Monday, 12 January 2015

Membuka Januari Di Gunung Kerinci


Oleh: David D. L.
Foto: David D. L.

Prolog

Keinginan ini muncul tiba-tiba dalam perjalanan menuju Jakarta dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sepulang dari pendakian Gunung Rinjani pada 20 Agustus 2013. Entah mengapa ada rasa penasaran mendalam untuk mendaki Gunung Kerinci. Padahal rasa lelah belum hilang. Semua karena statusnya sebagai berikut. Yaitu, dengan ketinggian puncaknya sekitar 3.805 meter dari permukaan laut (mdpl), menjadikannya sebagai gunung berapi tertinggi di Indonesia. Di atas Gunung Rinjani (3.726 mdpl) dan Gunung Semeru (3.676 mdpl).

Setelah sukses mendaki Gunung Semeru (yang didaki pada 26 – 30 Juni 2013) dan gunung Rinjani, saya memutuskan untuk wajib mendaki Kerinci pada akhir bulan Desember 2013. Sebab, saat itu adalah waktu libur panjang selama dua minggu, bagi saya yang berprofesi sebagai guru di sebuah SMA swasta di Jakarta. Saya mengajak dua orang bergabung, yaitu Muhammad Ridwan Barchowie (biasa dipanggil Ayie atau Nchek), yang berusia 20 tahun. Merupakan teman di komunitas Seruntul Pencinta Alam. Satu lagi Muhammad Nu'man DL (14 tahun), yang merupakan anak kandung saya.

Sebuah keputusan ekstrim. Mengapa? Pertama, kami bertiga belum pernah ada yang ke Gunung Kerinci. Sehingga info yang kami dapatkan hanya berasal dari internet. Juga dari diskusi kecil via internet dengan pendaki yang sudah pernah ke sana. Kedua, Nu'man, anak saya belum pernah sama sekali mendaki gunung dan punya penyakit asma yang kadang-kadang suka kambuh. Karena asma sangat sensitif dengan suhu dingin dan kelelahan yang sangat.

 Saat latihan fisik ke Gunung Gede 2.958 mdpl

Namun, saya lega karena saat mengajaknya mendaki Gunung Gede pada 15 Oktober 2013, Nu'man berhasil mencapai puncak. Seakan melengkapi hasil jerih payahnya saat melahap latihan fisik yang saya berikan di rumah.

Menuju Kersik Tuo dan Losmen Paiman
Hari Sabtu, tanggal 28 Desember pukul 12.00 WIB, kami bertiga berangkat dari Terminal Bus Rawamangun. Menggunakan bus Family Raya Ceria (FRC) jurusan Jakarta – Padang. Harga tiket per orang adalah Rp 360.000. Kami menggunakan bus karena di samping harga murah, juga untuk menikmati perjalanan darat. Melihat kota-kota di Sumatera yang kami lalui. Kebetulan baru kali ini kami ke Sumatera.

Normalnya hanya ditempuh dua hari, tetapi dalam perjalanan di kota Baturaja bus yang kami tumpangi mogok gara-gara mesin bermasalah. Terpaksa selama satu hari menunggu kedatangan spare part dan perbaikan mesin, karena spare part-nya berada di kota Jambi.

Akhirnya, pada hari Senin, 30 Desember, kami tiba di desa Kersik Tuo, Jambi. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, disambut dinginnya udara kaki Gunung Kerinci yang menusuk tulang. Padahal sudah pakai jaket tebal. Begitupun Nu'man dan Ayie merasakan hal yang sama. Saat itu saya berpikir, sekarang saja dinginnya begitu menusuk apalagi di puncak. Ya Allah, mudahkanlah hamba dan tim tiba di puncak dan turun dengan selamat. Begitu doa yang selalu saya ucapkan.

Losmen Paiman


Kami memilih losmen Paiman sesuai rekomendasi dari internet. Kata mereka, selain murah dan bersih, juga makanannya yang enak. Setelah dua kali bertanya pada penduduk setempat, akhirnya kami tiba di losmen  dengan lelah menyengat. Maklum, sudah duduk terus selama tiga hari perjalanan darat.

