Sunday, 10 November 2013

Jelajah Pegunungan Putri Tidur (Part 2-End)


Hari kedua, terik matahari mulai menyeringai. Kami memanfaatkan air tersisa untuk masak minuman panas disertai roti tawar dengan susu coklat untuk sarapan ringan pagi ini. Beberapa menit kemudian, melintas beberapa orang pendaki yang sedang turun gunung. Menurut info yang diberikan, ternyata sumber mata air Sendang  sudah dekat. Kami pun bergegas repacking kemudian melanjutkan perjalanan mulai pukul 09.00. Setelah menelusuri tanjakan dan melipir punggungan, terlihat sebuah padang sabana di hadapan kami. Di tengah sabana tersebut terlihat sebuah gubuk kecil terbuat dari kayu dan atap seng yang sudah karatan. Di gubuk tersebut terdapat seorang pria berambut keriting sedang berdiri dan menyalami kami bertiga setibanya di sana. Di samping gubuk tersebut terdapat sebuah mata air atau Telogo Cahyo yang mana penduduk Gunung Kawi menyebutnya begitu. Kami lega luar biasa setelah menjumpai mata air segar yang mengucur cukup deras.



Sumber air di Sendang (Telogo Cahyo)


Setelah bercengkerama dengan orang tersebut yang bernama Pak Ngatemin atau lebih dikenal Pak Brek, terkuaklah kesimpangsiuran selama ini. Ternyata Gunung Butak yang kami tuju sudah terlewati. Tiga jam berjalan kaki dari Sendang. Gunung Butak yang selama ini dianggap sebagai puncak tertinggi di kawasan Pegunungan Putri Tidur, bagi beliau justru merupakan puncak terendah yang lokasinya di bawah Gunung Kawi dan tidak dapat dijadikan camp. Ternyata kami sedang berada di Gunung Siti Ingghil yang puncaknya tertinggi dari 11 gunung yang ada di kawasan Pegunungan Putri Tidur ini menurut beliau. Kesimpulan kami, Gunung Siti Ingghil inilah yang mungkin dimaksud Gunung Butak oleh pendaki selama ini. Ah, setiap daerah mungkin memiliki persepsi berbeda, tidak usah saling membenarkan. Begitu kata Pak Brek.



Saya di tengah-tengah sabana

Setelah mendirikan camp, kami masak untuk makan pagi sekaligus makan siang. Air yang melimpah membuat kami tidak perlu khawatir memasak dalam jumlah banyak dan mengenyangkan. Sisa waktu jelang sore kami isi dengan mengobrol santai bersama Pak Brek yang sejak Rabu mendekam di tengah gunung ini, ditemani salah seorang sahabatnya dari Bogor, Pak Hasan. Terlepas dari niat mereka berdua di sini, kami berlima terlibat percakapan yang hangat layaknya saudara tanpa pandang usia.


Menuju Puncak
Seusai nyenyak tidur siang, kami kembali melangkah pada pukul 15.30 menuju puncak Siti Ingghil. Kami ingin mencoba jalur agar esok saat ke puncak lagi tidak kebingungan. Sempat salah jalur, kami kembali ke jalur yang benar setelah diarahkan oleh Pak Brek. Sabana dan edelweiss berganti hutan cantigi dan pinus yang tumbuh tinggi dan rapat. Perjalanan benar-benar mendaki ini memakan waktu tempuh 30 menit, lalu tibalah kami di pertigaan mendekati puncak. Kami mengambil arah ke kiri, menemui sebuah gundukan batu. Ada bendera Indonesia dan sebuah plakat: Puncak 2.868 mdpl, PA. JAYAMERU MLG. Sebuah PA yang berasal dari kampus UNTAG Surabaya.



Plakat penanda puncak
 Mas Angky meloncat di atas lautan awan

Angin berhembus sangat kencang. Sayang sekali, cuaca yang berawan membuat sunset tidak terlihat. Namun lautan awan di sisi barat laut puncak sangat indah. Gunung Arjuno Welirang juga terlihat jelas. Sabana di bawah sana menunjukkan kami benar-benar berada dalam posisi yang tinggi. Puncak yang terlihat tinggi dari Sendang, ternyata cukup singkat untuk ditempuh. Jalur yang cukup terjal mempersingkat waktu tempuh. Satu jam berfoto di sini cukup bagi kami. Pukul 17.00 kami mulai turun ke Sendang. Setibanya di Sendang, kami sempatkan ngobrol ringan lagi bersama dua orang tadi, lalu lanjut mempersiapkan makan malam. Esok pagi, kami akan ke atas lagi menjemput sunrise.


