Sunday, 29 December 2013

2nd Malang City Heritage Tour Berbalut Hujan


Hari libur Natal 25 Desember 2013 kami isi dengan kegiatan Malang City Heritage Tour (MCHT) untuk kali kedua. Antusiasme peserta tahun lalu memotivasi kami untuk menyelenggarakannya kembali di tahun 2013 ini. MCHT ialah sebuah kegiatan untuk lebih mengenal kawasan-kawasan bersejarah di seputar kota Malang. Juga momen yang pas untuk mengakomodasi seorang backpacker asal Makassar, Moh. Akbar Perdana yang akan mendaki Gunung Semeru.

Dari 16 peserta, dua di antaranya mundur karena baru tahu kalau MCHT ini digelar dengan cara berjalan kaki. Ya, kami berjalan kaki dari kampus (meeting point) sampai ke tujuan terakhir. Ada sekitar 20 tujuan yang akan kami kunjungi. Hujan yang turun dari pagi semakin membuat perjalanan akan terasa jauh dan berat. Namun, kami tetap bertekad kuat. Itulah mengapa setiap peserta sangat dianjurkan membawa payung atau jas hujan.

Sekitar 09.30, kami mulai berjalan dari kampus. Keluar menuju jalan Veteran melewati depan Mal Malang Town Square (Matos) dan MX yang dulunya adalah hutan dan rawa. Cukup banyak dekorasi yang lucu dan menarik sehingga membuat kami berhenti sejenak untuk foto bersama.

Foto asyik di depan MX dan Matos

Perjalanan terasa menyenangkan karena diiringi dengan canda dan tawa tiada henti. Hingga kami tiba di tujuan pertama kami, yaitu Gereja Santa Maria Bunda Charmel dan Monumen Pahlawan TRIP. Mas Rifqy selaku guide menjelaskan secara singkat keberadaan kedua tetenger itu. Ada kejadian unik ketika sekelompok polisi jaga melihat kostum jas hujan hijau terang yang dipakai Lutfi, mungkin dikira salah seorang anggotanya, hehehe.

Foto berlatar Gereja Santa Maria Bunda Charmel
 
“Wah, Ranger stabillo”, celoteh peserta MCHT yang melihat Rifqy dan Luthfi jalan bersama menggunakan jas hujan orange dan hijau. Mereka memang terlihat seperti polisi dan pemadam kebarakaran yang jalan bersama.

Tujuan selanjutnya adalah Museum Brawijaya. Kami singgah agak lama disini, selain karena hujan juga karena kami ingin lebih puas melihat-lihat peninggalan sejarah yang ada di museum. Ada beberapa peninggalan sejarah yang menarik perhatian kami seperti mobil salah seorang jenderal Kodam, koleksi mata uang jaman dulu, potret perjuangan gerilya Jenderal Sudirman, dan perbandingan foto-foto kota Malang ketika sebelum perang dan sesudah perang. Di Museum itu juga kita bisa melihat beberapa daerah kekuasaan militer negeri ini.

Berfoto di depan Museum Brawijaya sebelum melanjutkan perjalanan

Setelah hujan reda, kami melanjutkan perjalanan menuju sebrang museum, yaitu Monumen Melati Kadet Suropati. Monumen yang dibuat para alumni Kadet Suropati untuk mengenang jasa dan perjuangan mereka. Perpustakaan Umum Kota Malang kami lewati saja dan langsung menuju Stadion Gajayana yang legendaris sebagai stadion tertua yang dibangun di Indonesia sebelum Gelora Bung Karno di Jakarta dan Gelora 10 Nopember di Surabaya. Di luar stadion ini kami sempatkan makan siang karena cuaca dingin membuat kami lapar.

Dari stadion, kami beranjak melanjutkan perjalanan menuju Masjid Jamik Kota Malang untuk sekalian solat Duhur. Waktu yang semakin siang membuat kami hanya mendengarkan penjelasan tentang Alun-alun dan Kantor Pos Besar Kota Malang di halaman depan masjid.

Di depan Masjid Jamik Kota Malang usai solat

Usai solat, kami bergerak ke arah utara, melewati Plaza Sarinah yang konon tertua di Malang dan sering dijadikan tempat bersenang-senang Bung Karno saat zaman kolonial. Juga Toko Oen yang menjual es krim legendaris jujukan wisatawan lokal dan asing.