Saya berfoto dengan latar belakang Gunung Kerinci

Kami disambut ramah oleh ibu pemilik losmen. Si Ibu ternyata adalah anak dari Bapak Paiman selaku pemilik losmen yang sudah meninggal. Kebetulan masih ada satu kamar kosong yang bisa ditempati tiga orang. Alhamdulillah. Ibu mengatakan kami beruntung. Sebab, kamar tersebut sebenarnya sudah di-booking tapi tidak jadi.

Di akhir bulan Desember, losmen Paiman selalu penuh oleh para pendaki. Baik ke puncak Kerinci maupun ke Danau Gunung Tujuh untuk melihat keindahan alamnya. Semuanya untuk merayakan pergantian tahun.

Kami dikenai biaya sewa, termasuk makan dua kali sehari sebesar Rp 30.000 per orang. Kami tak banyak cakap dengan si Ibu, sebab mata dan tubuh sangat lelah. Setelah mandi dan solat, akhirnya kami bertiga tidur nyenyak.

Menunda Pendakian
Harusnya, hari ini, tanggal 31 Desember, mulai pukul 06.00 kami langsung melakukan pendakian Tetapi, urung dilakukan karena masih kelelahan. Mengapa pendakian harus dimulai pada pukul 6 pagi? Sesuai info, pendakian lebih baik dilakukan pukul 6 pagi, karena dibutuhkan waktu sekitar delapan jam mencapai Shelter 2. Sebuah tempat lapangan terbuka, di mana tenda bisa didirikan sebelum summit attack. Shelter 2 mampu menampung kurang lebih 6 tenda dome kapasitas 4 orang.

Mendirikan tenda sebelum Shelter 2 tidak direkomendasikan, karena masih banyak harimau Sumatera berkeliaran. Kebanyakan para pendaki membuka tenda di Shelter 3, sebuah lapangan terbuka yang lebih luas dari Shelter 2. Mampu menampung lebih dari 30 tenda. Dari Shelter 2 ke Shelter 3 butuh waktu sekitar dua jam. Shelter 3 ini adalah shelter aman terakhir dan lebih dekat ke puncak yang hanya butuh waktu tiga jam. Jadi, rencana merayakan pergantian tahun di gunung pun batal.

Pagi ini, setelah Subuh saya memilih untuk jalan-jalan pagi di kebun teh, yang konon terbesar kedua di dunia itu. Dan melihat keindahan Gunung Kerinci dari jauh.

Kebun teh yang terhampar di seberang pemukiman

Setelah olahraga pagi, saya sempat ngobrol dengan Ibu pemilik losmen. Ternyata Ibu ini keturunan Jawa. Dia bercerita bahwa penduduk Desa Kayu Aro mayoritas keturunan Jawa. Generasi kedua dari hasil migrasi penduduk Jawa ke Jambi pada zaman penjajahan Belanda. Jadi, jangan heran jika bahasa Jawa mendominasi percakapan sehari-hari masyarakat desa Kayu Aro.

 Gunung Kerinci diselimuti kabut

Tak terasa kami ngobrol sampai azan Duhur berkumandang. Saya pamit kembali ke kamar untuk repacking, susun rencana dan istirahat. Tujuannya agar fisik kembali pulih untuk melakukan perjalanan sesungguhnya, menggapai puncak Kerinci nan eksotis. Malam tahun baru pun kami rayakan dalam mimpi.

Perjalanan Sesungguhnya Dimulai
Rabu, 1 Januari 2014. Pada pukul 06.00, dengan menggunakan jasa ojek milik menantu si Ibu, kami bertiga diantar menuju kantor Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) untuk registrasi pendakian.

Sekadar info, dalam pendakian ini kami tidak memakai guide atau porter lokal. Selain menghemat uang, saya memilih mengandalkan insting Ayie saja sebagai seorang pendaki berpengalaman. Walaupun, dia juga belum pernah merasakan aroma Gunung Kerinci. Yang kedua tentu saja Doa kepada Allah SWT, Tuhan penguasa Kerinci.

