Sunday, 27 October 2013

Aksi Konservasi di Pantai Kondang Merak Bersama Prisma UB


Bermula dari ikatan kerjasama dengan salah satu lembaga aktivitas mahasiswa di Fakultas Pertanian UB, yaitu Prisma, Gamananta turut dalam kegiatan konservasi mangrove dan terumbu karang di Pantai Kondang Merak, Kabupaten Malang. Aksi konservasi tersebut merupakan acara penutup setelah rangkaian perhelatan Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional 2013 yang digelar di MAN 3 Malang.



Malam sebelumnya, 25 Oktober 2013, Gamananta mengisi materi tentang konservasi mangrove yang disampaikan oleh Kurniawan Eko dan Azza Hanif Harisna. Muchlis Setiawan juga turut memberikan game menarik untuk melepas ketegangan.

Esoknya, 26 Oktober 2013, Gamananta bersama peserta menumpang truk bersama-sama menuju Pantai Kondang Merak. Perjalanan jauh nan melelahkan terbayar dengan pemandangan yang indah dari pantai yang cukup terpencil ini. Di sana, sudah menunggu aktivis Sahabat Alam yang akan mendampingi kegiatan konservasi mangrove dan terumbu karang di pantai ini.


Kegiatan penanaman mangrove dilakukan di sisi timur pantai, tepatnya di kisaran area estuari. Antusiasme peserta untuk melakukan aksi ini cukup tinggi. Pantai Kondang Merak memang rencananya akan dijadikan sebagai salah satu kawasan konservasi mangrove di Kabupaten Malang.

Usai penanaman, aktivis dari Sahabat Alam juga mendampingi peserta untuk berlatih menanam terumbu karang. Terumbu karang yang terdapat di dasar laut Pantai Kondang Merak kini tengah aktif direhabilitasi setelah cukup lama sebagian rusak karena ulah manusia. Padahal, konon dulunya terumbu karang di Pantai Kondang Merak tahun 1980-an termasuk yang terindah di Jawa, bahkan Indonesia. Harapan Gamananta dalam acara ini, semoga kegiatan konservasi tersebut dapat berkelanjutan sehingga ekosistem pantai tetap terjaga. Perhelatan acara hari ini ditutup dengan jalan-jalan singkat di Masjid Turen.

Read More

Sunday, 20 October 2013

Merayakan 1st Anniversary Gamananta


Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday happy birthday, happy birthday to GAMANANTA. Yah, inilah lagu yang sangat tepat dinyanyikan untuk Gamananta saat ini. Gamananta baru saja merayakan ulang tahunnya yang pertama pada 14 Oktober 2013, sejak pertama kali terbentuk di Ranu Kumbolo tanggal 14 Oktober 2012 oleh 5 orang hebat yaitu Muchlis Setiawan, Kurniawan Eko, Rifqy Faiza Rahman, Anggraeni Ayu Saputri dan Rifqi Alfandana. Berbagai rangkaian kegiatan kami lakukan sebagai momen untuk memperingati hari ulang tahun Gamananta yang pertama, menuju acara puncak (tasyakuran).

Sebelum acara puncak itu berlangsung, kami sempat melakukan beberapa aksi lain. Tak ada malu sedikitpun beberapa dari kami berjualan bunga mawar dua hari berturut-turut di acara wisuda Universitas Brawijaya. Kebetulan sekali pada hari kedua wisuda itu dua teman kami juga merayakan kelulusannya. Mereka adalah Mbak Fitrah dan Mas Muchlis. Tanpa pikir panjang mawar yang akan kami jual tak segan-segan kami berikan kepada mereka sebagai hadiah dari pencapaian yang telah mereka raih. Betapa bangganya kami melihat mereka sudah menenteng gelar Sarjana.  Kami sempat mengabadikan momen itu dengan berfoto alay :D


Gamananta saat menghadiri wisuda Muchlis dan Fitrah


Selain berjualan mawar, kami juga berjualan oleh-oleh khas Malang, seperti keripik telo madu, keripik tempe, brownies kukus, dan banyak lagi. Di hari-hari berikutnya, beberapa teman kami juga berjualan gorengan di kampus. Hal ini kami lakukan untuk menambah modal Gamananta saat acara puncaknya. Biasalah komunitas anak muda. Saya dan beberapa teman Gamananta yang lain juga turut merayakan ulang tahun Gamananta dengan melakukan perjalanan ke Gunung Lawu tanggal 11 Oktober lalu. Artikelnya bisa dilihat di sini.

