Sunday, 22 September 2013

Ekspedisi 3726: Gamananta Menjelajah Gunung Rinjani dan Gili Trawangan


Rencana pendakian Gamananta ke Gunung Rinjani sudah dirancang sejak tahun 2012, semenjak Gamananta berdiri. Dirancang jauh-jauh hari agar anggota Gamananta yang ingin ikut serta dapat mempersiapkan diri. Jelang satu bulan keberangkatan, peserta awal adalah 14 orang. Semakin mendekati hari-H, peserta semakin mengerucut menjadi 8 orang, hingga akhirnya peserta yang masih bertahan sejumlah 4 orang. Satu orang terakhir bahkan membatalkan pada hari keberangkatan, 10 September 2013. Hehehe.

10 September 2013
Malang – Banyuwangi – Ketapang 
Tak terasa, hari ini tiba. Dari tujuh tiket kereta api, hanya tiga yang berfungsi, sisanya batal. Namun karena tidak ada pembatalan ke pihak stasiun, jadinya pasti kursi kami bertiga longgar di kereta nanti. Keempat anggota ekspedisi kali ini adalah:

Rifqy Faiza Rahman (Leader – Trip Planner – Documentation)
Muhammad Choirul Anam (Logistic – Documentation)
Teguh Rachmat Prianto (Trip Writer – Logistic)
Kama Yuda Feby Pratama (Logistic – Documentation)

Dari keempatnya, tiga teratas berangkat bersama-sama dari Malang. Sedangkan yang terakhir alias si Pepy sudah menunggu di Banyuwangi, karena rumahnya memang di sana. Siang itu, pukul 11.00, kami sudah berkumpul di gazebo pusat Universitas Brawijaya, Malang, untuk repacking. Kami bertiga ditemani dan bakal diantar teman-teman Gamananta yang turut serta siang itu, antara lain Rizky, Lita, Mustofa, Zaki, Fahri, Ike, Fitrah, Muchlis, Lutfi, dan Sukma. Beberapa konsumsi yang tahan lama kami bawa dari Malang, sementara bahan-bahan sayuran dan bumbu kami beli di Lombok nantinya sebelum pendakian.

Dilepas teman-teman Gamananta sebelum berangkat ke stasiun


Seusai solat, pukul 13.00 kami berangkat menuju stasiun Malang bersepeda motor. Karena lapar, kami menyempatkan makan siang sesampainya di stasiun. Di dalam peron stasiun, kami berpamitan kepada teman-teman Gamananta dan memohon doa restu agar perjalanan kali ini sukses dan selamat. Tepat pukul 14.45 WIB, kereta api Tawang Alun tujuan Banyuwangi mulai berjalan meninggalkan stasiun Malang.

Perjalanan kereta ini akan melewati beberapa stasiun, Singosari, Lawang, Bangil, Pasuruan, Probolinggo, Tanggul, Rambipuji, Jember, Garahan, Kalibaru, Genteng, Kalisetail, Karangasem, dan terakhir Banyuwangi Baru. Kami tiba di stasiun Banyuwangi Baru sekitar pukul 22.30. Di stasiun, sudah menunggu tiga orang pendaki yang gabung dengan kami ke Rinjani, mereka adalah Mas Iqbal (Pekalongan), Mas Dwi (Purworejo), dan Mas Rahmat (Jakarta). Mereka bertiga naik kereta Sri Tanjung dari Yogyakarta. Ditambah Pepy yang sudah menunggu di masjid depan pelabuhan Ketapang, jadilah kami bertujuh siap mengarungi Rinjani.

11 September 2013
Gilimanuk - Padang Bai – Lembar - Senaru
Seusai solat di masjid, kami segera naik ke kapal Ferry menuju Gilimanuk. Penyeberangan selama kurang lebih satu jam kami manfaatkan untuk makan malam. Sekitar pukul 02.00 WITA kami tiba di pelabuhan Gilimanuk. Setelah melewati pemeriksaan KTP, kami segera naik bus bomel dengan tujuan langsung ke Padang Bai. Bus baru berangkat sekitar pukul 03.00 WITA. Perjalanan ke Padang Bai memakan waktu sekitar 5 jam. Kami baru bisa benar-benar terlelap kala bus sudah mulai berjalan.

