Thursday, 14 November 2013

Gamananta Djeladjah Soerabaja


Sebuah momen yang sangat pas bagi Gamananta. Seakan sebagai ajang pembuktian bahwa kami sebagai traveler tidak hanya mengusung semangat konservasi di alam bebas dan budaya, namun juga terhadap kelestarian sejarah. Atas dasar itulah kami mengadakan even kecil berjudul “Gamananta Djeladjah Soerabaja” pada 10 November 2013 kemarin,  bertepatan dengan Hari Pahlawan. Untuk menambah kesan, kami ramai-ramai touring ke Surabaya, tempat sentral pertempuran dahsyat 67 tahun silam.

Ada tiga tujuan utama kami selama di Surabaya, ziarah ke makam pahlawan nasional Bung Tomo, Tugu Pahlawan, dan Jembatan Merah. Kalau waktunya nutut, rencananya kami juga mau ziarah ke TMP Kusuma Bangsa, main ke Monumen Kapal Selam (Monkasel), dan Museum Mpu Tantular Sidoarjo. Berangkat dari Malang pukul 08.00, kami tiba di Giant Waru, Sidoarjo sekitar pukul 10.00, menemui Fitrah yang menunggu di Sidoarjo. Setelahnya kami meluncur ke mall Cito Surabaya untuk menemui mbak Siti yang sudah menunggu di sana, dia dari Mojokerto.

Destinasi pertama kami adalah makam seorang pahlawan nasional, Bung Tomo. Lokasinya sangat mudah dijangkau, depan TMP Ngagel Rejo. Saat itu banyak para pelajar dan organisasi masyarakat yang berziarah, sehingga kami harus bergantian untuk menjaga ketertiban. Saat giliran kami, Teguh dengan khusyuk memimpin doa untuk Bung Tomo. Suasana yang haru, sembari mengingat perjuangan dan gelegar pidato beliau yang membuat bara pejuang Surabaya mendidih melawan kolonial Inggris. Di depan makam yang dilkelilingi pagar ini, terdapat salah satu plakat marmer bertuliskan cuplikan pidato Bung Tomo. Sangat menggetarkan hati membayangkan suasana genting saat 10 November 1945. Taburan bunga dan seikat bunga mawar kami letakkan di atas pusara pejuang tangguh ini. Terima kasih, Bung Tomo!

Menabur bunga di pusara Bung Tomo

Selanjutnya, kami sempatkan makan dulu di sebuah depot yang bersebelahan dengan kawasan kampus Unair. Belum sarapan dari pagi membuat perut kami cukup lapar. Usai makan kami segera menuju Tugu Pahlawan. Setibanya di sana, suasana sangat ramai, karena akan dimulai Parade Juang. Sayang sekali, karena hari itu hari Minggu, museum hanya buka hingga tengah hari. Kami terlambat. Kami hanya puas berfoto di depan patung Soekarno-Hatta. Usai berfoto ria, kami segera menuju depan kantor Gubernur Jawa Timur untuk menyaksikan pembukaan Parade Juang.

Foto bersama di Tugu Pahlawan

Parade Juang ini berupa karnaval kepahlawanan, peserta berjalan sejauh kurang lebih 3 km, melalui Jl. Tunjungan hingga finish di Taman Surya, kompleks kantor Walikota Surabaya. Arak-arakan karnaval dipimpin oleh Ibu Walikota Surabaya, Tri Rismaharini yang berdiri di atas panser Anoa bikinan Indonesia. Yang membuat terharu adalah nama "Bu Risma" begitu dielu-elukan warga sekitar yang menonton. Lambaian tangan dan senyum khas beliau cukup untuk membalas panggilan itu. Harus diakui, Bu Risma adalah salah satu walikota terbaik yang pernah dimiliki Surabaya, utamanya karena perhatian lebihnya di bidang tata kota dan lingkungan.

Walikota Surabaya, Tri Rismaharini melambaikan tangan kepada warga

Melimpah ruahnya Parade Juang siang itu

Ragam rupa peserta Parade Juang

Foto bersama di dalam Tugu Pahlawan

Rentetan karnaval ini cukup panjang, baru habis jelang Ashar. Sebelum menuju Jembatan Merah, kami sempatkan foto-foto di Tugu Pahlawan lagi. Perjalanan menuju Jembatan Merah sempat terhambat oleh aksi demo yang tidak jelas dari BEM beberapa universitas, entah maksudnya apa menghalangi lalu lintas seperti itu. Setibanya di Jembatan Merah, kami sholat terlebih dahulu di dalam mall, baru foto-foto dan mengenang sejarah masa lalu yang penuh pertumpahan darah.