Pak Brek (tengah) dan Pak Hasan (dua dari kiri)


Hari ketiga, kami terbangun pada pukul 03.00. Selagi tubuh masih mulet-mulet, kami mempersiapkan sarapan ringan untuk bekal ke puncak. Sejam kemudian, kami mulai berjalan sekaligus berpamitan dengan Pak Brek dan Pak Hasan, dua orang ini akan turun gunung pagi ini juga. Ketika kami memasuki hutan pinus, Mas Angky mulai terlihat lelah. Mungkin karena faktor oksigen yang tipis saat pagi hari di dataran tinggi. Saya lihat di ufuk timur, fajar mulai menyingsing, bersiap menyapa kami. Tidak ingin melewatkan kesempatan, saya berinisiatif menuntun dan menarik Mas Angky dari atas agar dia lebih cepat. Di tengah hembusan angin kencang dan dingin yang menusuk tulang, kami terus berjuang melawannya.

Alhamdulillah, pukul 04.30, kami semua tiba di puncak Siti Ingghil kembali. Tak lupa kami langsung sujud syukur dan melaksanakan sholat Subuh berjamaah. Waktu yang masih sangat pagi kami nikmati dengan enjoy. Sunrise terlihat sangat indah, terbit di balik punggung Gunung Semeru, gunung tertinggi di pulau Jawa. Indah nan elok, tampak sedap dipandang. Di sebelah timur laut dengan gagahnya rangkaian Gunung Arjuno-Welirang. Di sebelah barat, nampak pegunungan di Ngantang, Wilis dan waduk Selorejo. Pemandangan yang sore kemarin tak jelas terlihat kini begitu cerah. Langit begitu biru. Indah sekali.

 Saya dan puncak Mahameru nun jauh di sana


Mengibarkan Gamananta dan merah putih di pagi dari atas puncak

Betapa bahagianya kami melihat kebesaran Tuhan dari sini, tak lupa kami mengabadikan perjalanan ini dalam memori kamera. Setelah puas, pukul 06.30 kami turun ke camp dan bergegas masak untuk sarapan serta repacking kemudian bergegas turun. Tampak tak terlihat Pak Brek dan Pak Hasan di gubuk mungil dekat Telogo Cahyo.


Bersiap repacking sebelum pulang

Setelah selesai persiapan, pukul 10.00, kami bergegas turun untuk balik ke Kota Malang. Dalam perjalanan turun, kami baru sadar bahwa jalan yang kami lalui sangat terjal, begitu pannjang dan melelahkan hingga lutut dari Angky mulai kambuh lagi dan harus jalan tertatih. Kami cukup lelah karena perjalanan yang sangat jauh, tak jarang kami harus jatuh bangun dan khawatir akan jatuh ke jurang. Ketika Gunung Panderman mulai terlihat, kami berjalan terpisah karena faktor kemampuan fisik yang kami miliki masing-masing. Saya tiba di basecamp pukul 14.15, disusul Mas Angky dan Mas Rifqy selang satu jam kemudian.

Kami tak akan melupakan perjalanan kali ini, sebuah perjalanan yang mengajarkan kami tentang kesabaran, kebesaran hati, ketenangan jiwa, dan yang pasti akan membuat kami menjadi pribadi yang lebih baik dan besar lagi. Peluh, darah dan dahaga untuk Puncak Siti Ingghil telah menghiasai catatan perjalanan kami bersama Gamananta.



Ditulis oleh: Ahmad Fakhrudin Busthomy
Dokumentasi: Rifqy Faiza Rahman
About Gamananta TravelerCommunity

Gamananta adalah sebuah komunitas traveler yang selalu membawa semangat dan orientasi konservasi dalam setiap kegiatan dan perjalanannya. Gamananta merupakan dua kata gabungan dari bahasa Sansekerta, "Gama" berarti perjalanan dan "Ananta" berarti tanpa batas. Gamananta berusaha untuk berjalan tanpa batas demi visi dan misinya.

Artikel Terkait

0 comments:

Post a Comment

No Spam, No Sex, No SARA
Junjung Tinggi Kebebasan Berpendapat yang Bertanggung Jawab