Ngeksis dulu sebelum menyeberang ke Lembar

Tepat pukul 07.30 kami tiba di Padang Bai. Sebelum menyeberang, kami menyempatkan sarapan ringan di sebuah warung. Seusai sarapan, kami langsung menuju kapal ferry menuju pelabuhan Lembar. Penyeberangan ke sana cukup lama, sekitar 4 jam perjalanan. Hal inilah yang mungkin menyebabkan tarif penyeberangan Padang Bai – Lembar lebih mahal daripada Ketapang – Gilimanuk. Perjalanan yang cukup membosankan ini kami isi dengan tidur, keliling kapal, dan ngobrol-ngobrol dengan para bule.

Anjungan kapal ferry. Nampak di depan Pelabuhan Padang Bai

Terbatasnya jumlah dermaga yang digunakan dan ruwetnya antrian penumpang, membuat kami baru benar-benar menginjakkan kaki di pelabuhan Lembar sekitar pukul 13.30. Di pelabuhan, kami dijemput oleh Pak Hamdan, sopir engkel yang diminta Pak Saat menjemput kami menuju Senaru. Pak Saat adalah contact person yang akan membantu akomodasi kami selama di Senaru. Saya memperoleh kontak beliau dari Mas Fandy, anggota Gamananta yang sudah sebelumnya ikut dalam pendakian ke Gunung Arjuno bulan Maret kemarin dan sudah pernah ke Rinjani.

Perjalanan menuju Senaru memakan waktu hampir 4 jam, melintasi pegunungan Lombok Barat dan pesisir Lombok Utara. Kami memilih menginap di Senaru, meskipun mendaki lewat Sembalun. Alasannya, Pak Saat menawarkan fasilitas tidur gratis, listrik gratis, air dan mandi gratis. Kami hanya perlu membayar biaya makan yang dihargai sekitar Rp 15.000,00 per orang sekali makan dengan menu melimpah dan mengenyangkan. Sungguh tawaran jasa yang sangat meringankan kami. Setibanya di rumah Pak Saat, kami bergantian mandi dan repacking.  Anam, yang kebagian tugas logistik ditemani Pak Saat mencari sewaan tenda dan belanja konsumsi. Malam ini kami istirahat lebih awal karena esok pagi akan dimulai perjuangan yang melelahkan.

Menu makan malam di rumah Pak Saat

12 September 2013
Desa Bawak Nao – Plawangan Sembalun

 Siap berangkat menuju Sembalun

Setelah sarapan, kami berangkat menuju Rinjani Trekking Center (RTC), Sembalun, untuk registrasi perizinan pendakian. Transportasi kali ini adalah pick up. Di tengah perjalanan, kami menyempatkan mampir di Pasar Senaru untuk belanja konsumsi tambahan. Perjalanan ke Sembalun yang naik turun dan berkelak-kelok membuat waktu tempuh terasa lama. Biaya pendakian di Rinjani sangat murah, Rp 2.500,00 dan tidak ribet dengan berbagai persyaratan njlimet. Bandingkan dengan perizinan di Semeru maupun Gede Pangrango, yang rumit dan mahal. Sesuai saran Pak Saat, kami juga menyewa porter selama dua hari untuk menjaga tenda di Plawangan Sembalun ketika kami muncak nanti. Di sana sering terjadi kasus kehilangan peralatan pendakian. Demi keamanan, kami ikuti saran Pak Saat.

Start pendakian

Kami start pendakian tidak dari RTC Sembalun, yang masih berjarak 3 jam menuju Pos I. Kami memulai langkah dari Desa Bawak Nao yang memangkas waktu lumayan banyak menuju Pos I. Bersama seorang porter, Pak Muhammad, kami memulai pendakian sekitar pukul 10.00 WITA. Selama perjalanan hingga pertengahan bukit penyesalan, kami disuguhi pemandangan sabana yang luas dan panas. Beruntung cuaca menjadi mendung selepas Pos II. Jarak tempuh dari Desa Bawak Nao ke Pos I hanya 1 jam, Pos I ke Pos II ditempuh selama 30 menit, Pos II – Pos Extra – Pos III ditempuh selama 1 jam. Sumber air bersih ditemui di Pos II dan Pos Extra. Waktu tempuhnya relatif tidak lama, namun yang membuat lelah adalah jalur begitu terbuka, naik turun dan panjang.