Kami berhenti sejenak di persimpangan Kayutangan, tepatnya di bundaran Monumen Chairil Anwar. Monumen ini dibangun untuk mengenang bahwa syair-syair Chairil Anwar pada masa perang sangat dibutuhkan untuk memompa semangat para pejuang. Di kawasan ini juga terdapat Gereja Hati Kudus Yesus dan kompleks pertokoan kuno Kayutangan. Ada versi berbeda mengenai nama Kayu Tangan ini, entah karena dulunya ada papan kayu berbentuk lima jari atau batang pohon yang berbentuk tangan.

 
Monumen Chairil Anwar (kiri) dan Jembatan Kahuripan

Dari Kayutangan, kami terus berjalan melewati Jembatan Kahuripan yang dulunya sempat menjadi jalan protokol penghubung Jalan Kahuripan dengan Jalan Semeru. Di perempatan masjid Kahuripan kami bertemu kelompok pendaki asal Bekasi dan Jakarta yang akan mendaki Gunung Semeru. Nampaknya, mereka berbondong-bondong mendaki jelang tutup awal tahun.

Loncat ceria di Tugu Alun-alun Bunder

Setelah dari Jembatan Kahuripan kami menuju ke Tugu Alun-alun Bunder. Kami melepas rasa lelah di tempat ini. Duduk santai di jalan setapak alun-alun, kemudian berfoto bersama. Menikmati suasana cerah sore hari disini sangatlah nyaman. Sungguh lega rasanya hampir mencapai tujuan akhir.
Dari Tugu, kami berjalan ke arah timur sedikit, berputar melewati Stasiun Malang Kota Baru dan Monumen Juang ’45, lalu singgah di halaman Balai Kota Malang.

Di muka Museum Tempo Doeloe

Di balkon lantai dua balai kota ini dulunya pernah berdiri Presiden Soekarno berorasi menyemangati warga kota Malang untuk berjuang mempertahankan kedaulatan republik. Usai berfoto, kami bergegas menuju tujuan terakhir, yaitu Museum Tempo Doeloe dan Resto Ingghil milik budayawan Dwi Cahyono. Sayang, keterbatasan budget membuat kami hanya sanggup melihat dan berfoto dari luar.
Waktu beranjak petang, kami kembali ke kampus dengan angkot biru yang kami sesaki sampai penuh. Hujan sudah lama berhenti, senja menutup gelaran “ritual” konservasi wawasan sejarah ini.

Ditulis oleh: Frida Ayundha Putry
Read More

Monday, 16 December 2013

Pelatihan Mountaineering di Lembah Kera


Tanggal 15 Desember 2013 lalu, Gamananta mengadakan pelatihan mountaineering yang merupakan lanjutan dari pelatihan PPGD pada 2 November 2013 lalu. Sebuah rangkaian pelatihan untuk dijadikan bekal anggota Gamananta agar tidak hanya sekadar menjadi traveler yang asal-asalan.

Pelatihan yang diikuti sekitar 21 orang ini dilaksanakan di tebing Lembah Kera, Pagak, Kabupaten Malang. Dilatih oleh instruktur dari Gerpala Malang, peserta nampak antusias karena sebagian baru kali ini merasakan serunya panjat tebing. Karena keterbatasan tempat dan waktu, maka latihan hanya fokus pada teknik climbing.


Lembah Kera ini merupakan kawasan wisata lokal yang selain menyediakan fasilitas untuk panjat tebing, juga kerap dijadikan tempat perkemahan yang cukup nyaman bagi sekolah maupun universitas. Di bawahnya terdapat aliran sungai yang akan keruh saat hujan.



Saat pelatihan, instruktur dari Gerpala membuat dua jalur climbing agar peserta dapat menggunakannya secara bergantian dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Satu jalur berada pada struktur tebing yang relatif landai, sedangkan satunya cukup curam sehingga sebagian peserta mengalami kesulitan bahkan terlepas dari pegangan batuan.

Climbing memang membutuhkan fisik yang prima, utamanya kekuatan lengan. Persiapan awal juga tidak boleh diremehkan, karena menyangkut nyawa pemanjat. Selepas Asar, latihan berakhir. Gamananta tentu mendapatkan ilmu yang bermanfaat, setidaknya dapat dijadikan wawasan dasar untuk seni khusus mendaki gunung.


