Saturday, 24 August 2013

Mengejar Mentari 17 Agustus di Welirang - Arjuno

 
Arjuno-Welirang (lagi). Dalam kurun waktu tahun 2013 ini terhitung sudah ketiga kalinya GAMANANTA mendaki ke Gunung Arjuno-Welirang. Namun, ada tujuan lebih di perjalanan kali ini. Tak hanya sekedar mendaki - menikmati eksotisme alam Gunung Arjuno-Welirang - namun untuk mengibarkan bendera di atas sana, dan melaksanakan upacara sebagai peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-68 pada tanggal 17 Agustus 2013.

Kamis, 15 Agustus 2013
Gazebo Universitas Brawijaya menjadi meeting point yang disepakati dalam perjalanan kali ini. Pukul 13.00 WIB, ke-17 anggota sudah berkumpul. Kurang lebih 2,5 jam waktu kami gunakan untuk mengecek peralatan, logistik dan packing ulang tas masing-masing. Pukul 14.30 WIB, kami segera mencari angkutan charter untuk menuju Terminal Arjosari. Karena saat itu masih dalam suasana arus balik lebaran yang menyebabkan lalu lintas kota Malang sangat macet, kami pun sedikit kesulitan untuk mendapatkan angkutan. Pukul 15.30 WIB akhirnya kami mendapatkan angkutan, dan segera bergegas menuju Terminal Arjosari yang ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit. Begitu sampai di Arjosari kami segera mencari angkutan menuju Tretes-Pasuruan. Kami memilih untuk mencharter angkutan berupa colt, sehingga waktu tempuh akan lebih cepat dibandingkan jika kami memilih bus karena nantinya harus oper angkutan di Pandaan. Setelah negosiasi harga yang sedikit alot dengan pemilik colt, akhirnya kami bergegas menuju Tretes. Lagi-lagi karena macet akibat arus balik lebaran, perjalanan yang harusnya ditempuh hanya dalam waktu 1,5 jam molor menjadi 2,5 jam. Tepat pukul 18.30 WIB kami sampai di basecamp pendakian jalur Tretes yang berlokasi di depan Hotel Tanjung. Kedatangan kami disambut oleh ramainya rombongan pendaki lain yang mungkin mempunyai “misi” sama dengan kami. Jalur Tretes merupakan jalur paling favorit bagi para pendaki dalam mendaki Gunung Arjuno-Welirang. Meski jalur lebih panjang, namun akses yang mudah dan tersedianya sumber air yang lebih banyak menjadi alasan jalur ini banyak dipilih. 

Setelah menyelesaikan administrasi di bacecamp pendakian, kami bergegas shalat, lalu membeli bekal nasi bungkus untuk makan malam nanti di Pos Kokopan.Begitu kami pastikan bahwa seluruh perlengkapan sudah siap, kami pun segera mulai pendakian, saat itu jam menunjukkan pukul 20.20 WIB.Track yang kami lalui berupa jalan beraspal dan cukup menanjak. Setelah sekitar 20 menit berjalan, salah satu anggota, Jeanny, merasa pusing dan mual. Saya dan Ronny kemudian menemaninya untuk duduk dan beristirahat selama beberapa menit, sementara yang lain melanjutkan perjalanan, namun saya minta untuk menunggu di Pos Pet Bocor. Perjalanan dari basecamp – Pet Bocor kami tempuh selama 50 menit.Di Pos ini terdapat warung yang menjual beraneka gorengan dan minuman, sehingga banyak dimanfaatkan oleh para pendaki untuk bersantai di tengah-tengah pendakian, sekaligus beristirahat sejenak setelah dihajar oleh kerasnya jalur beraspal.

Setelah Saya, Jeanny dan Ronny berhasil menyusul teman-teman yang lain di Pet Bocor, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Pos Kokopan, lokasi yang kami pilih untuk camping malam ini. Track berubah menjadi jalur berbatu, sama menyiksanya dengan jalur aspal. Tak berapa lama dari Pet Bocor, rombongan harus kembali dibagi menjadi 2 tim, 14 orang di depan. Sementara saya dan Ronny harus menyesuaikan dengan kondisi Jeanny yang belum lagi pulih, tertinggal di belakang. Kami bertiga baru tiba di Kokopan pukul 00.30 WIB sementara yang lain sudah mendirikan tenda satu jam sebelumnya. Setelah menyantap bekal makan malam yang sudah kami bawa tadi, kami bergegas untuk tidur untuk memulihkan stamina yang cukup terkuras, dan berharap kondisi Jeanny segera membaik.