 Pos I Pemantauan: Foto bareng pendaki bule asal Slovakia

Pos II Tengengean: Tempat servis makan rombongan bule

Ujian sesungguhnya di Rinjani jalur Sembalun: Bukit Penyesalan

Ujian bagi kami adalah selepas Pos III, langsung dihadapkan jalur menanjak tanpa henti. Inilah Bukit Penyesalan. Ada sekitar 5 hingga 7 bukit yang harus kami lalui sebelum Plawangan Sembalun. Dari Pos Extra ke arah kanan sebenarnya juga ada jalur (Bukit Penderitaan), namun sudah tidak terpakai lagi karena sudah rusak. Di Bukit Penyesalan, setiap selesai berjalan hingga di ujung bukit, maka di depan akan terhampar bukit lain yang lebih tinggi dari sebelumnya. Begitu seterusnya. Bukit yang selama berjalan tertutup kabut, menjadi terbuka saat kami sampai di ujung bukit. Sungguh benar-benar menguji mental dan fisik kami, seolah meminta kami menyerah. Namun, semangat Ji! Ro! Lu! Budal! Gamananta menyertai langkah kaki kami. Setelah merasakan hujan mengguyur di tengah Bukit Penyesalan, 3,5 jam kemudian tibalah kami di sebuah dataran yang menjadi akhir tanjakan bertubi-tubi yang kami hadapi sebelumnya.
 
Kabut tipis di Plawangan Sembalun

  Lautan awan Plawangan Sembalun

 Gigiran jalur menuju puncak dilihat dari Plawangan Sembalun

Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 WITA saat kami menginjakkan kaki di Plawangan Sembalun. Pemandangan dari sini sangat indah. Jalur tipis ke puncak terlihat cukup jelas, lautan awan dan kabut serta semburat oranye tenggelamnya matahari terlihat jelas dari sini. Menjelang gelap kami segera mendirikan tenda. Urusan air diambil alih oleh Pak Muhammad, menjalankan tugas beliau sebagai porter.Setelah masak, makan malam, dan mempersiapkan bekal muncak, kami segera istirahat. Tenda yang kecil untuk kami berempat (rombongan lain membawa tenda sendiri), tidak menyurutkan semangat kami ke puncak. Sebelum tidur, kami sempatkan melihat sekilas kilauan Danau Segara Anak dari atas yang nampak putih terpapar sinar rembulan dengan kabut tipis sesekali membayangi.

13 September 2013
Plawangan Sembalun – Puncak Rinjani
Sekitar pukul 01.30, kami terbangun dan bersiap-siap. Selain persiapan alat tempur untuk mengarungi medan ke puncak, kami juga mempersiapkan bekal seperti roti selai dan jelly. Sayang sekali, Mas Iqbal dan kawan-kawan masih lelah dan kurang fit untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Mereka baru berencana muncak hari ketiga sehingga camp di Plawangan Sembalun semalam lagi. Jadilah kami berempat akan menuntaskan misi Gamananta.

Beriring doa dan semangat Budal!, kami mulai melangkah menuju puncak pada pukul 03.00 WITA. Kami tidak sendirian, banyak porter yang mendampingi para bule juga berjalan ke puncak lebih awal dari kami. Selangkah bagi bule, dua langkah bagi kami. Hehehehe. Sekitar pukul 04.30, kami sudah melewati batas vegetasi hutan dan terus menanjak. Jalur berganti menjadi pasir yang tidak terlalu padat dan batu-batu cukup besar yang cenderung licin. Awal jalur pasir ini landai, kemudian menanjak tajam yang sepertinya baru berakhir mendekati puncak. Jika dilihat dari batas vegetasi, jalur pasir ini nampak seperti “Letter E”, berkelak kelok.

Sekelebat jingga mulai menyinari pagi di lereng Rinjani

 Ada "3 cm" di Rinjani, hehehe

Ketika matahari akan menunjukkan sinarnya, kami sempatkan solat Subuh di tengah perjalanan, di lereng yang miring. Sungguh pagi itu sangat luar biasa indahnya. Pukul 06.15, matahari dengan bulat sempurna telah terbit menyinari semesta. Jelas sekali dari sini terlihat garis pantai Lombok, tiga Gili yang terkenal itu, Gunung Agung, dan bayangan puncak Rinjani yang “jatuh” di atas hijaunya air Danau Segara Anak. Dari sini juga kami sempat melihat ke bawah, jalur yang kami lalui sebelumnya. Tak menyangka sudah sampai setinggi ini.

