Sunday, 10 November 2013

Jelajah Pegunungan Putri Tidur (Part 1)


Ditulis oleh:
- Ahmad Fakhrudin Bustomy -
Hari pertama, waktu sudah menunjukkan pukul 05.00, saatnya untuk bangun dari tidur, mandi, sholat shubuh, dan bergegas berangkat menuju basecamp Panderman. Sebuah perjalanan yang tidak termasuk dalam agenda perjalanan Gamananta. Berawal dari sebuah celetukan oleh saya untuk mengisi kekosongan setelah ujian tengah semester. Bulan April lalu, Gamananta sudah pernah mencoba melakukan perjalanan ke Gunung Butak melalui jalur Sirahkencong, Blitar, namun perjalanan tersebut gagal dikarenakan kurangnya pengetahuan tentang medan gunung tersebut.

Hingga jelang hari keberangkatan, informasi medan pendakian gunung ini tetap saja minim. Beruntung, kami mengenal seorang anggota KBMR bernama Mas Eko yang sering mendaki ke Butak. Ditambah dengan pengalaman Gamananta yang sudah cukup malang melintang di dunia pendakian gunung, saya, Mas Rifqy dan Mas Angky melakukan pendakian dengan misi utama untuk mengibarkan bendera Gamananta di puncak gunung yang pernah membuat Gamananta penasaran. Sebelum menuju ke basecamp  Panderman, kami sempatkan belanja logistik tambahan di Pasar Merjosari Malang. Setelah selesai belanja, kami melanjutkan perjalanan mengendarai sepeda motor.

Sekitar pukul 09.00, kami tiba di basecamp Panderman, di sana kami sudah ditunggu oleh Mas Eko yang berkenan mengantar kami hingga persimpangan terakhir jalur trekking, karena akan banyak dijumpai persimpangan. Salah-salah malah nyasar menuju Latar Ombo dan puncak Panderman seperti yang dialami KBMR seminggu sebelumnya. Pegunungan ini jarang sekali didaki oleh umum. Tiga puluh menit kemudian, kaki kami yang ceking mulai melangkah. Obrolan-obrolan ringan menyertai perjalanan yang santai ini, melalui berbagai persimpangan yang dibuat warga untuk mencari rumput. Tak terasa kami sudah sampai di persimpangan jalur, saatnya kami berpisah dan melanjutkan ekspedisi ini bertiga.

 Foto sebelum berpisah di persimpangan. Mas Eko (berdiri)

Istirahat di persimpangan di dalam hutan

Usai istirahat dan berpamitan dengan Mas Eko, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini Mas Angky saya minta berada di depan, kami berdua mengikuti irama langkahnya. Jalur naik turun, lalu menjumpai bonus trek cukup panjang. Jalur pendakian di pegunungan ini cukup bervariasi. Selepas trek bonus tersebut, kami harus melangkah menapak tanjakan yang cukup panjang dan vegetasi mulai terbuka kembali. Kala mendapati tanah datar di antara tanjakan, kami sempatkan istirahat untuk makan. Sedari pagi, perut ini belum terisi.

Usai makan perjalanan dilanjutkan. Mendung mulai menyelimuti langit. Tanjakan ini sudah habis, berganti jalan datar di dalam hutan lumut dan tropis nan panjang. Rain coat dan ponco segera kami kenakan ketika rintik hujan mulai terasa mengguyur. Hutan yang panjang ini seolah menampakkan kesuramannya. Berulang kali kami menaiki pohon tumbang. Bahkan bukan hanya merangkak di bawah pohon yang tumbang maupun terbakar, kami juga merayap layaknya tentara latihan. Beban carrier cukup membuat repot pergerakan merayap ini.


Beberapa percabangan jalur tidak terlalu membingungkan kami walau kadang diselimuti perasaan ragu. Namun, petunjuk berupa tali rafia, stringline oranye dan panah plastik di pohon sangat membantu navigasi menuju Cemorokandang. Petang semakin menjelang, namun hutan pinus itu belum semakin dekat. Kelelahan mulai mendera kami. Hari semakin gelap dan hutan pinus ini semakin suram. Di ufuk barat, terlihat senja mulai menyapa, matahari seakan hendak berpamitan kepada kami. Tapi kami masih berada di tengah hutan cemara atau kami menebaknya itu ialah Cemorokandang yang dibilang oleh Mas Eko dan masyarakat sekitar. Kami tetap berjuang, entah sudah berapa liter peluh yang kami teteskan.

Walau tenaga ini masih cukup kuat meneruskan perjalanan, namun hari yang gelap akan riskan menyesatkan kami. Ego harus ditahan. Hikmahnya mungkin agar kami menenangkan pikiran dulu sebelum melanjutkan perjalanan esok pagi. Kami pun mendirikan camp darurat di sebuah tanah datar yang tidaklah luas. Di belakang tenda adalah tumpukan semak-semak yang mudah longsor dan di depan berupa lubang bekas perapian. Air yang tersisa 1,5 liter membuat kami hanya berani memasak mi instan dan jeruk panas. Kami berharap esok pagi masih ada asa meneruskan perjalanan lebih jauh. (Bersambung)
About Gamananta TravelerCommunity

Gamananta adalah sebuah komunitas traveler yang selalu membawa semangat dan orientasi konservasi dalam setiap kegiatan dan perjalanannya. Gamananta merupakan dua kata gabungan dari bahasa Sansekerta, "Gama" berarti perjalanan dan "Ananta" berarti tanpa batas. Gamananta berusaha untuk berjalan tanpa batas demi visi dan misinya.

Artikel Terkait

0 comments:

Post a Comment

No Spam, No Sex, No SARA
Junjung Tinggi Kebebasan Berpendapat yang Bertanggung Jawab