Jembatan Merah dan plazanya


Gamananta di Jembatan Merah, Surabaya

Waktu semakin sore, kami harus mengakhiri perjalanan jelajah Surabaya ini. Keterbatasan waktu ternyata menunda keinginan kami merambah tujuan-tujuan yang lain. Tidak apalah, yang penting tujuan utama bisa tercapai. Harapan yang tersirat dari kegiatan kami ini adalah, semoga kami semakin bisa mencintai Indonesia. Bukankah bangsa yang besar adalah yang menghargai jasa pahlawannya?

Ditulis Oleh:
Rifqy Faiza Rahman
Read More

Sunday, 10 November 2013

Jelajah Pegunungan Putri Tidur (Part 2-End)


Hari kedua, terik matahari mulai menyeringai. Kami memanfaatkan air tersisa untuk masak minuman panas disertai roti tawar dengan susu coklat untuk sarapan ringan pagi ini. Beberapa menit kemudian, melintas beberapa orang pendaki yang sedang turun gunung. Menurut info yang diberikan, ternyata sumber mata air Sendang  sudah dekat. Kami pun bergegas repacking kemudian melanjutkan perjalanan mulai pukul 09.00. Setelah menelusuri tanjakan dan melipir punggungan, terlihat sebuah padang sabana di hadapan kami. Di tengah sabana tersebut terlihat sebuah gubuk kecil terbuat dari kayu dan atap seng yang sudah karatan. Di gubuk tersebut terdapat seorang pria berambut keriting sedang berdiri dan menyalami kami bertiga setibanya di sana. Di samping gubuk tersebut terdapat sebuah mata air atau Telogo Cahyo yang mana penduduk Gunung Kawi menyebutnya begitu. Kami lega luar biasa setelah menjumpai mata air segar yang mengucur cukup deras.



Sumber air di Sendang (Telogo Cahyo)


Setelah bercengkerama dengan orang tersebut yang bernama Pak Ngatemin atau lebih dikenal Pak Brek, terkuaklah kesimpangsiuran selama ini. Ternyata Gunung Butak yang kami tuju sudah terlewati. Tiga jam berjalan kaki dari Sendang. Gunung Butak yang selama ini dianggap sebagai puncak tertinggi di kawasan Pegunungan Putri Tidur, bagi beliau justru merupakan puncak terendah yang lokasinya di bawah Gunung Kawi dan tidak dapat dijadikan camp. Ternyata kami sedang berada di Gunung Siti Ingghil yang puncaknya tertinggi dari 11 gunung yang ada di kawasan Pegunungan Putri Tidur ini menurut beliau. Kesimpulan kami, Gunung Siti Ingghil inilah yang mungkin dimaksud Gunung Butak oleh pendaki selama ini. Ah, setiap daerah mungkin memiliki persepsi berbeda, tidak usah saling membenarkan. Begitu kata Pak Brek.



Saya di tengah-tengah sabana

Setelah mendirikan camp, kami masak untuk makan pagi sekaligus makan siang. Air yang melimpah membuat kami tidak perlu khawatir memasak dalam jumlah banyak dan mengenyangkan. Sisa waktu jelang sore kami isi dengan mengobrol santai bersama Pak Brek yang sejak Rabu mendekam di tengah gunung ini, ditemani salah seorang sahabatnya dari Bogor, Pak Hasan. Terlepas dari niat mereka berdua di sini, kami berlima terlibat percakapan yang hangat layaknya saudara tanpa pandang usia.


Menuju Puncak
Seusai nyenyak tidur siang, kami kembali melangkah pada pukul 15.30 menuju puncak Siti Ingghil. Kami ingin mencoba jalur agar esok saat ke puncak lagi tidak kebingungan. Sempat salah jalur, kami kembali ke jalur yang benar setelah diarahkan oleh Pak Brek. Sabana dan edelweiss berganti hutan cantigi dan pinus yang tumbuh tinggi dan rapat. Perjalanan benar-benar mendaki ini memakan waktu tempuh 30 menit, lalu tibalah kami di pertigaan mendekati puncak. Kami mengambil arah ke kiri, menemui sebuah gundukan batu. Ada bendera Indonesia dan sebuah plakat: Puncak 2.868 mdpl, PA. JAYAMERU MLG. Sebuah PA yang berasal dari kampus UNTAG Surabaya.