Sunrise of Indonesia

 Danau Segara Anak dan bayangan puncak

Namun, perjalanan kami belum berakhir. Puas menikmati sunrise, kami berjalan lagi ke puncak. Saat kami masih tertatih-tatih berjalan ke puncak, nyatanya malah banyak bule yang turun dari puncak. Nampaknya mereka cukup puas hanya dengan melihat sunrise dari atas puncak. Saling sapa menyemangati kami berempat, kami terus berjalan tanpa henti. Akhirnya, saat jarum jam menunjukkan angka 07.30, tibalah kami berempat di puncak tertinggi Nusa Tenggara, gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia, Puncak Rinjani 3.726 mdpl.

Gamananta di puncak Rinjani 3.726 mdpl

 Menorehkan nama-nama GAMA'ers di atas puncak Rinjani. Terima kasih teman-teman!

Sujud syukur, peluk haru, dan air mata mewarnai euforia kebanggaan kami di puncak ini. Bukan kebanggaan pribadi, namun lebih kepada rasa bangga kepada negeri ini, Indonesia yang memiliki Rinjani di tanahnya. Di puncak, tidak terlalu banyak pendaki sehingga membuat kami leluasa mengambil foto sebanyak-sebanyaknya. Sungguh kesempatan yang langka dalam seumur hidup kami. Dari sini, pemandangan sekitar dan di bawahnya sangat indah. Cukup lama kami di puncak, hampir satu jam lamanya mengabadikan momen berharga ini. Kawan, Gamananta sudah mengukir jejak kecilnya di tanah ini.

Pemandangan khas dari atap Nusa Tenggara

 Puncak Rinjani 3.726 mdpl

Jalur turun ke Plawangan Sembalun

Puas di puncak, satu jam berselang kami kembali turun. Jalan turun kembali ke Plawangan Sembalun kami tempuh hampir 2,5 jam santai dan sesekali berseluncur, mirip saat turun dari Mahameru. Setibanya di Plawangan Sembalun, kami bergantian repacking dan masak makan siang. Rombongan Mas Iqbal dkk akan menetap di sini semalam lagi karena akan muncak besoknya. Sehingga kami sepakat bertemu di Danau Segara Anak. Sedangkan Pak Muhammad izin pulang ke Sembalun karena memang kesepakatan kami hanya dua hari. Rencananya Mas Iqbal dkk menyewa porter lagi dari Senaru untuk dijemput ke Plawangan Sembalun karena Mas Dwi dalam kondisi kurang fit.

Perjalanan menuju Segara Anak

Setelah repacking dan solat, pukul 15.00 kami mulai berjalan turun menuju Danau Segara Anak. Treknya hampir mirip dengan jalur Pet Bocor – Kokopan di Gunung Arjuno jalur Tretes, berbatu dan berputar-putar. Sesekali ada bonus trek, lalu turun curam lagi. Jalur yang turun naik, berkelak-kelok cukup melelahkan. Terdapat dua buah jembatan penghubung jalur yang melintasi sungai kering. Kabut mulai turun kala hari mulai gelap.Setelah 2,5 jam berjalan, kami tiba di areal camp Danau Segara Anak. Sesuai saran Pak Muhammad kami memilih camp di tepi danau dan menghadap Gunung Barujari. Kemudian, kami berbagi tugas. Anam dan Teguh mendirikan tenda dan mempersiapkan makan malam, saya dan Pepy mengambil air yang lokasinya berdekatan dengan sumber air panas atau Aik Kalak nama setempatnya.  Menu mi rebus dan sayur plus kopi panas cukup membuat kenyang perut kami untuk mengantarkan kami terlelap dalam tidur kami malam ini. Lega rasanya sudah menggapai puncak.

14 September 2013
Bergembira ria di Danau Segara Anak
Suatu pagi di Danau Segara Anak. Sangat indah. Permukaan air danau nampak tenang. Walaupun tidak bisa diminum, air danau ini masih bisa dipakai untuk mencuci peralatan masak maupun berenang. Bahkan, saat malam atau Subuh pun air danau tidak terlalu dingin dan cenderung hangat. Mungkin karena ada kandungan belerang di dalamnya. Seharian ini, aktivitas kami adalah masak, makan, bermain kartu, mancing, foto-foto. Pokoknya aktivitas bebas sekaligus recovery fisik untuk perjalanan pulang esok pagi yang tak kalah melelahkan.

