Wednesday, 25 February 2015

Pendakian Bersama Gunung Semeru 2014 (Part 1)


Setelah cukup berhasil menggelar pendakian bersama ke Gunung Semeru pada tahun 2013, kami kembali menyelenggarakannya pada tahun 2014. Tepatnya, tanggal 29-31 Mei 2014. Tak seperti pendakian tahun 2013, yang diikuti sebanyak 29 orang, kali ini peserta dibatasi maksimal 15 orang. Konfigurasi peserta terdiri dari 13 laki-laki dan sisanya perempuan. Saya bersama Rizky, Caca, dan Jeanni pergi ke Ranu Pani untuk memastikan sekaligus memesan kuota pendakian. Sayang, dua nama terakhir tersebut tidak ikut dalam pendakian.

Adapun peserta pendakian ke Gunung Semeru kali ini adalah sebagai berikut:

Rizky Maulana (Jombang)
Jauhar Syauqi (Kudus)
Rifqy Faiza Rahman (Pacitan)
Romadhoni Hidayatullah (Sidoarjo)
Ahmad Subhan (Mojokerto)
Gunawan (Mojokerto)
Dicky Pratama (Medan)
Fandy Alfizar (Surabaya)
Steven Rendra (Sidoarjo)
Ade (Lampung)
Anggraeni Ayu Saputri (Mojokerto)
Kustanti (Lamongan)
Latif Munawar (Solo)
Muhammad Isnain (Solo)
Nugroho (Solo)

Menuju Tumpang
Setelah rombongan asal Solo (Latif, Isnain, dan Nugroho) tiba di meeting point gazebo Universitas Brawijaya, pukul 23.00 kami berangkat ke Tumpang dengan sepeda motor.

Perjalanan santai, tidak terburu-buru. Karenanya kami sempat berteduh di sebuah masjid di Pakis ketika hujan sempat mengguyur. Yang unik, ketika memasuki Tumpang malah kering kerontang. Seolah-olah hujan jarang mampir di sana.

Saya yang berada di posisi paling depan, memandu tim ke arah Pasar Tumpang. Tepatnya ke tempat penitipan sepeda motor milik warga setempat. Atas instruksi Mbak Nur (pemilik basecamp pendaki Semeru di Pasar Tumpang), kami diarahkan untuk menitipkan motor di sana.

Sayang, saat itu Mbak Nur tidak berada di rumahnya. Sehingga, kami memilih untuk tidur di emperan kios Pasar Tumpang. Selain menghemat biaya menginap, toh yang penting kami bisa tidur memulihkan energi. Saya kadang-kadang terbangun ketika mendengar suara derap kaki pendaki yang baru pulang dari Semeru atau baru datang ke Tumpang. Bulan Mei ini memang lagi ramai pendakian. Maklum, baru dibuka sejak 5 Mei 2014.

Menuju Ranu Pani

Berdasarkan informasi dari Mbak Nur dan beberapa sopir angkot, saat itu truk, pikap maupun jip tidak diperkenankan berangkat dari Pasar Tumpang. Mereka wajib antri di rest area Gubug Klakah yang dijadikan sebagai terminal. Sehingga, dari Pasar Tumpang para pendaki wajib sewa angkot hijau trayek Pasar Tumpang-Gubug Klakah terlebih dahulu. Kecuali, bagi yang membawa kendaraan pribadi masih diperbolehkan langsung ke Ranu Pani.

Persis sebelum azan Subuh berkumandang, kami memutuskan menyewa dua angkot untuk mengantarkan kami ke Gubug Klakah. Setibanya di sana, sudah tersedia truk yang menunggu pendaki untuk diangkut ke Ranu Pani. Beruntung, kami berjumlah 15 orang. Pas sekali dengan kuota minimum dalam satu truk Sehingga, dalam satu truk berisi tim kami sendiri. Setelah salat Subuh di musala, kami segera naik truk dan berangkat ke Ranu Pani.

Sepanjang perjalanan, kami dibuat terkesima dengan hamparan pemandangan yang tersaji. Utamanya ketika mulai memasuki kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Hutan tropis dan ladang warga Tengger di lereng bukit memanjakan mata. Memasuki Ngadas, tampak Gunung Semeru menjulang gagah. Kami semakin antusias, tak sabar ingin segera mendaki.

Kami semakin tak bisa berkata-kata ketika melewati Jemplang. Persimpangan utama menuju Gunung Bromo dan Ranu Pani. Panorama bukit teletubbies dan lautan kabut melayang rendah membuat mata kami tak bisa berpaling. Sebelum akhirnya menghilang ketika kami mendekati gapura desa Ranu Pani, Senduro, Lumajang.

Setelah hampir 2 jam perjalanan, kami tiba di Ranu Pani. Karena truk tidak boleh naik hingga pos perizinan, kami berjalan kaki ke sana.