Setelah PPGD dan Mountaineering, pelatihan selanjutnya adalah SAR-Survival yang rencananya akan digelar di Coban Talun, Batu.

Read More

Sunday, 1 December 2013

Tour de Sewu Siji Pantai Selatan Malang Season 2



Sabtu pagi yang cukup cerah pada tanggal 30 November 2013. Agenda one day trip GAMANANTA yang berjudul “Tour De Sewu Siji Season 2” dilaksanakan. Kami memulai perjalanan dari pom bensin Bendungan Sutami pada pukul 7 pagi. Rombongan kali ini adalah saya, Mas Rifqy, Mas Rizky, Mas Aan, Mbak Norma, Frida, Sofi, dan Mbak Zahro dengan bersepeda motor.

Setelah sempat singgah untuk sarapan di sebuah warung di Bululawang, sekitar dua jam perjalanan yang lancar, kami tiba di destinasi pertama, Pantai Bajulmati.  Pantai indah dengan garis pantai yang cukup panjang ini memiliki deburan ombak yang besar. Dikatakan Bajulmati karena gugusan pulau karangnya menyerupai buaya yang tak bergerak. Pantai ini berlokasi di Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang.


Berlatar panorama Pantai Bajulmati

Sebelum matahari semakin terik, kami segera bergegas menuju destinasi selanjutnya, yaitu Pantai Ungapan. Pantai yang tak kalah menarik dengan Bajulmati ini juga sudah terkelola oleh Perhutani.  Gradasi air laut yang biru adalah yang menarik di pantai  yang juga satu garis pantai dengan Bajulmati ini.

Cerah di Pantai Ungapan

Keterbatasan waktu membuat kami tidak berlama-lama di Ungapan. Sebelum melanjutkan perjalanan ke pantai ketiga, kami berhenti sebentar untuk foto bersama di jembatan yang melintang di Jalan Lintas Selatan (JLS). Jembatan dengan arsitektur yang unik, namun sayang aksi vandalisme mengotorinya.




Narsis sejenak di Jembatan JLS

Hanya berjarak sekitar 5 km dari Bajulmati,  kami tiba di destinasi ketiga, Pantai Goa China. Kawasan wisata pantai yang terbilang komplet layaknya Balekambang. Sudah terdapat fasilitas camp ground, warung, dan kamar mandi yang cukup banyak. Pantai ini dinamakan Goa China dikarenakan dulunya ada seorang berkebangsaan China yang datang dan bersemedi hingga mati di dalam goa yang ada di pantai tersebut. Gugusan karang hijau memberi warna sendiri di pantai ini. Cukup banyak wisatawan hari ini. Sayang, hujan turun begitu saja yang membuat kami harus berteduh. Suguhan kelapa muda menghibur kami dalam penantian menunggu redanya hujan.

Mendung di Goa China

Setelah reda, perjalanan pun berlanjut ke destinasi terakhir, yaitu Pantai Sendang Biru yang berombak tenang. Sendang biru merupakan pantai yang memiliki arus perputaran ekonomi dan juga uang yang cukup deras yang berasal dari TPI (tempat pelelangan ikan) yang berada tak jauh disebelahnya. Konon, perputaran uang dapat menyentuh angka ratusan juta setiap harinya. Kapal kapal yang berlabuh dari berbagai negara yang merupakan kapal sitaan dapat dilihat di pantai ini. Tak ketinggalan juga kapal para pribumi yang silih berganti berlabuh sambil membawa ikan tangkapannya.

Di seberang Sendang Biru inilah tersimpan berbagai keindahan pemandangan alam yang berada pada kawasan cagar alam Pulau Sempu. Kali ini kami belum berkesempatan ke sana.

Sore yang cerah pun menyambut, kami segera pulang kembali ke Malang dengan membawa ikan tuna segar yang kami beli dari TPI Sendang Biru. Oleh-oleh berupa foto juga tidak tertinggal, membawa banyak kenangan yang menyiratkan berbagai makna dan cerita dalam perjalanan singkat satu hari ini.

Ditulis oleh: Jauhar Syauqi
Read More