia sempat muntah dan terlihat sangat letih. Kondisi Lia yang lemas membuat kami menawarkan kembali kepadanya untuk turun lagi ke Kalimati. Namun, Lia masih menolak dan bersikeras untuk tetap ke puncak.

Tak sampai 30 menit dari Arcopodo, kami sampai di perbatasan vegetasi yang disebut Kelik. Para pendaki mulai antri berjalan satu per satu untuk melewati gigiran tipis memasuki trek berpasir dan berbatu.  Awalnya kami berjalan beriringan, hingga akhirnya mulai terpisah untuk memberikan kesempatan pendaki lain yang berjalan lebih cepat. Semakin jauh saya berjalan, saya lihat Lia yang didampingi Bustomi dan Rizky semakin jauh tertinggal. Kebetulan yang saat itu saya masih bersama dengan beberapa teman yang masih tetap berjalan. Sempat terjadi sesuatu yang tidak saya inginkan, pada saat saya berjalan setengah dari perjalanan puncak penyakit radang lambung saya kambuh lagi dan pada saat itu saya berjalan sendirian dan tidak ada seorang teman pun karena kami semua sudah berpisah. Untungnya pada saat perjalanan saya melihat mbak Ika, mas Kurniawan dan mas Muchlis yang berada di atas cukup jauh dari tempat saya beristirahat sejenak. Kemudian saya hampiri mereka. Setelah saya  bersama mereka saya melihat mas mukhlis yang ternyata sakit tenggorokannya juga semakin parah. Namun kami pun tetap terus melanjutkan perjalanan meski dalam kondisi seperti ini.

Hujan kabut pun menemani perjalanan kami, untuk perjalanan kali ini kami banyak beristirahat karena memang kondisi saya dan mas Muchlis yang kurang mendukung. Setiap kali kaki melangkah saya selalu meyakinkan diri untuk bisa sampai menuju puncak tak lupa saya terus berdoa setiap kali kaki melangkah. Waktu yang semakin beranjak pagi dan rintik kabut tak lagi turun, kami melanjutkan perjalanan kembali.

Tak terasa saat perjalanan kami tinggal seperempat lagi menuju puncak bayangan, dari lereng sejenak menikmati sunrise dari sisi timur lereng Semeru yang sangat indah. Terlihat jelas cahaya matahari pagi yang terbit ditemani dengan hamparan samudera awan yang sangat terlihat jelas.
Tak terasa hari pun semakin terang dan jam menunjuk angka 06.30 ketika terlihat dari kejauhan puncak bayangan yang menanti kami. Untuk menuju puncak yang sesumgguhnya kami masih harus melewati beberapa kali puncak bayangan yang terus menguji kesabaran dan tekad kami. Dengan terlihatnya puncak bayangan, tekad dan keinginan kuat saya semakin yakin bahwa saya harus bisa sampai di puncak semeru. Sampai-sampai tak terasa rasa sakit yang sebelumnya saya alami mendadak hilang.  Saat selesai melewati puncak bayangan yang terakhir  dan sedikit berjalan melewati trek yang agak sempit, sambil berjalan sempoyongan, bergetar hati dan takjub sampai tak terasa air mata menetes dengan sendirinya kala melihat ujung dari trek yang panjang ini.

INDONESIA!!! KITA DI MAHAMERU!!!
Rasa tak percaya masih terpikir dalam benak saya dengan melihat sekeliling terbentang luas indahnya samudra awan. Tak lama kemudian saya disambut oleh beberapa teman yang sudah sampai terlebih dahulu di puncak, antara lain Nata, Midori, Mas Kurniawan, Mas Muchlis, Mbak Ika, Winanto, Dodik dan lainnya. Berjalan dengan sempoyongan yang kemudian saya memeluk Lita dengan tetesan air mata haru. Tak lupa kemudian saya sujud syukur atas nikmat yang telah Allah berikan, sembari mengucap “Subhanallah wal hamdulillah, wa la ilaha illallahu wallahu akbar, la haula wa la quwwata illa, billahil 'aliyyil adzim”.   Rasa tak percaya saya yang masih ada di benak ini, karena bisa menapakkan kaki di puncak Mahameru bersama teman–teman.  Rasanya seperti mimpi yang menjadi kenyataan bisa menapak di Puncak Mahameru, puncaknya para dewa, gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 mdpl, gunung yang saat ini masih tetap aktif sebagai gunung berapi. Perjalanan yang sangat berarti bagi saya, karena Puncak Mahameru sudah menjadi puncak pertama saya yang selama ini saya impikan. Semeru menyajikan banyak pemandangan yang berkesan, keindahan alam yang selalu membuat saya terbelalak dengan keindahannya. Makin lengkap rasa syukur saya karena dapat menapaki keindahan ini bersama sahabat-sahabat saya yang sangat berkesan ini. Sembari istirahat menunggu teman-teman yang masih dalam perjuangan menuju puncak saya menyempatkan untuk berfoto-foto bersama sebagian teman yang sudah terlebih dahulu sampai di puncak.

