Wednesday, 25 February 2015

Pendakian Bersama Gunung Semeru Mei 2014 (Part 3 - end)

 Bintang malam di Ranu Kumbolo (Foto oleh: Rifqy Faiza Rahman

Bintang di Langit Ranu Kumbolo
Sekitar pukul 16.30, kami sudah tiba di Ranu Kumbolo. Suasana cukup ramai saat itu. Segera saja tenda-tenda didirikan dan merapikan perlengkapan masing-masing. Sebagian di antara kami ada yang memilih melanjutkan tidur, sisanya menyiapkan makan malam.

Beranjak gelap, angin mulai berembus menusuk tulang. Saya, bersama Rizky dan Ade masih memasak bersama. Tenda-tenda yang dihuni anggota tim pendakian yang lain senyap. Sepertinya mereka sudah terlelap. Maklum, sebagian besar dari mereka baru turun dari puncak. Sedangkan saya, masih segar karena memilih menemani Anggrek turun ke Kalimati.

Usai makan malam, saya sebenarnya ingin mengajak mereka keluar tenda melihat bintang. Ya, malam itu bintang bertaburan di langit Ranu Kumbolo. Sangat indah. Namun, melihat kondisi mereka yang sepertinya sangat lelah, saya memutuskan untuk memotret sendiri.


Bintang di atas Tanjakan Cinta (Foto oleh: Rifqy Faiza Rahman)

Saya berdiri di sebuah titik, di mana pandangan ke arah danau begitu lapang. Walau agak semarak karena banyak lalu lalang pendaki dan tenda yang berjejer rapat. Di balik saya, bintang tak kalah semaraknya di atas Tanjakan Cinta yang terlihat gulita. Tak terlihat pendaki yang baru turun dari Kalimati selarut ini. Yang jelas, suasana gemerlapnya bintang malam ini menyamai suasana kala pendakian bulan Oktober dan November 2012. Sayang, saat itu saya melewatkan momen merekam bintang karena keterbatasan kamera. Kali ini, kesempatan itu ada.

Puas dengan perburuan memotre bintang, saya kembali ke tenda. Terlihat Rizky dan Ade sudah begitu nyenyak dalam tidurnya. Saya segera berbaring, merapatkan posisi di antara mereka. Bukan tanpa alasan, supaya terasa hangat. Saya semakin meringkuk di dalam sleeping bag, menyusul mereka ke alam mimpi.

Keindahan Pagi Sebelum Pulang
Ketika suhu udara dirasa semakin menusuk, itu berarti sebentar lagi Subuh akan datang. Tapi, demi menyambut matahari terbit, kami rela bangun dari hangatnya sleeping bag. Sembari menggigil, kami menuju tepi danau untuk mengambil air wudu.


Sunrise Ranu Kumbolo (Foto oleh: Rifqy Faiza Rahman)

Usai salat Subuh, kami bergegas menyiapkan pose terbaik dengan latar belakang matahari terbit. Secangkir teh atau kopi hangat menemani kami menyambut pagi. Pagi itu langit Ranu Kumbolo seperti keemasan, dengan kabut-kabut tipis yang masih melayang di permukaan danau. Keindahan yang akan terlewatkan jika memilih meneruskan tidur hingga siang.

Puas menikmati kehangatan matahari terbit, kami mulai menyiapkan sarapan. Entah karena malas atau karena masih tersisa lelah sedari puncak kemarin, kami benar-benar betah di Ranu Kumbolo. Bahkan hingga selesai sarapan pun tak ada yang berkeinginan segera berkemas dan beranjak pulang. Benar-benar tak ingin meninggalkan Ranu Kumbolo secepatnya.




Bersantai sejenak setelah menyaksikan matahari terbit (Foto oleh: Rifqy Faiza Rahman)

Baru tepat jelang tengah hari, kami berkemas. Agak bermalas-malasan. Berat rasanya meskipun ini hari terakhir di Semeru dan harus turun ke Ranu Pani. Namun, kami memang harus pulang. Masih banyak kegiatan yang harus dilakukan setibanya kembali di peradaban.

Sekitar pukul 12.30, seusai foto bersama, kami mulai berjalan meninggalkan Ranu Kumbolo yang airnya bergemericik tenang. Perjalanan pulang pun dilakoni dengan santai tak terburu-buru. Waktu tempuh sekitar 3 jam perjalanan diperlukan untuk tiba di Ranu Pani kembali.

Secara umum, pendakian berlangsung lancar. Sekalipun tidak seluruhnya berdiri di ppuncak Mahameru, tetapi yang terpenting adalah kami bisa pulang dengan selamat. Setelah tiga hari dua malam bergelut di tengah alam raya Semeru, kini kami kembali menjalani kehidupan masing-masing. (end)

Read More

Pendakian Bersama Gunung Semeru 2014 (Part 2)

Puncak Mahameru (Foto oleh: Ugo Nugroho)

(Cerita selanjutnya ditulis berdasarkan pengalaman dan dari sudut pandang Uki, salah seorang anggota tim pendakian Gamananta)

Summit Attack
Sebenarnya, makan malam sudah siap sedari pukul 21.00. Namun, karena sudah telanjur capek akibat tiba di Kalimati terlalu sore, rasa kantuk pun mengalahkan keinginan untuk makan. Hidangan yang semula hangat pun mendingin karena tak segera dimakan.

