Saturday, 21 February 2015

Jelajah Pesisir Pacitan


Trip bertajuk “Jelajah Pesisir Pacitan” ini merupakan trip penutup di bulan Maret 2014, satu tahun lalu. Sebuah perjalanan mengunjungi kampung halaman salah seorang pendiri Gamananta, Rifqy Faiza Rahman. Trip ini juga merupakan prakarsanya. Adapun perjalanan yang berlangsung selama tanggal 28-31 Maret 2014 tersebut mengunjungi beberapa destinasi pantai indah di Pacitan, antara lain Pantai Soge di Jalan Lintas Selatan (JLS), Pantai Watu Karung, Pantai Srau, Pantai Banyu Tibo, Pantai Buyutan, dan Pantai Klayar.

Perjalanan dimulai pada tanggal 28 Maret 2014, di mana kami berkumpul di meeting point yang telah ditentukan, yaitu depan koperasi mahasiswa UB. Peserta kali ini berjumlah 15 orang, yaitu Rifqy (driver), Caca (driver), Rizky, Nufus, Anam, Mustofa, Muchlis (menyusul langsung ke Pacitan dari Cianjur), Fitrah (menyusul langsung ke Pacitan dari Sidoarjo), Siwi, Jeanni, Lita R., Anggrek, Uki, Fendi dan Yeni.

Sekitar pukul 21.30, kami dua mobil ini berangkat meninggalkan kampus. Rute awal yang dilalui adalah melalui kota Batu, Pujon, Ngantang, Kasembon, Kandangan, dan tembus ke jalan utama Jombang. Lalu lintas ternyata cukup padat, karena jelang tanggal merah. Sempat terjadi insiden kecil di daerah Perak, Jombang, ketika mobil yang disopiri Caca dituduh menabrak bagian belakang mobil Espass milik warga Surabaya. Saat itu memang sedang merayap melewati rel kereta api Perak. Padahal dari pandangan kami yang disopiri Rifqy, mobil Espass tersebut mundur sedikit karena sopir telat menginjak gas. Beruntung, insiden tersebut tidak berlanjut terlalu jauh dan kami sepakat untuk damai.

Lalu lintas yang cukup padat ini berlanjut hingga jalan raya Nganjuk. Memasuki Madiun, jalur relatif lancar dan sepi hingga melewati Ponorogo. Selepas Subuh, kami sudah memasuki Kabupaten Pacitan dan istirahat solat Subuh di sebuah masjid di depan kantor kecamatan Tegalombo, Pacitan. Dari sini, kota Pacitan masih sekitar 30 km lagi.

Sekitar 1,5 jam kemudian, kami tiba di kota Pacitan dan singgah sebentar di Pasar Minulyo, timur terminal Pacitan. Di sini kami belanja kebutuhan konsumsi untuk bekal camping di pantai. Dari Pasar Minulyo, kami kembali istirahat untuk sarapan di Arjowinangun.

Usai sarapan, kami kembali meluncur ke arah JLS, dan berhenti di Pantai Soge. Cukup lama kami berhenti di sini untuk sekadar istirahat dan berfoto ria, lalu melanjutkan perjalanan ke jembatan JLS, sekitar 1 km dari Pantai Soge. Dari JLS, kami putar balik ke arah kota dan meneruskan perjalanan ke Pantai Watu Karung, Kecamatan Pringkuku, sekitar 20 km dari pusat kota Pacitan.

Di atas tebing sisi barat Pantai Watu Karung

Kami tiba di Pantai Watu Karung sekitar pukul 2 siang. Saat itu Pantai Watu Karung relatif sepi, namun terlihat beberapa wisatawan asing yang sedang istirahat seusai berselancar di pantai. Pantai Watu Karung ini terkenal dengan ombaknya yang cocok untuk berselancar.Kontur pantai Watu Karung relatif landai dan pasir putih. Saat itu air laut sedang surut. Kami memilih berfoto di atas bukit sebelah barat dari pantai. Dari sini pemandangan sangat luas meskipun panas menyengat. Gugusan pulau karang di Watu Karung menyebabkan ombak tidak terlalu besar mendekati pesisir, sehingga kegiatan surfing dilakukan di sela-sela karang.

Puas di Pantai Watu Karung, kami kembali putar balik ke jalan awal dan menuju Pantai Srau. Di pertigaan menuju Pantai Srau, kami sementara berpisah. Mobil yang disopiri Caca menuju Pantai Srau terlebih dahulu untuk menentukan lokasi camp, sedangkan mobil yang disopiri Rifqy menuju ke Pasar Punung untuk menjemput Muchlis yang sudah tiba di sana. Dia menuju Pacitan dari Cianjur melalui Solo. Ketika sudah bertemu, kami kembali ke arah Pantai Srau dan menyusul mobil pertama.

Di Pantai Srau ini, kami menginap semalam dengan mendirikan dua buah tenda. Sebagian orang mempersiapkan makan malam dengan menu nasi, sayur sop, dan lauk tempe.