Capek dan lelah hilang sudah dan terbayar lunas kala saya tiba di Mahameru

Pak David, akhirnya mencapai Puncak Mahameru yang lama diidam-idamkan

Satu per satu teman-teman Gamananta telah mencapai puncak

Gamananta berhasil menggapai puncak Mahameru ketiga kalinya

Setelah saya dan teman-teman, berikutnya menyusul teman-teman Gamananta lain yang berhasil sampai puncak. Mas Rifqy, Sukma, Jeanny, Frida, Zaka, Zaki, Nufus, Fitrah, Syifa dan lain-lainnya. Dari Evi, saya mendapat kabar kalau Lia terpaksa harus dibawa turun ke Kalimati kembali oleh Bustomi dan Rizky karena kondisinya sudah tidak memungkinkan lagi berjalan ke puncak.

Setelah semua berkumpul dan berdo’a bersama, kami pun segera turun karena arah jarum jam menunjukkan pukul 08.30. Untuk para pendaki memang tidak diperbolehkan berlama-lama di puncak karena pada pukul 09.00 arah angin yang membawa asap belerang dari kawah yang beracun langsung mengarah ke Puncak Semeru. Perjalanan turun kembali melewati jalur yang kami naiki sebelumnya, namun kondisinya berbeda. Ketika kami turun memang baru terasa bahwa trek menurun sangat curam sekali meski kita berjalan seperti sandboarding (jalur yang licin dan berpasir) dapat mempercepat kami turun. Namun jika kami lengah sedikit saja kami akan jatuh di jurang Blank 75 dan jika sudah jatuh pada jurang tersebut akan sulit untuk kembali naik kembali.

Trek yang dilalui saat turun ke Kalimati

Perjalanan turun ke Kalimati memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Kami tiba di Kalimati sekitar pukul 12.00. Saya berterima kasih sekali kepada Rizky dan Bustomi yang dengan rasa kepedulian dan tanggung jawabnya begitu tinggi sehingga merelakan tidak ikut ke puncak demi keselamatan Lia. Hari ini kami begitu lelah dan tertidur di dalam tenda hingga sore. Karena kondisi fisik teman-teman yang tidak memungkinkan untuk kembali ke Ranu Kumbolo, maka setelah berdiskusi dengan Mas Kurniawan, Mbak Ika, dan Mas Rifqy akhirnya kami tetap stay di Kalimati semalam lagi dengan konsekuensi menata ulang konsumsi dan besok pagi-pagi harus langsung turun ke Ranu Pani.

Pagi hari di Kalimati

Minggu, 30 Juni 2013. Tepat pukul 05.00, kami terbangun disambut oleh dinginnya kalimati yang menusuk tulang, kemudian kami sholat Subuh, dilanjutkan repacking dan merapikan tenda. Setelah semua selesai kami packing, kami pun berkumpul dan berdo’a sebelum menuju Ranu Kumbolo. dan kami pun melanjutkan perjalanan menuju Ranu Kumbolo. Kali ini kelompok 2 dan 3 berjalan duluan, sedangkan tim pertama belakangan karena masih merapikan tenda dan membawa sampah. Pukul 10.00 kami tiba di Ranu Kumbolo. Di sini kami istirahat sejenak untuk sarapan. Seusai sarapan, kami memungut sampah-sampah yang berserakan di Ranu Kumbolo untuk dibawa turun ke Ranu Pani.