Pemandangan Gunung Penanggungan dari Pos Kokopan

Jum’at, 16 Agustus 2013
Adzan Shubuh yang masih mampu terdengar hingga Pos Kokopan, membangunkan tidur pulas kami hari itu.Pagi yang begitu cerah, menambah semangat kami untuk melanjutkan perjalanan hari ini. Waktu beberapa jam kami gunakan untuk menikmati sunrise, sarapan dan mengisi persediaan air.

 Sunrise dari Kokopan

Gunung Penanggungan yang tampak sangat indah

Pukul 09.00 WIB kami lanjutkan perjalanan menuju Lembah Kijang, lokasi yang kami pilih untuk camping di malam kedua. Di tengah-tengah perjalanan, kondisi Jeanny yang belum begitu membaik ternyata memaksanya harus turun ke Malang, ditemani oleh Ronny, jadilah tersisa 15 orang yang melanjutkan perjalanan. Masih dengan track berbatu, 4 jam perjalanan menuju Lembah Kijang harus kami nikmati. Setibanya di Lembah Kijang, kami segera mendirikan 5 tenda yang kami bawa, kemudian menyiapkan masakan untuk makan siang. Setelahnya, kami masih punya banyak waktu hingga nanti malam, untuk beristirahat guna memulihkan stamina. Jujur saja, tanjakan dan kerasnya jalur membuat kami sangat lelah, serta kedua kaki yang terasa mau copot.


(dari depan ke belakang) Anam, Teguh dan Eric berfoto di Pos Pondokan

Sabtu, 17 Agustus 2013
This is the day! Kami bangun dini hari dengan semangat berlipat-lipat. Karena inilah tujuan utama kami di pendakian kali ini, melaksanakan upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-68 di Gunung Welirang. Kami mulai berangkat summit attack pukul 02.25 WIB, menyusuri jalur yang kami lalui siang tadi menuju Pos Pondokan kemudian tinggal mengikuti jalur menuju puncak Welirang yang tidak begitu sulit ditemukan, karena jalur ini biasa dilewati para penambang sehingga cukup lebar. Track berupa jalan tanah, setelahnya kembali berupa jalan berbatu yang sudah menjadi ciri khas Arjuno-Welirang. Mental dan fisik kami kembali diuji disini, karena jalan berkelok seakan tak berujung. Untuk menambah semangat, berulang kali kami teriakkan “Semangat 17 Agustus..!!”. Perjalanan selama 2,5 jam kami sejenak terhenti di sebuah pelataran dengan hamparan bunga edelweiss-nya, masih sekitar satu jam lagi menuju puncak. Kami memutuskan untuk beristirahat disini, shalat Shubuh, kemudian menyantap bekal sarapan yang kami bawa. Beberapa saat kemudian, pemandangan indah tersaji di hadapan kami, Mentari 17 Agustus!

Menunggu sunrise

Detik-detik Mentari 17 Agustus

Muchlis dan Lia berfoto dengan latar belakang sunrise

Setelah berfoto untuk mendokumentasikan keindahan yang baru saja kami saksikan, segera kami bergegas melanjutkan sisa perjalanan menuju puncak.Track kali ini relatif lebih mudah, minim tanjakan. Pemandangan di sekeliling yang sangat indah membuat kami begitu menikmati perjalanan, hingga menjejakkan kaki di puncak Welirang, sekitar pukul 06.45 WIB.

Kawah Gunung Welirang

Foto bersama di Puncak Welirang

Kami tak bisa berlama-lama berada di puncak, karena aroma belerang yang sangat menyengat dapat membuat kami sesak napas.Hanya berfoto selama 10 menit, setelah itu turun mencari areal yang cukup luas di lereng Welirang untuk melaksanakan upacara. Karena upacara di alam menjadi pengalaman pertama bagi kami semua, butuh waktu beberapa jam untuk simulasi. Dan akhirnya pukul 9.30 WIB upacara dilaksanakan.Sederhana, namun tak sedikitpun mengurangi rasa khidmat. Rasa bangga yang teramat dalam menancap di dada kami, saya sendiri pun sempat menangis terharu ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya dan pembacaan proklamasi.

Suasana khidmat dalam upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-68

Sesaat setelah pengibaran bendera

Pembacaan proklamasi kemerdekaan

Setelah upacara selesai, kami segera kembali ke Lembah Kijang. Waktu tempuh saat turun memang selalu tak selama waktu tempuh saat naik, 2 jam kami sudah tiba kembali di Lembah Kijang. Sangat lelah, namun semangat kami belum habis. Perjalanan besok tak kalah beratnya dibandingkan hari ini, masih ada Puncak Arjuno dengan track yang lebih sulit.