Tiba-tiba, saya tersentak kaget ketika waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Berarti sudah sekitar dua jam kami tertidur. Langsung saja, saya segera membangunkan teman-teman dan bergegas menyantap makan malam. Kami makan di antara rasa kantuk dan rasa ingin segera berjalan ke puncak. Sebagian anggota tim sudah berkemas menyiapkan perlengkapan tempur untuk summit attack ke puncak Mahameru. Perlengkapan tempur tersebut terdiri dari jaket tebal, headlamp atau senter untuk penerangan, dan bekal konsumsi kelompok. Memang agak sedikit terlambat, tetapi masih ada waktu untuk segera berangkat.

Sejam kemudian, kami sudah siap. Sebelum berangkat, kami merapatkan barisan untuk berdoa bersama. Hening sejenak di tengah keriuhan Kalimati yang dipenuhi para pendaki yang akan ke puncak.

Ji! Ro! Lu! Budal! Jargon memekik memecah malam saat berangkat. Rombongan tim (kecuali Subhan yang terpaksa ditinggal di tenda karena kakinya sakit) dipimpin oleh Rizky sebagai leader dan Rifqy di belakang menjadi sweeper.

Trek ke puncak kali ini lewat jalur baru, persis di belakang shelter Kalimati. Karena jalur ke Arcopodo telah rusak akibat longsor. Perjalanan dimulai dengan trek berkerikil landai, namun memasuki hutan semakin menanjak. Ini baru benar-benar mendaki dan dapat dibilang nyaris tanpa bonus. Setelah sempat salah jalur karena terlalu mengekor rombongan pendaki yang mengular di depan kami, kami segera berbelok arah ke kiri. Memasuki kawasan hutan Arcopodo yang tanahnya penuh debu beterbangan.

Lebatnya hutan Arcopodo seakan mengisyaratkan kerindangan dan ketentraman kehidupan di sana. Langkah demi langkah terus tercipta. Bintang malam yang bersinar terang memberi arti tersendiri dalam menemani setiap hentakan jantung yang terus berpacu. Cucuran keringat seakan hilang tersapu dinginnya angin malam yang berembus kencang.

Langit malam mulai jelas terlihat, rindang pohon mulai menghilang. Area hutan telah tertinggal jauh di belakang. Kami sedang melewati Kelik, begitu banyak orang menyebutnya. Kelik merupakan perbatasan vegetasi dengan jalur berpasir dalam dan menanjak tanpa ampun. Mulai dari sini, kekuatan hati kami ditempa. Keyakinan tekad dan doa akan menjadi penentu di tengah keterbatasan fisik kami.

Beberapa langkah meninggalkan Kelik, rombongan mulai terpencar. Rifqy sudah jauh di belakang, mendampingi Anggrek yang susah payah berjalan ke puncak. Begitupun dengan Tanti, Dicky, dan Gunawan. Sementara saya dan yang lain sudah berjalan cukup jauh di depan.

Saya bersama Rendra sepakat untuk tetap berjalan bersama menuju Mahameru. Mereka berdua perlahan dengan pasti meniti langkah di atas pasir yang cukup dalam dan bebatuan labil. Langkah kaki pun semakin berat, sangat menguji tekad para pendaki. Tak sedikit pendaki yang akhirnya berhenti di tengah perjalanan, menyerah dan memilih tidak melanjutkan perjalanan ke puncak. Jalur ke puncak dinihari itu memang sangat ramai, penuh para pendaki yang akan ke puncak.

Waktu terus berlalu, saat itu sudah menunjukkan pukul 3 dinihari. Saya dan Rendra, ditambah Fandi beristirahat sebentar sambil menengok ke bawah. Deretan sorot lampu headlamp bak iring-iringan semut yang sedang mencari makanan. Makanan! Celaka, kami bertiga sudah tidak lagi membawa makanan. Beberapa camilan yang di bawa Rendra telah ludes. Rasa lapar yang melilit dapat mengalahkan kantuk yang mendera. Beruntung di tengah perjalanan kami bertemu Doni, salah seorang anggota tim pendakian yang membawa bekal kelompok. Syukurlah.

Rock! Kanan!

Berulang-ulang saya mendengar teriakan seperti itu. Yang menunjukkan adanya batu yang jatuh dari atas. Mulai dari yang sebesar genggaman hingga yang sebesar kepala. Benar benar dingin suhu di sini. Oksigen mulai menipis, udara kering menyelimuti. Keyakinan kami benar-benar diuji. Berulang kali terlintas dalam benak saya, “apakah aku sanggup melewati ini? sanggupkah aku berdiri di Mahameru? Haruskah jalanku berhenti di sini?”. Puncak memang telah terlihat, tetapi langkah yang terus merosot kian menyiutkan nyali.

Kantuk benar-benar tak tertahankan. Tanpa sadar ternyata sudah sekitar 10 menit saya terlelap. Pada posisi seperti ini sebenarnya tidak disarankan berlama-lama istirahat karena berisiko terkena hipotermia.