Sampah tak ada, Ranu Kumbolo pun indah

Sungguh sangat disayangkan sekali, sampah-sampah plastik banyak berserakan disekitar danau Ranu Kumbolo, hal ini yang akan merusak keindahan alam surganya Semeru. Tidak ada salahnya kita menikmati sepuas mungkin keindahan alam ciptaan Tuhan, tapi jangan engkau mengotori keindahan ini dengan keserakahanmu.

Foto keluarga sebelum pulang, pamit kepada Ranu Kumbolo

Jam menunjuk angka 14.30. Setelah repacking selesai, kami bersiap berangkat menuju Ranu Pani. Sebelum berjalan kami berdo’a bersama dengan harapan bisa pulang dengan selamat. Kami pun berjalan dengan membawah oleh-oleh tumpukan sampah dalam plastik. Saat perjalanan menuju Watu Rejeng kami ditemani rintik hujan yang cukup deras, namun kami tetap melanjutkan perjalanan karena hari yang sudah semakin larut. Setelah menaiki tanjakan menuju Pos IV, jalur selanjutnya lebih sering naik-turun melalu Pos III, Pos II dan Pos I. Tiga jam kemudian akhirnya kami tiba di resor Ranu Pani. Kantor perizinan masih tutup saat kami hendak melapor. Akhirnya kami memilih mengisi perut kami terlebih dahulu yang kelaparan dengan menu rawon dan teh hangat. Seusai makan, saya segera ke pos perizinan untuk melapor. Malam yang semakin larut membuat kami harus segera turun ke bawah untuk mencari truk pulang ke Tumpang. Setelah tawar-menawar, akhirnya kami menggunakan dua moda, truk dan pick up yang masing-masing berkapasitas maksimal 15 orang. Rasa capek, lapar, dan lelah membuat saya malas bicara sepanjang perjalanan dan lebih memilih tidur. Sesampainya di Tumpang, kami segera berganti angkot putih dan mencarter untuk langsung diantar ke kampus kami. Sekitar pukul 23.00, kami tiba di kampus. Setelah berkumpul sejenak untuk evaluasi singkat, saya pun mempersilakan teman-teman pulang ke kos masing-masing. Beberapa dari kami masih bertahan di kampus untuk mengembalikan perlengkapan sewaan seperti tenda, sleeping bag, nesting, kompor, dan matras.

Sampai saat ini saya tetap bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk menikmati indahnya alam Semeru, rasa lelah dan letih saat perjalanan akhirnya dapat terbayarkan dengan suguhan keindahan Puncak Mahameru yang begitu menakjubkan dan tak kan pernah terlupakan sepanjang hidup saya. Inilah ciptaan yang diberikan Tuhan untukmu, Indonesia.

Special thank’s to:
Allah SWT,
Nabi Muhammad SAW,
Bapak dan Ibu kami masing-masing,
Crew Ekspedisi GAMANANTA Gunung Semeru 26-30 Juni 2013 (Fahri, Rizky, Lita,Jeanni, Mas Mukhlis,Mas Rifqy, Mas Kurniawan, Mbak Ika,Mbak Nufus),
Teman-teman Peserta Ekspedisi Gn. SEMERU 26-30 Juni 2013, (Zaki, Zaka, Bustomy, Winanto, Sukma, Eviliana, Mas Agus, Pak David, Mbak Fitrah, Mas Midori, Arif, Miftakul, Frida, Mustofa, Teguh, NATA, Dodik, Firdaus, dan Lia).

Ji! Ro! Lu! Budal!
About Gamananta TravelerCommunity

Gamananta adalah sebuah komunitas traveler yang selalu membawa semangat dan orientasi konservasi dalam setiap kegiatan dan perjalanannya. Gamananta merupakan dua kata gabungan dari bahasa Sansekerta, "Gama" berarti perjalanan dan "Ananta" berarti tanpa batas. Gamananta berusaha untuk berjalan tanpa batas demi visi dan misinya.

Artikel Terkait

0 comments:

Post a Comment

No Spam, No Sex, No SARA
Junjung Tinggi Kebebasan Berpendapat yang Bertanggung Jawab