Kami bertiga di Simpang Tugu Macan

Kami berangkat dengan bismillah, semoga Engkau , ya Allah, sukseskanlah perjalanan ini, mulai pergi dari Jakarta – Desa Kersik Tuo – Puncak Kerinci dan balik lagi ke Jakarta tanpa kekurangan suatu apapun. Amin. Inilah doa yang selalu saya panjatkan dalam salat lima waktu, tahajjud dan duha sebelum berangkat ke Jambi. Siapa yang tidak tahu Kerinci, gunung berapi aktif tertinggi dan paling angker nomor lima di Indonesia. Angker dengan harimaunya maupun dengan badainya yang tidak bisa ditebak. Apalagi, Ibu mengatakan sudah dua hari ini Kerinci diamuk badai kabut.

Pintu Rimba - Pos 3
Setelah satu jam berlalu dari losmen dan mengurus registrasi di TNKS, akhirnya kami tiba di pintu awal pendakian pada pukul 07.00. Pintu ini dikenal dengan nama pintu Rimba.

Sedikit info, tempat istirahat utama di Gunung Kerinci ada dua nama: Pos dan Shelter. Pos hanya digunakan untuk istirahat sementara dan ada bangunannya. Sedangkan fungsi shelter adalah untuk mendirikan tenda dan tidak ada bangunannya.

Di Gunung Kerinci ada tiga pos (Pos 1, 2 dan 3) serta tiga shelter (Shelter 1, 2 dan 3). Urutannya adalah Pintu Rimba, Pos 1, Pos 2, Pos 3, Shelter 1, Shelter 2, Shelter 3, Tugu Yudha dan Puncak Kerinci.

 Bersiap memulai pendakian

Pos 1

Pos 2

Dari Pintu Rimba ke Pos 1, dari Pos 1 ke Pos 2, dari Pos 2 ke Pos 3 rata-rata kami tempuh satu jam. Jadi, lama perjalanan dari Pintu Rimba ke Pos 3 adalah empat jam. Kami tiba di Pos 3 sekitar pukul 11.00 WIB.

 Foto bersama pendaki lain di Pos 3

Di Pos 3, kami bertemu para pendaki campuran, gabungan pendaki lintas Jawa-Sumatera yang bertemu via internet. Saya heran mereka bisa ngecamp di sini, padahal infonya banyak harimau Sumatera masih berkeliaran. Mereka juga bilang agak takut, tetapi dipaksakan. Karena, sedang menunggu teman yang akan menyusul dari Jakarta. Mereka sudah dua malam ngecamp dan tidak terjadi apa-apa. Apakah harimau Sumatera hanya mitos? Ah sudahlah, mungkin Allah sedang melindungi mereka.

Pos 3 - Shelter 1 - Camp
Perjalanan dari Pos 3 ke Shelter 1 paling menguras tenaga. Butuh sekitar 4,5 jam untuk tiba di sana. Treknya sudah mulai curam, kemiringan mendekati 60 derajat, licin, berlumpur, dan sampai memanjat akar. Ditambah lagi hujan turun, menunda perjalanan sekitar 20 menit.

Kami tiba di Shelter 1 pada pukul 15.00. Di sini kami bertemu banyak pendaki yang turun setelah summit. Mereka bilang cuaca di atas ekstrim, terutama kabutnya. Lagi-lagi ada pendaki yang sudah ngecamp dua malam di Shelter 1, namun tidak terjadi apa-apa. Tapi, kami tetap waspada dan tidak boleh sombong.

 Bersama seorang pendaki di Shelter 1

Menurut informasi, perjalanan ke Shelter 2 butuh waktu sekitar 3 jam. Karena kami bertiga merasa masih kuat, akhirnya diputuskan melanjutkan perjalanan. Walaupun, nanti kami akan menghadapi malam. Terabas terus! Semangat!

Tapi, niat tinggal niat. Semangat menurun setelah melihat jalur yang dilalui. Membuat fisik makin terkuras.