Siluet Rizky dan Fandy berlatar matahari terbit di Mahameru (Foto oleh: Fandy Alfizar)

Perlahan warna jingga keemasan mulai terlihat di ufuk timur. Sentuhan hangat mentari mulai terasa. Subhanallah, benar-benar indah sunrise dari lereng Mahameru ini. Sebenarnya ingin hati melihat momen ini tepat di puncak, tetapi sepertinya memang belum waktunya. Matahari yang mulai menerangi memberi semangat untuk terus melangkah.

Puncak Mahameru tinggal beberapa meter lagi. tetapi tingkat kemiringan yang semakin curam membuat kami menjadi cepat lelah dan lebih banyak istirahat. Seperti tak mungkin lagi kaki ini melangkah. Tetapi, tekad dan keinginan yang besar ampuh membuat kaki saya terus melaju dan perlahan saya berjalan sendiri meninggalkan Rendra dan Doni yang sedang beristirahat.

Pasir mulai memadat dan terdapat cerukan yang berada di sisi kanan dan kiri saya. Saya mendongakkan kepala dan melihat beberapa orang sedang duduk bersantai. Langkah demi langkah terasa semakin cepat, tanjakan pasir berubah menjadi hamparan luas yang membuat diri menjadi lepas dan ingin berteriak. Saya sudah sampai di Mahameru! Gejolak di dada tak tertahankan lagi, ingin rasanya meluapkan segala usaha yang akhirnya tak sia-sia. Teman-teman mulai menyusul, berdatangan ke puncak. Rizky adalah orang pertama dari tim kami yang berhasil tiba di puncak.

Pemandangan indah terhampar dari tempat kami berdiri. Mulai dari gugusan hutan dan bukit pegunungan Tengger, hingga garis pantai utara dan garis pantai selatan Jawa Timur terlihat. Sungguh sebuah sensasi tersendiri berada di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Hamparan luas dengan bendera merah putih yang tertancap merupakan gambaran yang tak mungkin terlupakan dari kenangan.

Dengan membawa plakat bertuliskan “Mahameru 3676 mdpl”, saya berfoto dan mengabadikan momen yang merupakan hasil perjuangan tersebut. Selain bendera dan plakat Mahameru, kawah jonggring saloka yang sesekali berdentum juga merupakan momen langka. Setiap asap beracun dari kawah tersebut keluar, para pendaki segera berfoto dengan latar belakang asap yang membumbung.

Sebagian anggota yang sudah tiba di puncak terlebih dahulu (Foto oleh: Fandy Alfizar)

Setelah puas berfoto, kami segera bersiap turun menuju Kalimati. Baru beberapa langkah meninggalkan Mahameru, saya bertemu Tanti dan Gunawan yang masih terlihat kelelahan dan belum menggapai puncak. Sehingga, Rizky memutuskan untuk menemani mereka, sementara saya dan yang lain kembali ke kalimati.

Sesampainya di tenda, saya bertemu dengan Anggrek dan Mas Rifqy yang ternyata turun duluan sebelum mencapai puncak. Rupanya Anggrek mengalami kelelahan sehingga memilih turun. Sambil menunggu yang lain, saya melepas sepatu yang dipenuhi pasir yang masuk dan mengganti baju yang penuh dengan debu.

 Foto bersama sebelum meninggalkan Kalimati
 
Ketika tepat jelang tengah hari anggota tim pendakian sudah lengkap, kami segera berkemas. Sekitar Pukul 14.00, setelah kami mulai meninggalkan Kalimati untuk turun menuju Ranu Kumbolo. Kami akan menginap semalam lagi di sana. Walau masih terasa ngantuk dan lelah, kami tidak ingin terlalu sore tiba di Ranu Kumbolo. Supaya ada waktu lebih untuk bersantai dan beristirahat memulihkan tenaga. Juga agar kami lebih menikmati suasana Ranu Kumbolo.

(Bersambung)
Read More

Pendakian Bersama Gunung Semeru 2014 (Part 1)


Setelah cukup berhasil menggelar pendakian bersama ke Gunung Semeru pada tahun 2013, kami kembali menyelenggarakannya pada tahun 2014. Tepatnya, tanggal 29-31 Mei 2014. Tak seperti pendakian tahun 2013, yang diikuti sebanyak 29 orang, kali ini peserta dibatasi maksimal 15 orang. Konfigurasi peserta terdiri dari 13 laki-laki dan sisanya perempuan. Saya bersama Rizky, Caca, dan Jeanni pergi ke Ranu Pani untuk memastikan sekaligus memesan kuota pendakian. Sayang, dua nama terakhir tersebut tidak ikut dalam pendakian.

Adapun peserta pendakian ke Gunung Semeru kali ini adalah sebagai berikut:

Rizky Maulana (Jombang)
Jauhar Syauqi (Kudus)
Rifqy Faiza Rahman (Pacitan)
Romadhoni Hidayatullah (Sidoarjo)
Ahmad Subhan (Mojokerto)
Gunawan (Mojokerto)
Dicky Pratama (Medan)
Fandy Alfizar (Surabaya)
Steven Rendra (Sidoarjo)
Ade (Lampung)
Anggraeni Ayu Saputri (Mojokerto)
Kustanti (Lamongan)
Latif Munawar (Solo)
Muhammad Isnain (Solo)
Nugroho (Solo)

Menuju Tumpang
Setelah rombongan asal Solo (Latif, Isnain, dan Nugroho) tiba di meeting point gazebo Universitas Brawijaya, pukul 23.00 kami berangkat ke Tumpang dengan sepeda motor.