Minggu, 18 Agustus 2013
Dinginnya Lembah Kijang membangunkan saya dan teman-teman, saatnya summit attack Arjuno! Tidak seperti kemarin, kali ini kami hanya berangkat bertiga belas. Anggrek memilih untuk menunggu di dalam tenda karena masih merasa kelelahan akibat perjalanan kemarin. Teguh pun memutuskan untuk menemaninya disana.Semangat saya dan teman-teman masih sama seperti kemarin, track dengan kontur tanah dan menanjak kembali kami lahap. Tiba di sebuah tempat datar di sebelah batu besar kami kemudian berhenti untuk shalat shubuh, kemudian sarapan. Setelah itu, melanjutkan perjalanan, berharap ketika matahari terbit kami sudah sampai di puncak.Ternyata matahari lebih dulu terbit ketika kami masih di tengah-tengah perjalanan. Kami pun sejenak berhenti untuk mendokumentasikannya. Keren! Tidak kalah indah dengan sunrise kemarin.

Zaka berfoto dengan latar belakang sunrise

Setelah puas berfoto, kami segera memompa semangat kembali menuju puncak. Sudah dekat, karena dari situ saya sudah bisa melihat pasar Dieng, sebuah pelataran di bawah puncak Arjuno yang ditandai dengan adanya makam-makam kuno.Di pasar dieng kami menjumpai beberapa rombongan pendaki yang bermalam disana, sekitar 4-5 tenda.Hanya 20 menit dari pasar dieng, akhirnya kami sampai di puncak.Seketika saya teriakkan pada teman-teman, “Arjuno-Welirang tuntas!” dengan penuh semangat. Satu persatu kami bersujud sebagai rasa syukur, telah diijinkan menginjakkan kaki di satu dari sekian titik tertinggi di tanah air, terlebih lagi di momen HUT Kemerdekaan RI. Setelahnya kami memuaskan diri dengan berfoto.

 
Bersantai di Puncak Arjuno

Puncak yang kemarin kami daki, Welirang!

Foto bersama sebelum turun

Pukul 07.30 WIB kami segera turun kembali ke Lembah Kijang, tentunya dengan rasa puas di dalam diri masing-masing. Di pasar Dieng kami berhenti sejenak untuk menghabiskan sisa bekal. Pukul 11.00 WIB kami sudah berada di Lembah Kijang, dan menyempatkan untuk berfoto sejenak.

Berfoto di Lembah Kijang dengan latar belakang Gunung Arjuno yang begitu gagah

Kami kembali ke tenda dengan perasaan puas, senang, serta bangga yang bercampu jadi satu saat itu. Namun tak dipungkiri juga, kondisi badan begitu lelah, sehingga kami tertidur selama kurang lebih 2 jam. Setelah bangun dan shalat dhuhur, kami segera menyiapkan masakan untuk makan siang. Sisa logistik yang ada kami jadikan menu makan yang begitu nikmat. Begitu selesai menyantap makan siang, kami segera packing dan bersiap untuk turun kembali ke basecamp. Entah karena kondisi badan terlampau letih atau terlalu santai, kami baru turun pukul 16.30 WIB. Saya berpikir, sudah pasti sampai di basecamp malam hari. Jalan yang dilalui memang tak lagi menanjak, namun ketika turun justru kaki akan menopang beban yang lebih berat, ditambah lagi dengan kondisi jalur yang berbatu serta kondisi fisik yang sudah mulai drop, lengkap sudah penderitaan yang dirasakan oleh kedua kaki kami.

Perasaaan sedikit lega ketika sudah sampai di Pos Kokopan kembali, perjalanan turun tinggal sepertiga lagi! Setelah beristirahat selama 10 menit kami segera melanjutkan perjalanan.Yang ada di pikiran kami hanya ingin cepat tiba di basecamp dan segera kembali ke Malang. Akhirnya, kami sampai juga di basecamp setelah berjalan selama 1,5 jam dari Pos Kokopan. Segera kami melapor kepada petugas bahwa kami telah turun. Namun, keinginan kami untuk segera kembali ke Malang harus tertunda beberapa jam karena Anggrek yang drop sejak dari Lembah Kijang tadi siang tiba-tiba pingsan.Kami baru bisa bertolak dari basecamp Tretes pukul 11.30 WIB dan tiba di Malang pukul 03.00 WIB.

Ditulis oleh:
Mohammad Lutfi Hidayat 
About Gamananta TravelerCommunity

Gamananta adalah sebuah komunitas traveler yang selalu membawa semangat dan orientasi konservasi dalam setiap kegiatan dan perjalanannya. Gamananta merupakan dua kata gabungan dari bahasa Sansekerta, "Gama" berarti perjalanan dan "Ananta" berarti tanpa batas. Gamananta berusaha untuk berjalan tanpa batas demi visi dan misinya.

Artikel Terkait

0 comments:

Post a Comment

No Spam, No Sex, No SARA
Junjung Tinggi Kebebasan Berpendapat yang Bertanggung Jawab