Jalurnya yang sempit seperti perjalanan menuju Shelter 1, ditambah hujan seolah menjadi satu paket. Kami bertiga sudah lebih dari tiga kali jatuh terjengkang karena licin dan dalamnya lumpur. Untung saja kami masih belum tergigit pacet. Ayie menjerit, karena dia membawa carrier paling berat berukuran 120 liter.

"Jalurnya lebih berat dari gunung Salak," katanya. Dalam hati saya tertawa, mengapa dari awal tidak mau menggunakan porter. Akhirnya kami memutuskan untuk ngecamp di satu tempat, entah apa namanya. Tempat ini hanya muat untuk satu tenda dome berkapasitas empat orang. Kami tiba pada pukul 17.00 saat itu.

"Camp Darurat"

Tempat ini sempat bikin was-was akan gangguan harimau Sumatera, karena di belakang adalah semak-semak. Tapi ,karena kelelahan yang sangat, akhirnya kekhawatiran itu sedikit demi sedikit terabaikan. Setelah bersih-bersih, makan, dan salat, kami tidur dengan lelap. Sebelumnya, saya memohon kepada Allah semoga tenda ini dijauhi sang raja hutan.

Hari Kamis, tanggal 2 Januari 2014. seharian tidak ada aktivitas pendakian. Kami fokus istirahat untuk memulihkan stamina yang terkuras akibat perjalanan kemarin. Hanya Ayie dan Nu'man yang mencari sumber air, karena persediaan sudah menipis. Setelah pulang, mereka mengatakan sumber air tadah hujan ada di Shelter 2, tapi sumber air melimpah ada di Shelter 3.

Di hari ketiga pendakian, kami hanya Ishoma (Istirahat, salat dan makan) dengan Ayie sebagai kokinya. Lumayan enak juga masakannya.

Summit Attack
Hari Jumat, 3 Januari 2014. Pada pukul 06.00 WIB, kami memulai misi ke puncak. Berbekal daypack berisi makanan ringan, air minum, raincoat, dan ditambah doa kepada Allah, kami berangkat menuju puncak Kerinci.


Memulai Summit Attack

Trek sempit yang harus dilalui menuju Shelter III

Dalam perjalanan ke puncak, hanya ada kami bertiga. Sementara para pendaki lain sudah turun. Timbul kekhawatiran, bagaimana bila nyasar? Tapi saya berusaha yakin, jika Allah bersama kami.

 Shelter III yang terbuka

Kami tiba di Shelter 3 pukul 10.00. Berarti sudah empat jam perjalanan dari tempat camp. Di tempat ini kami bertemu sepasang pendaki kakak beradik yang sudah empat malam berturut-turut di Shelter 3 dan empat kali summit. Salut!

 Puncak tak jauh lagi

Setelah melewati Tugu Yudha dan berjalan selama 3,5 jam dari Shelter 3, akhirnya kami bertiga tiba di Puncak Kerinci. Perjuangan keras kami terbayar sudah.

Saya dan Nu'man di puncak Kerinci 3.805 mdpl

Walaupun tidak melihat sunrise, tapi hati kami puas. Puas karena berhasil menginjakkan kaki di gunung berapi tertinggi di Indonesia. Puas karena kami mendaki tanpa porter. Puas karena selama perjalanan dari Shelter 3 ke puncak, Allah berikan awan sebagai payung dari sengatan matahari. Puas karena badai kabut yang dikhawatirkan tidak terjadi. Puas karena selama pendakian kesehatan selalui menyertai kami. Puas karena kami tidak lupa untuk salat selama perjalanan, walaupun dengan duduk (kontur tanah tidak memungkinkan untuk berdiri). Puas karena anak saya, Nu'man, berhasil mengatasi asma dan pusingnya akibat kelelahan, dingin dan ketinggian. Puas karena tidak bertemu sang raja hutan, harimau Sumatera. Puas karena dari Shelter 3 ke puncak dan sebaliknya, kami tidak tersesat. Padahal banyak jalur-jalur sesat menuju jurang.