Perjalanan santai, tidak terburu-buru. Karenanya kami sempat berteduh di sebuah masjid di Pakis ketika hujan sempat mengguyur. Yang unik, ketika memasuki Tumpang malah kering kerontang. Seolah-olah hujan jarang mampir di sana.

Saya yang berada di posisi paling depan, memandu tim ke arah Pasar Tumpang. Tepatnya ke tempat penitipan sepeda motor milik warga setempat. Atas instruksi Mbak Nur (pemilik basecamp pendaki Semeru di Pasar Tumpang), kami diarahkan untuk menitipkan motor di sana.

Sayang, saat itu Mbak Nur tidak berada di rumahnya. Sehingga, kami memilih untuk tidur di emperan kios Pasar Tumpang. Selain menghemat biaya menginap, toh yang penting kami bisa tidur memulihkan energi. Saya kadang-kadang terbangun ketika mendengar suara derap kaki pendaki yang baru pulang dari Semeru atau baru datang ke Tumpang. Bulan Mei ini memang lagi ramai pendakian. Maklum, baru dibuka sejak 5 Mei 2014.

Menuju Ranu Pani

Berdasarkan informasi dari Mbak Nur dan beberapa sopir angkot, saat itu truk, pikap maupun jip tidak diperkenankan berangkat dari Pasar Tumpang. Mereka wajib antri di rest area Gubug Klakah yang dijadikan sebagai terminal. Sehingga, dari Pasar Tumpang para pendaki wajib sewa angkot hijau trayek Pasar Tumpang-Gubug Klakah terlebih dahulu. Kecuali, bagi yang membawa kendaraan pribadi masih diperbolehkan langsung ke Ranu Pani.

Persis sebelum azan Subuh berkumandang, kami memutuskan menyewa dua angkot untuk mengantarkan kami ke Gubug Klakah. Setibanya di sana, sudah tersedia truk yang menunggu pendaki untuk diangkut ke Ranu Pani. Beruntung, kami berjumlah 15 orang. Pas sekali dengan kuota minimum dalam satu truk Sehingga, dalam satu truk berisi tim kami sendiri. Setelah salat Subuh di musala, kami segera naik truk dan berangkat ke Ranu Pani.

Sepanjang perjalanan, kami dibuat terkesima dengan hamparan pemandangan yang tersaji. Utamanya ketika mulai memasuki kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Hutan tropis dan ladang warga Tengger di lereng bukit memanjakan mata. Memasuki Ngadas, tampak Gunung Semeru menjulang gagah. Kami semakin antusias, tak sabar ingin segera mendaki.

Kami semakin tak bisa berkata-kata ketika melewati Jemplang. Persimpangan utama menuju Gunung Bromo dan Ranu Pani. Panorama bukit teletubbies dan lautan kabut melayang rendah membuat mata kami tak bisa berpaling. Sebelum akhirnya menghilang ketika kami mendekati gapura desa Ranu Pani, Senduro, Lumajang.

Setelah hampir 2 jam perjalanan, kami tiba di Ranu Pani. Karena truk tidak boleh naik hingga pos perizinan, kami berjalan kaki ke sana.

Karena kami datang awal, pos perizinan pun masih tutup. Kami mengisi waktu dengan sarapan terlebih dahulu di sebuah warung. Persis keluar dari warung, saya melihat Pak Ningot (petugas), hendak berjalan menuju loket. Saya segera menghampiri dan mengkonfirmasi pemesanan kuota atas nama saya. Diberikannya dua lembar Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) untuk diisi lengkap sebelum diserahkan ke loket.

Tahapan administrasi dimulai dari menyerahkan formulir checklist perlengkapan pendakian dan akan diperiksa oleh volunteer dari Gimbal Alas. Setelah mendapatkan stempel tanda perlengkapan memenuhi persyaratan, kami kembali ke loket untuk antri pembayaran. Beruntung kami datang awal, sehingga antrian tidak terlalu panjang.

Tancap Gas Menuju Kalimati
Beres mengurus administrasi yang agak ruwet, kami pun memulai pendakian sekitar pukul 09.30. Karena program pendakian kami 3 hari 2 malam, maka target hari ini adalah langsung berjalan sampai Kalimati. Terasa jauh, memang. Namun harus dilakukan demi bersantai ria di Ranu Kumbolo sewaktu pulang.

Dengan semangat, kami berjalan meniti jalan setapak jalur Watu Rejeng.  Rizky dan sebagian pendaki laki-laki berjalan cukup jauh di depan. Sedangkan saya tetap setia sebagai sweeper. Memastikan kelengkapan rombongan tidak ada yang tercecer di belakang. Pos demi pos dilewati. Kadang-kadang kami berhenti seperlunya. Tepat 4 jam berjalan dari Ranu Pani, kami sudah sampai di Ranu Kumbolo.

Setelah istirahat secukupnya, kami melanjutkan perjalanan. Menapak Tanjakan Cinta yang cukup menguras tenaga. Ditambah matahari bersinar terik di atas ubun-ubun. Panas terik berlanjut kala melalui sabana Oro-oro Ombo hingga pintu hutan Cemoro Kandang.