Danau Segara Anak di pagi hari dan Gunung Barujari

Foto keluarga di Danau Segara Anak. Kabut mulai datang kala siang

Serupa dengan di Plawangan Sembalun, di sini juga banyak dijumpai kera-kera yang cukup agresif. Jadi, pastikan kawan-kawan mengamankan bahan makanan maupun logistik lainnya tetap di dalam tenda. Sampah secuil apapun yang berserakan pasti dipungut mereka, apalagi sampah yang mencolok utamanya berupa makanan. Tengah hari, rombongan Mas Iqbal dkk telah tiba di Segara Anak. Menjelang gelap, saya dan Anam kebagian tugas lagi mengambil air untuk bekal hari ini dan besok. Malam ini, kami sepakat menghabiskan sisa konsumsi yang ada sebagai makanan hari ini dan bekal besok pagi sebelum pulang untuk meringankan beban.

Sumber air tawar, sekitar 500 meter dari Segara Anak, sejalur dengan Aik Kalak

Inilah hari ketiga kami di Rinjani. Malam terakhir di Rinjani.

15 September 2013
Danau Segara Anak – Plawangan Senaru – Desa Senaru
Kami mulai bangun sekitar pukul 04.00 WITA. Sementara Anam dan Pepy pergi berendam air panas, saya dan Teguh mempersiapkan sarapan dan bekal perjalanan pulang. Saya sendiri ikut menikmati air panas saat mereka berdua kembali ke tenda. Sumber air panasnya sangat enak buat berendam (saya hanya mencuci kaki). Jika musim penghujan tiba, debit Aik Kalak akan melimpah dan deras.

Aliran sumber air panas Aik Kalak

Setelah sarapan dan repacking, kami mulai start menuju Plawangan Senaru sekitar pukul 07.30. Rombongan Mas Iqbal sudah berjalan duluan setengah jam yang lalu. Perjalanan menuju ke Plawangan Senaru tidaklah mudah. Setelah jalur landai dan datar di pinggiran danau, memasuki hutan jalur mulai menanjak terus menerus. Ditambah pasir berdebu, membuat kami sibuk menutup mulut kami agar tidak masuk ke dalam pernafasan. Dalam perjalanan, kami banyak menjumpai bule yang menuju Segara Anak melalui jalur Senaru. Jalur yang terus menanjak tajam membuat kami tertatih-tatih di tengah matahari yang menyengat. Bahkan sebelum mencapai Plawangan Senaru, terdapat jalur berbatu yang memaksa kami climbing, seolah lutut bertemu mulut. Setelah 3,5 jam berjalan, tibalah kami di Plawangan Senaru yang sepi.

 Suguhan panorama sepanjang perjalanan menuju Plawangan Senaru

Terus turun mengikuti stringline, kami tiba di Pos Extra. DI sini sudah menunggu rombongan Mas Iqbal dkk. Dari sini kami berjalan bersama hingga ke bawah. Dari Pos Extra, butuh waktu sekitar 3 jam hingga Pos I, melalui Pos III dan Pos II. Di Pos II ternyata sering dijadikan tempat istirahat para bule yang menerima servis makan dari porter. DI sini juga terdapat sumber air musiman yang tidak terlalu jernih. Yang enak di jalur Senaru adalah, jalur terus berada di dalam hutan sampai bawah, sehingga tidak terlalu panas. Yang berat adalah jalur terus menerus turun tanpa ampun, perlahan-lahan karena banyak akar-akar pohon yang melintang. Mirip dengan jalur pendakian Gunung Gede lewat jalur Gunung Putri.

Anam di Plawangan Senaru

 Pos I Jalur Senaru

 Gerbang Pendakian Jalur Senaru

Perwakilan Kantor Taman Nasional Gunung Rinjani Resor Senaru

Di antara sekian pos, jarak tempuh dari Pos II menuju Pos I lah yang paling jauh, sekitar 1,5 jam berjalan. Dari Pos I, masih 1 km lagi menuju Jebang Bawah atau gerbang pendakian jalur Senaru. Ketika lelah sudah menggelayuti kami saat tiba di Jebang Bawah, kami masih harus bersabar dan mengayuhkan kaki untuk turun menuju Desa Senaru. Jaraknya 1,5 km atau sekitar 45 menit dan terus menurun. Bayangkan saja, Plawangan Senaru yang tingginya mencapai sekitar 2.900 mdpl, dihajar turun hingga ke Desa Senaru yang “hanya” sekitar 600 mdpl. Setelah melewati kantor Rinjani Information Center (RIC) Senaru, kami juga melewati kawasan desa adat Senaru. Setelah berjalan sejak jam 07.30 pagi, akhirnya kami tiba di rumah Pak Saat lagi sekitar pukul 16.30. Keramahan khas  dan ucapan selamat dari beliau menyambut kami.