 Nu'man dan Ayie (kanan) di puncak Kerinci

Kurang lebih sekitar satu jam kami berada di puncak untuk menikmati keindahan ciptaan-Nya. Setelah berfoto secukupnya, pukul 15.00 kami turun menuju tenda. Kami tiba sekitar pukul 20.00 dan disambut hujan deras. Alhamdulillah.

Turun Gunung
Sabtu, 4 Januari 2014. Raut kepuasan dan ceria menyelimuti wajah kami bertiga di pagi yang cerah. Terbawa bahkan pada saat repacking sebelum kembali ke basecamp.

Tepat pada pukul 07.30, kami mulai bergerak turun. Perjalanan naik dan turun hampir tidak ada bedanya, sama-sama berat. Selama turun, hujan selalu setia menyertai kami. Apakah ini pertanda Gunung Kerinci sedih kami tinggalkan? Entahlah, yang jelas kami sedikit sengsara karena licinnya jalur dan kubangan lumpur yang dalam. Belum lagi pacet sebesar jempol kaki mulai banyak bermunculan. Semakin menambah dramatis batin yang tadinya sempat ceria.

Inilah hasil "bergulat" dengan alam Gunung Kerinci

Setelah berjalan selama tujuh jam, kami bertiga berhasil mencapai pintu Rimba pada pukul 15.00. Selanjutnya, dengan menggunakan jasa ojek petani ladang, kami menuju kantor TNKS untuk melapor selesainya pendakian. Akhirnya kami tiba kembali di Losmen Paiman pukul 14.00.

Pulang ke Jakarta
Kami menginap satu hari lagi di losmen Paiman untuk memulihkan fisik dan belanja suvenir. Sebenarnya hari Minggu ini, 5 Januari, kami berencana ke Danau Gunung Tujuh. Sebuah danau eksotik yang berada di ketinggian di atas 2000 mdpl. Danau ini terletak di sebelah gunung Kerinci dan berjarak satu desa. Kata orang, Danau Gunung Tujuh ibarat penyedapnya, sedangkan Gunung Kerinci diibaratkan sayuran lodeh. Saling melengkapi. Namun, mengingat kondisi fisik dan keterbatasan waktu, akhirnya dibatalkan.

Lima hari sudah kami berada di sini, sebuah pengalaman mengesankan. Keramahan pemilik dan penghuni losmen, makanan Jawa, kopi khas Kayu Aro, memandang kebun teh terbesar di Indonesia, cuaca dingin khas pegunungan, pemandangan gunung Kerinci, pendakian tanpa porter, cuaca bersahabat di puncak Kerinci, dan kekompakan kami bertiga, membuat hati betah berlama-lama di sini. Tetapi, karena tugas kantor telah menanti, dan mulai masuk kerja, keinginan berlama-lama itu harus dipendam sementara waktu. Kami berharap suatu hari nanti bisa kembali ke sini. Tak lain untuk menikmati pesona Danau Gunung Tujuh dan menggapai puncak Kerinci untuk yang kedua kali. Semoga.

(Cerita dan foto perjalanan dibuat oleh Bapak David D. L. selaku anggota komunitas Gamananta. Atas persetujuan beliau, tulisan ini selanjutnya dimuat dalam blog ini dengan diedit seperlunya. Untuk informasi lebih lanjut mengenai transportasi, biaya perjalanan dan semacamnya, dapat menghubungi di akun Facebook David Dl)
About Gamananta TravelerCommunity

Gamananta adalah sebuah komunitas traveler yang selalu membawa semangat dan orientasi konservasi dalam setiap kegiatan dan perjalanannya. Gamananta merupakan dua kata gabungan dari bahasa Sansekerta, "Gama" berarti perjalanan dan "Ananta" berarti tanpa batas. Gamananta berusaha untuk berjalan tanpa batas demi visi dan misinya.

Artikel Terkait

0 comments:

Post a Comment

No Spam, No Sex, No SARA
Junjung Tinggi Kebebasan Berpendapat yang Bertanggung Jawab