Saat acara puncak, kami menyelenggarakan tasyakuran dengan potong tumpeng sebagai simbolis 1st Anniversary Gamananta yang dilaksanakan tanggal 19 Oktober 2013 di kediaman teman kami Busthomy, Jalan Panjaitan, Malang.

Tumpeng Gamananta

Kalian bisa melihat, istimewa sekali kan tumpengnya? Menggiurkan saat kami tak henti melihatnya. Sebelum kami makan dan menghabiskan tumpeng yang super duper lezat itu, ada beberapa sambutan yaitu dari Commissioner Gamananta yang saat itu diwakilli oleh Mas Rifqy dan sambutan dari pengurus yang diwakili oleh Mas Zaki Mubarok, serta sambutan dari ketua pelaksana kegiatan ini, yaitu saya sendiri. Terakhir, doa bersama untuk kemajuan Gamananta serta pemotongan tumpeng oleh Mas Rifqy.

Serah terima Tumpeng antara Mas Rifqy (kiri) dan Mas Zaki (kanan)
 
Seusai pemotongan tumpeng, langsung saja dilanjutkan dengan acara yang paling ditunggu-tunggu yaitu makan-makan. Memang,tidak akan ada yang menolak untuk hal yang satu ini. Sebelumnya kami persiapkan dulu beberapa keperluannya, mengemas ritual mengisi perut ini supaya lebih berkesan kebersamaannya.

 Dua sejoli tengah mempersiapkan sajian untuk makan bersama


Berfoto dulu sebelum berpesta!

Oke lanjut kami santap habis tumpeng itu. Eeeits, sebelum dimakan foto-foto dulu dong untuk arsip Gamananta. Nah, bisa dilihat lihat wajah-wajah unyu mereka di depan tumpeng ini.

Setelah makan, masih ada lagi serangkaian acara ulang tahun Gamananta. Ternyata para Commisioner sudah begadang untuk mempersiapkan upgrading anggota Gamananta. Yap, usai istirahat sholat Duhur, mereka memberikan kami materi tentang “Manajemen Prjalanan”, “Dokumentasi dan artikel perjalanan”, dan "Motivasi".

Mas Muchlis (paling kiri) sedang memaparkan materi motivasi

Sebelum penutupan acara, ada sebuah game interaktif yang dipandu oleh Mas Muchlis, game ini mampu memecah ketegangan dan rasa kantuk kami selama upgrading.

Tawa lepas mewarnai games yang digelar Mas Muchlis

Dan setelah game ini berakhir, kami terpaksa mengakhiri acara tasyakuran ini. Namun, belum habis juga kekompakan dan kekocakan Gamananta ini. Di sela-sela bersih-bersih kami sempat melakukan sebuah aksi lagi yaitu goyang Caesar yang direkam dengan webcam laptop. Aksi kami dapat dilihat di YouTube, silahkan subscribe akun YouTube Gamananta untuk menyaksikan beberapa dokumentasi perjalanan kami maupun video-video kocak lainnya. Itulah serangkaian acara ulang tahun Gamananta, tidaklah bisa dibilang mewah, namun cukup terkenang di hati dan meninggalkan kesan.


Ditulis Oleh:
Jeanny Anggraeni
Read More

Monday, 14 October 2013

20 Jam Untuk Gunung Lawu


Ini adalah perjalanan yang tidak diagendakan oleh komunitas, berawal dari rencana pribadi seorang Muchlis Setiawan. Salah seorang Commissioner Gamananta tersebut menginginkan merayakan kelulusan di puncak gunung. Awal Oktober Muchlis telah menjalani prosesi wisuda di kampus. Seorang anggota Gamananta yang lain, Fitrah, juga diwisuda pada hari yang sama. Jadilah Gunung Lawu sebagai tujuan perayaan ini. Tak sendirian, ia ditemani oleh teman-teman Gamananta yang lain. Mereka adalah Lia, Busthomy, Jeanny, Mas Kurniawan, Mas Rizal, Mas Yayan, Anggrek, dan saya sendiri.