Malam itu, langit Pantai Srau sangat cerah dan penuh bintang. Rifqy dan Muchlis sempat mengabadikan jutaan bintang dalam kamera mereka.

* * *

Suasana pagi di Pantai Srau

Keesokan paginya, di hari ketiga tur, kami bergegas menyambut pagi dari atas karang. Lokasinya terletak di karang sisi barat pantai Srau 1. Di mana, di atasnya berdiri kerangka bangunan yang mangkrak. Kami mencari posisi untuk duduk dan bergaya.

Pagi itu sebenarnya mendung, namun ternyata matahari "mau" muncul dari peraduan. Di tengah-tengah asyik berfoto ria, Rifqy dan Uki menjemput Fitrah yang sudah tiba di terminal Bus Pacitan. Ia datang menyusul menggunakan bus langsung dari Surabaya.

Keceriaan saat memasak

Ketika semuanya sudah berkumpul lengkap, Ima selaku koordinator konsumsi mulai memberikan komando. Ia membagi tugas untuk menyiapkan menu sarapan. Rasanya tentu sangat mengasyikkan saat masak bersama dengan pemandangan lepas pantai dan angin khas pesisir. Semakin nikmat kala menu sarapan sudah siap disantap. Kami makan dengan penuh rasa kebersamaan.

Seusai sarapan, kami segera bersiap-siap. Mengemasi tenda dan perlengkapan pribadi lainnya. Tujuan kami selanjutnya adalah Pantai Banyu Tibo.

Saat perjalanan melintasi Goa Gong, jalan dipenuhi banyak kendaraan alias macet. Hal ini menyebabkan terjadinya antrean kendaraan yang mengular cukup panjang. Maklum, saat itu adalah akhir pekan. Banyak bus pariwisata yang datang demi berkunjung ke Goa Gong. Selepas Goa Gong, jalan kembali lengang.

Di pertigaan Pasar Kalak, kami belok kanan ke arah Widoro. Perjalanan ke Pantai Banyu Tibo ternyata tidak terlalu mudah, karena jalan sangat sempit (hanya muat satu mobil). Sehingga apabila berpapasan harus ada yang mengalah. Kami beruntung mendapatkan tempat parkir untuk dua mobil.

Foto bersama di depan aliran Banyu Tibo

Dinamakan Banyu Tibo karena terdapat aliran banyu (air) tawar yang tibo (jatuh/terjun) ke tepi pantai. Saat akhir pekan banyak pengunjung yang meramaikan pantai. Dan tentu berebut untuk mandi dan berbasah-basahan di bawah guyuran air terjun tersebut.  Banyu Tibo juga dikenal sebagai salah satu pantai yang bagus untuk produksi rumput laut.

Setelah puas berfoto ria, kami keluar dari kawasan Banyu Tibo. Menuju Pantai Buyutan yang tidak terlampau jauh dari Banyu Tibo, karena masih terletak dalam satu desa.

Harus puas berfoto dari atas pantai

Pantai Buyutan ini cukup unik. Karena untuk menuju ke tepi pantai, kita harus berjalan turun cukup curam dari tempat parkir. Sayang, karena keterbatasan waktu dan harus segera ke Pantai Klayar, kami hanya puas berfoto dari tempat parkir.

Hanya sebentar di Buyutan, kami segera meluncur ke pantai tujuan terakhir, yaitu Pantai Klayar. Ternyata di luar dugaan, juga terjadi antrean kendaraan pribadi menuju pantai. Kabarnya, tidak ada tempat parkir yang tersisa di Pantai Klayar saking ramainya. Kami hanya bisa memendam kekecewaan. Sempat terpikir untuk camp di Pantai Buyutan saja, namun diurungkan karena keterbatasan logistik.

Sayang sekali, Pantai Klayar yang menjadi destinasi terakhir dan diidam-idamkan sejak berangkat dari Malang, gagal dicapai. Akhirnya, kami memutuskan untuk kembali ke kota Pacitan dan melewatkan malam di alun-alun kota. Kami pun pulang ke Malang keesokan paginya. Sebagian besar dari kami masih menyimpan harapan semoga di lain waktu dapat kembali lagi ke Pacitan dan bermalam di Pantai Klayar.

Foto dan tulisan oleh: Rifqy Faiza Rahman 
About Gamananta TravelerCommunity

Gamananta adalah sebuah komunitas traveler yang selalu membawa semangat dan orientasi konservasi dalam setiap kegiatan dan perjalanannya. Gamananta merupakan dua kata gabungan dari bahasa Sansekerta, "Gama" berarti perjalanan dan "Ananta" berarti tanpa batas. Gamananta berusaha untuk berjalan tanpa batas demi visi dan misinya.

Artikel Terkait

0 comments:

Post a Comment

No Spam, No Sex, No SARA
Junjung Tinggi Kebebasan Berpendapat yang Bertanggung Jawab