Wednesday, 25 February 2015

Pendakian Bersama Gunung Semeru 2014 (Part 2)

Puncak Mahameru (Foto oleh: Ugo Nugroho)

(Cerita selanjutnya ditulis berdasarkan pengalaman dan dari sudut pandang Uki, salah seorang anggota tim pendakian Gamananta)

Summit Attack
Sebenarnya, makan malam sudah siap sedari pukul 21.00. Namun, karena sudah telanjur capek akibat tiba di Kalimati terlalu sore, rasa kantuk pun mengalahkan keinginan untuk makan. Hidangan yang semula hangat pun mendingin karena tak segera dimakan.

Tiba-tiba, saya tersentak kaget ketika waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Berarti sudah sekitar dua jam kami tertidur. Langsung saja, saya segera membangunkan teman-teman dan bergegas menyantap makan malam. Kami makan di antara rasa kantuk dan rasa ingin segera berjalan ke puncak. Sebagian anggota tim sudah berkemas menyiapkan perlengkapan tempur untuk summit attack ke puncak Mahameru. Perlengkapan tempur tersebut terdiri dari jaket tebal, headlamp atau senter untuk penerangan, dan bekal konsumsi kelompok. Memang agak sedikit terlambat, tetapi masih ada waktu untuk segera berangkat.

Sejam kemudian, kami sudah siap. Sebelum berangkat, kami merapatkan barisan untuk berdoa bersama. Hening sejenak di tengah keriuhan Kalimati yang dipenuhi para pendaki yang akan ke puncak.

Ji! Ro! Lu! Budal! Jargon memekik memecah malam saat berangkat. Rombongan tim (kecuali Subhan yang terpaksa ditinggal di tenda karena kakinya sakit) dipimpin oleh Rizky sebagai leader dan Rifqy di belakang menjadi sweeper.

Trek ke puncak kali ini lewat jalur baru, persis di belakang shelter Kalimati. Karena jalur ke Arcopodo telah rusak akibat longsor. Perjalanan dimulai dengan trek berkerikil landai, namun memasuki hutan semakin menanjak. Ini baru benar-benar mendaki dan dapat dibilang nyaris tanpa bonus. Setelah sempat salah jalur karena terlalu mengekor rombongan pendaki yang mengular di depan kami, kami segera berbelok arah ke kiri. Memasuki kawasan hutan Arcopodo yang tanahnya penuh debu beterbangan.

Lebatnya hutan Arcopodo seakan mengisyaratkan kerindangan dan ketentraman kehidupan di sana. Langkah demi langkah terus tercipta. Bintang malam yang bersinar terang memberi arti tersendiri dalam menemani setiap hentakan jantung yang terus berpacu. Cucuran keringat seakan hilang tersapu dinginnya angin malam yang berembus kencang.

Langit malam mulai jelas terlihat, rindang pohon mulai menghilang. Area hutan telah tertinggal jauh di belakang. Kami sedang melewati Kelik, begitu banyak orang menyebutnya. Kelik merupakan perbatasan vegetasi dengan jalur berpasir dalam dan menanjak tanpa ampun. Mulai dari sini, kekuatan hati kami ditempa. Keyakinan tekad dan doa akan menjadi penentu di tengah keterbatasan fisik kami.

Beberapa langkah meninggalkan Kelik, rombongan mulai terpencar. Rifqy sudah jauh di belakang, mendampingi Anggrek yang susah payah berjalan ke puncak. Begitupun dengan Tanti, Dicky, dan Gunawan. Sementara saya dan yang lain sudah berjalan cukup jauh di depan.

Saya bersama Rendra sepakat untuk tetap berjalan bersama menuju Mahameru. Mereka berdua perlahan dengan pasti meniti langkah di atas pasir yang cukup dalam dan bebatuan labil. Langkah kaki pun semakin berat, sangat menguji tekad para pendaki. Tak sedikit pendaki yang akhirnya berhenti di tengah perjalanan, menyerah dan memilih tidak melanjutkan perjalanan ke puncak. Jalur ke puncak dinihari itu memang sangat ramai, penuh para pendaki yang akan ke puncak.

Waktu terus berlalu, saat itu sudah menunjukkan pukul 3 dinihari. Saya dan Rendra, ditambah Fandi beristirahat sebentar sambil menengok ke bawah. Deretan sorot lampu headlamp bak iring-iringan semut yang sedang mencari makanan. Makanan! Celaka, kami bertiga sudah tidak lagi membawa makanan. Beberapa camilan yang di bawa Rendra telah ludes. Rasa lapar yang melilit dapat mengalahkan kantuk yang mendera. Beruntung di tengah perjalanan kami bertemu Doni, salah seorang anggota tim pendakian yang membawa bekal kelompok. Syukurlah.

Rock! Kanan!