Sabana Oro-oro Ombo (Foto: Rifqy Faiza Rahman)


Selepas pintu hutan, sebagian besar anggota tim laki-laki sepakat untuk berjalan lebih cepat. Tujuannya, agar tidak terlalu malam mengambil air di Sumber Mani. Mereka dipimpin oleh Rizky. Sementara saya, tetap sebagai sweeper. Berjalan bersama Gunawan, Anggrek, Kustanti, dan Dicky. Sesekali langkah kami disalip oleh rombongan pendaki yang dikawal oleh Pak Ningot. Laju sekali langkah mereka.

Napas lega menyelimuti ketika tanjakan Cemoro Kandang berakhir di Jambangan. Sebuah tempat di ketinggian 2.600 mdpl. Dari sini, Gunung Semeru jelas terlihat. Pohon-pohon berbunga edelweiss juga mulai terlihat meskipun jarang. Saya, Kustanti, Anggrek, Gunawan dan Dicky adalah yang terakhir tiba di Jambangan. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 16.30, kami segera menunaikan salat Asar. Setengah jam kemudian, kami melanjutkan perjalanan ke Kalimati.

Mendekati shelter Kalimati yang berketinggian 2.700 mdpl, langit mulai gelap. Beruntung, kami cepat menemukan rombongan kami yang sudah datang duluan. Ternyata, Rizky dan Rendra yang bertugas mengambil air belum kembali. Rupanya terjadi antrian panjang di Sumber Mani.

Menyadari bahwa pasokan air kami terbatas dan banyak botol kosong yang tak sempat dibawa Rizky dan Rendra, kami memutuskan membeli 5 botol air besar ke porter. Sebuah keputusan masuk akal mengingat efisiensi waktu daripada kembali lagi ke Sumber Mani.

Waktu berlalu begitu cepat. Saya menginstruksikan teman-teman yang lain untuk istirahat terlebih dahulu. Nanti akan dibangunkan saat makan malam tiba. Beberapa teman membantu menyiapkan masakan, seperti Rizky, Kustanti, Anggrek. Rasa kantuk berulang kali menyergap.

(Bersambung)
Read More

Saturday, 21 February 2015

Program Heritage


Selain program sosial, program Heritage juga menjadi prioritas Gamananta di tahun 2015. Karena heritage memiliki makna yang sangat luas, Gamananta mempersempit fokus agar bisa dijalankan. Fokus heritage yang akan dikerjakan adalah mengenai kuliner khas dan bangunan bersejarah (cagar budaya) Malang.
Read More

Program Sosial


Program sosial merupakan salah satu program prioritas komunitas Gamananta pada tahun 2015 ini. Yang menjadi fokus adalah bidang pendidikan. Belajar dari pengalaman pada pertengahan 2014 lalu, Gamananta sepakat untuk melanjutkan aksi di bidang pendidikan. Sasarannya masih tetap, yaitu para siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Ihsaan, Lawang, Kabupaten Malang.

Setelah tahun lalu pernah berkesempatan menggelar kelas motivasi dalam satu hari, dan menjadi bagian kepanitiaan dalam Hari Lahir (Harlah) Yayasan Al Ihsaan, Gamananta akan menambah beberapa kegiatan. Antara lain sebagai berikut:
  1. Pelatihan vertikultur sederhana, dengan penanggung jawab saudara Fahriansyah N. Affandi. Gamananta ingin mengajarkan para siswa-siswi MI Al Ihsaan tentang cara berkebun sederhana, salah satu teknik yang cukup mudah yaitu vertikultur.
  2. Peringatan hari-hari nasional. Dalam sebagian perayaan hari nasional, Gamananta ingin memperingatinya bersama para siswa-siswi MI Al Ihsaan.
  3. Darmawisata Sejarah, dengan penanggung jawab saudari Anita Wijayanti. Gamananta berniat mengajak beberapa perwakilan dari para siswa-siswi MI Al Ihsaan untuk berdarmawisata sejarah. Tujuannya antara lain Candi Singhasari agar mereka dapat belajar sejarah kejayaan Malang di masa lampau.
  4. Menggalakkan kembali ekstrakulikuler, antara lain seperti tari maupun pramuka. Salah satu ekstrakulikuler akan digawangi oleh Ahmad Fakhruddin Busthomy.
  5. Kelas profesi dan konseling, dengan penanggung jawab Citra C. Aprilia. Dalam kegiatan kelas profesi, akan diadakan pelatihan singkat bagi para anggota sebelum menjadi pengajar siswa-siswi MI Al Ihsaan. Sedangkan kegiatan konseling ditujukan kepada para siswa-siswi kelas 6 agar mereka diharapkan untuk tetap semangat belajar menghadapi Ujian Nasional (Unas) dan melanjutkan ke jenjang sekolah menengah.
Untuk keberlangsungan program sosial di bidang pendidikan ini, Gamananta tentu juga mengharapkan uluran angan dan tangan, hingga moral dan materi agar bisa berjalan lancar. Baik bagi anggota maupun non anggota yang memiliki kepedulian di dunia pendidikan anak, maka silakan segera menghubungi pengurus dan tim melalui komentar di bawah ini, atau kontak di media sosial yang dimiliki Gamananta (Facebook Group, Facebook Fan Page, Twitter). Kami tunggu kontribusinya! #AyoBudal!
Read More