Plakat penanda puncak
 Mas Angky meloncat di atas lautan awan

Angin berhembus sangat kencang. Sayang sekali, cuaca yang berawan membuat sunset tidak terlihat. Namun lautan awan di sisi barat laut puncak sangat indah. Gunung Arjuno Welirang juga terlihat jelas. Sabana di bawah sana menunjukkan kami benar-benar berada dalam posisi yang tinggi. Puncak yang terlihat tinggi dari Sendang, ternyata cukup singkat untuk ditempuh. Jalur yang cukup terjal mempersingkat waktu tempuh. Satu jam berfoto di sini cukup bagi kami. Pukul 17.00 kami mulai turun ke Sendang. Setibanya di Sendang, kami sempatkan ngobrol ringan lagi bersama dua orang tadi, lalu lanjut mempersiapkan makan malam. Esok pagi, kami akan ke atas lagi menjemput sunrise.


Pak Brek (tengah) dan Pak Hasan (dua dari kiri)


Hari ketiga, kami terbangun pada pukul 03.00. Selagi tubuh masih mulet-mulet, kami mempersiapkan sarapan ringan untuk bekal ke puncak. Sejam kemudian, kami mulai berjalan sekaligus berpamitan dengan Pak Brek dan Pak Hasan, dua orang ini akan turun gunung pagi ini juga. Ketika kami memasuki hutan pinus, Mas Angky mulai terlihat lelah. Mungkin karena faktor oksigen yang tipis saat pagi hari di dataran tinggi. Saya lihat di ufuk timur, fajar mulai menyingsing, bersiap menyapa kami. Tidak ingin melewatkan kesempatan, saya berinisiatif menuntun dan menarik Mas Angky dari atas agar dia lebih cepat. Di tengah hembusan angin kencang dan dingin yang menusuk tulang, kami terus berjuang melawannya.

Alhamdulillah, pukul 04.30, kami semua tiba di puncak Siti Ingghil kembali. Tak lupa kami langsung sujud syukur dan melaksanakan sholat Subuh berjamaah. Waktu yang masih sangat pagi kami nikmati dengan enjoy. Sunrise terlihat sangat indah, terbit di balik punggung Gunung Semeru, gunung tertinggi di pulau Jawa. Indah nan elok, tampak sedap dipandang. Di sebelah timur laut dengan gagahnya rangkaian Gunung Arjuno-Welirang. Di sebelah barat, nampak pegunungan di Ngantang, Wilis dan waduk Selorejo. Pemandangan yang sore kemarin tak jelas terlihat kini begitu cerah. Langit begitu biru. Indah sekali.

 Saya dan puncak Mahameru nun jauh di sana


Mengibarkan Gamananta dan merah putih di pagi dari atas puncak

Betapa bahagianya kami melihat kebesaran Tuhan dari sini, tak lupa kami mengabadikan perjalanan ini dalam memori kamera. Setelah puas, pukul 06.30 kami turun ke camp dan bergegas masak untuk sarapan serta repacking kemudian bergegas turun. Tampak tak terlihat Pak Brek dan Pak Hasan di gubuk mungil dekat Telogo Cahyo.


Bersiap repacking sebelum pulang

Setelah selesai persiapan, pukul 10.00, kami bergegas turun untuk balik ke Kota Malang. Dalam perjalanan turun, kami baru sadar bahwa jalan yang kami lalui sangat terjal, begitu pannjang dan melelahkan hingga lutut dari Angky mulai kambuh lagi dan harus jalan tertatih. Kami cukup lelah karena perjalanan yang sangat jauh, tak jarang kami harus jatuh bangun dan khawatir akan jatuh ke jurang. Ketika Gunung Panderman mulai terlihat, kami berjalan terpisah karena faktor kemampuan fisik yang kami miliki masing-masing. Saya tiba di basecamp pukul 14.15, disusul Mas Angky dan Mas Rifqy selang satu jam kemudian.