Karena kami datang awal, pos perizinan pun masih tutup. Kami mengisi waktu dengan sarapan terlebih dahulu di sebuah warung. Persis keluar dari warung, saya melihat Pak Ningot (petugas), hendak berjalan menuju loket. Saya segera menghampiri dan mengkonfirmasi pemesanan kuota atas nama saya. Diberikannya dua lembar Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) untuk diisi lengkap sebelum diserahkan ke loket.

Tahapan administrasi dimulai dari menyerahkan formulir checklist perlengkapan pendakian dan akan diperiksa oleh volunteer dari Gimbal Alas. Setelah mendapatkan stempel tanda perlengkapan memenuhi persyaratan, kami kembali ke loket untuk antri pembayaran. Beruntung kami datang awal, sehingga antrian tidak terlalu panjang.

Tancap Gas Menuju Kalimati
Beres mengurus administrasi yang agak ruwet, kami pun memulai pendakian sekitar pukul 09.30. Karena program pendakian kami 3 hari 2 malam, maka target hari ini adalah langsung berjalan sampai Kalimati. Terasa jauh, memang. Namun harus dilakukan demi bersantai ria di Ranu Kumbolo sewaktu pulang.

Dengan semangat, kami berjalan meniti jalan setapak jalur Watu Rejeng.  Rizky dan sebagian pendaki laki-laki berjalan cukup jauh di depan. Sedangkan saya tetap setia sebagai sweeper. Memastikan kelengkapan rombongan tidak ada yang tercecer di belakang. Pos demi pos dilewati. Kadang-kadang kami berhenti seperlunya. Tepat 4 jam berjalan dari Ranu Pani, kami sudah sampai di Ranu Kumbolo.

Setelah istirahat secukupnya, kami melanjutkan perjalanan. Menapak Tanjakan Cinta yang cukup menguras tenaga. Ditambah matahari bersinar terik di atas ubun-ubun. Panas terik berlanjut kala melalui sabana Oro-oro Ombo hingga pintu hutan Cemoro Kandang.

Sabana Oro-oro Ombo (Foto: Rifqy Faiza Rahman)


Selepas pintu hutan, sebagian besar anggota tim laki-laki sepakat untuk berjalan lebih cepat. Tujuannya, agar tidak terlalu malam mengambil air di Sumber Mani. Mereka dipimpin oleh Rizky. Sementara saya, tetap sebagai sweeper. Berjalan bersama Gunawan, Anggrek, Kustanti, dan Dicky. Sesekali langkah kami disalip oleh rombongan pendaki yang dikawal oleh Pak Ningot. Laju sekali langkah mereka.

Napas lega menyelimuti ketika tanjakan Cemoro Kandang berakhir di Jambangan. Sebuah tempat di ketinggian 2.600 mdpl. Dari sini, Gunung Semeru jelas terlihat. Pohon-pohon berbunga edelweiss juga mulai terlihat meskipun jarang. Saya, Kustanti, Anggrek, Gunawan dan Dicky adalah yang terakhir tiba di Jambangan. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 16.30, kami segera menunaikan salat Asar. Setengah jam kemudian, kami melanjutkan perjalanan ke Kalimati.

Mendekati shelter Kalimati yang berketinggian 2.700 mdpl, langit mulai gelap. Beruntung, kami cepat menemukan rombongan kami yang sudah datang duluan. Ternyata, Rizky dan Rendra yang bertugas mengambil air belum kembali. Rupanya terjadi antrian panjang di Sumber Mani.

Menyadari bahwa pasokan air kami terbatas dan banyak botol kosong yang tak sempat dibawa Rizky dan Rendra, kami memutuskan membeli 5 botol air besar ke porter. Sebuah keputusan masuk akal mengingat efisiensi waktu daripada kembali lagi ke Sumber Mani.

Waktu berlalu begitu cepat. Saya menginstruksikan teman-teman yang lain untuk istirahat terlebih dahulu. Nanti akan dibangunkan saat makan malam tiba. Beberapa teman membantu menyiapkan masakan, seperti Rizky, Kustanti, Anggrek. Rasa kantuk berulang kali menyergap.

(Bersambung)
About Gamananta TravelerCommunity

Gamananta adalah sebuah komunitas traveler yang selalu membawa semangat dan orientasi konservasi dalam setiap kegiatan dan perjalanannya. Gamananta merupakan dua kata gabungan dari bahasa Sansekerta, "Gama" berarti perjalanan dan "Ananta" berarti tanpa batas. Gamananta berusaha untuk berjalan tanpa batas demi visi dan misinya.

Artikel Terkait

0 comments:

Post a Comment

No Spam, No Sex, No SARA
Junjung Tinggi Kebebasan Berpendapat yang Bertanggung Jawab