Jelajah Pesisir Pacitan


Trip bertajuk “Jelajah Pesisir Pacitan” ini merupakan trip penutup di bulan Maret 2014, satu tahun lalu. Sebuah perjalanan mengunjungi kampung halaman salah seorang pendiri Gamananta, Rifqy Faiza Rahman. Trip ini juga merupakan prakarsanya. Adapun perjalanan yang berlangsung selama tanggal 28-31 Maret 2014 tersebut mengunjungi beberapa destinasi pantai indah di Pacitan, antara lain Pantai Soge di Jalan Lintas Selatan (JLS), Pantai Watu Karung, Pantai Srau, Pantai Banyu Tibo, Pantai Buyutan, dan Pantai Klayar.

Perjalanan dimulai pada tanggal 28 Maret 2014, di mana kami berkumpul di meeting point yang telah ditentukan, yaitu depan koperasi mahasiswa UB. Peserta kali ini berjumlah 15 orang, yaitu Rifqy (driver), Caca (driver), Rizky, Nufus, Anam, Mustofa, Muchlis (menyusul langsung ke Pacitan dari Cianjur), Fitrah (menyusul langsung ke Pacitan dari Sidoarjo), Siwi, Jeanni, Lita R., Anggrek, Uki, Fendi dan Yeni.

Sekitar pukul 21.30, kami dua mobil ini berangkat meninggalkan kampus. Rute awal yang dilalui adalah melalui kota Batu, Pujon, Ngantang, Kasembon, Kandangan, dan tembus ke jalan utama Jombang. Lalu lintas ternyata cukup padat, karena jelang tanggal merah. Sempat terjadi insiden kecil di daerah Perak, Jombang, ketika mobil yang disopiri Caca dituduh menabrak bagian belakang mobil Espass milik warga Surabaya. Saat itu memang sedang merayap melewati rel kereta api Perak. Padahal dari pandangan kami yang disopiri Rifqy, mobil Espass tersebut mundur sedikit karena sopir telat menginjak gas. Beruntung, insiden tersebut tidak berlanjut terlalu jauh dan kami sepakat untuk damai.

Lalu lintas yang cukup padat ini berlanjut hingga jalan raya Nganjuk. Memasuki Madiun, jalur relatif lancar dan sepi hingga melewati Ponorogo. Selepas Subuh, kami sudah memasuki Kabupaten Pacitan dan istirahat solat Subuh di sebuah masjid di depan kantor kecamatan Tegalombo, Pacitan. Dari sini, kota Pacitan masih sekitar 30 km lagi.

Sekitar 1,5 jam kemudian, kami tiba di kota Pacitan dan singgah sebentar di Pasar Minulyo, timur terminal Pacitan. Di sini kami belanja kebutuhan konsumsi untuk bekal camping di pantai. Dari Pasar Minulyo, kami kembali istirahat untuk sarapan di Arjowinangun.

Usai sarapan, kami kembali meluncur ke arah JLS, dan berhenti di Pantai Soge. Cukup lama kami berhenti di sini untuk sekadar istirahat dan berfoto ria, lalu melanjutkan perjalanan ke jembatan JLS, sekitar 1 km dari Pantai Soge. Dari JLS, kami putar balik ke arah kota dan meneruskan perjalanan ke Pantai Watu Karung, Kecamatan Pringkuku, sekitar 20 km dari pusat kota Pacitan.

Di atas tebing sisi barat Pantai Watu Karung

Kami tiba di Pantai Watu Karung sekitar pukul 2 siang. Saat itu Pantai Watu Karung relatif sepi, namun terlihat beberapa wisatawan asing yang sedang istirahat seusai berselancar di pantai. Pantai Watu Karung ini terkenal dengan ombaknya yang cocok untuk berselancar.Kontur pantai Watu Karung relatif landai dan pasir putih. Saat itu air laut sedang surut. Kami memilih berfoto di atas bukit sebelah barat dari pantai. Dari sini pemandangan sangat luas meskipun panas menyengat. Gugusan pulau karang di Watu Karung menyebabkan ombak tidak terlalu besar mendekati pesisir, sehingga kegiatan surfing dilakukan di sela-sela karang.

Puas di Pantai Watu Karung, kami kembali putar balik ke jalan awal dan menuju Pantai Srau. Di pertigaan menuju Pantai Srau, kami sementara berpisah. Mobil yang disopiri Caca menuju Pantai Srau terlebih dahulu untuk menentukan lokasi camp, sedangkan mobil yang disopiri Rifqy menuju ke Pasar Punung untuk menjemput Muchlis yang sudah tiba di sana. Dia menuju Pacitan dari Cianjur melalui Solo. Ketika sudah bertemu, kami kembali ke arah Pantai Srau dan menyusul mobil pertama.

Di Pantai Srau ini, kami menginap semalam dengan mendirikan dua buah tenda. Sebagian orang mempersiapkan makan malam dengan menu nasi, sayur sop, dan lauk tempe.

Malam itu, langit Pantai Srau sangat cerah dan penuh bintang. Rifqy dan Muchlis sempat mengabadikan jutaan bintang dalam kamera mereka.