Berulang-ulang saya mendengar teriakan seperti itu. Yang menunjukkan adanya batu yang jatuh dari atas. Mulai dari yang sebesar genggaman hingga yang sebesar kepala. Benar benar dingin suhu di sini. Oksigen mulai menipis, udara kering menyelimuti. Keyakinan kami benar-benar diuji. Berulang kali terlintas dalam benak saya, “apakah aku sanggup melewati ini? sanggupkah aku berdiri di Mahameru? Haruskah jalanku berhenti di sini?”. Puncak memang telah terlihat, tetapi langkah yang terus merosot kian menyiutkan nyali.

Kantuk benar-benar tak tertahankan. Tanpa sadar ternyata sudah sekitar 10 menit saya terlelap. Pada posisi seperti ini sebenarnya tidak disarankan berlama-lama istirahat karena berisiko terkena hipotermia.

Siluet Rizky dan Fandy berlatar matahari terbit di Mahameru (Foto oleh: Fandy Alfizar)

Perlahan warna jingga keemasan mulai terlihat di ufuk timur. Sentuhan hangat mentari mulai terasa. Subhanallah, benar-benar indah sunrise dari lereng Mahameru ini. Sebenarnya ingin hati melihat momen ini tepat di puncak, tetapi sepertinya memang belum waktunya. Matahari yang mulai menerangi memberi semangat untuk terus melangkah.

Puncak Mahameru tinggal beberapa meter lagi. tetapi tingkat kemiringan yang semakin curam membuat kami menjadi cepat lelah dan lebih banyak istirahat. Seperti tak mungkin lagi kaki ini melangkah. Tetapi, tekad dan keinginan yang besar ampuh membuat kaki saya terus melaju dan perlahan saya berjalan sendiri meninggalkan Rendra dan Doni yang sedang beristirahat.

Pasir mulai memadat dan terdapat cerukan yang berada di sisi kanan dan kiri saya. Saya mendongakkan kepala dan melihat beberapa orang sedang duduk bersantai. Langkah demi langkah terasa semakin cepat, tanjakan pasir berubah menjadi hamparan luas yang membuat diri menjadi lepas dan ingin berteriak. Saya sudah sampai di Mahameru! Gejolak di dada tak tertahankan lagi, ingin rasanya meluapkan segala usaha yang akhirnya tak sia-sia. Teman-teman mulai menyusul, berdatangan ke puncak. Rizky adalah orang pertama dari tim kami yang berhasil tiba di puncak.

Pemandangan indah terhampar dari tempat kami berdiri. Mulai dari gugusan hutan dan bukit pegunungan Tengger, hingga garis pantai utara dan garis pantai selatan Jawa Timur terlihat. Sungguh sebuah sensasi tersendiri berada di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Hamparan luas dengan bendera merah putih yang tertancap merupakan gambaran yang tak mungkin terlupakan dari kenangan.

Dengan membawa plakat bertuliskan “Mahameru 3676 mdpl”, saya berfoto dan mengabadikan momen yang merupakan hasil perjuangan tersebut. Selain bendera dan plakat Mahameru, kawah jonggring saloka yang sesekali berdentum juga merupakan momen langka. Setiap asap beracun dari kawah tersebut keluar, para pendaki segera berfoto dengan latar belakang asap yang membumbung.

Sebagian anggota yang sudah tiba di puncak terlebih dahulu (Foto oleh: Fandy Alfizar)

Setelah puas berfoto, kami segera bersiap turun menuju Kalimati. Baru beberapa langkah meninggalkan Mahameru, saya bertemu Tanti dan Gunawan yang masih terlihat kelelahan dan belum menggapai puncak. Sehingga, Rizky memutuskan untuk menemani mereka, sementara saya dan yang lain kembali ke kalimati.

Sesampainya di tenda, saya bertemu dengan Anggrek dan Mas Rifqy yang ternyata turun duluan sebelum mencapai puncak. Rupanya Anggrek mengalami kelelahan sehingga memilih turun. Sambil menunggu yang lain, saya melepas sepatu yang dipenuhi pasir yang masuk dan mengganti baju yang penuh dengan debu.

 Foto bersama sebelum meninggalkan Kalimati
 
Ketika tepat jelang tengah hari anggota tim pendakian sudah lengkap, kami segera berkemas. Sekitar Pukul 14.00, setelah kami mulai meninggalkan Kalimati untuk turun menuju Ranu Kumbolo. Kami akan menginap semalam lagi di sana. Walau masih terasa ngantuk dan lelah, kami tidak ingin terlalu sore tiba di Ranu Kumbolo. Supaya ada waktu lebih untuk bersantai dan beristirahat memulihkan tenaga. Juga agar kami lebih menikmati suasana Ranu Kumbolo.

(Bersambung)
About Gamananta TravelerCommunity

Gamananta adalah sebuah komunitas traveler yang selalu membawa semangat dan orientasi konservasi dalam setiap kegiatan dan perjalanannya. Gamananta merupakan dua kata gabungan dari bahasa Sansekerta, "Gama" berarti perjalanan dan "Ananta" berarti tanpa batas. Gamananta berusaha untuk berjalan tanpa batas demi visi dan misinya.

Artikel Terkait

0 comments:

Post a Comment

No Spam, No Sex, No SARA
Junjung Tinggi Kebebasan Berpendapat yang Bertanggung Jawab