Sebelas Oktober 2013, pagi di Malang begitu cerah dan sejuk. Karena keterbatasan motor, saya dan Anggrek memilih naik transportasi umum menuju Cemoro Sewu, Magetan. Sisanya naik motor dari Malang. Hal ini membuat saya dan Anggrek berangkat lebih dulu. Petualangan pun dimulai dengan menumpang angkot biru ADL menuju terminal Arjosari, yang dilanjut dengan bus ekonomi AC Restu ke Surabaya. Perkiraan saya jalan bakal lancar meleset setelah insiden truk limbah terguling di jalan raya Purwosari. Bagian kepala berada di dekat kantor Pegadaian Purwosari, sisanya tersangkut di trotoar pertigaan Purwosari.

Kami baru menginjakkan kaki di terminal Bungurasih sekitar pukul 09.45. Setelah membeli nasi bungkus untuk bekal sarapan dan makan siang, kami segera meluncur ke pos pemberangkatan bus. Bus Sugeng Rahayu (Sumber Grup) menjadi pilihan kami menuju Maospati, Magetan. Duduk di bangku paling depan akan membuat jantung kami berdebar sepanjang perjalanan. Anda yang pernah tahu bus ini pasti paham maksud saya. Lalu lintas yang cukup padat membuat bus baru memasuki daerah Jombang saat tengah hari. Dalam pantauan, teman-teman yang bersepeda motor sedang istirahat sholat Jumat di masjid agung Jombang. Saya sempat ketar-ketir akan kesorean tiba di Magetan, khawatir angkutan umum sudah habis.

Benar saja, saat Ashar kami baru menginjak kaki di terminal Maospati. Bus terakhir menuju Plaosan langsung kami serbu. Dan menuju basecamp Cemorosewu terpaksa menggunakan jasa ojek karena angkutan umum sudah habis dan tiada satupun mobil pick up atau truk yang mau kami tumpangi. Pukul 16.45 adalah waktu yang tertera di jam dinding saat kami tiba di Cemorosewu. Teman-teman yang lain baru tiba di Cemorosewu sekitar hampir satu jam kemudian.

Gerbang pendakian Gunung Lawu jalur Cemorosewu

Memulai langkah menuju Sendang Drajat
Setelah makan malam dan sholat Isya, dan tak lupa registrasi, pukul 20.10 kami memulai langkah pendakian ini. Dari kami bersembilan, hanya Lia yang sudah pernah mengunjungi gunung sakral ini. Pastilah, dia dan Muchlis paling depan, disusul Mas Yayan, dan Mas Rizal. Berikutnya Jeanny, Anggrek, dan terakhir kami bertiga yang spesialis sweeper: saya, Busthomy, dan Mas Kurniawan. Trek awal landai, berbatu (mirip jalur Tretes ke Arjuno-Welirang) cukup menguras tenaga. Sudah cukup lama saya tidak naik gunung, terakhir dari Rinjani September kemarin. Tiada persiapan fisik seperti jogging juga karena tiada waktu luang.

Mejeng dulu sebelum mendaki

Hal yang menarik adalah ketika beberapa pendaki dari Jawa Tengah dan sekitarnya kami temui di perjalanan mengetahui kalau kami berasal dari Malang. Mereka beranggapan pendaki dari Malang adalah pendaki pro karena lokasinya strategis, memungkinkan pendaki menjelajahi banyak gunung besar seperti Semeru, Arjuno, Welirang, Argopuro, dan Raung. Masuk akal juga, batin saya. Pos I kami lalui begitu saja, perlahan mulai menanjak hingga kami istirahat sejenak setibanya di bangunan shelter Pos II. Menuju Pos III, jalur mulai menunjukkan titik-titik tanjakan cukup terjal, menguras tenaga. Lagi-lagi, kami sempatkan istirahat di dalam  shelter setibanya di Pos III. Cukup banyak pendaki di hari Jum’at malam ini, rata-rata dari sekitar Magetan saja, Solo, Karanganyar, Ponorogo, dan Madiun.

Melanjutkan perjalanan menuju Pos IV adalah yang terberat. Walau mungkin jaraknya relatif lebih pendek dibandingkan pos sebelumnya, jalur ini yang terberat dan terus menanjak, nyaris tanpa bonus. Bahkan, di tengah perjalanan kami beristirahat cukup lama karena ngantuk. Perjalanan malam adalah perjalanan mengalahkan rasa kantuk. Angin berhembus cukup kencang menusuk kulit menambah godaan untuk tidur. Di Pos IV, hanya segelintir anggota tim yang sempat terlelap, saya dan Mas Kurniawan tidak bisa tidur karena dinginnya udara malam itu. Ini sudah lewat tengah malam. Menurut keterangan Lia, Sendang Drajat tidak jauh lagi dan vegetasi mulai terbuka.