* * *

Suasana pagi di Pantai Srau

Keesokan paginya, di hari ketiga tur, kami bergegas menyambut pagi dari atas karang. Lokasinya terletak di karang sisi barat pantai Srau 1. Di mana, di atasnya berdiri kerangka bangunan yang mangkrak. Kami mencari posisi untuk duduk dan bergaya.

Pagi itu sebenarnya mendung, namun ternyata matahari "mau" muncul dari peraduan. Di tengah-tengah asyik berfoto ria, Rifqy dan Uki menjemput Fitrah yang sudah tiba di terminal Bus Pacitan. Ia datang menyusul menggunakan bus langsung dari Surabaya.

Keceriaan saat memasak

Ketika semuanya sudah berkumpul lengkap, Ima selaku koordinator konsumsi mulai memberikan komando. Ia membagi tugas untuk menyiapkan menu sarapan. Rasanya tentu sangat mengasyikkan saat masak bersama dengan pemandangan lepas pantai dan angin khas pesisir. Semakin nikmat kala menu sarapan sudah siap disantap. Kami makan dengan penuh rasa kebersamaan.

Seusai sarapan, kami segera bersiap-siap. Mengemasi tenda dan perlengkapan pribadi lainnya. Tujuan kami selanjutnya adalah Pantai Banyu Tibo.

Saat perjalanan melintasi Goa Gong, jalan dipenuhi banyak kendaraan alias macet. Hal ini menyebabkan terjadinya antrean kendaraan yang mengular cukup panjang. Maklum, saat itu adalah akhir pekan. Banyak bus pariwisata yang datang demi berkunjung ke Goa Gong. Selepas Goa Gong, jalan kembali lengang.

Di pertigaan Pasar Kalak, kami belok kanan ke arah Widoro. Perjalanan ke Pantai Banyu Tibo ternyata tidak terlalu mudah, karena jalan sangat sempit (hanya muat satu mobil). Sehingga apabila berpapasan harus ada yang mengalah. Kami beruntung mendapatkan tempat parkir untuk dua mobil.

Foto bersama di depan aliran Banyu Tibo

Dinamakan Banyu Tibo karena terdapat aliran banyu (air) tawar yang tibo (jatuh/terjun) ke tepi pantai. Saat akhir pekan banyak pengunjung yang meramaikan pantai. Dan tentu berebut untuk mandi dan berbasah-basahan di bawah guyuran air terjun tersebut.  Banyu Tibo juga dikenal sebagai salah satu pantai yang bagus untuk produksi rumput laut.

Setelah puas berfoto ria, kami keluar dari kawasan Banyu Tibo. Menuju Pantai Buyutan yang tidak terlampau jauh dari Banyu Tibo, karena masih terletak dalam satu desa.

Harus puas berfoto dari atas pantai

Pantai Buyutan ini cukup unik. Karena untuk menuju ke tepi pantai, kita harus berjalan turun cukup curam dari tempat parkir. Sayang, karena keterbatasan waktu dan harus segera ke Pantai Klayar, kami hanya puas berfoto dari tempat parkir.

Hanya sebentar di Buyutan, kami segera meluncur ke pantai tujuan terakhir, yaitu Pantai Klayar. Ternyata di luar dugaan, juga terjadi antrean kendaraan pribadi menuju pantai. Kabarnya, tidak ada tempat parkir yang tersisa di Pantai Klayar saking ramainya. Kami hanya bisa memendam kekecewaan. Sempat terpikir untuk camp di Pantai Buyutan saja, namun diurungkan karena keterbatasan logistik.

Sayang sekali, Pantai Klayar yang menjadi destinasi terakhir dan diidam-idamkan sejak berangkat dari Malang, gagal dicapai. Akhirnya, kami memutuskan untuk kembali ke kota Pacitan dan melewatkan malam di alun-alun kota. Kami pun pulang ke Malang keesokan paginya. Sebagian besar dari kami masih menyimpan harapan semoga di lain waktu dapat kembali lagi ke Pacitan dan bermalam di Pantai Klayar.

Foto dan tulisan oleh: Rifqy Faiza Rahman 
Read More

Pendakian Pegunungan Putri Tidur (11-12 Januari 2014)


Sebagai pengobat kerinduan terhadap olahraga pendakian gunung, Gamananta mengadakan pendakian bersama ke Pegunungan Putri Tidur. Sebelumnya, Gamananta pertama kali mendaki ke sana pada 7-9 November 2013 yang digawangi oleh Busthomy, Rifqy dan Angky. Cerita perjalanannya bisa dibaca DI SINI.

Kunjungan kedua Gamananta ke alam Pegunungan Putri Tidur berlangsung pada tanggal 11-12 Januari 2014. Durasi yang cukup singkat mengharuskan tim memulai pendakian sejak pagi pada hari pertama. Adapun anggota tim pendakian terdiri dari Rifqy, Mas Kurniawan, Rizky, Mustofa, Figur, Zaki, Anggrek, Lia, Zahro dan Numa.

11 Januari 2014
Hari pertama perjalanan, dimulai dengan belanja bahan konsumsi dan sebagian logistik di Pasar Karangploso. Semalam tim menumpang tidur di rumah anggota Gamananta, Uki, untuk mengumpulkan tenaga dan mengemas perlengkapan.