Walau lelah dari Rinjani, masih sempat berfoto di depan gapura Desa Adat Senaru

Kehausan yang melanda kami dari Pos I membuat kami memborong minuman. Sorak sorai menggema kami begitu istri Pak Saat menawarkan kami untuk dimasakkan menu Plecing Kangkung malam ini. Wah, mantap! Malam ini, kegiatan kami selain belanja suvenir pendakian yang terdapat di Pak Saat, kami juga menyempatkan evaluasi. Hasil kesepakatannya untuk kegiatan besok adalah saya dan Teguh harus pulang terlebih dahulu ke Malang karena urusan akademik dan menipisnya budget. Sedangkan Pepy, Anam, Mas Iqbal dkk akan lanjut ke Gili Trawangan. Sehingga kami tiba di Malang tanggal 17 September, sedangkan mereka baru tiba di Malang esoknya, 18 September.

Anam dan Pepy di Gili Trawangan

 Senja di Gili Trawangan

Kami sepakat perjalanan pulang dari Mataram ke Malang tetap estafet, berakhir dengan kereta api dari Banyuwangi ke Malang untuk menghemat anggaran dan efisiensi waktu. Rasa lega dan plong menyertai tidur kami malam ini. Ekspedisi Tiga Tujuh Dua Enam tuntas sudah. Terima kasih Tuhan, terima kasih Gamananta. Ji! Ro! Lu! Budal!


Special Thanks to:
Allah SWT
Orang tua tercinta
Semua teman-teman Gamananta
Mas Iqbal (Pekalongan), Mas Dwi (Purworejo), dan Mas Rahmat (Jakarta)
Pak Saat, Pak Hamdan, dan Pak Muhammad
Mas Maman (thanks sudah bantu cari tumpangan truk)
Pak Gusti (thanks buat tumpangan truknya ke Denpasar)
Someone who has help us

Ditulis oleh:
Rifqy Faiza Rahman
About Gamananta TravelerCommunity

Gamananta adalah sebuah komunitas traveler yang selalu membawa semangat dan orientasi konservasi dalam setiap kegiatan dan perjalanannya. Gamananta merupakan dua kata gabungan dari bahasa Sansekerta, "Gama" berarti perjalanan dan "Ananta" berarti tanpa batas. Gamananta berusaha untuk berjalan tanpa batas demi visi dan misinya.

Artikel Terkait

13 comments:

  1. tulisannya keren ^^

    rinjani <3 <3 tunggu saya tahun depan :D insyaAllah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks udah mampir, semoga ikutan nyusul :)

      Delete
  2. selamat ya kawan2, mantap.., semoga kami bisa nyusul kesana :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih kawan, semoga teman2 satubumikita kesampaian kesana, pasti bisa! :)

      Delete
  3. Dari Malang berapa biaya yg di habiskan brow ? Rencananya bulan ini mau berangkat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silakan cek di menu Katalog Perjalanan, sub topik Pendakian Gunung :)

      Atau kalau mau langsung lihat bisa dicek di:

      https://docs.google.com/file/d/0B_HhMnL-1b6bRktTVjFxLWNCWEk/edit?usp=sharing

      Terima kasih sudah mampir, selamat mendaki Rinjani :)

      Delete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. Min mohon informasi kontak porter dan pak Saat dong, rencana agustus ini bakal ke rinjani
    Eh tapi, tulisan mimin sangat membantu nih
    Terima kasih sebelumnya :)

    akbar.itt@gmail.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf baru sempat balas ya Kak. Ini kami beri nomornya Pak Saat Senaru: 0878 648 935 90. Semoga masih aktif. Untuk porter dan transportasi, silakan tanya langsung ke beliau, sama - sama :)

      Delete
  6. Replies
    1. Salam kenal juga Kak, terima kasih sudah mampir :)

      Delete

No Spam, No Sex, No SARA
Junjung Tinggi Kebebasan Berpendapat yang Bertanggung Jawab