Kami tak akan melupakan perjalanan kali ini, sebuah perjalanan yang mengajarkan kami tentang kesabaran, kebesaran hati, ketenangan jiwa, dan yang pasti akan membuat kami menjadi pribadi yang lebih baik dan besar lagi. Peluh, darah dan dahaga untuk Puncak Siti Ingghil telah menghiasai catatan perjalanan kami bersama Gamananta.



Ditulis oleh: Ahmad Fakhrudin Busthomy
Dokumentasi: Rifqy Faiza Rahman
Read More

Jelajah Pegunungan Putri Tidur (Part 1)


Ditulis oleh:
- Ahmad Fakhrudin Bustomy -
Hari pertama, waktu sudah menunjukkan pukul 05.00, saatnya untuk bangun dari tidur, mandi, sholat shubuh, dan bergegas berangkat menuju basecamp Panderman. Sebuah perjalanan yang tidak termasuk dalam agenda perjalanan Gamananta. Berawal dari sebuah celetukan oleh saya untuk mengisi kekosongan setelah ujian tengah semester. Bulan April lalu, Gamananta sudah pernah mencoba melakukan perjalanan ke Gunung Butak melalui jalur Sirahkencong, Blitar, namun perjalanan tersebut gagal dikarenakan kurangnya pengetahuan tentang medan gunung tersebut.

Hingga jelang hari keberangkatan, informasi medan pendakian gunung ini tetap saja minim. Beruntung, kami mengenal seorang anggota KBMR bernama Mas Eko yang sering mendaki ke Butak. Ditambah dengan pengalaman Gamananta yang sudah cukup malang melintang di dunia pendakian gunung, saya, Mas Rifqy dan Mas Angky melakukan pendakian dengan misi utama untuk mengibarkan bendera Gamananta di puncak gunung yang pernah membuat Gamananta penasaran. Sebelum menuju ke basecamp  Panderman, kami sempatkan belanja logistik tambahan di Pasar Merjosari Malang. Setelah selesai belanja, kami melanjutkan perjalanan mengendarai sepeda motor.

Sekitar pukul 09.00, kami tiba di basecamp Panderman, di sana kami sudah ditunggu oleh Mas Eko yang berkenan mengantar kami hingga persimpangan terakhir jalur trekking, karena akan banyak dijumpai persimpangan. Salah-salah malah nyasar menuju Latar Ombo dan puncak Panderman seperti yang dialami KBMR seminggu sebelumnya. Pegunungan ini jarang sekali didaki oleh umum. Tiga puluh menit kemudian, kaki kami yang ceking mulai melangkah. Obrolan-obrolan ringan menyertai perjalanan yang santai ini, melalui berbagai persimpangan yang dibuat warga untuk mencari rumput. Tak terasa kami sudah sampai di persimpangan jalur, saatnya kami berpisah dan melanjutkan ekspedisi ini bertiga.

 Foto sebelum berpisah di persimpangan. Mas Eko (berdiri)

Istirahat di persimpangan di dalam hutan

Usai istirahat dan berpamitan dengan Mas Eko, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini Mas Angky saya minta berada di depan, kami berdua mengikuti irama langkahnya. Jalur naik turun, lalu menjumpai bonus trek cukup panjang. Jalur pendakian di pegunungan ini cukup bervariasi. Selepas trek bonus tersebut, kami harus melangkah menapak tanjakan yang cukup panjang dan vegetasi mulai terbuka kembali. Kala mendapati tanah datar di antara tanjakan, kami sempatkan istirahat untuk makan. Sedari pagi, perut ini belum terisi.

Usai makan perjalanan dilanjutkan. Mendung mulai menyelimuti langit. Tanjakan ini sudah habis, berganti jalan datar di dalam hutan lumut dan tropis nan panjang. Rain coat dan ponco segera kami kenakan ketika rintik hujan mulai terasa mengguyur. Hutan yang panjang ini seolah menampakkan kesuramannya. Berulang kali kami menaiki pohon tumbang. Bahkan bukan hanya merangkak di bawah pohon yang tumbang maupun terbakar, kami juga merayap layaknya tentara latihan. Beban carrier cukup membuat repot pergerakan merayap ini.