Setelah mendapatkan bahan konsumsi yang diinginkan, tim melajukan motor dengan kencang menuju basecamp Panderman di Toyomarto, Pesanggrahan, Batu. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih sekitar 1 jam. Kami sempat mampir di sebuah warung untuk membeli nasi bungkus sebagai bekal sarapan yang dimakan di tengah perjalanan.

 Foto bersama sebelum memulai pendakian

Sekitar pukul 07.30, usai urusan administrasi beres, kami mulai berjalan. Menyusuri jalan yang sama ke arah Panderman, sebelum berbelok arah kanan di pertigaan terakhir yang mana ke kiri menuju Panderman. Sekitar 1,5 jam berjalan, kami berhenti di sebuah tanah datar yang teduh. Kami membuka bekal nasi bungkus untuk dimakan bersama. Tujuannya sebagai isi ulang energi sebelum melanjutkan perjalanan ke Sendang yang masih jauh.

 Pemandangan yang tersaji di awal pendakian

Trek selepas tempat kami istirahat untuk sarapan menanjak cukup panjang. Cukup menguras tenaga sebelum akhirnya kami masuk hutan yang relatif lebat dan alami. Trek di dalam hutan cenderung datar dan panjang.

 Tetap ceria di tengah istirahat

Awan mendung yang bergelayut semenjak memasuki hutan pun akhirnya menurunkan hujan ketika kami keluar hutan.

Trek kembali menanjak ketika memasuki areal Cemoro Kandang.Kami tetap berjalan dan agak ngebut agar tidak kedinginan. Agar sesampainya di Sendang, kami segera mendirikan tenda dan menghangatkan diri.

Akhirnya, setelah sekitar 9 jam berjalan dari basecamp, kami pun tiba di Sendang. Sebuah tempat perkemahan yang melimpah sumber air di tengah-tengah sabana hijau nan luas. Dari sini, puncak sudah terlihat dan hanya berjarak tak sampai sejam perjalanan. Puncak Siti Ingghil yang akan kami gapai esok pagi.

Agenda selanjutnya jelas, mendirikan tenda dan menyiapkan menu makan malam. Di Sendang, kami tidak sendirian. Ada juga rombongan pendaki dari kampus UIN Malang yang naik dari jalur Gadingkulon, Dau, Malang.

Ketika malam tiba, angin berembus semakin dingin. Memaksa kami mempercepat makan dan istirahat. Memulihkann tenaga setelah diguyur hujan selama perjalanan. Sebagian anggota tim, termasuk saya yang berada di tenda cowok memilih bermain kartu sejenak sebelum terlelap.

12 Januari 2014
Sekitar pukul 04.30, saya terbangun dan mulai membangunkan teman-teman untuk bersiap. Bersiap salat Subuh dan bergegas ke puncak. Karena ketika keluar tenda, cahaya matahari sudah mulai muncul.

Perjalanan ke puncak tidaklah lama. Hanya memakan waktu sekitar 30-45 menit berjalan normal tapi stabil tanpa banyak berhenti. Dengan trek yang sangat menanjak dan lumayan bikin lutut linu. Namun kelelahan yang dirasa terbayar lunas ketika kami tiba di puncak Siti Ingghil, puncak tertinggi Pegunungan Putri Tidur dengan angka 2.868 mdpl.

 Matahari terbit dari balik Pegunungan Tengger

Selain kami, juga terdapat pendaki yang naik dari Sirahkencong, Blitar. Kami menjadi saksi di mana matahari terbit dengan indah dari balik Pegunungan Tengger. Sesekali asap mengepul dari kawah Jonggring Saloka di puncak Mahameru.

Ditambah lagi pemandangan Gunung Arjuno dan Welirang yang disatukan dengan Gunung Kembar I dan II. Dan pesona pegunungan kawasan Ngantang, serta Gunung Kelud yang diselimuti kabut tipis.

 Mengibarkan bendera merah putih di puncak


Dengan pemandangan spektakuler demikian, tak heran jika di anatra kami seperti tak ingin kehilangan momen dengan banyak berfoto. Di semua sudut, tak ada yang tak indah. Kami sangat puas setelah menyambut pagi dari puncak.

Puas di puncak, kami segera turun dan kembali ke tenda. Menyiapkan sarapan sederhana dan berkemas. Sekitar pukul 11.00, kami mulai meninggalkan kawasan Sendang.

 Foto bersama sebelum perjalanan pulang

Ritme perjalanan kami lebih cepat dibandingkan saat berangkat. Tujuannya agar tidak terlalu sore setibanya di basecamp kembali. Meskipun hujan sempat mengguyur, tak menyurutkan kami berjalan cepat. Bahkan ketika sempat berjalan di atas genangan air semata kaki di dalam hutan sekalipun.

Hasilnya, setelah hampir 6 jam berjalan, kami tiba di basecamp lagi. Tanpa banyak membuang waktu, kami segera mengambil motor dan memilih salat Asar di masjid setempat. Langit sudah gelap ketika kami tiba di kos masing-masing, setelah sempat mampir makan malam bersama di sebuah rumah makan. Sebagai pelampiasan setelah terkuras fisik dan mental di tengah hutan Pegunungan Putri Tidur.

Foto dan tulisan oleh: Rifqy Faiza Rahman
Read More