Setelah berjalan kurang lebih tujuh jam, tibalah kami di sebuah camping ground Sendang Drajat. Ada sumber air di sini. Buru-buru kami mendirikan dua tenda milik Jeanny dan Lia. Angin semakin menusuk kulit, membuat sekujur tubuh menggigil. Saya yang penasaran ingin memotret lampu kota pun tak sanggup bertahan lama, hanya 2-3 frame foto yang dihasilkan dan hasilnya pun sangat tidak memuaskan. Saya segera tidur menyusul teman-teman. Saya hanya mengenakan jaket dan celana polar plus kaos kaki dan kupluk, sisanya berbalut sleeping bag dan sarung.

“Summit Attack” to Hargo Dumilah


Matahari pagi dilihat dari Sendang Drajat

Pagi ini sunrise cukup indah walau agak telat kami nikmati. Suhu di Gunung Lawu memang lebih dingin daripada gunung yang lain. Keberadaan warung Mbok Panut di Sendang Drajat membantu meringankan kami untuk sarapan. Kami hanya memasak minuman panas, kopi, teh, dan susu. Sarapan pagi berupa pecel dan lauk telur ceplok ala Mbok Panut mengisi perut kami pagi ini. Tak lupa kami sempatkan foto bersama Mbok Panut beserta suami di depan warung andalannya. Selain Mbok Panut, juga ada warung Mbok Yem yang relatif sepi di kawasan Hargo Dalem. Mereka berdua ibarat pahlawan bagi para pendaki yang tidak membawa bekal cukup. Hanya berbekal rupiah, gizi pendaki akan tercukupi di atas gunung Lawu.

Foto bersama Mbok Panut (kelima dari kiri)

Usai repacking, Sekitar pukul 8.30, kami beranjak menuju puncak tertinggi gunung ini, Hargo Dumilah. Treknya menanjak namun jarak tempuhnya singkat, sekitar 30 menit paling lama. Puncak Hargo Dumilah ditandai dengan adanya bendera merah putih dan sebuah tugu oleh sebuah produsen buku tulis. Inilah puncak tertinggi Gunung Lawu dengan ketinggian 3.265 mdpl. Dari sini pemandangan sangat indah, sayup-sayup gunung Merapi dan Merbabu terlihat di kejauhan berselimut awan.

Merapi dan Merbabu terlihat samar

Foto bersama di puncak Hargo Dumilah, 
mengibarkan banner dan ucapan selamat ulang tahun untuk Gamananta

Cukup lama kami di puncak, foto-foto dan makan camilan. Kami bertemu dengan rombongan pendaki dari Purworejo, Jakarta, dan Solo. Yang menarik, salah seorang diantaranya membawa anak laki-lakinya ikut mendaki. Luar biasa. Logistiknya juga melimpah, kami diberi sekian potong buah semangka merah segar dan pudding coklat. Pukul 10.00, kami turun bareng-bareng melalui jalur Cemorokandang.

Istirahat di Pos IV

Jalur pulang terasa begitu panjang dan lama, banyak bonus trek dan berputar-putar. Setelah melewati sekitar 4 pos, tibalah kami di basecamp Cemorokandang sekitar pukul 16.30. Kami segera sholat dan di antara kami menjadikan bakso sebagai pengisi perut. Saya dan Anggrek sempat kebingungan karena angkutan umum menuju Maospati sudah jarang, lagi-lagi karena kesorean. Akhirnya, selepas Magrib, teman-teman yang membawa motor membonceng kami berdua, sehingga saya, Mas Yayan, dan Busthomy berboncengan bertiga. Nekat, tapi seru.

Meninggalkan senja Cemorokandang

Di sebuah pom bensin kami berpisah dengan rombongan touring. Mereka akan pulang ke Malang keesokan paginya. Sedangkan saya dan Anggrek naik bus dari Maospati menuju Surabaya, lalu lanjut ke Malang. Dua puluh jam pendakian pergi pulang kami hadiahkan untuk Gunung Lawu.

Ditulis oleh:
Rifqy Faiza Rahman
Read More