Beberapa percabangan jalur tidak terlalu membingungkan kami walau kadang diselimuti perasaan ragu. Namun, petunjuk berupa tali rafia, stringline oranye dan panah plastik di pohon sangat membantu navigasi menuju Cemorokandang. Petang semakin menjelang, namun hutan pinus itu belum semakin dekat. Kelelahan mulai mendera kami. Hari semakin gelap dan hutan pinus ini semakin suram. Di ufuk barat, terlihat senja mulai menyapa, matahari seakan hendak berpamitan kepada kami. Tapi kami masih berada di tengah hutan cemara atau kami menebaknya itu ialah Cemorokandang yang dibilang oleh Mas Eko dan masyarakat sekitar. Kami tetap berjuang, entah sudah berapa liter peluh yang kami teteskan.

Walau tenaga ini masih cukup kuat meneruskan perjalanan, namun hari yang gelap akan riskan menyesatkan kami. Ego harus ditahan. Hikmahnya mungkin agar kami menenangkan pikiran dulu sebelum melanjutkan perjalanan esok pagi. Kami pun mendirikan camp darurat di sebuah tanah datar yang tidaklah luas. Di belakang tenda adalah tumpukan semak-semak yang mudah longsor dan di depan berupa lubang bekas perapian. Air yang tersisa 1,5 liter membuat kami hanya berani memasak mi instan dan jeruk panas. Kami berharap esok pagi masih ada asa meneruskan perjalanan lebih jauh. (Bersambung)
Read More

Sunday, 3 November 2013

Diklat Gamananta 1: Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD)


Sebagai komunitas traveler yang mengusung semangat konservasi, Gamananta dituntut untuk senantiasa profesional, dalam bidang apapun yang terkait dengan traveling, istilahnya totalitas. Gamananta tidak mau setengah-setengah dalam melakukan aktivitas perjalanan. Termasuk mengantisipasi berbagai hal yang tidak diinginkan dalam perjalanan, seperti misalnya kecelakaan.

Karena itu jelang akhir tahun ini kami memiliki beberapa agenda penting yang bermanfaat sebagai bekal antisipasi tersebut sekaligus menambah wawasan baru. Agenda tersebut akan berangkai dan berupa pelatihan seperti PPGD (Pertolongan Pertama Gawat Darurat), SAR (Search and Rescue), Survival, dan Diklat Lapang sebagai acara puncak dari serangkaian kegiatan tersebut. Setiap kegiatan ini dilakukan untuk memperkuat kemampuan anggota Gamananta dalam traveling, utamanya bergerak di alam bebas.

Peragaan penyembuhan kaki kram

Hari Sabtu pagi, 2 November 2013 kami berkumpul di lapangan rektorat Universitas Brawijaya (UB) Malang. Agenda pertama adalah PPGD, yang diikuti oleh 20-an anggota Gamananta. Metri PPGD yang benar-benar baru membuat peserta begitu tertarik dan antusias menyimak hingga akhir.

Pemateri kali ini adalah tiga orang anggota unit Korps Suka Rela (KSR UB) yang cukup berpengalaman di bidang PPGD, yaitu Anissa Nofitasari, Yeni Restu Novarinda, dan Norma Rachma. Materi yang menurut standar tidak cukup disampaikan dalam satu hari, dijelaskan secara singkat oleh ketiga pemateri tersebut. Garis besar isi materi meliputi kedaruratan medis, cedera jaringan lunak, dan cedera alat gerak yang khusus untuk kasus pada traveling.



Menurut kami, pelatihan sederhana ini penting untuk para traveler yang sering mengalami cedera saat melakukan perjalanan. Hal ini tidak boleh diremehkan karena dapat mengganggu kenyamanan dalam perjalanan. Peserta dituntut mengerti dasar keselamatan diri untuk model cedera seperti luka ringan, luka gores, sesak nafas, kram dan lainnya. Penanganan yang benar dapat mencegah cedera semakin parah, dan traveler masih bisa melanjutkan perjalanan seperti biasa.

Foto bersama usai pelatihan

Pesan yang kami dapat dari pelatihan ini adalah jangan pernah remehkan luka sekecil apapun, harus segera ditangani dan disembuhkan. Destinasi memang penting, namun keselamatan tetap menjadi yang utama. Tunggu agenda pelatihan kami berikutnya. :)

Ditulis oleh: Ike Novitasari
Dokumentasi: Gamananta
Read More